
Keesokan harinya sesuai perjanjian, Adel dijemput oleh suaminya untuk balik ke kota. Awalnya, bu Ida menolak, dan secara terang-terangan meminta lelaki itu untuk menceraikan Adel. Mendengar hal itu, Adel merasa kaget sekaligus heran dengan sikap neneknya tersebut.
Bryan menatap kearah Adel dengan tatapan tajam meminta untuk menjelaskan arti dari perkataan bu Ida tersebut,
"Nek, kenapa berbicara seperti itu? Tolong, jangan menambah permasalahan Adel! " ucap Adel memohon kepada neneknya.
"Jangan pikir nenek tak tau yah kalau selama ini suamimu tak pernah memberikanmu kebahagiaan. " Ucap bu Ida dengan nada tinggi.
"Nek, kita kan udah bicarakan semalam untuk tidak mengungkit masalah itu lagi. " Ucap Adel mulai terisak.
"Sekarang jelaskan, apa kamu mencintai cucu nenek? kalau ya, silakan bawa pulang, dan kalau tidak, tolong lepaskan dia demi kebahagiaannya. " Ucap bu Ida kepada lelaki itu.
Mendengar pertanyaan bu Ida, sontak membuat Bryan bingung. Sebenarnya dia datang menjemput Adel atas permintaan bapaknya dan bukan karena kemauannya sendiri. Mengingat apa yang dilakukan Adel telah membuatnya sakit hati dan rasa cintanya kepada Adel telah berkurang.
Namun kalau dia tak mengikuti kemauan orangtuanya, mereka mengancam akan mencoret namanya dari ahli waris. Demi harta, dia rela memaafkan istrinya dan berpura-pura mencintai istrinya didepan bu Ida.
Dengan bersimpuh dikaki Adel, lelaki itu memohon maaf karena selama ini belum bisa membahagiakan nya. Sambil mengeluarkan air mata palsu, dia berjanji akan selalu mencintai Adel, dan akan menyelesaikan setiap masalah yang datang dengan bersikap secara bijaksana.
"Kalau mencintai cucuku, lantas mengapa kamu menikah lagi secara diam-diam dengan wanita lain? " ucapan bu Ida membuat kedua insan itu kaget.
"Darimana nenek tau akan hal itu? " tanya Adel meminta penjelasan.
"Sudahlah, Del.. kamu gak perlu tau soal itu. Yang ingin nenek ketahui, apakah suami kamu ini siap meninggalkan wanita itu? kalau tidak, sama aja bohong dong. Pasti cintanya lebih besar kepada wanita itu. Mendingan, kalian cerai saja! " ucap bu Ida lalu duduk disofa.
"Wanita itu sudah meninggal kemarin, nek. Jadi sekarang gak perlu diungkit lagi. Maafkan Bryan dengan kesalahan dimasa lalu. Bryan janji kedepannya hanya Adel yang akan jadi pendamping hidup Bryan. " Ucap Bryan lalu bersimpuh dikaki bu Ida.
__ADS_1
Melihat hal itu, bu Ida percaya kalau Bryan berkata tulus. Lalu berkata,
"Jika sekali lagi kudengar kamu membuat cucuku menderita, kamu akan menerima akibatnya. " Ucap bu Ida mengancam.
"Sekarang bawalah istrimu pulang! dan jangan lagi menyakiti hati istrimu." Ucap bu Ida lagi lalu berlalu masuk kedalam kamar.
Setelah semuanya siap, Adel mengetok pintu kamar bu Ida untuk pamit pulang mengikuti suaminya. Namun bu Ida hanya diam dan tak mau membukakan pintu untuk cucunya tersebut.
Adel mengerti dengan keadaannya. Mungkin neneknya masih kecewa padanya karena tetap memilih bertahan dengan suaminya itu. Mau gimana lagi kalau masih cinta. Hanya raut kesedihan yang terpancar karena hingga mau masuk kedalam mobil pun, bu Ida enggan untuk keluar sekedar untuk mengatakan sampai jumpa atau hati-hati dijalan.
Dalam kesedihannya, dia malah tersentak saat mengetahui kalau di dalam mobil suaminya, ada seorang wanita yang menggendong seorang bayi serta seorang anak kecil. Bryan yang melihat ekspresi istrinya tersebut langsung menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah bu Ida.
Saat sudah keluar dari perbatasan kampung, suasana dimobil itu hening dan tak ada yang memulai obrolan. Hingga karena rasa penasarannya, Adel pun bertanya kepada suaminya itu,
"Oh, iya sampai lupa mengenalkan mereka. Aku mau cerita dulu sedikit, tiga hari yang lalu Shinta meninggal dan untungnya bayinya selamat. Nah itu dia bayinya. " Ucap Bryan menjelaskan lalu menoleh kearah bayi yang digendong oleh Rania dibangku belakang.
"inalillahi.. aku turut berdukacita, mas. Lalu wanita dan anak kecil itu? " tanya Adel lagi penasaran.
