
Keesokan harinya, Adel meminta cuti kepada direktur utama dengan alasan ingin menjenguk keadaan neneknya dikampung halaman. Sebenarnya dia ragu karena dirinya belum ada sebulan bekerja diperusahaan itu.
Saat dirinya sudah berhadapan dengan bosnya tersebut, dia mengutarakan maksudnya.
"Pak, bolehkah saya meminta cuti selama tiga hari? saya ingin menjenguk keadaan nenek pasca operasi. " Ucap Adel penuh harap.
"Oh, boleh saja dan aku akan ikut denganmu sekalian langsung melamarmu di hadapan nenek dan keluarga besar mu. " Ucap Fabian menatap wajah Adel dalam-dalam.
"Apakah secepat itu, bapak akan melamar ku? " tanya Adel tak percaya.
"Ya, setelah dapat restu,besoknya kita langsung menikah! aku tak mau menunggu terlalu lama. " Ucap Fabian membuat Adel merasa syok.
Adel menelan salivanya beberapa kali. Ternyata bosnya itu ingin segera menikahinya. Padahal dia berpikir, perlu memakan waktu yang lama dan menunggu keadaan neneknya pulih kembali baru akan memulai pernikahan kontrak tersebut.
Tapi dia tak dapat menolak ajakan bosnya tersebut, karena uang sebanyak satu miliar sudah ada ditangannya. Dan sebagiannya sudah dipakai untuk membayar biaya pengobatan neneknya.
Akhirnya setelah makan siang, Adel pulang ke kampung halamannya dan ditemani oleh bosnya.
_________________
Saat sampai dirumah neneknya, dia pun bergegas turun dari atas mobil karena melihat barang-barang dirumah neneknya tesebut berserakan diluar. Perasaannya mulai tak tenang, tanpa menghiraukan bosnya yang masih berada di dalam mobil, ia berlari masuk kedalam rumah tersebut.
Saat masuk kedalam, matanya langsung membulat sempurna. Dirinya terkejut melihat penampakan rumah neneknya yang sangat berantakan bak kapal pecah. Semua properti dan barang-barang lainnya terlihat berserakan tak karuan.
Dia pun mendengar tangisan neneknya dari dalam kamar, lalu segera menghampiri neneknya tersebut dengan perasaan yang gelisah. Saat pintu didorong, nampak neneknya dan juga ibunya berdiri di sudut ruangan dengan posisi berpelukan sambil menangis meraung-raung.
"Nenek, ibu.. apa yang terjadi? " tanya Adel sangat khawatir.
Melihat kedatangan Adel, keduanya pun menghampiri dan memeluk erat tubuh mungil Adel.
"Coba jelaskan padaku, apa yang terjadi? " tanya Adel lagi ikut menangis sedih melihat raut wajah kesedihan pada kedua wanita yang dicintainya.
Adel pun menuntun ibu dan neneknya untuk duduk diatas kasur. Lalu meminta ibunya untuk menjelaskan semua yang terjadi secara perlahan.
"Tadi, seorang wanita datang bersama para preman untuk mengobrak abrik rumah ini. Katanya, keluarga kita memang pantas hidup menderita." Ucap bu Sarah membuat Adel masih belum mengerti.
"Siapa wanita itu? apakah ibu atau nenek punya utang pada rentenir? " tanya Adel menginterogasi.
"Kami gak punya utang pada siapapun. Hanya saja, wanita itu punya dendam pribadi kepada ibu, nak. " Ucap bu Sarah mulai menangis.
__ADS_1
"Dendam apa, bu? " tanya Adel lagi.
Akhirnya bu Sarah menceritakan semuanya secara detail kepada anak perempuannya tersebut. Sehingga Adel sadar, yang dimaksud oleh ibunya adalah Rania. Rupanya wanita itu masih menaruh dendam kepada keluarganya.
"Aku harus menemui ayah, dan menyuruh beliau untuk mengurus anaknya yang satu itu. Kalau terus dibiarkan, bisa-bisa dia berbuat nekat. Hari ini boleh saja dia menghancurkan perabot rumah, gak tau besok mungkin bisa melukai orang lain. " Ucap Adel tampak khawatir.
