Milik Sang Pewaris Dingin

Milik Sang Pewaris Dingin
Meredam Amarah


__ADS_3

Michelle membeku di tempatnya ketika melihat kemarahan Dimitri yang begitu kentara, hatinya berdebar cemas....wajah Dimitri terlihat begitu merah padam, bahkan kemarahan itu mampu membakar siapapun yang ada di dekatnya...Michelle gemetar ketika melihat semua pelayannya duduk dalam posisi berlutut, mungkin mereka baru saja di hukum beberapa saat yang lalu..semua karna dirinya,


Ya ampun betapa menakutkannya wajah Dimitri saat ini..seakan dia adalah orang yang berbeda, terlihat garang dan tidak tersentuh..


Michelle merasa ngeri sendiri, bagaimana kalau Dimitri tau dia baru saja bertemu dengan Mike...bukankah dia akan murka..dan membayangkan apa yang akan terjadi membuat Michelle begitu ketakutan...


''Katakan pergi kemana kau Michelle...bahkan ponselmu sengaja tidak aktif. Para pelayan tak ada yang tau dimana dirimu...kau apakah kau sedang mempermainkan aku...'' teriak Dimitri mengepalkan tangannya..


Karna Michelle hanya diam saja, Dimitri sudah tak mampu lagi menahan emosinya...dengan cepat, ia mengeluarkan pistol kecil yang selalu di simpan di dalam sakunya. Dan mengarahkannya lurus pada Michelle yang berdiri tanpa sedikitpun takut.


Semua menjadi hening, masing-masing pelayan saling memandang satu sama lain dengan ketakutan yang sama..begitu juga Tomi yang berdiri tak jauh dari Dimitri...


''Kau tau bahwa aku tidak mengampuni para penghianat..aku benci di tipu oleh siapapun termasuk dirimu Michelle...''


Deg!!!


Michelle tak mampu menahan airmatanya yang menetes,di wajah tanpa ekspresinya..masih berdiri dengan pasrah Michelle kemudian tersenyum.....


''Kau mencurigaiku Dim....'' suara itu terdengar lelah...


''Lalu kau mau aku melakukan apa...baru saja aku memberikanmu kepercayaan..baru saja aku membebaskanmu tapi kau malah menggunakan kesempatan itu untuk menemuinya...''


Michelle tertawa dengan kesedihan yang dalam, pria ini sangat sakit...bahkan di dalam mimpipun sangat mengerikan membayangkan jika ia akan hidup selamanya bersama pria seperti Dimitri...tidak...bahkan melewati detik demi detik penuh kebohongan begitu menyakitkan baginya...


Mike benar soal rasa sakit, Dimitri harus merasakan apa itu rasa sakit agar dia bisa tau bagaimana perasaan orang lain, dan Michelle tak sabar untuk menjadi saksi dari rasa sakit yang akan di rasakan Dimitri nanti...namun sekarang dia harus bersikap mengalah, seperti penjilat dan sudah tak punya harga diri...bagi Michelle semua ini akan di bayar lunas melihat kesakitan di wajah dan hati Dimitri nanti...


''Bukankah kita akan menikah.......''


''Apakah kau tak bisa menahan dirimu untuk tidak meninggalkan rumah tanpa ijin dariku...haruskah kau...melawanku setiap hari...setiap detik Michelle...''


Michelle merasa ia tak perlu menjelaskan apapun lagi, dan memilih tidak menjawab kata-kata Dimitri yang terlalu tajam,..


''Jawab Michelle.......'' pria itu benar-benar serius dengan pistol di dalam genggamannya..

__ADS_1


Namun Michelle hanya diam saja sambil melangkah mendekati Dimitri yang masih tampak sangat marah, dan tak tersetuh sedikitpun....gadis itu menghentikan langkahnya ketika mereka benar-benar dekat sekarang, dan hanya saling menatap..mata Michelle berkaca-kaca....lalu menyentuh lengan Dimitri yang sedang memegang pistol dan mendekatkannya di dahinya dengan tatapan nekat...


''Maafkan aku.....aku lupa memberitahumu Dim...tapi jika kau tidak percaya padaku..maka kau bisa mengakhirnya sekarang...aku sudah lelah, percuma kita akan menikah jika kau masih saja tidak percaya..bukankah itu hanya sia-sia..lalukan sekarang dan akhiri ini dengan cepat..'' Michelle memejamkan matanya..


