Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Sindiran


__ADS_3

Adel mendekati suaminya yang terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.Melihat suaminya tak mau merespon keberadaan dirinya,maka ia pun melangkahkan kaki menuju kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi,ia sengaja keluar memakai handuk agar suaminya mau memulai adegan malam pertama yang selalu dirindukannya.Namun sayang,suaminya tak mau melirik sedikitpun kearahnya.


Adel berpura-pura menjatuhkan sesuatu agar pandangan suaminya tertuju padanya,tapi percuma saja.Membuat Adel kesal lalu menghampiri suaminya itu.


"Mas..kenapa sih,kamu tak pernah mau menyentuhku?apa salah yah kalau aku meminta nafkah batin kepada suamiku sendiri?"ucap Adel memegang wajah suaminya agar menatap kearahnya.


"Gak ngeliat apa gue lagi sibuk?itu mulu yang keluar dari mulut lu.Udah gak tahan yah pengen disentuh?dasar wanita murahan!"bentak Bryan lalu beranjak keluar meninggalkan Adel.


Adel terduduk lemas saat mendengar kalimat suaminya yang mengatakan dirinya wanita murahan.Dia berpikir,apakah salah kalau meminta haknya sebagai seorang istri.Dia menangis tersedu-sedu karena merasa terhina.


Segera dihapusnya airmata yang membasahi pipinya,lalu buru-buru ia memakai baju dan memutuskan untuk berbicara dengan suaminya.Tiba-tiba saja langkahnya terhenti,saat melihat pemandangan didepan kamar Shinta.


Dia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang disaksikannya itu.Airmatanya jatuh berderai.Sungguh perih yang ia rasakan,saat melihat suaminya itu berciuman bersama Shinta lalu mereka masuk kedalam kamar wanita itu,membuat Adel mengepalkan kedua tangannya.


Namun dia memilih menahan amarahnya,karena tak mau membangunkan mertuanya.Dia mengingat kondisi bapak mertuanya.Takutnya penyakit mertuanya itu bakalan kumat kalau sampai melihat adegan memalukan itu.


Tanpa disadari,bi Iyem menghampirinya dan menyuruhnya untuk ikut kekamarnya.Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan kepadanya.Saat Adel masuk kedalam kamar,bi Iyem pun mulai bercerita..


"Maafkan saya karena sudah lancang menyuruh non Adel masuk kekamar pembantu."Ucap bi Iyem menundukan kepalanya.


"Gak apa-apa kok bi.Emang ada hal apa yang ingin bibi sampaikan kepada saya?"tanya Adel menatap wajah asisten rumah tangga itu dengan serius.


"Wanita itu gak ada hubungan keluarga dengan nyonya besar."Ucap bi Iyem memelankan suaranya.


"Maksudnya?"tanya Adel meminta penjelasan


"Wanita itu sudah mengancam nyonya besar.Makanya sikapnya menjadi dingin terhadap non."


"Mengancam gimana bi?"tanya Adel yang terlihat bingung.


"Wanita itu meminta nyonya besar untuk menikahkan tuan muda dengan dirinya.Permintaannya itu disetujui oleh nyonya besar karena hanya wanita itu yang bisa membebaskan tuan muda dari penjara."


"Apakah bapak tau akan hal ini bi?"tanya Adel lagi.

__ADS_1


"Iya,tau non.Tapi,tuan besar tak bisa berbuat apa-apa.Karena cuma itu syarat yang diberikan wanita itu kepada mereka.Makanya setelah nyonya besar menyetujui syarat yang diberikan wanita itu,tuan muda langsung dibebaskan dari penjara."


"Bi mau nanya nih..sebelum saya menikah dengan mas Bryan,apa mereka berdua sudah saling kenal?"


"Mereka sudah menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu non."Ucap bi Iyem membuat hati Adel bergetar.


"Makasih bi sudah memberitau hal ini kepadaku.Kalau gitu saya mau kembali kekamar."Ucap Adel memegangi kepalanya karena pusing.


"Tapi jangan sampai ketahuan yah non,kalau bibi yang memberitau semuanya sama non?"ucap bibi memohon.


"Tenang aja bi.Saya bukan tipe orang seperti itu."Ucap Adel lalu beranjak keluar menuju kamarnya.


Saat masuk kedalam kamar,dia mendapati suaminya sudah tidur.Dia enggan untuk membangunkannya lalu pelan-pelan membaringkan tubuhnya kekasur dan membelakangi suaminya.


Airmatanya masih mengalir membasahi pipinya mengingat adegan kotor suaminya bersama Shinta.Ditambah ucapan bibi yang membuat kepalanya terasa berat.


Dia merasa hidupnya diambang kehancuran.Pikirannya mulai berandai-andai.Mengapa dengan bodohnya mau menikah dengan pria yang pada saat itu belum dikenalnya.Coba kalau tau dari awal,pernikahan itu tak akan mungkin terjadi.


Dia membalikan badannya dan menoleh kearah suaminya.