Namun untuk saat ini, dia kembali membersihkan rumah yang berantakan itu sehingga kembali rapi walaupun perabot yang lainnya banyak yang sudah hancur tak berbentuk. Dia tak mempedulikan perabot yang hancur itu, namun bersyukur karena kondisi neneknya baik-baik saja.
Untuk masalah Rania, dia belum ingin menceritakan semuanya kepada ibunya. Biarkan saja nanti dia menanyakan langsung kepada ayahnya sekaligus nanti menyuruh ayahnya tersebut untuk membuat Rania berhenti mengganggu ketenangan hidup keluarganya.
Setelah semua kelihatan agak rapi, dia baru teringat pada bosnya yang masih berada dimobil. Segera ia keluar dan mengajak masuk bosnya tersebut.
"Apakah di dalam, semuanya baik-baik saja? " tanya Fabian lalu turun dari mobil tersebut.
"Iya, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Maaf yah pak, tadi tak sengaja meninggalkan bapak disini karena diriku merasa panik melihat barang-barang yang berserakan diluar rumah. " Ucap Adel menundukkan kepalanya.
"Iya, gak apa-apa kok, aku bisa mengerti. Sekarang apakah aku sudah bisa bertamu kerumah nenek? " ucap Fabian lalu sebagai respon, Adel menganggukkan kepalanya.
Mereka pun masuk kedalam rumah, lalu Adel mempersilahkan bosnya tersebut untuk duduk disofa ruang tamu. Tak lama, bu Sarah keluar sambil mendorong bu Ida dikursi roda.
"Hallo nek, senang bertemu dengan nenek lagi. " Ucap Fabian lalu mendekati bu Ida dan mencium punggung tangan beliau dengan takzim.
"Wah, kok bisa barengan dengan Adel datangnya? apa jangan-jangan kamu bosnya cucuku yah? " tanya bu Ida lagi penasaran.
Fabian pun mengutarakan keinginannya kepada bu Ida. Mendengar hal tersebut membuat bu Ida terkejut lalu melirik kearah cucunya meminta penjelasan. Karena setahu bu Ida, cucunya tersebut tak berniat untuk menikah lagi.
"I-iya nek, kedatangan kami kesini untuk meminta restu kepada ibu dan juga nenek. Kami saling mencintai, dan ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. " Ucap Adel membohongi neneknya.
Dia tak ingin, ibu dan juga neneknya mengetahui hal yang sebenarnya. Karena kalau dia berkata jujur dan mengatakan akan menikah secara kontrak, dirinya khawatir keadaan neneknya akan kembali drop.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu itu? " tanya neneknya kurang yakin.
"Iya nek, Adel sudah yakin seratus persen untuk menikah lagi dengan Fabian. " Ucap Adel meyakinkan neneknya tersebut.
"Nenek turut senang jika pada akhirnya, kamu mau kembali membuka hatimu, nak. Jika itu membuatmu bahagia, nenek akan memberikan restu. " Ucap bu Ida terharu melihat cucunya yang kini sudah kembali membuka hatinya.
"Baiklah, nek. Kalau begitu, nanti aku akan mengajak nenekku kesini untuk membicarakan tanggal pernikahan kami. Kalau bisa pernikahan kami dilangsungkan bulan ini juga. Karena aku tak ingin menunggu dalam waktu yang lama. " Ucap Fabian membuat Adel meneguk salivanya sendiri.
Untuk hari ini, urusan selesai. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk melangsungkan pernikahan. Sore itu Fabian berangkat lagi kekota seorang diri. Dia memberikan cuti kepada sekretaris nya itu, untuk menyelesaikan masalah keluarganya. Dan dia juga mengatakan, tiga hari lagi dia akan datang bersama neneknya untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
__ADS_1
______________
Sesuai rencananya, Adel menemui ayahnya yang letak rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah neneknya. Ibunya ingin ikut bersamanya untuk membicarakan tentang Rania, namun Adel menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja menemani neneknya.
Sebenarnya dia tak ingin mengajak ibunya, karena takut hanya akan memperkeruh suasana. Kalau dirinya sendiri yang menemui ayahnya, pasti tidak akan jadi masalah buat istri baru ayahnya tersebut.
