
Karena Fabian bersikeras untuk pulang saat itu juga, akhirnya dokter mengizinkan dan mengatakan agar untuk saat ini, Fabian tidak boleh berpikir dengan keras dulu karena nantinya hanya akan menimbulkan rasa sakit dikepalanya. Dokter juga memperingatkan Bu Rahma dan juga kepada Adel akan hal tersebut.
Namun mendengar hal itu, membuat Fabian protes dan mengatakan kepada Dokter bahwa dirinya tak mengalami amnesia.
"Yah, kamu sehat-sehat aja kok, Nak. Sekarang, ayo kita pulang dan untuk saat ini kamu dan istrimu tinggal dirumah nenek dulu yah! " ucap Bu Rahma membuat Fabian menggeleng.
"Fabian akan tinggal dirumah sendiri, nek. Jadi nenek gak perlu khawatir, karena kan ada Viona yang akan merawatku nantinya. " Ucap Fabian menggenggam tangan neneknya itu membuat Adel cemburu.
Bu Rahma yang mendengar hal itu terus berusaha membujuk Fabian agar mau tinggal dirumah utama, karena tak mau membuat hati Adel bersedih.
"Kamu belum pulih betul, nak. Kalau mau ngandelin Viona, lihat saja sekarang dirinya tak ada kan untuk menjengukmu? " ucap Bu Rahma membuat Fabian berpikir lama.
"Iya, Mas.. lebih baik kamu tinggal dirumah nenek dulu yah? " ucap Adel berharap suaminya itu mau menurut.
"Yah udah, tapi ingat yah, nenek gak boleh bekerja sama dengan wanita ini untuk memisahkan aku dengan Viona. " Ucap Fabian lagi membuat Bu Rahma dan Adel saling memandang.
Adel menganggukan kepalanya memberi kode agar Bu Rahma mengiyakan perkataan Fabian tersebut agar suaminya itu mau tinggal dirumah utama untuk saat ini. Dengan begitu, Viona tak akan mempunyai kesempatan untuk berduaan dengan suaminya itu.
Sebenarnya hati Adel saat ini sangatlah sakit karena harus menerima kenyataan suaminya tak mengingat tentangnya. Dalam hatinya mengapa harus dia yang dilupakan oleh Fabian? yah dia sadar bahwa suaminya hanya mengingat kisah masa lalunya. Sedangkan dirinya hanyalah orang baru yang datang dikehidupan suaminya tersebut.
Dalam perjalanan pulang, Fabian selalu menanyakan tentang keberadaan Viona yang sekarang dianggap sebagai istrinya. Karena Adel mengingat pesan dari Dokter, jadi dia bertekat agar selalu sabar untuk menghadapi suaminya tersebut. Dia berharap ada satu keajaiban, yang bisa membuat suaminya segera mengingatnya kembali.
"Sudahlah, Mas,jangan menanyakan keberadaan Viona lagi. Nanti dia akan datang kok, lebih baik kamu tenangkan pikiran aja dulu biar cepat pulih." Ucap Adel setegar mungkin dihadapan suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu tak boleh memanggilku dengan sebutan itu lagi yah? aku tak suka. Kamu bisa panggil aku, Fabian. " Ucap Fabian dengan pandangan sinisnya kepada Adel.
Mendengar ucapan itu, Bu Rahma ingin protes namun dengan cepat Adel menyanggupi perkataan dari suaminya tersebut. Hingga tak lama kemudian, mereka pun telah sampai dirumah utama.
Bu Rahma dan Adel tampak terkejut melihat penampakan Viona yang sedang menunggu diteras rumah tersebut dengan senyum bahagia diwajahnya. Fabian yang juga melihat akan hal tersebut, sudah tak sabar ingin keluar dari mobil untuk menemui wanita yang dianggap sebagai istrinya tersebut.
Setelah Fabian keluar, Bu Rahma menenangkan hati Adel agar tetap sabar menghadapi cobaan yang datang menghampiri nya saat ini. Adel tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dan dia menangis di hadapan Bu Rahma karena sungguh dirinya tak dapat menahan airmatanya tersebut.
Melihat hal itu, ada rasa iba menyelimuti hati Bu Rahma lalu beliau mengusap pundak Adel untuk menenangkan istri dari cucunya tersebut. Setelah merasa tenang, akhirnya Adel pun keluar dari mobil tersebut bersama dengan Bu Rahma lalu masuk kedalam rumah.