_________


Saat pagi harinya,Adel bangun dan bersiap untuk membuatkan sarapan.Namun saat sesampainya didapur,terlihat ibu mertuanya sedang bersenda gurau bersama Shinta.


Adel mendekati keduanya lalu tersenyum ramah saat ibu mertuanya menatapnya.Berbeda dengan Shinta,Adel memilih untuk tidak menoleh kearahnya.


"Del,hari ini kalian kan mau pulang..Boleh gak Shinta ikut?"tanya ibu mertuanya.


"Bukannya menolak bu.Tapi kan,gak bagus aja diliat orang,anak perawan tinggal bersama pasangan muda kayak kami."Jawab Adel menolak secara halus.


"Tapi kan aku ini saudara Bryan.Jadi gak apa-apa dong kalau tinggal bareng ama kalian."Ucap Shinta tak terima alasan yang diberikan oleh Adel.


"Apa katanya,saudara?dia pikir aku belum tau semua tentang kebusukannya.Gak akan pernah kubiarkan kamu merebut suamiku."Ucap Adel dalam hati lalu melotot kearah Shinta.


"Sudahlah.Keputusannya ada ditangan Bryan.Kalau dia mengiyakan,Adel tak bisa melawannya."Ucap ibu mertuanya lalu beranjak meninggalkan ruang dapur.

__ADS_1


Adel yakin sebenarnya ibu mertuanya tak mau melakukan semua ini.Hanya saja karena tak ada pilihan lain,beliau mengambil jalan yang ada dengan menerima wanita itu hadir ditengah-tengah keluarga ini.


Terlihat dari raut wajah ibu mertuanya yang menyimpan kesedihan.Makanya setiap kali diajak bicara,beliau selalu memilih untuk membela Shinta atau langsung beranjak pergi tanpa menoleh kearah Adel.


"Sayang,yuk sarapan dulu!"ajak Shinta saat Bryan duduk dimeja makan.


Bryan menoleh kearah Adel yang terlihat kesal saat Shinta memanggilnya dengan kata sayang.Lalu buru-buru dirinya memegang tangan Adel dan menyuruh istrinya itu menyendok nasi goreng kepiringnya.


Itu semua dilakukan Bryan bukan karena keinginan hatinya.Tapi itu semua dilakukannya karena melihat bapaknya yang datang menghampiri mereka untuk ikut sarapan bersama.


"Wah,semoga saja setiap harinya seperti ini.Bapak ingin sekali melihat kalian berdua hidup bahagia.Semoga saja gak ada yang mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian."Ucap bapaknya lalu melirik kearah Shinta.


Adel tau kalau bapak mertuanya berbicara seperti itu untuk menyindir Shinta.Lalu terbesit dipikiran Adel untuk ikut menyindir wanita itu.


"Amiiiin..Adel berharap,semoga orang yang akan mengganggu rumah tangga kami,diampuni dosanya.Kan nantinya kayak di sinetron sinetron itu loh,bakalan kena azab.hiiii..takuut."Ucap Adel bergidik ngeri sambil melirik kearah Shinta.


"Iya benar.Jadi untuk kamu Shinta,kalau cari pasangan harus yang belum berkeluarga.Jangan sampai suami orang yang direbut.Ntar kayak kata Adel,bakalan kena azab kayak disinetron itu loh."Ucap pak Hadi menasehati Shinta padahal bermaksud menyindir.


"Tapi Adel yakin kok,Shinta bukan tipe orang seperti itu.Iya kan Shin?"


Shinta terdiam membisu.Karena sindiran itu,dia pun beranjak dari kursinya menuju kekamar dengan wajah yang terlihat geram.


Pak Hadi dan Adel terlihat mengembangkan senyum kemenangan dibibirnya.Mereka terlihat kompak dan sangat puas karena berhasil menyindir wanita itu.


Pak Hadi lalu meninggalkan meja makan karena telah menghabiskan sarapannya.Yang ada tinggal pasangan suami istri itu yang masih menikmati sarapannya.Tak lama Bryan pun membuka suara..


"Apaan sih bahas-bahas sinetron dimeja makan?pake bawa-bawa azab segala.Lihat tu Shinta jadi ngambek."


"Loh,kenapa harus ngambek.Kan bukan dia yang diomongin bakal kena azab."Ucap Adel menatap suaminya.


"Tau ah.Mendingan sekarang kita siap-siap untuk balik kerumah."Ucap Bryan menyudahi sarapannya.


"Kata ibu,kamu ngajak Shinta juga yah?"tanya Adel sambil mengangkat piring untuk dibawa didapur.


"Gak.."jawab suaminya sambil terus melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Yess.Jangan harap kamu bisa masuk kekehidupanku dan mas Bryan.Walaupun,kalian saat ini berstatus pacaran,tapi aku akan berusaha untuk merebut hati mas Bryan.Tunggu saja tanggal mainnya."Ucap Adel dalam hati lalu bergegas untuk bersiap-siap pulang kerumahnya.


__ADS_2