Merindukan Malam Pertama

Merindukan Malam Pertama
Lembaran baru_Kopi hitam


__ADS_3

Setelah diterima menjadi sekretaris, Adel pun diantar oleh Liliana keruangan pribadi yang letaknya berdampingan dengan ruangan direktur utama. Ada rasa senang, dimana pada hari itu juga dia sudah bisa memulai untuk bekerja.


Liliana sudah menaruh beberapa catatan penting mengenai jadwal pertemuan direktur utama dengan client, untuk hari ini.


Saat tengah membaca catatan tersebut, tiba-tiba telepon diatas meja kerjanya berbunyi, sehingga secepatnya dia mengangkat telepon tersebut, karena dia yakin itu adalah sang direktur utama.


"Adel, tolong masuk kedalam ruangan ku sekarang juga! " Perintah sang direktur utama kepada sekretaris barunya itu.


"Iya, pak.. saya akan segera kesana. " Ucap Adel mengiyakan perintah atasannya itu.


Tanpa mengucapkan kata basa basi, Fabian langsung mematikan telepon tersebut secara sepihak.


Adel menghembuskan nafasnya secara kasar, sambil menaruh kembali gagang telepon ke tempat semula. Lalu dia meraih cermin kecil didalam tasnya. Dirinya harus memastikan tatanan rambut, riasan wajah, dan bajunya dalam keadaan sempurna. Dia hanya tak ingin penampilannya terlihat lusuh dan berantakan didepan bosnya tersebut.


Setelah menarik nafas dalam-dalam, Adel berdiri dari tempat duduknya lalu menuju keruangan direktur utama. Sesampainya didepan ruangan itu, dia mengetuk pintu secara perlahan lalu terdengar suara Fabian menyuruhnya untuk masuk.


Ceklek. ..


Adel menarik gagang pintu ruangan itu, kemudian masuk kedalam ruangan tersebut. Dengan langkah yang teratur dan tidak terburu-buru ia berjalan menghadap bosnya yang terlihat sedang duduk dibangku kebesaran nya.


"Silahkan duduk! " Ucap Fabian sambil memperlihatkan senyum ramahnya.


"Terima kasih, pak. " Ucap Adel dengan rasa gugup.


"Tolong buatkan saya, kopi. Kepalaku sangat pusing memikirkan semua berkas-berkas yang menumpuk diatas meja ku ini. Ingat, tambahin gulanya sedikit aja! " Ucap Fabian sambil memijiti keningnya perlahan.


'Kalau hanya disuruh untuk bikinin kopi, kenapa gak ngomong langsung ditelepon tadi. Jadi kan gak harus bolak balik kayak gini. Capek deh. 'Batin Adel merasa dipermainkan oleh bosnya tersebut.


Tanpa menunggu lama, Adel pun keluar dari ruangan itu lalu menuju ke pantry. Untuk pertama kalinya, ia meracik kopi seenak mungkin agar kopi buatannya sesuai di lidah bosnya tersebut. Awalnya dia ragu untuk mengantarkan kopi itu, namun, karena itu adalah salah satu tugasnya, akhirnya dengan hati was-was diapun kembali masuk kedalam ruangan Fabian.


"Silahkan, pak! "ucap Adel meletakkan kopi hitam buatannya itu diatas meja kerja Fabian.

__ADS_1


Fabian memutar kursinya karena mencium aroma kopi hitam itu yang begitu kuat di indera penciuman nya tersebut, Lalu dia pun menyeruput kopi hitam buatan sekretaris nya itu.


sruup.. sruup...


"Ditiup dulu, pak.. itu masih sangat panas loh. Bisa-bisa nanti bibir bapak melepuh. " Ucap Adel karena melihat bosnya itu yang langsung menyeruput kopi panas tersebut.


Mendengar hal itu, Fabian langsung berhenti menyeruput kopi tersebut, lalu memandang kearah Adel sambil mengulas senyum,


"Hehe, sudah kuduga kamu akan berkata seperti itu. "Ucap Fabian sambil meniup kopi tersebut dan pandangannya masih tertuju kepada sekretaris nya itu.


Melihat bosnya yang tak lepas memandangi nya, membuat Adel sedikit gerogi dan juga merasa aneh dengan tatap mata bosnya tersebut. Hingga keduanya saling tatap dan tanpa berkedip.


Sruup.. sruup..


Fabian kembali menyeruput kopi itu lagi yang sudah dingin karena sudah ditiup nya dari tadi.


"Pas betul.. Kopi buatanmu sangat cocok dilidahku. Mulai besok, kamu harus menyiapkan kopi setiap paginya untuk diriku, terutama jika kepalaku terasa pusing seperti saat ini. Baru kali ini aku merasakan kopi yang betul-betul pas dilidah. " Ucap Fabian membuat Adel tersenyum puas.


Di pikirnya, karena semua pertemuan diundur oleh Fabian, dirinya bisa bekerja dengan santai karena bosnya tersebut akan pulang cepat karena ada acara keluarga. Tapi ternyata, bosnya tersebut menginginkan dia untuk ikut serta menemaninya.


