Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Kecelakaan maut


__ADS_3

Saat keluar dari ruangan tempat Bimo dirawat, ternyata sudah ada Mario yang menanti diluar dengan raut kesedihan. Lelaki itu rupanya sudah mendengar semua apa yang telah Rania ungkapkan. Rania tau, lelaki itu pasti marah, kecewa dan sakit hati karena selama ini telah membohongi nya.


"Mario, tolong maafkan aku! aku memang salah telah menutupi tentang kematian Shinta, wanita yang kamu cintai. Untuk menebus semuanya, aku akan siap untuk diberi hukuman. Mungkin dengan diriku mendekam di penjara, bisa mendapatkan maaf dari mu. " Ucap Rania berlutut dihadapan Mario.


"Mengapa kakak, tega membohongiku? mengapa harus menyembunyikan hal ini dariku? kupikir Shinta masih ada diluar negeri, aku sangat menantikan dia kembali membawa buah hati kami. Tapi apa? hanya karena ingin mendapatkan bantuan dari aku untuk membuat Bryan dan Adel menderita, kakak sudah menipuku."Ucap Mario menendang Rania hinga tersungkur dilantai.


Karena rasa iba, Adel mengangkat tubuh Rania lalu mencoba untuk menenangkan nya. Melihat hal itu membuat Bryan menegur dan mengatakan pada istrinya bahwa wanita itu pantas mendapatkan perlakuan kasar tersebut karena setimpal dengan perbuatan jahatnya selama ini. Jadi tak perlu untuk dikasihani.


"Mas, aku tau perbuatan mbak Rania ini sangatlah jahat. Tapi, dia kan sekarang sudah mau jujur dan mengakuinya. Bahkan, sudah mau meminta maaf juga kan? jadi aku rasa gak ada salahnya kita juga bebesar hati memaafkannya, hanya saja hukum tetap berjalan. " Ucap Adel mencoba memberi saran.


"Kamu gak marah padaku? selama ini aku dan juga adikku sudah banyak berbuat jahat kepadamu." Ucap Rania berkaca-kaca.


"Semuanya kan sudah jelas, kita adalah keluarga. Satu bapak beda ibu. Mungkin kalau aku ada diposisi kalian, pasti akan melakukan hal yang sama. Nanti, aku akan mempertemukan kamu dan bapak yah?" ucap Adel membuat Rania menggelengkan kepalanya.


"Gak perlu, Del. Aku memang sangat ingin bertemu dengan beliau, tapi aku malu memperlihatkan wajahku di hadapannya. Jadi aku mohon, jangan pernah memberitahu pada bapak tentang keberadaan diriku. " Ucap Rania memohon.


Mendengar itu, Adel menarik nafas panjang lalu memeluk wanita itu, karena sejahat apapun wanita tersebut, Adel tak boleh membencinya. Bahkan sekarang telah menganggap wanita tersebut sebagai kakak kandungnya walaupun berbeda ibu.


Sebenarnya Bryan kesal kepada istrinya itu karena sangat mudah memaafkan orang yang selama ini telah membuatnya menderita. Walaupun yang pertama kali melakukannya adalah Shinta, tapi menurutnya Shinta dan Rania sama saja telah membuat kesalahpahaman diantara dia dan istrinya tersebut.


"Adel, mengapa kamu dengan mudahnya memaafkan wanita licik ini? " tanya Bryan tiba-tiba membuat semua mata tertuju padanya.


"Karena aku punya hati, mas. Lagipula Rania sudah minta maaf dan siap menerima hukumannya. Kalau aku tidak memaafkan Rania, berarti kamu juga tak kumaafkan. Karena kan kamu juga turut terlibat membuat aku menderita batin. " Ucap Adel membuat suaminya itu terdiam.


"Iya, aku sependapat dengan Adel. Manusia itu tak ada yang sempurna, jadi disaat melakukan kesalahan lalu mengakui dan meminta maaf, sudah seharusnya saling memaafkan. Yang penting kan hukum tetap berjalan, jadi gak ada salahnya kalau Adel memaafkan wanita itu. "Ucap Lala membela sahabatnya tersebut.


" Ok, terserah kalian. Tapi jangan memaksaku untuk memaafkan wanita itu. Aku tak sudi. "Ucap Bryan lalu menyeret wanita itu untuk dibawa kekantor polisi.

__ADS_1


Terlihat Rania tak memberi perlawanan dan menurut saja saat lelaki itu menyeret nya dengan paksa. Walau air mata terus mengalir membasahi pipinya. Namun dia harus menerima semua hukuman atas perbuatan nya selama ini. Sebelum masuk kedalam mobil, Rania berteriak memanggil nama anaknya.


" Ali.. Ali.. maafkan mama, nak! Ali jangan nakal kepada tante Adel yah? mama pergi hanya sebentar. "Ucap Rania menoleh kearah anaknya yang terus menangis ingin terlepas dari pelukan Adel.


Ali memberontak ingin lepas dari tangan Adel yang mendekap nya. Ia tak mau berpisah dari ibunya, dan meminta tolong kepada Adel untuk menyuruh ayahnya tersebut melepaskan ibunya. Karena tak kuasa menahan air mata, Ali terbebas dari dekapan Adel lalu berlari sekencang nya menuju kearah mobil Bryan.


