
Tubuh Michelle bergetar ketika langkah kakinya menapaki sebuah rumah sakit yang tampak ramai di pagi hari,...ia terus melangkah tak perduli airmatanya yang menetes sepanjang jalan, bagaimana mungkin ini terjadi...bagaimana mungkin ia kehilangan lagi...?
Tidakkah ini sudah cukup...? Kepala Michelle berputar sesaaat, terlalu banyak tekanan yang dia hadapi beberapa hari ini dan hal itu membuat tubuhnya melemah...namun Michelle terus menguatkan dirinya...melangkah ke arah sebuah ruang perawatan yang sudah di penuhi oleh banyak polisi dan para perawat disana yang sedang mengerumuni ruangan itu, hingga seorang petugas mengenalinya dan langsung menghampiri Michelle yang tampak begitu lemah...
''Nona Michelle...''
Melihat wajah sedih sang petugas saja sudah cukup membuat Michelle mengerti bahwa semua tidak baik-baik saja...tidak baik-baik saja....
''Apa yang terjadi....mengapa, ini bisa terjadi....pada kakakku...''suara Michelle bergetar, suaranya serak dan nyaris hilang..
Hingga petugas menuntunnya agar tetap tenang untuk menerima peristiwa duka ini..
''Nona...kami menemukan kakak anda pagi ini dengan posisi telah mengir*s urat nadinya, kami sangat terlambat ketika menemukannya...dan kami mohon maaf...dia tidak bisa di selamatkan.....''
Dunia seakan berhenti saat itu juga bagi seorang Michelle Hera, bagaimana hidupnya selalu di kelilingi kemalangan, bagaimana hidupnya sekarang tanpa kehadiran kakaknya, mengapa kakaknya pergi begitu cepat, lalu harus kemana lagi Michelle beharap, apa yang harus ia lakukan di depan....semua beban itu sekarang bertumpuk di dalam pikiran Michelle..ia bahkan tak mampu mengatakan apapun selain airmatanya yang untuk kesekian kalinya di paksa turun membasahi wajah sembabnya...
''Aku....ingin melihatnya...aku mohon......'' desah Michelle sudah tak mampu membendung rasa sakit di dadanya..
Petugas itu mengerti arti tangisan Michelle dan menuntunnya masuk ke sebuah ruangan yang telah di penuhi oleh banyak orang, yang menyaksikan peristiwa itu dengan menyesal, beberapa dari mereka tampak saling berbisik satu sama lain.
''Berikan waktu untuk adiknya...'' ucapnya dengan lantang..
Semua yang ada diruangan itu mundur teratur dan memberi kesempatan pada Michelle sendirian bersama dengan tubuh kakaknya yang telah kaku...
Hening......
Ketika semua orang meninggalkan Michelle di ruangan itu dan ia menatap wajah sang kakak yang tertidur lelap di sana, menutup mata seolah menyerah menemaninya..
Michelle memejamkan matanya, ingatan terakir begitu menyesakan dada ketika menyadari kakaknya berusaha menghubunginya kemarin dan ingin bicara...
Jika saja....dia mengangkat telp...jika saja dia tidak seegois itu...mungkin situasinya akan berbeda, mungkin kakaknya masih berada di sisihnya..mungkin saja kakaknya tak akan menderita sendirian...
''Mengapa kau tidak menungguku....mengapa kau harus sekejam ini...mengapa........'' teriak Michelle putus asa..
Seperti wanita yang kehilangan akal, ia mendekati tubuh sang kakak dan menguncangnya dengan kuat...tak perduli bahwa jiwa sang kakak telah pergi menuju keabadian...Michelle menjerit histeris di dalam ruangan itu sendirian,..tangisannya begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya..ia begitu terluka karna dengan kepergian satu-satunya kakak kandungnya maka Michelle akan menjadi sebatang kara tanpa siapapun perduli kepadanya,...tak ada yang prduli kepadanya...lagi...
''Mengapa kau tidak membawaku...mengapa kak, aku takut sekali..kau tau jika aku begitu lemah...bagaimana mungkin kau juga pergi seperti ini....mengapa...''
__ADS_1
Michelle meronta putus asa sambil berusaha membangunkan sang kakak yang tertidur lelap, ia sudah kehilangan pikirannya karna luka yang begitu besar membekas di hatinya karna kehilangan, semua orang hanya diam seolah ikut hanyut dalam duka Michelle yang begitu besar dan membuatnya hancur...Michelle terus menangisi Kakaknya yang telah meninggalkan dunia, meninggalkannya seorang diri...menghadapi kerasnya dunia...
