
Setahun kemudian, akhirnya Adel bisa terbebas dari masa sulitnya dan mencoba untuk bangkit kembali memulai kehidupannya yang masih berjalan. Kini dia kembali ke kota dan akan melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar.
Ani dan Lala sangat senang melihat perubahan sahabatnya itu yang kini telah kembali ceria. Kali ini mereka akan tinggal bertiga dikontrakan yang dulu. Untung saja, di tempat Ani bekerja masih membuka lowongan pekerjaan.
"Adel.. Kami senang bisa melihatmu lagi. Sekarang ayo persiapkan diri untuk melamar pekerjaan ditempat ku yah? " ucap Ani antusias.
"Harus sekarang yah? gak tunggu besok aja baru kesananya? " tanya Adel lalu duduk disamping sahabatnya itu.
"Iya dong sekarang, takut keduluan ama orang lain nantinya. " Ucap Ani sambil mencari baju yang pas untuk Adel..
"Aku belum berpengalaman loh jadi sekretaris. Ntar gak diterima, buang-buang waktu saja loh. " Ucap Adel tak bersemangat.
"Ayolah, aku tau kamu bisa kok! kamu sudah siapkan berkas lamarannya kan? harus yakin dong dengan kemampuan mu sendiri. Apalagi kan kamu pernah menjadi staf administrasi di kantor kelurahan, pandai berbahasa asing, itu kan sudah jadi bukti kalau kamu mampu bekerja dalam bidang ini. " Ucap Ani terus meyakinkannya.
Karena tak mau berdebat lagi, akhirnya Adel menurut juga. Sekarang dia sudah rapi dengan pakaian khas pelamar kerja.Dia memakai kemeja putih dan rok hitam selutut, rambutnya disanggulnya dengan rapi.Serta tak lupa pula memakai kacamata bulat biar terkesan seperti seorang sekretaris yang pintar namun juga polos dan lugu.
Awalnya dia tak percaya diri dengan penampilannya yang menurutnya cupu, namun demi mendapatkan pekerjaan itu, dia harus rela berpenampilan ala-ala sekretaris.
___________________
Kini Adel dan Ani telah berdiri di sebuah gedung bertuliskan Amazon Group. Menurut Ani, perusahaan ini bergerak dibidang properti. Dan sekarang ini dipegang oleh pewaris ketiga yaitu Fabian Amazoni sebagai direktur utama. Jadi, sekarang ini, direktur utama sedang mencari pengganti sekretarisnya yang kemarin telah dipecat tanpa alasan.
"Dipecat tanpa alasan? berarti dia orangnya terkesan angkuh dong? wah, kok perasaan ku gak enak gini yah? " ucap Adel ketakutan.
"Seangkuh apapun orangnya, kalau kamu bisa mengambil hatinya pasti deh akan bersikap baik padamu. " Ucap Ani memberi semangat.
Ternyata sudah banyak pelamar di tempat itu membuat Adel harus rela mengantri panggilan wawancara. Namanya belum juga dipanggil membuatnya mulai bosan dan rasa kantuk melanda nya. Hingga akhirnya, namanya pun dipanggil membuatnya segera berdiri dan masuk ke ruang wawancara tersebut.
__ADS_1
Setelah dirinya selesai diwawancarai, kini tinggal menunggu hasilnya dan dia berharap, bisa terpilih. Setelah lama menunggu hasilnya, tim HRD keluar dari ruangan dan memberikan satu nama yang lolos ke tahap selanjutnya.
Jantungnya berdebar-debar berharap kesempatan itu berpihak kepadanya. Karena saat ini dia sangat membutuhkan pekerjaan untuk mencari biaya pengobatan neneknya. Ya, saat ini neneknya itu mulai sakit-sakitan dan untuk berobat kerumah sakit membutuhkan biaya yang besar.
"Terima kasih kepada semuanya karena telah mendaftar dan telah sampai ke tahap ini. Sekarang kami telah memilih satu nama saja untuk bertemu langsung dengan direktur utama sebagai tahap akhir. Dan direktur utama sendiri yang akan memutuskan nantinya. Silahkan ikut dengan kami atas nama Adel Larasti. "
Mendengar namanya yang disebut membuat Adel tersenyum bahagia lalu segera dia bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki tim HRD yang memberikan pengumuman tadi.
"Sekarang kamu tunggu disini sambil mengisi formulir ini. Nanti setelah itu baru berhadapan langsung dengan direktur utama. " Ucap tim HRD itu menyodorkan sebuah kertas kepada Adel.