"Ayah, tolong lepaskan mama! hukum Ali saja, Ali janji gak akan nakal lagi. Tolong, lepaskan mama! " Ucap Ali berlutut dikaki Bryan.


"Sayang, dengarkan mama! ini bukan kesalahan Ali. Mama hanya pergi sebentar untuk melihat rumah baru tante Shinta. Jadi, Ali nurut yah pada tante Adel selama mama pergi? mama gak ngajak Ali, karena kan Ali masih kecil. Ali kan anak pinter. " Ucap Rania memeluk anaknya untuk yang terakhir kali lalu naik ke dalam mobil.


"Janji yah, ma.. Ali akan selalu menunggu mama. Nanti kalau sudah sampai dirumah baru tante Shinta, bilangin yah kalau Ali kangeeeen banget padanya. " Ucap Ali lalu dianggukin oleh Rania, setelah itu mobil bergerak maju meninggalkan area rumah sakit itu.


Ali tetap menangis histeris, karena merasa kehilangan sosok ibu yang selalu menemaninya. Yang dia tau, ibunya pergi menjenguk rumah baru Shinta. Yah, gak mungkin juga Rania akan mengatakan yang sejujurnya kepada anaknya yang masih kecil itu.


Adel dan Lala menghampiri anak itu lalu membujuknya untuk pulang kerumah ayahnya. Untungnya anak itu menuruti lalu mereka menaiki mobil dan bersiap pulang kerumah orangtua Bryan.


"Kita lihat aja nanti secara langsung, aku jadi bingung gimana caranya untuk memberitahu kan hal ini kepada mereka. Apa tunggu mas Bryan dulu yah baru menyampaikan kepada mereka tentang kabar mengejutkan ini? " tanya Adel memijit keningnya secara perlahan.


"Tante, aku lapar, mau makan. " Ucap Ali membuat keduanya tersadar bahwa ini sudah menjelang sore dan dari siang tadi belum makan apapun.


"Baiklah, nanti didepan sana ada warung makan pecel lele. Kita makan disana aja yah? tante yakin, Ali pasti pengen nambah karena makanan nya enak-enak loh. " Ucap Lala membuat anak itu sumringah.


Karena perut ikutan lapar, keduanya pun memesan makanan dan sebagai minumnya es teh manis. Saat hidangan sudah tersedia, mereka pun menyantapnya dengan lahap. Begitupun dengan Ali, dia terlihat lahap karena mungkin belum makan dari siang tadi.


Disamping kiri mereka terdengar obrolan yang memperihatinkan,


"Kasian yah, lelaki yang dimobil tadi. Mati mengenaskan karena kecelakaan itu." Ucap salah seorang ibu-ibu.

__ADS_1


"Ia, mungkin karena remnya blong, makanya nabrak pohon yang ada di pinggir jalan itu. " Ucap lawan bicaranya.


"Seorang wanita yang mungkin merupakan istrinya, untungnya selamat dan sekarang sudah dilarikan dirumah sakit. Pasti dia syok karena kehilangan suami. Sungguh naas yah, padahal masih muda. " Ucap ibu-ibu yang tadi.


Adel dan Lala yang mendengar cerita kedua ibu-ibu itu, tak terlalu mempedulikan karena bagi mereka,sudah cukup menghadapi masalah sendiri yang belum tuntas, tak perlu lah mengurus masalah orang lain. Toh, itu sudah takdir pria yang mengalami kecelakaan itu. Dan masing-masing sudah mempunyai takdirnya sendiri.


Setelah kenyang, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kerumah mertua Adel. Setelah sampai dirumah itu, ternyata kedua mertua Adel tak ada dirumah.


"Apa mertuamu sudah mengetahui ini semua dari Bryan? sehingga pada akhirnya mereka pergi menemui Bimo dirumah sakit jiwa itu. " Ucap Lala menerka-nerka.


"Mungkin juga sih, yah udah aku coba telepon mereka dulu. " Ucap Adel meraih ponselnya didalam tas pribadinya.


Baru juga mau menelpon, mbok Ijah datang menghampiri mereka. Terlihat raut wajah mbok yang menyimpan kesedihan. Adel mengira mbok berekspresi seperti itu karena memang sudah mengetahui kalau Bimo masih hidup. Karena kan yang dia tau mbok Ijah sangat dekat dengan Bimo dan suaminya sejak keduanya masih kecil dulu.


"Jadi ibu dan bapak sudah tau kalau Bimo masih hidup? " ucap Adel malah membuat mbok terkejut.


"Den Bimo masih hidup? maksud Non gimana? " tanya Mbok tak mengerti.


"Jadi belum tau yah, mbok. Terus mengapa Mbok bersedih seperti itu? kupikir karena mendengar kabar tentang Bimo, mbok jadi terharu dan bersedih karena masih tak percaya dengan kabar mengejutkan ini. "


"Jadi Non, belum tau tentang kabar duka ini? " ucap mbok membuat Adel dan Lala kebingungan.


"Kabar duka apa mbok? justru aku dan mas Bryan tadinya akan memberikan kabar bahagia. Bukan kabar duka cita. " Ucap Adel masih tersenyum lebar.


Mbok memeluk Adel sambil menangis histeris, lalu berkata,


"Suamimu mengalami kecelakaan, dan nyawanya tak dapat tertolong. " Ucap mbok membuat Adel jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2