Milik Sang Pewaris Dingin

Milik Sang Pewaris Dingin
Berteman


__ADS_3

Carissa terbangun pagi ini di kamar asing, wanita itu mengerutkan kening ketika mengingat jika semalam dia jatuh dan tidak sadarkan diri di dalam pelukan Dimi..


Dimi.......??


Jantung Carissa berdebar ketika menyadari kalau saja pria itu akan mengambil keuntungan darinya, Carissa langsung memeriksa tubuhnya dan hanya mampu menghela nafas lega karna ia menemukan pakaiannya masih utuh. Dan ia merasa tak ada sesuatu yang terjadi padanya..dia baik-baik saja..jadi Dimi tidak menyentuhnya..? Itu bagus setidaknya dia masih punya sisa moral di dalam dirinya.


Tapi dimanakan dirinya, apakah di rumah Dimi...? Carissa mengedarkan pandangan pada ruangan kamar berwarna pink, dan ia tak mampu menahan rasa terkejutnya ketika melihat sebuah foto keluarga yang terpampang di tengah ruangan..itu adalah gadis yang mirip dirinya..?? Carissa sontak memegang dadanya ketika ia menyadari sesuatu yang nyeri menusuk ke dalam hatinya..meski ia tak tau mengapa..


Di dalam kamar ini di dominasi warna pink dan yang membuatnya semakin kehilangan kata adalah...di dalam kamar ini banyak sekali gambar dirinya dalam berbagai gaya..dari usia sekitar 10 tahun sampai dewasa..


Siapa gadis ini, mengapa sangat mirip dirinya...? Mengapa ia merasa familiar dan betah di dalam kamar ini..Carissa bahkan tidak merasa canggung sama sekali meski ia benar tidak mengerti mengapa harus merasakan perasaan ini...?


Carissa bangkit dari ranjang dan langsung merapikan ranjangnya,..lalu melangkah mendekati beberapa pajangan yang membuatnya tak berhenti tersenyum...ada keramik berbentuk kelopak mawar, ada bunga mawar berbagai warna dan juga ada meja rias yang penuh dengan semua alat makeup disana..


Carissa lalu menghampiri meja dan mulai duduk disana...menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin dan mengerutkan kening..mengapa semuanya terasa sangat familiar..?? Wanita muda itu menurunkan pandangan pada sisir yang juga berwarna pink. Dengan ragu ia mulai mengambil sisir itu lalu mulai menyisir sambil menatap wajahnya di cermin.


Matanya kemudian berkaca-kaca, dan sedetik kemudian ia tak tahan untuk tidak meneteskan airmata, entah mengapa perasaannya berubah menjadi sedih..sangat sedih sehingga ia mulai menangis,...


Apa yang terjadi kepadanya, mengapa dia merasakan perasaan ini..mengapa...??lama Carissa berada disana sembari menekan dadanya dan menangis...meski ia tak tau mengapa ia menangis..di kamar ini, apa hubungannya dengan kamar ini,.mengapa ia merasa memory menyakitkan ada disini..?


Apa yang terjadi kepadanya...??


Dan sesaat kemudian..


Ada gerakan pintu terbuka dan kali ini Carissa menoleh, terlambat baginya untuk menghapus jejak airmatanya...


Dan Dimi muncul disana, sedikit terkejut melihat Carissa menangis..


ia berdehem lalu mendekat....


''Apa kau baik-baik saja...''


Carissa menatap mata Dimi dengan dalam..sembari menghapus airmatanya. ia memallingkan wajahnya...


''Carissa........''


''Dimana ini..mengapa kau membawaku......''


''Ini adalah kamar Michelle..''


''Kamar Michelle.....'' ulang Carissa menoleh...

__ADS_1


Dimi menarik sebuah kursi dan duduk agak jauh dari Carissa hingga wanita itu merasa nyaman.keduanya saling menatap.


''Mengapa kamarnya berada disini...bukankah kalian suami istri...ataukah ini kamar kalian..''


Dimi menghela nafas sembari mengenang....ia menatap sekelilingnya dan kembali berpusat pada Carissa yang menunggu jawabannya.


''Dia adalah adikku sebelum menjadi istriku...''


''Hah.....'' Carisa melebarkan matanya..


Dimi menangkap tatapan aneh di wajah Carissa...


