Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Malam pertama yang tertunda lagi


__ADS_3

Sesampai dirumah sakit,Shinta akhirnya ditangani oleh dokter kandungan.Tak lama kemudian,dia sadar dari pingsannya.Lalu melihat kearah dokter yang sedang menulis sesuatu dikertas.


Dia tau,dokter tersebut sedang menulis surat izin untuk diberitahukan kepada Bryan.Dan meminta kepada suaminya itu untuk menyetujui saran dari dokter kandungan tersebut untuk menggugurkan kandungannya.


Shinta mencegah dokter itu dan mengatakan sesuatu agar tak memberitahukan tentang kondisinya kepada suaminya yang menunggu diluar ruangan.


"Dokter,aku mohon jangan sampaikan hal ini kepada suamiku."Ucap Shinta memohon.


"Tapi,ini tak bisa didiamkan saja bu.Resikonya sangat tinggi jika ibu mempertahankan kehamilan ini."Ucap dokter menjelaskan.


"Aku tau,dok.Dan aku akan menanggung semua resikonya itu.Aku tak mau kehilangan bayiku,dan tentang penyakitku ini aku memohon dengan sangat jangan sampai ketahuan oleh keluargaku."Ucap Shinta sambil menangis.


"Apa ibu yakin dengan keputusan ini?pikirkan baik baik bu.Ini demi keselamatan nyawa ibu sendiri."Ucap dokter itu menekankan.


"Aku yakin dengan keputusanku,dan bayi ini bisa lahir dengan selamat nantinya."Ucap Shinta penuh keyakinan.


"Baiklah,bu.Saya akan menemui suami ibu diluar,dan akan mengatakan kalau kehamilan ibu dalam keadaan baik baik saja.Tapi,saya berharap ibu mau memikirkan lagi tentang kesehatan ibu sendiri."Ucap dokter itu berharap Shinta mau berubah pikiran.


"Aku akan baik baik saja,dok.Tolong rahasiakan penyakitku ini dari keluargaku."Ucap Shinta memohon.


Dokter kandungan tersebut menarik nafas panjang atas permintaan Shinta yang tak mementingkan kesehatannya.Lalu melangkahkan kakinya keluar untuk menemui Bryan dan Adel.


Adel berdiri dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut saat melihatnya keluar dari ruangan tempat Shinta dirawat.Ada kekhawatiran diwajahnya dan berharap dokter itu memberikan kabar bahagia.


"Dok,bagaimana keadaan Shinta?dia baik baik saja kan?lalu,kandungannya tidak apa apa kan?"tanya Adel tegang.


"Pasien tidak apa apa kok,dan kandungannya juga baik baik saja."Ucap dokter itu kepada Adel dan juga Bryan.


"Syukurlah,terima kasih yah dok karena telah membantu menangani Shinta.Aku sampai takut tadinya saat melihat kondisinya yang tak sadarkan diri."Ucap Adel dengan nada sedih.


"Oya,untuk suaminya minta tolong untuk lebih memperhatikan kondisi pasien.Jangan sampai membuat pasien stress dan jangan terlalu banyak bergerak melakukan sesuatu yang berat."Ucap dokter mengingatkan Bryan.


Bryan menganggukan kepalanya menyetujui saran dari dokter tersebut.Lalu dokter tersebut memberikan resep obat kepada Bryan,dan mengatakan kalau Shinta sudah boleh pulang tanpa harus dirawat inap.


Saat dokter itu pamit undur diri,Bryan dan Adel masuk kedalam ruangan untuk menemui Shinta.Adel menghampiri wanita itu dan memberikan pelukan hangat karena merasa senang melihat keadaan Shinta dan janinnya baik baik saja.


"Syukurlah kamu gak apa apa Shin."Ucap Adel senang.


"Gak perlu sok baik deh,palingan juga kamu berharap aku mati kan?"ucap Shinta menepis tangan Adel.

__ADS_1


"Shinta,kamu apa apaan sih?Masih untung istriku peduli dengan keadaanmu."Ucap Bryan melototi Shinta.


"Sudahlah mas,mendingan sekarang kita pulang kerumah.Gak perlu berdebat lagi,ingat kata dokter barusan!"ucap Adel menenangkan suaminya.


Shinta pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.Adel menyuruh suaminya untuk mengejar Shinta untuk menuntunnya kedalam mobil,sedangkan dirinya pergi menebus obat terlebih dahulu.


Saat dimobil,Bryan hanya diam membisu tak mau buka suara.Lalu Shinta pun memulai obrolan sambil merengek kepada Bryan agar permintaannya dipenuhi.


"Sayang,nanti aku minta duit yah?"ucap Shinta dengan manja.


"Untuk apa Shin?lagian kemarin kan sudah kutransfer kekamu.Apa masih kurang?"


"Aku mau beli ponsel baru,boleh yah?"rengek Shinta.


"Butuh berapa emang?"tanya Bryan santai.


"Gak banyak kok,hanya lima puluh juta doang."Ucap Shinta membuat Bryan melotot.


"Sebanyak itu?maaf Shin,aku tak bisa menuruti permintaanmu.Kemarin kan aku sudah transfer seratus juta,masa sudah habis dalam sekejap sih?"ucap Bryan menolak permintaan wanita itu.


"Yang kemarin kan buat berobat ibu aku.Sayang,jangan pelit dong sama istri kamu ini."Bujuk Shinta.


