Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
makan malam bersama keluarga besar


__ADS_3

Pada malam harinya, bu Salma ingin semua anak dan cucunya berkumpul dirumah utama. Sepertinya beliau ingin mengumumkan satu hal yang paling penting. Fabian dan istrinya sudah bersiap untuk menghadiri undangan neneknya tersebut.


Sebelum masuk kedalam rumah utama, Fabian berpesan kepada istrinya agar selalu lengket dan harus terlihat mesra dihadapan nenek dan seluruh keluarganya yang hadir nanti di acara makan malam bersama. Terlihat Adel mengangguk perlahan tanda mengerti dan akan menuruti semua permintaan suaminya itu.


Adel menarik nafas panjang lalu menghela nya dan akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah tersebut. Ternyata di dalam sudah banyak yang datang dan tampak sedang mengobrol serius. Bahkan juga ada yang asyik sendiri sambil memainkan ponselnya masing-masing.


"Wah, manten baru lengket terus kayak perangko.Memang deh, kalian tuh pasangan yang serasi. " Ucap salah satu sepupu Fabian yang bernama Rina.


"Iya dong, kak. Siapa dulu dong, Fabian gitu loh. Gak bakalan abal-abal milih pendamping hidup. " Ucap Fabian lalu merangkul istrinya tersebut.


"Halah, dapat janda aja bangga. " Ucap Viona yang baru saja datang bersama Bimo.


"Janda? maksud kamu istri Fabian ini sudah pernah menikah sebelumya?haha kasian amat nasibmu mendapat wanita yang sudah tak perawan lagi. " Ucap bu Mega, yang merupakan ibu kandung Viona.


Mendengar perkataan Viona, membuat Adel sangat malu karena statusnya terbongkar juga dan sekarang sudah diketahui oleh keluarga besar suaminya. Padahal dia dan Fabian sudah berencana agar keluarganya tak tau menau tentang status nya yang sudah menjanda tersebut. Itu juga merupakan permintaan bu Salma kepada keduanya agar menyembunyikan status Adel tersebut.


Tapi kini, rencana itu sudah digagalkan oleh Viona. Membuat Fabian melotot kearah Viona dengan tajam, namun wanita itu malah tertawa mengejeknya.


"Viona, tutup mulutmu! jangan pernah menyebar fitnah. " Ucap Fabian terlihat emosi.


"Loh, siapa yang fitnah sih. Bukannya siang tadi kita ketemu dimakam suami mbak Adel yang pertama? dan suami mbak Adel yang dulu kan, kakak dari kekasihku ini. Iya kan, Bimo? " ucap Viona meminta Bimo untuk membantunya menjelaskan kebenarannya.


"Iya, mbak Adel dulunya adalah istri dari abang aku. Namun takdir yang harus memisahkan mereka berdua. Tapi kini, aku merasa senang melihat mbak Adel kembali bangkit dan sudah mendapatkan jodohnya lagi." Ucap Bimo membuat Adel menatap kearahnya.


Baru saja Fabian ingin mengucapkan satu kalimat, namun bu Salma terlihat menuruni anak tangga dan menghampiri mereka semua yang sudah duduk diruang keluarga. Terlihat senyum bahagia terpancar dari raut wajah bu Salma karena semua anak dan cucunya telah berkumpul.

__ADS_1


Satu per satu mereka mencium punggung tangan bu Salma lalu ada juga yang cipika-cipiki bersama beliau termasuk Adel salah satunya. Melihat kedekatan Adel dan neneknya, membuat Viona merasa iri hati. Pikirnya, seharusnya neneknya tersebut harus lebih perhatian pada cucunya sendiri ketimbang pada wanita yang hanya berstatus menantu dirumah itu.


"Nek.. ada banyak loh cucu perempuan nenek yang membutuhkan perhatian. Kok, kelihatannya nenek lebih memprioritaskan istri Fabian sih? aneh aja menurutku. " Protes Viona dengan ekspresi kesal kepada bu Salma.


"Semuanya sama kok dimata nenek, tak ada yang dibeda-bedakan. Mungkin itu cuma perasaan mu saja. Kebetulan saja nenek duduknya disamping Adel, kamu selalu saja memperkeruh suasana. Tadi saja nenek dengar kamu malah mengungkit status Adel. Harusnya kamu punya etika kalau ngomong, jangan asbun alias asal bunyi. "Ucap bu Salma menegur cucunya yang satu itu.


" Bu, janganlah selalu memarahi anak ku. Apa yang dikatakannya kan sesuai fakta. "Ucap bu Mega membela anaknya.


" Sudahlah, kita disini kan untuk membahas hal penting. Janganlah menambah pembahasan, nantinya gak kelar-kelar urusannya. Aku gak bisa lama-lama soalnya. "Ucap pak Djarot, anak kedua bu Salma.


