Milik Sang Pewaris Dingin

Milik Sang Pewaris Dingin
DImana Michelle...?


__ADS_3

Dimitri menjadi kian cemas ketika ia menelfon orang rumah termasuk Tomi namun tidak berhasil menemui Michelle..pria itu menjadi tidak tenang....lalu keluar mencari keberadaan Michelle yang menghilang, Marco juga tidak mengetahui keberadaan Michelle...


Sepanjang hari Dimi menyusuri sepanjang jalan, juga beberapa teman Michelle yang baru, tak lupa mengunjungi Rob dan memberinya sedikit tekanan kalau saja Rob menyembunyikan Michelle namun..semua sia-sia, Michelle tidak tdi temukan.


Dimitri mulai gelisah sendiri, ia bahkan tidak mengenal lelah ketika mencari Michelle, ke seluruh kota bahkan sampai menyusuri pantai karna ia tau Michelle suka pantai, semua di lakukan Dimi demi mencari jejak Michelle namun tak ada hasil sampai ia hampir putus asa dan pencarianpun di lakukannya sampai malam. Namun ternyata Michelle memang tidak di temukan..


Sementara itu Dimitri memarkirkan mobilnya di tengah kota..beginikah rasanya kehilangan Michelle..?


Rasanya ia tak lelah sedikitpun demu menemukan istrinya, betapa rasa takut dan cemas begitu melingkupinya. Dimana lagi dia harus mencari jejak Michelle..?


Pria itu menundukan kepalanya dalam-dalam..disaat yang sama Tomi mengabarkan kalau Michelle sama sekali tidak meninggalkan apartement, karna dari pantauan cctv Michelle tidak keluar dari sana karna memang Dimi mengunci pintu..


Betapa terkejutnya Dimitri..tidak menunggu, pria itu langsung memutar stir mobil dan meninggalkan kawasan tengah kota dan menuju apartemen dengan wajah yang pucat pasi..


Apakah Michelle terkunci di satu kamar, atau jangan-jangan dia jatuh dari ketinggian..? Dimi tak mampu menahan pikiran liarnya yang mulai menguasainya..


Dimitri sungguh takut terjadi sesuatu dengan Michelle, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri...mobil begitu kencang membelah malam hingga akhirnya ia sampai di gedung apartemen miliknya, sementara itu beberapa anak buahnya sudah menundukan kepala di hadapannya, termasuk Tomi..


''Kau sudah membuka pintu apartement...''seru Dimi sambil jalan..


''Belum tuan, kami menunggu anda...tidak ada yang berani masuk..''


''Bagus....aku harap kita tidak terlambat..tidak ada yang terjadi pada istriku..'' ucap Dimi penuh harap..


Mendenngar kata istri membuat Tomi hanya meliriknya dengan senyuman..tuan Dimi memang sangat mencintai nyonya Michelle hingga ia terlihat cemas...


Ting!!!!


Pintu lift terbuka dan tanpa menunggu Dimitri melangkah masuk dengan Tomi yang melangkah hati-hati di belakangnya..


Gelap.......


Tak ada satu lampu yang menyala hingga Dimitri menjadi heran, seingatnya ia tadi menyalakan lampu..namun...kini..lampu di matikan..


Dimi melangkah ke arah dinding untuk menyalakan lampu namun tiba-tiba, lampu di nyalakan dan membuat Dimitri terkejut..


Michelle berdiri di tengah ruangan dengan memegang kue tart dan tersenyum kepadanya..


Ulang tahun........? batin Dimitri dengan perasaan campur aduk yang kini bergejolak di dadanya..


Bahkan Dimi melupakan ulang tahunnya, pria itu membeku melihat sosok Michele yang manis,...dalam balutan gaun berwarna biru tanpa lengan yang memperlihatkan tubuhnya yang mulus tanpa cacat, dengan rambut yang tergerai sampai ke pinggangnya..ia tersenyum..lalu membawa cake ke hadapan Dimi...


''Selamat ulang tahun.....''ucap Michelle dengan senyuman segar..

__ADS_1


Hingga Dimi kehilangan kata, tak taukah Michelle kalau dirinya hampir gila karna mencari Michelle seharian, sampai malam hari dan kini Michell bahkan memberinya kue ulangtahun tanpa ijin darinya..dari mana semua ini berasal darimana...tidak mungkin bagi Michelle keluar dari kamar ini itu artinya ada yang membantunya...


Dimi menatap dingin..


''Apa yang kau lakukan, aku mencarimu kemana-mana aku mencarimu, aku bahkan tidak perduli aku sedang lapar, lelah...tapi kau malah membuat lelucon seperti ini..siapa yang melakukannya, siapa yang membantumu menyiapkan semua hal yang tidak penting ini..''