Shinta tetap merayunya agar lelaki itu memenuhi permintaannya.Tak lama,Adel datang dan langsung naik kemobil sambil menenteng obat untuk Shinta.


"Lama amat sih,gak tau gerah apa nungguin kamu yang lelet banget."Ucap Shinta sinis.


"Ini kan obat kamu,harusnya berterima kasih kepada Adel karena sudah banyak membantumu."Ucap Bryan mulai emosi.


"Jangan belain dia yah!emang sudah seharusnya kan dia melakukan tugasnya sebagai babu?"ucap Shinta membuat Bryan naik pitam.


Adel segera menghentikan keduanya karena mengingat kondisi kandungan Shinta yang lemah.Dia tak ingin,sampai kejadian lagi kayak tadi.Keduanya pun langsung terdiam saat Adel meneriaki mereka.


Bryan tau isi hati istrinya itu,dia pun memilih diam.Lalu dirinya menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya agar tidak gampang emosi menghadapi istri sirinya itu.


"Sebelum pulang,kita mampir disuper market yah buat beli kebutuhan pokok bulanan."Ucap Adel ketika suasana sudah tenang.


"Ngapain kamu yang nyuruh nyuruh suamiku?lagipula mulai besok,kamu belanjanya dipasar!disana lebih cocok buatmu buat belanja."Ucap Shinta ketus.


"Cukup,jangan buat darahku mendidih,Shinta."Ucap Bryan mulai emosi lagi.

__ADS_1


"Sudahlah,mas.Yah sudah,nanti aku belanja dipasar mulai besok."Ucap Adel meredahkan emosi suaminya.


Sepanjang perjalanan,Shinta tak henti hentinya membuat Bryan naik pitam.Hingga tak terasa mereka pun sudah sampai dirumah.Adel segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Shinta.


Bryan melarangnya karena merasa tindakan istrinya itu terlalu berlebihan.Tapi Adel tetap melakukannya dan menuruti perkataan wanita itu.Bryan yang melihat itu,merasa kesal lalu melangkahkan kakinya kedalam rumah.


Saat Adel menuntun Shinta untuk masuk kedalam rumah,tiba tiba wanita itu membisikkan sesuatu ketelinga Adel


"Kamu harus menerima akibat dari perbuatan keluargamu."Bisik Shinta membuat Adel bingung.


"Maksud kamu apa?kenapa kamu bawa bawa keluarga aku Shin?tanya Adel menghentikan langkahnya.


"Haha..tegang amat sih,pokoknya kamu harus membayar atas kematian Bimo."Ucap Shinta lalu meninggalkan Adel yang masih kelihatan bingung.


Adel merasa ada yang janggal dari perkataan wanita itu.Kenapa tadi harus menyebut keluarganya,padahal kematian Bimo disebabkan oleh wanita itu sendiri dan tak ada sangkut pautnya dengan keluarganya.


Dia pun tak mau memikirkannya terlalu dalam,mungkin saja wanita itu hanya ingin membuat pikirannya kacau berantakan.Akhirnya dia memilih segera menyusul mereka masuk kedalam rumah.


"Del,tolong pijiti kakiku dong!"Ucap Shinta yang sudah berbaring diatas sofa.


"Biar aku saja yang melayaninya.Sekarang,kamu masuk saja kekamar untuk istirahat."Ucap Bryan lalu duduk dibawah untuk memijiti kaki Shinta.


"Gak mau sama kamu,pokoknya Adel yang harus melakukannya."Ucap Shinta ngambek.


Melihat Shinta yang berbicara kencang,Adel pun menghampirinya dan memijiti kaki wanita itu.Lagi lagi dia tak ingin melukai janin yang ada diperut wanita itu.


Karena pijitan Adel,Shinta pun tertidur.Bryan yang melihat itu,segera menyuruh istrinya tersebut menghentikan semuanya dan mengajaknya masuk kedalam kamar.


"Mas,apa yang kamu lakukan?aku tak mau Shinta melihat kita berduaan dikamar seperti ini."Ucap Adel ingin keluar dari kamar tersebut.


"Tenang saja,Del.dia tak akan bangun karena sudah terlelap.Aku ingin bermesraan denganmu."Ucap Bryan menarik tangan Adel hingga jatuh dipelukannya.


"Mas,maaf aku tak bisa melanggar janjiku terhadap Shinta.Aku harap,kamu mau menunggu sampai bayi kalian lahir yah?"ucap Adel membuat Bryan kecewa.


Mendengar kalimat Adel,lelaki itu pun memilih keluar dari kamar dan ingin membantu istrinya tersebut untuk menyiapkan makan malam.Namun Adel menolaknya dan menyuruh Bryan untuk tetap berada disamping Shinta.


Dengan terpakasa dia pun menuruti permintaan Adel dan duduk disofa untuk menonton tv.Didapur,Adel pun memasak untuk makan malam,sendirian.Ada kesedihan sebenarnya saat menolak ajakan suaminya yang ingin bermesraan bersamanya.


"Maafin aku mas,sebenarnya aku ingin sekali berada dipelukanmu dan menikmati malam pertama yang selalu kurindukan.Namun,aku juga tak bisa melanggar janjiku kepada Shinta.Tapi aku janji setelah anak itu lahir,kita akan hidup bahagia kembali."Gumam Adel lalu menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2