Adel memarkir sepeda motornya di halaman rumah ayahnya, lalu mengucap salam saat dirinya berada diambang pintu. Karena posisi pintunya terbuka, dengan jelas dia melihat seorang wanita yang sedang duduk manis diruang tamu.
" Wow, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Apa kabarmu, adikku tersayang? pasti saat kamu pulang tadi, terkejut dong melihat penampakan rumah nenekmu yang seperti kapal pecah? itu baru awalnya saja, nanti tunggu saja part berikutnya. "Ucap Rania membuat Adel naik pitam.
" Kenapa kamu melakukan hal itu pada keluargaku? dasar wanita tak punya hati. Kamu tau sendiri kan, sekarang ayah sudah pisah dari ibuku. Untuk apa lagi kamu mengganggu ketenangan keluargaku? "ucap Adel menerobos masuk dan menjambak rambut wanita itu.
" Hei.. hei.. jangan berbuat kasar kepada anak kesayangan ku yah? "ucap istri baru ayahnya.
'Apa maksudnya berkata seperti itu? apakah dia mau menganggap wanita psikopat itu sebagai anaknya?' batin Adel.
" Bu, dia menyakitiku.. tolong usir wanita itu dari sini! "rengek Rania membuatku jijik dengan kemunafikannya.
" Sana pergi, dan siapa juga yang menyuruh kamu masuk kedalam rumah ini? awas yah, kalau kamu mengganggu ketenangan anakku. "ucap bu Retno, istri baru ayahnya.
" Aku disini ingin bertemu dengan ayahku. Ibu tak bisa melarangku untuk bertemu dengan beliau bukan? lagipula, Rania itu bukan anak ibu. Belum tau aja kalau dia itu wanita bermuka dua. "Ucap Adel lalu mencoba berteriak memanggil sang ayah.
Tak lama, keluar juga ayahnya untuk menemui Adel. Namun, belum sempat Adel mengutarakan isi hatinya, ayahnya tersebut langsung menampar pipi Adel sehingga dirinya meringis kesakitan.
" Mengapa ayah menamparku? apa karena sudah terhasut pada anak ayah yang psikopat itu? "ucap Adel membuat ayahnya semakin geram.
" Kamu yang psikopat. Selama ini kamu sering menyakiti hati anak-anakku yang lain hingga yang satunya meninggal gara-gara perbuatan mu yang kejam itu. "Ucap ayahnya membuat Adel bingung.
" Apa maksud ayah? "tanya Adel meminta penjelasan.
" Kamu merebut suami Shinta, lalu dengan kejamnya kamu membuatnya menderita batin. Hingga saat hamil, kamu tega menyiksanya. Dia meninggal pun itu semua karena kamu. Tapi untungnya, Tuhan menyayangi Shinta, sehingga suaminya yang kau rebut kini sudah kembali bersamanya dialam lain.
Kini giliran kamu yang harus menggantikan posisinya untuk hidup menderita. Aku tak menyangka, segitu teganya dirimu terhadap saudara sendiri. Sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapanku. Aku tak sudi mengakuimu sebagai anak lagi. "Usir ayahnya membuat Adel melongo.
" Terserah Ayah kalau tak ingin menganggap aku sebagai anak. Memang selama ini kan sudah seperti itu? jadi aku tak takut. Dan asal ayah tau, Rania itu adalah serigala berbulu domba. Lihat saja nanti, keluarga baru ayah ini akan hancur berantakan ditangannya.
Aku kesini juga hanya untuk memperingatkan ayah agar berhati-hati pada wanita licik itu. Dan untuk masalah Shinta, ayah sudah salah besar menuduh ku. Tapi biarlah, mungkin kalau rumah tangga ayah hancur lebur, ayah akan sadar siapa yang licik sebenarnya. "Ucap Adel lalu melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut.
" Kudengar, kamu akan menikah lagi? wow, kira-kira suami siapa lagi yang kau rebut itu? rupanya sama saja seperti ibunya, murahan. "Ucap Rania membuat emosi Adel memuncak.
__ADS_1
Tanpa peduli dengan omongan ayahnya, dia menjambak dan menampar pipi Rania berulang kali. Sehingga membuat para tetangga datang untuk menonton adegan itu.