"Baik, dan Terima kasih. " Ucap Adel menerima kertas formulir itu dari salah satu tim HRD tersebut.
Setelah mengisi formulir tersebut, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri Adel dengan senyum ramahnya.
"Hallo, perkenalkan nama saya Lilian, nanti saya yang akan menjelaskan semua tentang pekerjaan yang akan kamu lakoni disini. Kita menunggu direktur utama yang saat ini masih berada diruang meeting. Nanti setelahnya, kita menghadap keruangan nya. " Ucap Liliana, salah satu tim HRD.
Adel pun menyerahkan kertas formulir yang telah di isinya tadi kepada tim HRD yang lain. Lalu dia mengikuti langkah kaki Liliana. Karena meeting belum berakhir, akhirnya sambil menunggu, Liliana menjelaskan beberapa detail tugas yang harus dilakukan sebagai sekretaris utama.
Adel buru-buru mengambil buku catatannya dan bolpen dari dalam tasnya, lalu mencatat semua yang dikatakan oleh Liliana. Semua detail telah dicatat agar dirinya tak lupa dengan tugas-tugas utamanya setelah menjadi sekretaris nanti.
Karena meeting sudah selesai dan direktur utama telah memasuki ruangannya, Liliana mengajak Adel untuk segera menghadap karena sang direktur telah menunggunya.
Buru-buru Adel merapikan pakaiannya lalu mengikuti Liliana masuk kedalam ruangan sang direktur utama.
"Permisi pak, ini calon sekretaris yang lolos seleksi wawancara. " Ucap Liliana memperkenalkan Adel kepada direktur utama tersebut.
"Adel.. Nama direktur utama kita disini adalah pak Fabian. "Ucap Liliana lagi kepada Adel.
__ADS_1
Adel mengangguk lalu dengan seksama mengamati direktur utama itu yang terlihat cuek dan sibuk dengan berkas yang ada dihadapannya. Hingga saat lelaki itu mendongak menatap kearah Adel, membuat keduanya terkejut.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat, hingga pada akhirnya Liliana berbisik ke telinga Adel untuk memperkenalkan diri kepada direktur utama tersebut.
"Selamat siang, pak. Perkenalkan nama saya Adel. "Ucap Adel berpikir seperti pernah melihat lelaki itu, tapi lupa pernah bertemu dimana.
Fabian menatap wajah Adel sambil tersenyum karena dirinya ingat betul dengan wanita yang ada dihadapannya itu.
" Baiklah, Liliana. Sekarang kamu bisa tinggalkan kami berdua diruangan ini. Saat ini adalah tugasku untuk mewawancarai calon sekretaris ku ini. "Ucap Fabian lalu dianggukin oleh Liliana.
Setelah Liliana keluar dan menutup pintu ruangan itu, membuat Adel menelan air liurnya sendiri. Ada rasa gugup menyelimuti nya, karena berhadapan langsung dengan sang direktur utama.
" Siapa nama kamu tadi? "tanya Fabian sambil mempersilahkan Adel untuk duduk.
" Adel Larasati, pak. "Ucap Adel setenang mungkin.
" Oh, apakah kamu sudah siap bekerja disini? dan kamu sudah tau kan tugas-tugas utama saat menjadi sekretaris ku?" tanya Fabian memandangi Adel yang terlihat gugup.
"I-iya, pak. Tadi sudah dijelaskan oleh nona Liliana. " Ucap Adel sambil tertunduk.
Setelah lama diwawancara oleh Fabian, akhirnya Adel pun diterima untuk menjadi sekretaris sang direktur utama. Ternyata Adel sudah lupa kepada lelaki itu, walaupun sempat merasa pernah bertemu dengannya. Dan Fabian sebenarnya masih mengingat betul kepada sekretaris barunya itu. Hanya saja dia berpura-pura untuk tidak mengenal Adel.
'Ah, wanita ini.. ternyata dia tak ingat pada diriku. Lagipula mengapa dia memutuskan untuk bekerja, bukankah suaminya adalah pengusaha kaya? ' batin Fabian sambil menatap kearah Adel.
"Apakah sekarang, kamu bisa memulai untuk bekerja dengan ku? "
"Dengan senang hati, pak. Dan terimakasih karena telah menerima saya untuk bekerja ditempat ini. Saya berjanji akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. " Ucap Adel penuh keyakinan.
__ADS_1
Mulai saat itu, Adel pun memulai membuka lembaran baru dengan bekerja di salah satu perusahaan sebagai sekretaris direktur utama.