'Haduu, ngapain juga sih ngajak aku segala keacara keluarganya? itu kan harusnya bukan tugas aku. Ajak kek kekasihnya sendiri, ini mah bikin repot aja. Untung aja dirimu adalah bos, jadi diriku tak bisa menolak perintah darimu. 'Batin Adel lalu dirinya mengangguk pelan kepada direktur utama itu.


"Ok, nanti kita mampir ditoko baju untuk membeli gaun yang akan kamu gunakan diacara keluargaku tersebut. Tenang saja, aku yang akan membayar semuanya. Dan ingat, jangan menolak perintah dariku! " Ucap Bastian yang tau ekspresi Adel yang merasa keberatan.


_______________________


Mereka berdua akhirnya telah sampai kesuatu tempat yang terlihat sudah meriah karena dipenuhi oleh orang-orang yang berkepentingan.


Tampak jelas, Adel merasa gerogi berkumpul bersama orang yang belum pernah dilihatnya. Apalagi sangat kelihatan kalau orang-orang yang ada di tempat itu semuanya dari keturunan bangsawan.


Hingga matanya tertuju kepada seorang wanita tua yang sangat familiar diingatan nya. Sehingga dia juga menyadari bahwa direktur utama tempat dia bekerja adalah pria yang pernah jadi tamu istimewa neneknya.

__ADS_1


"Aku baru ingat sekarang, bapak yang dulu pernah bertamu kerumah nenek ku kan? " tanya Adel membuat Fabian mengangguk.


"Iya benar, dan sekarang,pasti nenek ku akan senang melihat tamu yang kubawa ini. " Ucap Fabian lalu menghampiri neneknya tersebut.


Saat sudah bertemu dengan neneknya, Fabian langsung mengatakan kalau dia membawa tamu istimewa untuk beliau.


"Coba nenek tebak, siapa wanita yang kubawa ini? masih ingat gak? " tanya Fabian membuat neneknya melihat secara seksama kepada wanita itu.


"Nenek masih ingat betul dengan wanita cantik ini. Wajahnya mirip Sarah, anak bu Ida. Iya, wanita ini cucunya bu Ida yang pernah kita jumpai saat berkunjung kerumah bu Ida dulu kan?"


"Ternyata nenek masih ingat padaku. Iya, aku adalah cucu bu Ida. Senang bisa berjumpa dengan nenek lagi. "


"Tau gak nek, sekarang Adel ini sudah jadi sekretaris ku loh. " Ucap Fabian membuat neneknya tak percaya.


"Bagaimana bisa? lalu suami kamu, bukannya dia juga mempunyai perusahaan sendiri? kok kamu sebagai istri harus capek-capek bekerja sih? " Ucap bu Salma membuat ingatan Adel kembali pada rasa kehilangan nya.


Hati Adel tak kuasa menahan kesedihan, hingga sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan air matanya agar tak tumpah di hadapan bu Salma dan cucunya tersebut. Dia tak ingin mengungkit kisah lamanya dengan sang suami. Karena itu hanya akan membuatnya larut dalam kesedihan yang mendalam.


Fabian dan bu Salma merasa heran dengan perubahan sikap Adel yang terlihat bermuram durja.


"Maafkan nenek kalau menyinggung perasaan mu, nak. Sekarang ayo kita masuk saja yah, karena acaranya akan segera dimulai. " Ajak bu Salma mengalihkan pembicaraan karena merasa bersalah dengan ucapannya.


"Gak apa-apa kok, nek. Aku hanya sedih jika ada yang mengungkit nama suamiku yang telah pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Mengapa sekarang aku bekerja di perusahaan milik pak Fabian? itu karena aku sebagai tulang punggung keluarga.


Apalagi nenek sekarang sedang sakit, dan aku harus banting tulang untuk mendapatkan biaya pengobatan nenek yang begitu besar. " Ucap Adel dan kini dirinya sudah tak dapat menahan air mata.


Mendengar penuturan Adel membuat bu Salma dan cucunya tersebut merasa terkejut karena tak menyangka kalau Adel sekarang sudah berstatus janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Dan juga perkara bu Ida, mereka juga baru mengetahui hal itu dari Adel sendiri.


Sebenarnya bu Salma masih ingin berkunjung kerumah sahabat lamanya tersebut, tapi karena dulu mendengar cucunya yang bernama Adel sudah menikah, membuat beliau patah semangat sehingga tak pernah lagi berkunjung kerumah sahabat lamanya tersebut.


"Sudahlah, nak.. hapuslah airmatamu, sekarang kita masuk kedalam yah? untuk masalah ini, nanti kita bicarakan lagi itupun kalau kamu berkenan. " Ucap bu Salma membuat Adel mengangguk sehingga mereka pun masuk untuk bergabung dengan para tamu yang lainnya.

__ADS_1


'Wah, kesempatan emas ini untuk mendekati Adel lagi. Semoga nanti dia akan jadi milikku seutuhnya. 'Batin Fabian menyunggingkan senyumnya.


__ADS_2