
Sebelum Selena datang ditempat yang sudah direncanakan, Ani dan Lala menyiapkan segala sesuatunya agar berjalan sesuai perencanaan. Dengan cepat, Lala mengikat anak itu di sebuah kursi biar terlihat seperti penyekapan. Sebenarnya, mereka tak tega membuat anak itu ketakutan. Tapi demi menangkap wanita, terpaksa melakukan cara tersebut.
Ada lima polisi yang menyamar,untuk lebih muda membekuk wanita itu dan semua anak buahnya. Sambil menunggu, mereka bersembunyi di suatu tempat yang aman. Sedangkan ke lima polisi yang menyamar tadi, berada disebelah anak yang disekap itu.
Dua jam menunggu, akhirnya Selena dan anak buahnya memasuki area tempat perjanjian nya dengan wanita yang memesan narkotika terhadapnya. Setelah semuanya memasuki ruangan tempat anak itu disekap, dua orang polisi yang menyamar langsung menutup pintu masuk ruangan tersebut.
"Cepat panggil bos kalian, biar semuanya cepat selesai! dan lepaskan anakku, karena dia tidak tau apa-apa." Ucap Selena dengan lantang.
"Hallo Selena.. anda telah masuk dalam perangkap! " ucap Adel yang keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Selena yang terlihat terkejut.
"Sial.. jadi kamu menjebak ku! " ucap Selena ingin menyerang Adel.
Selena menyuruh anak buahnya untuk menghabisi semua yang ada diruangan itu. Namun ketika melihat para polisi itu mengarahkan pistol kearah mereka, membuat nyali Selena dan anak buahnya menciut.
"Jangan bergerak, atau kalian akan tertembak! " ucap salah satu polisi lalu dengan cepat mereka memborgol tangan Selena dan para anak buahnya.
Mereka tidak melakukan perlawanan, karena takut ditembak oleh polisi tersebut. Kedua sahabat Adel ikut masuk keruangan itu untuk menyaksikan penangkapan wanita itu beserta anak buahnya. Polisi juga mengamankan beberapa bungkus paketan yang berisi obat-obatan terlarang untuk dijadikan bukti.
"Awas kamu, Adel! setelah aku keluar dari penjara nanti, akan kubalas perbuatanmu ini! " ucap Selena dengan penuh amarah.
"Coba aja kalau bisa. Kamu itu akan dipenjara seumur hidup, dan tak akan bisa bertemu dengan Adel lagi. " Ucap Lala dengan lantang.
Mendengar kalimat Lala, wanita itu terdiam membisu lalu mereka pun digiring kekantor polisi. Membuat Adel seketika lega, karena akhirnya wanita itu tertangkap juga. Terdengar Putri menangis histeris karena melihat ibunya dibawa oleh polisi membuat Adel merasa iba kepada anak itu.
Dengan lemah lembut, dirinya membujuk anak kecil itu agar mau ikut bersamanya. Dia mengatakan akan membawanya pulang dan bertemu dengan ayahnya. Awalnya anak itu menolak, hingga saat Adel mengatakan nanti akan dibawa bertemu dengan ibunya, anak kecil itu mengangguk sambil sesegukan.
"Kamu yakin Del, akan merawat anak itu? " tanya Ani kurang yakin.
"Ya, sepertinya begitu. Kasian dia tak punya siapa-siapa lagi. Aku akan merawatnya dan menganggap dia sebagai anakku. " Ucap Adel penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ya, kalau itu maumu kami tak bisa melarangmu. Namun jika nanti ibunya bebas dan kembali mengambil anak itu dan membuatmu terluka lagi, gimana? "
"Aku yakin Selena tak akan bisa keluar dari penjara itu. Karena seperti kita tau, jika seorang pengedar narkotika dan pengguna aktif obat-obatan tersebut, hukumannya adalah seumur hidup. " Ucap Adel lalu mengajak kedua sahabatnya itu untuk pulang.
Kali ini rencana mereka berhasil, dan sekarang tinggal mengatur rencana untuk membebaskan Fabian dari tuduhan sebagai pengguna aktif obat-obatan terlarang. Akhirnya, mereka pun kembali menemui bu Salma untuk mencari tau perkembangan kasus yang menimpa Fabian.
_____________________________
Seminggu kemudian, Adel datang ke pengadilan untuk menerima keputusan dari sang hakim atas tuduhan yang menimpa suaminya. Dia berharap, semoga pengacara yang menangani kasus suaminya tersebut bisa membebaskan Fabian dari tuduhan itu.
Untung saja salah satu anak buah Selena mau menjadi saksi. Sehingga dengan kesaksian yang diberikan, akhirnya Fabian dinyatakan tidak bersalah. Ditambah lagi dengan surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa Fabian negatif sebagai pengguna aktif obat-obatan terlarang.Membuat bu Salma dan juga Adel menjadi lega akhirnya Fabian bisa dibebaskan.
Setelah dinyatakan tidak bersalah, akhirnya Fabian bisa dibebaskan dan dirinya pulang bersama nenek dan juga istrinya ke rumah utama. Ada perasaan canggung untuk memulai obrolan, karena hari terakhir bertemu, Adel meminta cerai kepada suaminya tersebut.