''Kami tak ada hubungan darah Carissa, sebelum dia menjadi istriku dia adalah adikku dan aku sebenarnya sudah mencintainya sejak lama....namun bukannya menunjukan perasaanku sebenarnya aku malah terus menyakitinya..''


Carissa mendengarkannya dengan serius...


''Dan ini adalah kamar kesayangannya, meski kami sudah menikah namun kamar ini adalah tetap kamar miliknya..ia tak ingin ada yang merubah kamarnnya...dia sangat betah disini...''


''Kalian menikah namun punya kamar berbeda...''


Dimi mengangguk.....


Tanpa di duga Dimi ia melihat senyum di wajah Carissa dan lagi-lagi senyum itu adalah senyum Michelle hingga ia tak sadar ikut tersenyum..


Sampai Carissa menyadari jika Dimi sedang memandangnya dengan pandangan yang begitu dalam..


''Ehmn......'' Carissa menutup senyumnya,..


Sementara Dimi menegakan tubuhnya, ia tampak gugup..bukan dia sendiri namun Carissa juga tak kalah gugupnya, ia bahkan tak tau mengapa merasakan perasaan ini..


Dimi kemudian menatap mata Carissa dengan tajam..


''Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Carissa...''


Carissa mengangguk, dan tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.. Pembicaraan mereka tampak hangat dan kedekatan ini membuatnya sedikit nyaman..


''Katakan saja...''


Dimi pun mengusap wajahnya dengan kasar..


''Aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi...aku sungguh minta maaf...aku tau aku telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan itu denganmu aku bahkan mengutuki diriku yang tak bisa mengendalikan diri...maafkan aku juga karna selalu menganggapmu istriku..aku sungguh menyesal....istriku telah pergi entah kemana...aku seharusnya tidak menghianatinya..namun mulai sekarang....aku akan menahan diriku....namun kau bisa melihat sendiri kalau wajahmu dan dirinya nyaris tak ada yang berbeda,...''

__ADS_1


Kali ini Carissa menatap sebuha foto pernikahannya yang terletak di tengah ranjang dan mengakui...mereka nyaris sama...lalu ia kembali menatap mata Dimi..


''Lalu...apa maumu Dim.......''


''Bisakah kita menjadi teman...?''


''Teman......'' ulang Carissa mengerutkan keningnya,..


Selama ini dia tidak punya seorang teman, apakah Dimi bisa di percaya..? Ataukah Dimi sengaja berteman dengannya hanya untuk mengambil keuntungan..?


Dan Dimi bisa merasakan hal itu ia segera bicara untuk menjelaskan pada Carissa bahwa semua akan baik-baik saja...


''Carissa.....''


''Yah........''


''Aku bersumpah di hadapanmu...di hadapan foto istri dan keluargaku aku tak akan pernah menyentuhmu secara paksa,..tidak jika kau tidak setuju..''


Mendengar hal itu Carissa langsung melempar bantal sofa pada Dimi yang pasrah mendapat serangan..


''Aku tak akan setuju di sentuh....ya....kau pikir aku wanita jablay...'' jerit Carissa tak terima..


Keduanya tertawa hingga kebekuan seketika mencair, Dimi hanya bisa tersnyum lega..melihat senyum Michelle di wajah Carissa sudah cukup membuatnya tenang.


''Jadi kau memaafkan aku dan mau bersahabat denganku Carissa...''


Kali ini senyum Carissa menguap namun bukan berarti ia sedang marah...Carissa menurunkan pandangan, menatap jemari Dimi yang terulur tampak tulus padanya..dan entah mengapa hatinya memintanya untuk memberi kesempatan pada Dimi apalagi dia melihat kebenarannya bahwa, Dimi hanyalah seorang pria yang terlalu mencintai istrinya,....dan entah mengapa hati Carissa mulai melunak.


''Jadi kau tidak akan pernah mengambil keuntungan lagi dariku benar...''


''Tentu saja...''


''Kita berteman....'' ulang Carissa sembari mengulurkan tangannya...


Dimi pun menganggukkan kepala, membuat Carissa bisa bernafas lega..


Carissa pun membalas uluran tanganya dan Dimi menggenggam jemari lembut itu dengan segala kerinduan yang tertahan...


Dimi pun tersenyum lega..........dan Carissa membalas dengan senyuman termanisnya...


Deg!!!!!

__ADS_1


__ADS_2