
"Apakah Kamu mencintaiku, mas? kalau tidak, lepaskan aku dan pulangkan aku ke rumah nenek. karena aku juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan."Ucap Adel meminta jawaban suaminya.
Langkah kaki Bryan terhenti mendengar ucapan istrinya itu, lalu dia pun kembali menghampiri istrinya itu dengan wajah yang terlihat sedang menahan emosi,
" Oh, kamu ingin cerai dariku agar bisa bersatu dengan selingkuhanmu itu? iya yah lupa, lelaki itu yang pertama kali memberikan kenikmatan kepadamu. Makanya kamu ingin segera terbebas dariku, agar bisa memadu kasih dengannya.Begitu? "ucap Bryan dengan nada emosi lalu memegang dagu Adel secara kasar.
" Aku hanya bertanya apakah kamu mencintaiku? kenapa kamu sampai emosi kayak gini. Asal kamu tau, aku bukan wanita murahan seperti dugaanmu."Ucap Adel mendorong tubuh Bryan agar menjauh darinya.
"Aku akan menceraikan mu, tapi kamu minta izin dulu kepada ibu dan bapak. Dan aku akan menuntut kamu, jika terjadi apa-apa pada bapak. Kamu tau sendiri kan kondisi bapak seperti apa? "
"Kamu mengancamku, mas? baiklah, aku pastikan bapak akan baik-baik saja, dan aku akan buktikan padamu, bapak sendiri yang akan memintamu untuk segera menceraikan ku. " Ucap Adel penuh percaya diri.
"Baiklah, kalau kamu berhasil aku akan menceraikanmu. " Ucap Bryan lalu keluar dari kamar itu meninggalkan istrinya.
Mendengar itu, membuat Adel mengerti bahwa suaminya tidak mencintainya lagi. Sebenarnya dia juga sadar selama pernikahan mereka suaminya itu tak pernah mencintainya. Tapi dia merasa dirinya yang bodoh, masih saja mau bertahan dan mengharapkan cinta dari suaminya tersebut.
Padahal dia sudah sangat bahagia dengan perubahan sikap suaminya yang memberikannya kebahagiaan, walaupun tak pernah menyentuhnya. Saat itu dia mengerti keadaan, karena perbuatan Shinta yang jadi penghalang bagi hubungan mereka.
Namun kini Shinta telah meninggal, membuat Adel merasa lega bisa memulai rumah tangga yang harmonis dengan suaminya. Namun semua kini telah hancur lagi setelah dirinya dijebak di sebuah hotel dengan Mario. Kedua sahabat, bahkan neneknya menyuruh untuk menyerah saja untuk mengakhiri semuanya demi mendapatkan kebahagiaan, tapi dengan bodohnya dia memilih untuk bertahan.
Adel berpikir akan memberikan kesempatan kepada suaminya itu. Namun kini dia menyesali telah menolak saran dari kedua sahabat dan neneknya tersebut. Dengan kehadiran Rania, untuk membuat rumah tangganya utuh dan bahagia, seakan tak ada harapan. Mungkin jalan terbaiknya adalah berpisah. Kali ini, Adel sudah bertekat untuk bercerai dari suaminya.
__ADS_1
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Pagi harinya, seperti biasa Adel akan membuat sarapan pagi. Karena saat ini dirinya masih berstatus sebagai seorang istri, sudah kewajibannya untuk menyiapkan semuanya untuk sang suami. Namun dia membuat nasi goreng hanya untuk dirinya dan sang suami dan tak mempedulikan Rania.
Saat tengah makan, datanglah Ali anak dari Rania ikut duduk dan meminta untuk dibuatkan susu dan roti. Mendengar rengekkan anak itu, Bryan pun menyuruh Adel untuk menyiapkannya karena kasian pada anak itu. Dengan memutar bola mata malas, Adel diam saja tak mau merespon bahkan dengan lahapnya memakan nasi goreng buatannya.
"Kamu tuli yah? aku kan bilang, siapkan susu dan juga roti untuk sarapan Ali. " Ucap Bryan menggebrak meja makan membuat Ali kaget.
"Emang aku ini ibunya? suruh aja sana sama ibunya. Jangan nyusahin orang lain. " Ucap Adel lalu meninggalkan meja makan begitu saja.
"Adel.. turuti semua apa kata suami. Pengen dibilang sebagai istri durhaka? " teriak Bryan namun diabaikan oleh istrinya tersebut.
Mendengar teriakan itu, datanglah Rania menghampiri lelaki itu dan mengelus pundaknya. Namun ditepis oleh Bryan lalu dengan tegas ia berkata pada wanita itu untuk mengurus keperluan anaknya sendiri tanpa merepotkan orang lain.