''Kakak.......tunggu aku...aku mohon.....
Semua impiannya untuk hidup tenang seketika hancur, tak ada ketenangan dalam dunia..tak ada ketenangan untuknya...mungkin itu juga yang di rasakan kak Rob...yang tak bisa menerima kenyataan kalau dia bukanlah darah daging seorang Harry Swan...
Michelle menunduk dengan isakan yang begitu memilukan, tubuhnya menjadi goyah dan hampir jatuh...namun di detik kemudian...dari arah pintu muncul seorang pria yang dengan sigap menangkap Michelle ketika hendak jatuh...
''Michelle......'' desah pria itu menatap mata Michelle yang begitu kosong...
Dimitri sungguh merasa hancur melihat Michelle kali ini..hingga ia langsung membawa tubuh Michelle yang begitu lemah..ke dalam pelukannya..yah...pelukannya, Dimi membeku ketika hatinya berdebar cemas ketika Michelle bahkan tidak bereaksi apapun selain menangis...ia menangis dan terus menangisi kakaknya....Michelle begitu terpukul itu jelas di matanya...dan untuk pertama kalinya Dimi menyesal karna sudah begitu menyakiti Michelle...
''Kakak.........'' desah Michelle dengan nada lemah..
''Tenanglah sayang..semua akan baik-baik saja...'' bisik Dimi mencoba membujuk Michelle, mencoba menenangkan dirinya dari rasa sakit yang sebagian di berikan Dimi kepadanya..
Michelle kemudian memejamkan matanya karna kelelahan yang begitu besar....tubuhnya jatuh di pelukan Dimi hingga pria itu meneteskan airmata....ia sungguh merasa nyeri melihat Michelle begitu hancur...wajahnya pucat pasi dan ia benar-benar terlihat syok..
3 Hari kemudian.......
Michelle membuka mata dan menyadari dirinya berada di ruang perawatan rumah sakit...matanya berkeliling sesaat sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, tubuhnya lebih baik...ia tidak merasakan lemas atau apapun...
Michelle berusaha bangun dari tidurnya dan di saat yang sama pintu terbuka...sosok yang tidak ingin ia liat malah masuk dan menatapnya..dia adalah Dimi...seketika itu juga Michelle memalingkan wajahnya...
sementara Dimi melangkah mendekatinya...
''Michelle....''
Michelle berusaha tidak menangis, ia mengangkat wajahnya...
''Aku baik....bagaimana dengan kakakku...''
''Aku sudah menguburkannya Michelle...''
''Baik.....terimakasih Dim, apakah makamnya berada di tempat yang sama dengan ayah dan ibu...''
''Tidak.....makamnya berada di luar kota dan di atas bukit..''
__ADS_1
Kali ini Michelle menoleh..
''Mengapa.....mengapa harus di pisah dengan ibu...''
Dimi mendekat dan duduk di samping ranjang, lalu menatap Michelle dengan tajam...
''Aku hanya menuruti wasiat terakhirnya,..ia meminta di kuburkan di atas ketinggian dan sendirian..jika kau tidak percaya maka...kau bisa membacanya sendiri suratnya Michelle..''
Airmata Michelle menetes lagi..kali ini lebih dalam dari biasanya, hingga Dimi mendekat...menyentuh bahu Michelle dan menatapnya...
''Maafkan aku atas segalanya....maafkan aku karna aku begitu melakukan kesalahan besar padamu, aku dan Anggun kami tidak punya hubungan apapun...aku begitu bodoh dan.......''
''Aku tak ingin bicara apapun tentang hubungan kita Dim....aku mohon....'' pinta Michelle dengan mata yang basah..
Dimitri mengangguk..lalu menyentuh wajah Michelle dengan lembut....
''Baik...kita masih punya banyak waktu....''
Michelle sama sekali tidak menjawab, ia sudah mati rasa...dan semakin membenci Dimi saat ini.....
namun mengapa pria ini malah bersikap lembut kepadanya bukankah aneh...?
Dimi mengambil jemari Michelle dan tersenyum......
''Aku senang sekali karna sebentar lagi...aku akan menjadi ayah........''
Deg!!!!
Michelle menoleh dengan tajam...
''Apa...maksudmu.....aku....''
''Kau sedang hamil anakku Michelle sayang....''
Deg!!!!!
Michelle membeku dengan ekspresi syok....
__ADS_1
Tidak mungkin..........