Begitu juga dengan Fabian diam membisu selama perjalanan. Bukan karena dirinya marah karena perkataan istrinya tempo hari, tapi entah mengapa dirinya merasa malu menyapa istrinya tersebut.
Melihat kecanggungan antara keduanya, akhirnya bu Salma membuka obrolan agar suasana tidak hening.
"Ah, nenek terlalu melebih-lebihkan deh. Semuanya kan berkat nenek yang membayar pengacara handal hingga dapat membuat mas Fabian bisa dibebaskan dari tuduhan tersebut. "
"Emang kenyataannya seperti itu kok. Kamu yang lebih berjasa dalam hal ini. " Ucap bu Salma sambil mengulas senyum kepada Adel.
Fabian belum berkata satu kata pun, karena dirinya masih merasa canggung untuk mengucapkan terima kasih kepada istrinya itu. Mungkin karena masih ada neneknya dan sang sopir, jadi dirinya malu untuk mengatakan hal itu.
Akhirnya mereka pun tiba dirumah utama. Ternyata disana Ani dan Lala sudah menunggu kedatangan mereka. Fabian terkejut melihat anak Selena yang berada disisi kedua sahabat istrinya itu. Adel mengerti dengan isi pikiran suaminya lalu dia pun mengatakan akan merawat anak Selena itu.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu itu? " tanya bu Salma merasa kurang yakin.
"Iya, nek. Kalau mas Fabian tak keberatan, aku akan merawat anak itu seperti anak sendiri. Kasian dia karena tak punya siapa-siapa lagi. "
__ADS_1
"Gimana Fabian.. apakah kamu setuju jika istrimu mengadopsi anak itu? " tanya bu Salma kepada cucunya.
"Terserah Adel saja. Tapi aku tak akan pernah menganggap dia sebagai anakku. " Ucap Fabian lalu turun dari mobil disusul oleh Adel dan bu Salma.
Melihat Fabian yang turun dari mobil, membuat anak itu menghampirinya lalu merengek minta untuk dipeluk. Fabian terdiam dan belum mau menanggapi permintaan anak kecil tersebut. Melihat hal itu, Adel menghampiri suaminya lalu memohon agar mau menerima anak tersebut. Karena kasihan jika anak tersebut akan terkena gangguan mental jika tak ada yang mempedulikannya.
Dengan terpaksa, Fabian pun mau menuruti keinginan istrinya lalu memeluk anak tersebut.
"Papa.. terima kasih sudah mau memelukku. Selama ini Putri selalu ingin dipeluk oleh papa seperti ini. " Ucapan Putri membuat Fabian melelehkan airmatanya.
Dia tau kalau anak itu bukan anak kandungnya. Namun entah mengapa saat anak itu mengutarakan kerinduannya, membuatnya begitu tersentuh. Mengingat Selena dijatuhi hukuman seumur hidup, akhirnya dia menyetujui saran istrinya untuk merawat anak kecil tersebut.
Fabian menggendong anak itu masuk kedalam rumah. Membuat bu Salma, Adel, dan kedua sahabat Adel turut merasakan kebahagiaan. Mereka mengobrol di ruang tengah begitu lama, hingga pada akhirnya, kedua sahabat Adel pamit untuk pulang.
Bu Salma mengajak Putri kekamar untuk istirahat. Sebenarnya maksud bu Salma mengajak Putri, agar Fabian dan istrinya bisa saling melepas rindu setelah dua minggu terpisahkan. Bu Salma juga berharap, hubungan rumah tangga keduanya bisa kembali harmonis.
_____________________
Saat didalam kamar, keduanya terlihat sibuk dengan pemikiran nya masing-masing. Mungkin keduanya masih malu untuk memulai obrolan. Seketika mereka saling tatap lalu membuang muka kembali karena masih gerogi.
"Apa kamu masih menginginkan perceraian itu? " tanya Fabian namun pandangan nya terarah pada tembok yang berada di sampingnya.
"Apa kamu bertanya pada tembok itu, mas? " Adel balik bertanya membuat Fabian garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Aku serius bertanya padamu, apakah kamu sudah tak mencintaiku? " tanya Fabian lagi, kali ini dia berdiri lalu mendorong tubuh Adel hingga tersandar ditembok yang ada dibelakangnya.
Adel menelan air liurnya berkali-kali karena merasa gugup dan jantungnya berasa mau copot tatkala melihat tatapan mata suaminya yang sangat tampan itu. Adel mengalihkan pandangannya kearah lain, namun Fabian mengarahkan kembali pandangan istrinya itu untuk menatapnya.
"Ayo jawab, pertanyaan ku! apapun jawaban yang keluar dari mulutmu, akan aku turuti. " Ucap Fabian lagi sambil tangannya disandarkan ditembok untuk mengunci tubuh Adel agar tak kabur dari tatapannya.
__ADS_1
Entah dapat keberanian darimana, Adel tiba-tiba mencium bibir Fabian dengan lembut. Membuat lelaki itu terkejut dengan aksi nakal istrinya tersebut. Fabian membiarkan istrinya terus menciumnya, karena sesungguhnya dia pun menginginkan hal itu namun malu untuk memulainya.
"Apakah ini jawaban kalau kamu masih mencintaiku? "