Akhirnya, semuanya berhenti untuk membahas hal itu dan memilih untuk makan malam bersama. Selama dimeja makan, mereka tidak berbicara sama sekali. Begitulah tradisi saat di meja makan tidak ada yang boleh berbicara.


Barulah setelah makan malam berakhir, mereka kembali duduk di ruang keluarga dan bu Salma memberitahu hal penting kepada semuanya.


"Jadi langsung to the poin aja, saya menyuruh kalian hadir dirumah ini untuk membahas tentang perusahaan yang kini dipegang oleh Fabian. Karena dia sekarang sudah sah menikah, jadi perusahaan tersebut sudah jadi haknya sekarang. Dan ibu minta, jangan ada yang iri hati." Ucap bu Salma membuat yang lainnya keberatan.


"Iya, bu. Saya sependapat dengan Mega. Tolong, bagilah secara adil dan merata!anak kami ini kan termasuk cucu kandung di keluarga Amazoni." Ucap pak Djarot sependapat dengan bu Mega.


Bu Salma tetap berpendirian pada ucapannya, dan tak mengindahkan semua ucapan anaknya yang merasa keberatan dengan keputusannya. Lagipula itu sudah menjadi wasiat suaminya sebelum meninggal dulu. Yang akan memberikan hak perusahaan sepenuhnya kepada cucu lelakinya, yaitu Fabian. Dan untuk cucu perempuannya, sudah mempunyai bagian masing-masing.


"Sekarang, untuk para cucu yang perempuan, untuk mendapatkan hak waris kalian, segeralah cari pasangan dan menikahlah. Hak kalian akan kalian dapatkan setelah kalian sudah sah menikah. " Ucap bu Salma lagi lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.


Sepeninggal bu Salma, terjadi keributan diruang keluarga. Fabian tak mau mendengarkan omongan mereka yang seakan sedang mencibir nya. Dia pun mengajak istrinya untuk kembali pulang dan membiarkan mereka semua terlarut dalam kekesalannya yang tak terima dengan keputusan neneknya tersebut.


Saat Fabian hendak masuk kedalam mobil, Viona memanggilnya, lalu dia berkata akan menunggu Fabian di tempat biasa. Katanya dia ingin mengobrol empat mata dan itu sangat penting. Fabian hanya mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan rumah neneknya.

__ADS_1


Setelah kembali ke apartemen, Adel segera mengganti bajunya dengan sebuah lingerie hadiah pemberian sahabatnya. Melihat istrinya yang menggunakan baju tipis tersebut,Fabian menelan air liurnya sendiri. Dalam hatinya dia bertanya, mungkinkah istrinya tersebut memancing dirinya?


"Adel.. apakah kamu sengaja memancing ku dengan menggunakan baju tipis seperti itu? " tanya Fabian membuat Adel terkejut.


"Eh.. anu.. pak.. eh salah, maksudku, mas.. aku memakai lingerie ini karena tadi merasa gerah. " Ucap Adel gugup lalu mengipas wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Boleh aku bertanya sesuatu? " tanya Fabian lagi.


"Ta-tanya apa, mas? "


"Apakah belum ada cinta yang tumbuh dihatimu untukku? "


"Maksud, mas gimana? sudah seharusnya kan kita tak saling jatuh cinta? karena kan pernikahan kita ini hanya sementara saja. " Ucap Adel tanpa berani menatap wajah Fabian.


"Bolehkah, kalau aku jatuh cinta kepadamu? karena jujur, saat ini rasa cinta itu sudah mulai tumbuh dihatiku. Apakah kamu tak merasakan hal yang sama? " tanya Fabian membuat jantung Adel berdegup dengan kencang.


Mendengar pertanyaan Fabian itu, membuat Adel terdiam membisu. Sebenarnya, dia sama seperti suaminya yang kini mulai ada rasa nyaman saat ada didekat suaminya tersebut. Namun, dia berusaha agar tak jatuh cinta kepada Fabian karena nantinya hanya akan membuatnya terluka lagi seperti dulu. Baginya cinta bertepuk sebelah tangan itu sungguh menyakitkan.


"Apa kamu tidak percaya dengan perasaanku ini? " ucap Fabian lalu mendekat dan memeluk tubuh Adel dengan erat.


"A-aku tidak tau isi hatimu yang sebenarnya. Mungkin saja kan kamu hanya ingin mempermainkan perasaanku. " Akhirnya Adel membuka suara.


"Bolehkah aku membuktikannya? " tantang Fabian.


"Gak perlu, lebih baik kita tidur saja agar besok tidak terlambat masuk ke kantor. " Ucap Adel namun Fabian langsung menariknya dan mendaratkan ciuman panasnya dibibir Adel.

__ADS_1


"Aku akan membuktikan rasa cintaku ini padamu, sampai kamu percaya padaku sehingga kita bisa hidup bahagia selamanya. " Bisik Fabian ditelinga Adel membuat wanita itu bergidik geli.


__ADS_2