
Pagi itu Adel terlihat sibuk didapur.Tiba-tiba saja ibu mertuanya menghampiri dirinya dan bertanya karena melihat menantunya itu sedang menata nasi goreng dan telur dadar dirantang mini
.
"Wah,pasti itu untuk masmu yah?"tebak bu Astuti.
"Eh ibu udah bangun.Ayo sarapan!Adel sudah nyiapin semuanya diatas meja makan.Dan nasi goreng ini buat mas Bryan.Saya mau menemuinya hari ini."
"Tapi ibu gak bisa nemanin kamu Del.Karena hari ini ibu ada urusan penting.Gak apa-apa yah nak?"
"Iya gak apa-apa kok bu.Lagian ada teman Adel yang menemani kesana bu.Jadi ibu gak perlu khawatir."
"Oh seperti itu,bagus deh kalo gitu.Kalau nenek dan adikmu diajak juga?"
"Iya bu.Kasian kalau ditinggal sendirian dirumah."
Mereka pun asyik mengobrol hingga pak Hadi duduk dimeja makan untuk sarapan diikuti nenek dan juga Dimas.
"Udah lengkap semuanya,ayo kita sarapan dulu sebelum memulai aktivitas masing-masing."Ucap pak Hadi lalu tersenyum ramah mempersilakan nenek dan yang lainnya untuk sarapan bareng.
Saat tengah sarapan,bu Astuti meminta izin kepada suaminya untuk keluar rumah menemui teman arisannya.Pak Hadi mengangguk tanda setuju.Setelah selesai sarapan,pak Hadi berangkat kekantor menggantikan posisi Bryan untuk sementara waktu sampai Bryan keluar dari penjara.Dan begitu juga dengan ibu Astuti yang langsung pamit kepada Adel dan neneknya hingga mereka pun terpisah dipintu depan.
______
"Mas,semoga saja kamu cepat keluar dari tempat ini yah?"ucap Adel memegangi kedua tangan suaminya itu.
"Gak usah sok perhatian deh.Bilang aja kalo lu senang gue lama-lama berada disini."Ucap Bryan menepis tangan Adel.
"Mas,kenapa kamu sering berprasangka buruk sama aku?apa karena Bimo?"ucap Adel berkaca kaca.
"Stop yah..Bisa-bisanya lu ngungkit orang yang sudah meninggal."Ucap Bryan emosi.
"Aku hanya minta kejelasan mas.Karena semenjak kita menikah,sikap kamu selalu dingin dan berpura-pura bahagia didepan orangtuamu."
"Bisa gak bahas masalah itu saat gue keluar dari tempat ini?malu-maluin tau gak.Lu ngomong hal ini disaat waktu yang gak tepat.Dasar wanita pembunuh."Ucap Bryan lalu meninggalkan Adel yang terlihat kaget saat mendengar kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Adel masih terperangah mendengar kalimat suaminya.Dia tak menyangka suaminya menuduhnya sebagai seorang pembunuh.Dan itu membuatnya sangat yakin seratus persen bahwa suaminya memang menikahinya untuk balas dendam semata.Dia menghapus air mata yang jatuh dipipinya karena tak ingin membuat neneknya ikut bersedih saat melihatnya menangis.Sebelum keluar,Adel menitipkan nasi goreng yang dibawanya tadi kepada Sipir untuk diberikan kepada Bryan.
"Del,kok cepet amat sih.Perasaan baru sepuluh menit kamu didalam."Tanya lala saat melihat Adel keluar ruangan.
"Iya,soalnya kan kita harus menyelesaikan permasalahan ini.Sekarang ayo kita ketempat kejadian dan bertanya kepada warga sekitar tentang siapa yang menuntut mas Bryan."Ucap Adel memberi alasan yang tepat agar semuanya percaya.Dirinya tak mau mereka tau kalau tadi ada perselisihan paham dengan suaminya.
"lets go."Ucap Lala lagi yang membuat nenek dan Dimas terkekeh melihat tingkah wanita itu.
_____________
"Apa gak ada permintaan lain Shin?tante gak setuju kalau syaratnya yang itu."Ucap bu Astuti saat menghampiri Shinta dan duduk berhadapan memandangi wanita itu dengan tatapan tajam.
"Gak ada.Hanya itu syarat satu-satunya yang kuinginkan.Lagipula saya dan Bryan saling mencintai."Jawab Shinta lalu menyedot minuman yang ada dihadapannya.
"Saling mencintai katamu?kalau memang iya,mengapa Bryan memilih menikahi Adel dibanding kamu hah?"ucap bu Astuti melototi wanita itu.
"Emang tante gak tau tujuan Bryan menikahi gadis itu?"
"Maksud kamu?"
"Balas dendam?jangan ngawur kamu."
"Emang benar kok.Kalau memang pernikahannya didasari oleh cinta,gak mungkin dong hubungan kami berdua semesra ini."Jawab Shinta menunjukan photo-photo kemesraannya bersama Bryan yang tersimpan diponselnya pada bu Astuti.