Saat Adel membuka pintu kamar tempat dia dan suaminya tidur saat menginap dirumah itu, betapa terkejut dirinya melihat kalau Viona ada didalam bersama suaminya. Kedua insan itu tampak saling berpelukan mesra sambil berciuman. Lama dirinya mematung menyaksikan adegan itu, sehingga Fabian menyadari keberadaannya tersebut.
"Hei, apa yang kamu lakukan disitu? dasar tak punya sopan santun, kalau ada perlu harusnya ketok pintu dong, sekarang kamu keluar! " ucap Fabian yang kembali menusuk relung hati Adel.
Adel kembali menuruni anak tangga dan dia memilih untuk tidur dikamar tamu. Dia tak tau bagaimana caranya agar wanita itu tak tidur sekamar dengan suaminya. Apalagi sampai harus melakukan hal yang tak diinginkan. Namun karena pikirannya buntu, akhirnya tanpa terasa dia tertidur dengan lelap
______________________________
Pagi harinya, kali ini Adel bangun lebih awal. Dilihatnya jam dinding, baru menunjukkan pukul empat pagi. Karena merasa haus, dia pun memutuskan untuk kedapur mengambil minum. Saat melewati ruang keluarga, dia terkejut saat melihat suaminya yang tertidur disofa.
Dia mendekati suaminya itu yang tidur meringkuk. Sepertinya Fabian kedinginan, sehingga membuat Adel kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut. Setelah dia menyelimuti tubuh suaminya tersebut, dengan diam-diam dia mencium kening suaminya itu. Dari aksinya tersebut, membuat Fabian menggeliat. Karena takut ketahuan, Adel pun berlari kecil menuju kearah dapur.
Buru-buru dirinya mengambil minum dan meneguk nya hingga rasa hausnya sirna. Tanpa sengaja dirinya menjatuhkan cangkir yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
"Ah, Astaga, kamu mengagetkan saja. " Ucap Adel saat dirinya berbalik badan setelah menaruh kembali cangkir ke wastafel.
Fabian tengah bersandar dipintu dengan tatapan datarnya. Melihat tatapan tersebut membuat Adel menarik nafas panjang.
"Pasti kamu lagi ingin meminum kopi kan? " tanya Adel dengan santai.
"Kok kamu tau?" Fabian bertanya balik.
"Kamu tunggu saja di ruang keluarga, aku yang akan membuatkan nya untukmu. " Ucap Adel membuat Fabian menurut saja.
Akhirnya, secangkir kopi pun diantarkan kepada Fabian. Dalam pikiran Adel, semoga saja dengan meminum kopi buatannya, ingatan suaminya itu tentang dirinya bisa kembali. Saat Fabian menyesap kopi tersebut, dia terlihat seperti memikirkan sesuatu, lalu menatap wajah Adel begitu lekat.
"Kok kamu bisa membuat kopi istimewa seperti ini?aku seperti ingat seseorang saat meminum kopi buatanmu ini. " Ucap Fabian membuat Adel yakin kalau dirinyalah yang dimaksud.
"Kalau begitu, mulai besok aku akan membuatkan kamu kopi yah? aku kan sekarang asisten dirumah ini yang siap selalu untuk memenuhi kebutuhan kamu dan nenek. " Ucap Adel menawarkan.
"Kok hanya aku dan nenek? kan ada istriku juga dirumah ini. " Ucap Fabian lalu menyesap kembali kopi buatan Adel tersebut.
"Iya, aku lupa menyebutkan nama istrimu. Berarti deal yah, mulai besok aku akan membuatkanmu kopi. " Ucap Adel lagi lalu mengedipkan kedua matanya kearah Fabian dan pergi masuk kedalam kamarnya kembali.
Melihat kedipan mata Adel, membuat Fabian seperti mengingat sesuatu. Namun ketika dia berusaha untuk mengingat nya kembali, kepalanya terasa sakit sehingga membuatnya kembali menyesap kopi agar dirinya tak merasa pusing dalam memikirkan semua yang mengganggu pikirannya.
Setelah menghabiskan kopinya, Fabian menaruh gelasnya kembali ke wastafel. Saat dirinya hendak menaiki anak tangga, dirinya mendengar suara tangisan dari arah kamar ruang tamu. Dia yakin yang menangis itu adalah Adel. Entah mengapa mendengar suara tangisan itu, membuat kepalanya makin terasa sakit.
__ADS_1
"Suara tangisan itu?"