
Usai menutup telp Michelle masih berada beberapa jam sampai tak sadar jika sudah terlalu malam untuk pulang, ketika melirik jam ia sadar ia sudah melewati waktu yang di tentukan oleh Dimi. Itu artinya akan ada pertengkaran dan Michelle bahkan sudah siap dengan apapun yang akan terjadi..bahkan dia sudah tidak mengharapkan apapun lagi....dari siapapun orang terdekatnya baik itu kakaknya atau Dimitri....mereka adalah sosok terdekatnya yang begitu ia cintai namun mereka hanya memberinya luka..
Michelle berdiri menatap pantai yang gelap di malam hari, hanya terdengar sapuan ombak yang menyapa bibir pantai..sekali lagi airmatanya menetes...lalu meninggalkan pantai yang telah menemani sedihnya...
******
Tak berapa lama kemudian mobil sampai di parkiran rumah, ada yang berbeda rumah tampak sepi..biasanya beberapa pelayan akan lalu lalang melakukan pekerjaannya, biasanya tak sepi begini, Michelle hanya menghela nafas acuh..ia tidak perduli..
Michelle keluar dari sana...dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar, ketika dia menginjak pintu rumah lampu yang tadinya gelap seketika di nyalakan...Michelle di hadapkan dengan tatapan yang begitu tajam seorang Dimitri Swan..hingga ia hanya mampu menghela nafas...biasanya Michelle akan bersikap manja dengan mendekati Dimi untuk memeluknya,biasanya pula..Dimi tak akan menatap setajam ini kepadanya setidaknya selama beberapa bulan terakhir ini.. Sudah jelas bagi Michelle bahwa apa yang dikatakan Marco atau Katren adalah kebenaran bahwa selama ini ia ternyata hidup bersama seorang monster yang sedang menyiapkan diri untuk menghancurkannya..
Dan mungkin kehancuran itu akan segera di mulai dari sekarang...
Michelle memalingkan wajahnya ia tak ingin sedikitpun menatap Dimi..
Sedangkan Dimi begitu lega, hal yang paling penting baginya adalah Michelle telah kembali dan itu hal yang membuatnya tenang, bahwa gadis ini berdiri dengan tidak kekurangan apapun, hal itu yang membuat Dimi bisa tenang untuk sesaat...
namun memang ia tak bisa memaafkan begitu saja bahwa Michelle meninggalkan rumah tanpa ijin darinya bahkan beberapa jam..kemana dia, bersma siapa, sampai dimana Marco mempengaruhinya dengn hasutannya Dimi benar-benar tak tau tapi dia ingin tau....walau dengan tatapan Michelle ia sudah merasa bahwa semuanya tidak baik-baik saja...
''Darimana kau....mengapa kau berada di luar rumah selama ini...'' Dimi mengepalkan tangannya sementara Michelle mengangkat wajahnya dan menatap lurus sosok Dimi yang terlihat marah..
Michelle mendekat, tak ada lagi rasa takut, cemas apalagi cinta yang tertinggal atau mungkin tak pernah ada...Michelle sudah mati rasa karna terlalu banyak kecewa dan penghiatanan yang ia terima selama ini..
Semula dia adalah kertas putih yang belum ternoda, namun saat ini ia hanyalah sebuah kertas penuh coretan hingga noda yang di torehkan begitu banyak tinta yang dengan kejam membuat Michelle begitu kotor..mengapa sekeliingnya hanya ingin memanfaatkannya dengan kejam, bahkan mereka tidak perduli dengan perasaannya yang hancur...??
''Aku lelah...jadi bisakah aku istirahat...''
__ADS_1
Michelle sengaja ingin menguji kesabaran Dimi dengan mengabaikan pertanyaannya...
''Michelle.......''
Namun Michelle seolah buta dan tuli ia melangkah begitu saka melewati Dimi yang tidak terima dengan perlakuannya..hingga pria itu akhirnya mencekal tangan Michelle hingga gadis itu berdiri di hadapannya dengan wajah datarnya yang mengrikan. Dimi tidak perduli ia akan melakukan apapun untuk membuatnya berhenti karna mereka bahkan jauh dari kata selesai....