"Dia adalah kakaknya Shinta yang dipercayakan untuk merawat bayi kami. Karena sekarang sudah tak punya siapa-siapa lagi, jadi kuputuskan mengangkatnya sebagai baby sitter. dan yang disampingnya itu adalah anaknya. Kamu boleh lah kenalan sendiri biar akrab. " Ucap Bryan lalu tetap fokus untuk menyetir.
Adel pun memperkenalkan diri kepada wanita itu serta anak kecil tersebut.Namun tak ada yang aneh saat perkenalan itu terjadi, hingga Adel tanpa sengaja mengingat sesuatu,
'Namanya kok sama seperti yang ada dibuku diary Bimo? atau hanya kebetulan semata? tapi gak mungkin, kata mas Bryan dia kakaknya Shinta? aku yakin, mungkin dia wanita yang pernah dekat dengan Bimo. ' Batin Adel.
"Oh, gitu. Emang suami mbak Rania kemana? " tanya Adel membuat Bryan terbatuk-batuk.
__ADS_1
Melihat suaminya seperti itu, seperti ada kecurigaan dihati Adel. Mungkinkah suaminya itu bermain api dengan Rania?
"Suamiku lagi kerja diluar kota. Kemarin pas di rumah sakit sebelum adikku meninggal, dia berpesan agar diriku yang merawat anaknya. Awalnya aku memutuskan untuk membawa bayi ini pulang kerumahku, tapi suamimu keberatan karena dia juga tidak mau jauh dari buah hatinya ini. Sehingga pada akhirnya dia memintaku untuk jadi baby sitter dan dibayar perbulan. " Ucap Rania meyakinkan karena dia menyadari kecurigaan Adel.
"Sekarang karena sudah saling kenal, aku berharap kalian hidup rukun yah? " ucap Bryan membuat Adel mengernyitkan dahinya.
"Hidup rukun? apa gak salah mas? kalau dia istrimu juga baru boleh kamu berkata seperti itu. Dia kan hanya baby sitter. " Ucap Adel merasa aneh dengan omongan suaminya tersebut.
"Emang kalau dia hanya seorang baby sitter, aku gak boleh berkata seperti itu? kan maksud aku rukun dalam merawat bayi itu. Jangan sampai berebutan untuk merawatnya.Lakukan secara bersama. " Ucap Bryan kelihatan gugup.
Adel tak mau berkomentar lagi, lalu mengalihkan pembicaraan tentang permasalahan kemarin. Namun, Bryan tak mau membahas itu lagi dan mengatakan kepada Adel untuk melupakannya saja. Lelaki itu masih memberi kesempatan kepada Adel, dan berharap istrinya tersebut tidak mengulangi perbuatannya yang memalukan lagi.
Dalam hati Adel sebenarnya ingin menjelaskan semuanya bahwa yang dilihat suaminya di hotel itu hanya kesalahpahaman dan dia dijebak oleh Shinta. Namun mengingat wanita itu sudah meninggal, dia tak mau lagi mengungkitnya dan berharap suatu saat nanti Bryan akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
' Tapi tunggu, waktu itu yang berbicara lewat telepon kan, bukan Shinta. Emang sih itu nomor kontaknya Shinta, tapi bukan suara dia karena aku udah hafal betul suaranya dan yang waktu itu sangatlah beda. Apa jangan-jangan yang menjebak ku, adalah mbak Rania? suaranya saat berbicara tadi hampir mirip dengan yang waktu itu. "Batin Adel menerka-nerka.
" Mas, nanti mau kerumah bapak dan ibu dulu atau langsung kerumah kita? "tanya Rania membuat Adel terperangah.
" Mas? rumah bapak dan ibu? rumah kita? tolong jelaskan mengapa mbak Rania cara bicaranya seperti kalian ini merupakan sepasang suami istri sih? " tanya Adel semakin curiga.
"Bisa gak sih kamu tuh jangan berpikiran aneh-aneh mulu? emang salahnya dimana dia berkata seperti itu? kan dia sudah tinggal bareng kita, gak apa-apa dong kalo dia menganggap rumah kita adalah rumahnya juga. " Bentak Bryan lalu menepikan mobilnya untuk meluapkan emosinya.
"Maaf mas, aku tidak akan bertanya lagi. Sekarang, ayo lanjutkan perjalanannya! dan kuharap kita ke rumah ibu dan bapak dulu yah? soalnya aku kangen pada mereka. " Ucap Adel berusaha menahan tangisnya.
Untuk saat ini, Adel memutuskan untuk diam saja agar tak menimbulkan masalah yang baru lagi. Mungkin ada waktunya, untuk mengungkap siapa Rania sebenarnya. Setelah kematian Shinta, muncul lagi seorang wanita yang membuat hati Adel khawatir. Dia hanya takut wanita yang saat ini mengaku sebagai baby sitter, akan membuat rumah tangga nya berantakan.
__ADS_1