" Terserah dia kalau gak mau ngurusin bayi itu. Kamu kan tau sendiri, semua itu jadi tugas utama kamu. Shinta nyuruh aku menikahimu kan agar kamu bisa merawat bayi itu. Jadi jangan pernah mengeluh. Dan ingat, kamu juga harus ada waktu untuk ngurus anak kamu sendiri. Aku gak mau kejadian tadi terulang lagi. "Ucap Bryan masih membela istri pertamanya.
Mendengar penuturan Lelaki itu, membuat Rania geram.
" Aku juga udah jadi istri kamu. Jadi aku minta sama kamu untuk berlaku adil. Memang waktu itu Shinta yang menyuruhku untuk merawat bayi kalian, tapi kan wanita kampung itu masih tinggal seatap dengan kita. Jadi sudah seharusnya dia juga turut mengurus bayi itu agar aku juga punya waktu untuk mengurus anakku sendiri. "Ucap Rania dengan lantang.
" Baiklah, aku akan memikirkan semuanya itu. "Ucap Bryan singkat lalu beranjak ingin menemui istri pertamanya didalam kamar.
__ADS_1
Didalam kamar Adel sedang sibuk dengan ponselnya. Melihat suaminya yang masuk, segera dia menyimpan ponselnya tersebut diatas nakas dan seperti biasa menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Aku tau kamu marah, maafkan aku atas sikapku tadi. " Ucap Bryan yang duduk diatas kasur.
"Asal kamu tau, jauh dilubuk hatiku aku sangat mencintaimu. Namun kalau mengingat kejadian dihotel itu, membuatku sakit hati. Dan jujur aku ingin membuang rasa cintaku, tapi sangat sulit rasanya. Mungkin benar, lebih baik kita berpisah agar kamu bisa menemukan kebahagiaan yang tak pernah bisa kuberikan padamu.
Segera siapkan semua surat-suratnya dan gugat lah aku. Aku sudah siap dan akan menuruti keinginanmu untuk bercerai dariku. "Ucap Bryan mengelus puncuk kepala istrinya itu walau terbalut dengan selimut.
Adel menangis mendengar perkataan suaminya tersebut. Dia tak menyangka kalau suaminya tersebut ternyata menyimpan rasa cinta terhadap nya. Hal yang selalu ingin didengarnya keluar dari mulut suaminya tersebut, kini telah menjadi nyata.
Namun, mengingat tentang Rania, dia kembali berpikir pasti kehidupannya akan semakin menderita. Walau Bryan memiliki rasa cinta terhadapnya, pasti ada berbagai cara yang dilakukan oleh wanita itu untuk membuatnya hancur berkeping-keping.
"Apakah, kamu masih mencintaiku seperti dulu? " pertanyaan Bryan membuat Adel menahan nafas.
Dia ingin berkata jujur, tapi takut semua keputusannya untuk bercerai akan gagal dan malah memilih untuk kembali mempertahankan rumah tangganya. Kalau mau ditanya, perasaan Adel saat ini dilema. Antara cerai atau bertahan?
" Mengapa disaat aku menginginkan perceraian, kamu baru datang mengatakan rasa cintamu? kamu bikin aku gila, mas. Apa ini hanya siasatmu agar diriku kembali bertahan dan dengan seenaknya kalian membuatku menderita? "
"Selama ini aku sudah menunjukan rasa cintaku padamu. Namun semuanya musnah setelah melihatmu bermadu kasih dengan lelaki lain. Jujur saat ini aku memang ingin membuang rasa cinta ini untukmu.Aku belum mau menyentuhmu karena aku jijik jika mengingat saat lelaki itu mencicipi tubuhmu."
"Hah? apa kamu yakin diriku sudah di cicipi oleh lelaki lain? baiklah, kalau kamu masih ragu, ayo kita kerumah sakit sekarang. Jika dokter mengatakan kalau aku sudah tak perawan lagi, silakan hina aku sebagai wanita menjijikkan." Tantang Adel.
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, Bryan terdiam. Dalam hatinya berkata mungkin dengan cara itu bisa mengetahui kejelasannya. Sebelum dia berkata sesuatu, Adel sudah berdiri di hadapannya.
"Ayo, sekarang juga kita kerumah sakit untuk mengetahui hasilnya! dan tak boleh beralasan sibuk, hari ini gak perlu masuk kerja, turuti perintah ku agar semua terbukti dan kamu tidak mengungkit tentang kejadian di hotel itu lagi. " Ucap Adel menarik lengan suaminya untuk segera berangkat ke rumah sakit.