''Ada apa denganmu kau bahkan mulai membantahku sekarang.....'' teriaknya dengan suara yang keras..
Rumah yang sepi, Michelle membayangkan hanya ada mereka berdua disini...para pelayan pasti sudah di jauhkan dari sini. Dimi bahkan memikirkan semuanya dengan tepat waktu itu artinya dia siap memberi hukuman, pandangan Michelle mengeras..
''Aku baru sadar selama ini kau hanya memperlakukan aku seperti seorang pelayan..tidak lebih...''
Dimi membeku mendengar ucapan Michelle..tatapan itu sangat dingin hingga Dimi tau bahwa Michelle sudah mendengar dari banyak yang ia ingin tau...
''Mengapa kau mengatakan hal itu...bukankah aku hanya.......''
''Sampai kapan kau akan berbohong...sampai kapan kau akan menutupi semua ini dariku....''
''Apa maksudmu Michelle...''
''Lihatlah dirimu kau masih berakting semuanya baik-baik saja..kau sangat mengerikan...Dimitri...''
Pria itu tersenyum dingin........ia menahan kuat perasaannya...
''Bukankah aku sudah bilang kau hanya harus percaya kepadaku....bukankah selama ini aku melindungimu Michelle...''
__ADS_1
Hening.......
Mereka saling menatap dengan tajam...dan Michelle tertawa dengan kesal..lihatlah dia masih teguh berdiri seperti malaikat padahal dia adalah iblis sebenarnya..
''Percaya sampai kapan....sampai akhirnya aku hancur di hadapanmu, sampai kau menyingkirkanku dengan kejam,..bagaimana caranya, apakah kau akan membunuhku, meracuniku atau melemparku kejalanan...apakah kau akan memilih salah satunya...''
Kali ini Michelle sungguh tak sanggup menahan airmatanya...sedangkan Dimitri terdiam...
''Michelle cukup.....''
''Apakah benar semua karna warisan besar yang di tinggalkan ayah padaku Dim.....apakah kau menikahiku karna itu, kau tidak ingin aku yang anak haram ini mendapatkan bagian yang sebenarnya adalah hakmu....apakah seperti itu, lalu...bagaimana bisa kau meninggalkan kekasihmu dan menyakitinya hanya untuk menikahiku...mengapa....''
Dimitri meraih lengan Michelle hingga mendekat padanya keduanya bertatapan dengan tajam...pria itu menggertakan gigi...
''Apakah Marco yang mengatakan semua ini padamu...mengapa kau mendengarnya Michelle..'
''Bahkan semua keluarga besar kita sudah tau segalanya...mengapa kau masih mencoba berbohong padaku....mengapa kau sejahat itu...'' jerit Michelle dengan rasa sakit yang begitu terasa di dadanya...
''Michelle....aku mencintaimu.......''
''Cinta.....bisakah aku percaya kepadamu, katakan padaku bersumpahlah padaku bahwa semua yang aku katakan itu tidak benar..bahwa kau tidak pernah merencanakan semua itu padaku, bahwa kau tidak memiliki kekasih seperti yang aku tuduhkan katakan kalau semua itu tidak benar Dimi....dan aku akan melupakan semuanya...aku melupakan semua aku akan minta maaf dan mengikuti semua yang kau mau Dim...katakan padaku kau tidak sejahat itu...'' jerit Michelle dengan tangisan panjangnya.,..
Dimi membeku...ia juga merasakan sakit, ia juga merasa hancur sama seperti yang Michelle alami...dia juga tidak baik-baik saja saat itu namun...mengatakan kebenaran akan menghancurkan Michelle...tapi menutupinya akan lebih menghancurkannya..
Untuk pertama kalinya Dimi dilanda dilema besar....ia sungguh tak tau harus memilih jawaban apa...bagaimana menjelaskannya pada Michelle bahwa ia mencintai gadis ini, bahwa ia sungguh mencintai Michelle demi apapun...tapi kenyataan tak bisa di tutupi olehnya selamanya bukan...
__ADS_1
Dimi menajamkan tatapannya...ia menyentuh wajah Michelle yang sembab karna terlalu banyak menangis...sungguh melihat airmata Michelle adalah hal yang tidak ingin di liat Dimi....
''Michelle sebenarnya....