Dimitri mendorong kue yang di pegang Michelle sehingga tubuh Michelle terdorong ke belakang....


Michelle menghela nafas...sudah susah payah dia menyiapkan ini agar menjadi kejutan namun, bukannya meniup lilin, pria ini malah marah marah kepadanya...


''Apa susahnya kau meniup lilinnya Dimi...walau kita saling membenci tapi aku peduli padamu, kau adalah mantan kakaku, jangan tanya siapa yang membantuku..mereka hanya menuruti aku...''


Dimitri sama sekali tak ingin meniup lilin dan Michelle menjadi kesal..ia lalu meletakan kue itu begitu saja dan melangkah menuju kamar, sementara Dimitri hanya mampu menghela nafas...


''Michelle..kau belum menjawab pertanyaanku mengapa kau menyembunyikan diri dariku selama itu...tak taukah kau jika kau sudah mempermainkan aku..''


Dimi mengikuti langkah Michelle ke dalam kamar, Michelle sedang membuka pakaiannya, dan menggantinya dengan gaun tidur..ia kesal sekali dan tak ingin berdebat dengan Dimi, seharunya dia tidak sebaik itu untuk memberi kejutan, bahkan Dimi tidak menghargai usanya sedikitpun...


Dimitri menatap Michelle menunggu sampai istrinya selesai mengganti gaun lalu mencekal tangan Michelle ketika ia melangkah cuek melewati Dimitri begitu saja...


''Apalagi....''


''Kau belum menjawabku Michelle...''


''Baiklah....ketika aku berdiam diri setelah kau mengunciku dari luar, aku sendirian dan mulai menghitung hari...dan aku baru sadar hari ini adalah ulang tahunmu....''


Dimitri melonggarkan tenggorokannya ketika menyadari Michelle tampak serius dalam perkataannya..bahkan setelah semua sikap kasar yang di lakukan Dimi, seorang Michelle masih mengingat ulangtahunnya..


Dimitri membeku......


''Tadinya aku tidak perduli padamu, aku membencimu ingat,..tapi biar bagaimanapun kita pernah menjadi saudara...aku pernah menjadi adik yang mencintaimu...meski kau tidak sadar itu....airmata Michelle menetes....aku hanya ingin merayakan ulangtahunmu itu saja..aku berharap kau tersenyum padaku tapi yang ada kau malah marah....jika kau mau menghukum..maka hukumlah aku,...Tomi hanya menuruti aku...''


''Tomi.........'' ulang Dimitri terkejut, bahkan Tomi tidak menunjukan reaksi apapun saat Dimi mencari Michelle susah payah....Tomi beraninya dia...


''Aku akan..........''


''Jangan menghukumnya akulah yang mengancamnya...''


Dimitri menghela nafas...


''Dia anak buahku mengapa malah menurutimu..''


''Karna aku istrimu......''

__ADS_1


DeG!!!!!


Dimitri membeku ketika Michelle mengatakan hal yang tidak pernah dia sangka..menyebut kata seorang istri bagai berada di surga..Dimi bahkan tidak membayangkan semua itu...ia mematung di tempat ketika Michelle mendekat...


Keduanya bertatapan, gadis itu mengulurkan kedua tangannya menyerah..


''Hukum aku jangan Tomi....dia tidak bersalah dan hanya menuruti keinginanku......''


Dimitri memalingkan wajahnya...


''Dim.......''


Kali ini Michelle lantas menghambur dan memeluk tubuh Dimi dengan erat sampai pria itu menjadi heran..mengapa sikap Michelle menjadi manis begini..


''Michelle....''


''Kau tidak marah kan...''


Hening........


''Michelle....''


''Tiup lilinnya......bagaimana...''bujuk Michelle di telinga Dimitri sekali lagi..


Entah angin apa yang membuat Dimitri menurut..


''Baiklah tapi ingat........''


''Yey.....aku akan mempersiapkan lilin lagi...ayo kita pergi....''


Michelle menyeret Dimi yang menyerah...sampai di ruang tamu tampak Tomi dan beberapa anak buah lainnya menundukan kepala ketakutan karna mereka membantu Michelle merahasiakannya...


Dimi menatap mereka dengan tajam..


''Kalian.........''


''Sssttt...sudahlah,,ayo tiup lilin, ini hari bahagiamu dan berhentilah marah-marah...'' ucap Michelle tersenyum..


Dimitri menatap Michelle dengan senyuman yang tersembunyi..setidaknya dia lega melihat Michelle tidak menghilang atau meninggalkannya...


Dimitri akhirnya meniup lilinnya dan tersenyum...


Michelle menghambur memeluk Dimitri sekali lagi namun senyumnya menguap..ketika Dimitri mndekapnya...

__ADS_1


Michelle mengepalkan tangannya...


__ADS_2