Hening....


Dimitri mengeraskan wajahnya...dia butuh jawaban dari Michelle, tak taukah gadis ini jika ia mencarinya seperti orang gila, ketika dia pulang dari kantor Michelle tak ada dirumah, para pelayan bahkan Ela tak tau dimana Michelle berada, di tambah lagi GPS yang di pasang Dimitri malah tidak mendeteksi keberadaan Michelle,.,...Tomi juga tidak memberitahunya....Dimitri begitu frustasi...


''Kau pikir aku lelucon bagimu...kau pikir aku bisa kau perlakukan seenaknya...kau pikir siapa dirimu Michelle....''


''Dim...dengarkan aku......''


''Katakan dengan jujur Michelle...jangan membuatku hilang kendali...Michelle.......''


Kata-kata Dimitri menggantung ketika tubuh Michelle menghambur ke dalam pelukannya seolah menyandarkan hidupnya...wajahnya di benamkan di dada Dimitri yang sedang berkecamuk karna rasa kesal...


''Michelle........''pistol itu langsung terjatuh dari genggaman Dimitri tanpa bisa di cegah...


Dimitri merasa bingung sendiri, mengapa dia melemah di hadapan Michelle...bahkan dia sudah siap menembak...


''Aku merindukan ayah dan ibu....aku mengunjungi mereka....'' isakan Michelle pecah saat itu juga sementara Dimitri menatap Tomi yang menunduk mengi-yakan pernyataan Michelle kepadanya...


Dan amarah Dimitri langsung padam seketika...di ganti rasa lega luar biasa ketika gadis yang dia cintai sedang mencari perlindungannya di dalam pelukannya...


Hening.......


''Mengapa kau memberitahuku....kita bisa pergi bersama.....''


''Aku....tak ingin mengganggumu Dim, aku tau kau sedang lelah karna perkerjaan...aku hanya rindu mereka...maafkan aku akhirnya membuatmu panik...'' ucap Michelle dengan nada sesal..


Dimitri semakin mempererat tubuh Michelle dan mengusap punggungnya..ia sedikit tersenyum menyadari dia bersikap seperti orang gila..ya ampun bagaimana bisa dia begitu syok membayangkan Michelle pergi darinya...


''Jangan ulangi lagi Michelle....'' bisik Dimitri dengan suara yang tegas dan menekan..

__ADS_1


''Aku janji...aku akan berhati-hati mulai dari sekarang..''


''Bagus....''bisik Dimitri lembut..


Perut Michelle tiba-tiba berbunyi dan gadis itu sangat malu, bagaimana mungkin dia sampai mengalami hal memalukan, ia masuk angin selama di pantai tadi...


dan mulai lapar..


Dimitri menjauhkan tubuhnya dan menatap mata Michelle dengan rasa lucu..


''Kau lapar...''


''Yah...aku terlalu banyak menangis di makam tadi dan sangat lapar...apakah kau sudah makan Dim...''


''Aku juga lapar setelah marah-marah..'' balas Dimitri terkekeh..


''Baiklah bagaimana kalau kita makan..'' ucap Michelle membawa Dimitri bersamanya, meninggalkan Tomi yang hanya menghela nafas...ia sampai melonggarkan dasinya..sebelum benar-benar pergi Michelle masih menoleh dan menatap ke arah Tomi dan tersenyum penuh ucapan terimakasih..setidaknya Tomi tidak membatah apapun kata-katanya dan memilih diam...


Sementara.....


Tomi tau benar arti tatapan sang tuan Dimitri kepadanya...pria itu lalu meninggalkan rumah....dan kembali ke markasnya..


***************


Di sebuah ruang pertemuan rahasia, di tengah malam..


Pintu terbuka dan seorang pria melangkah masuk lalu menundukan kepala di hadapan tuannya...Dimitri mengangkat wajahnya dengan senyuman paling dingin ketika pria itu meletakan beberapa foto di atas meja...


Sementara Dimitri meletakan pistol di atas meja kerja...ia mengambil foto-foto yang menyita perhatiannya...


sesaat ia menatap Tomi yang masih menundukann kepalannya..


''Tomi.....jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi...sekarang....'' ucap Dimitri dengan nada ancaman yang nyata...

__ADS_1


Tomi mengangkat wajahnya yang pucat pasi........


Deg!!!!!


__ADS_2