"Gak mungkin.Jangan bohong kamu.Mungkin saja foto itu diambil sewaktu Bryan belum menikah.Dan sekarang masih tersimpan diponselmu untuk menghancurkan pernikahan anakku dengan Adel."
"Langsung keintinya aja.Mau gak anak tante dibebaskan dari penjara?gak ada cara lain loh.Hanya saya satu-satunya yang bisa menghapus tuntutan itu.
Bu Astuti memegangi kepalanya yang terlihat pusing memikirkan permasalahan itu.Dia berpikir mungkin hanya itu jalan satu-satunya untuk membebaskan anaknya dari penjara.
"Kenapa diam tante?gak mau yah menerima syarat dari saya?"tanya Shinta dengan santai.
"Kenapa sih kamu tega Shin.Pernikahan anakku baru dua minggu,sekarang harus terjadi hal seperti ini.Tante mohon kasih syarat yang lain."
"Maaf tante gak ada pilihan lain.Kalau tante gak terima,terserah dan biarkan Bryan membusuk dipenjara."Ucap Shinta lalu beranjak meninggalkan bu Astuti.
__ADS_1
"Tunggu."cegah bu Astuti yang kemudian langkah kaki Shinta terhenti menebar senyum licik dan menoleh kearahnya.
"Apa lagi tante?"
"Saya setuju dengan syarat yang kamu berikan.Tapi kasih saya waktu untuk ngomong pada Adel dan juga kepada suamiku.
"Gak perlu ngomong ke adel kok.Saya ingin Adel tetap jadi istri Bryan karena dendam Bryan belum tercapai.Untuk sementara saya rela jadi istri kedua sampai Bryan puas membuat Adel sengsara."Ucap Shinta saat mendekati kembali bu Astuti.
"Maksud kamu gimana?apa yang membuat anak saya dendam pada Adel?"
Shinta pun menceritakan semuanya pada bu Astuti.Sehingga yang awalnya ragu membuat bu Astuti setuju dengan syarat yang diberikan oleh wanita itu.Dan diwajahnya terlihat merah padam saat mendengar perkataan Shinta.
_____________
Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi hasilnya tetap nihil.Tak ada yang mau membuka mulut sehingga membuat Lala naik pitam.
"Apa salahnya sih untuk menjawab pertanyaan kami?ini menyangkut permasalahan suami sahabat saya.Kalau gak ada yang mengaku siapa yang menuntut suami teman saya,masalah ini semakin rumit kalau sampai kepengadilan.Kami hanya ingin ngomong secara kekeluargaan agar diberi keringanan.Lagipula anak itu dimakamkan dengan layak oleh keluarga sahabat saya.Ini kan murni kecelakaan dan tidak disengaja.Tolong dong pengertiannya."Ucap Lala panjang lebar dengan nada tinggi.
Adel hanya bisa menangis tak tau harus bagaimana lagi.Karena warga disekitar itu yang sudah menganggap anak yang ditabrak suaminya sebagai keluarga,tak ada yang mengakui siapa yang sudah menuntut suaminya.Lalu kemudian nenek mengajak mereka pulang karena merasa percuma saja ngomong dengan warga itu yang kemudian dianggukin oleh Adel.Saat mereka menuju kemobil disebrang jalan,tiba-tiba seorang bapak menghampiri mereka,
"Neng,tunggu! ada suatu hal yang ingin saya sampaikan. "
"Iya pak.eh,bapak kan yang waktu itu dirumah sakit kan?"tanya Adel mengingat-ingat.
"I..iya neng.langsung aja yah karena takut kelihatan yang lain.Yang melapor suami neng itu seorang wanita.Dia yang membayar beberapa warga disekitar sini untuk membantunya dengan diiming-imingi uang,termasuk saya salah satunya.Maaf yah karena saya tidak bisa membantu banyak."Kata bapak tadi sambil menoleh kekiri dan kanan seperti orang ketakutan.
"Wanita itu siapa pak?apakah dia tinggal disekitar sini?"kali ini Lala yang bertanya.
"Kalau gak salah namanya Shinta neng.Bukan,saya juga gak tau dia darimana tapi kelihatannya dia orang kaya neng."Ucap bapak itu lagi lalu meninggalkan mereka karena takut ketahuan warga yang lain.
Mereka pun tampak berpikir siapa sebenarnya wanita itu.Apakah keluarga anak itu?tapi gak mungkin karena anak itu kan tinggal dijalanan sebatang kara sedangkan wanita itu adalah orang kaya yang membayar warga disekitar itu untuk menuntut Bryan sehingga sekarang mendekam dipenjara.
"Sekarang gimana Del?"tanya Lala yang melihat Adel yang tampak kebingungan
"Kita tunggu wanita itu menampakan diri.Siapa tau dia akan datang menemui warga itu lagi."Ucap Adel menatap nenek dan sahabatnya itu bergantian.
__ADS_1