Milik Sang Pewaris Dingin

Milik Sang Pewaris Dingin
Ingin Tenang


__ADS_3

Sejak Michelle memberi kejutan ulang tahun kepada Dimitri di apartement, hubungan dingin di antara mereka mencair, sikap Dimi berubah menjadi lebih hangat dan perhatian meski memang mereka masih menyembunyikan status pernikahan di antara mereka berdua pada keluarga terutama tante Lydia dan Marco, sementara Katren, sejak malam itu ia dan Morgan sudah tak bisa melarikan diri dari pernikahan yang di siapkan Dimi bagi keduanya..tante Lydia cukup kecewa karna perjodohan ia dan kakak sepupunya gagal namun begitu ia cukup bahagia kana Dimi tetap bertanggung jawab dengan mengurus pernikahan Katren dan Morgan,...


Suasana rumah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, Dimi juga lebih banyak menghabiskan waktu berada dirumah, ia tetap bersikap posesif namun mulai memberi Michelle kelonggaran, termasuk pergi bersama Marco ia tau benar kalau Michelle mulai mencintainya jadi tak ada alasan bagi Dimi untuk curiga..


***^^***


2 bulan kemudian...


Sebuah mobil memasuki sebuah kawasan penjara, Michelle turun dari mobil dan melangkah menuju sebuah ruangan yang telah di sediakan bagi pengunjung untuk menemui kerabat atau kenalan disana..


Michelle mendekati sebuah ruangan yang menjadi tempat untuk berbincang dengan orang yang terkurung disana..


Tak berapa lama kemudian, tampak seorang pria melangkah dan duduk di hadapannya yang hanya berbatas kaca transparan...sambil mengangkat gagang telp ia menatap Michelle..


''Akhirnya kau menjengukku juga,...aku mengira kau sudah melupakan aku...''


Michelle menaikan sudut bibirnya, ternyata apa yang dikatakan Dimi benar soal sang kakak, semua uang yang di berikan Michelle hanya habis di pesta pora dan meja judi...beruntung dua bulan lalu Tomi memintanya menangkap basah apa yang di lakukan kakaknya, padahal Michelle hampir saja menjatuhkan vonis bersalah pada Dimi...


''Bagaimana rasanya terkurung di dalam sana, aku harap kakak akan berubah..aku kecewa padamu karna itu aku tidak menemuimu kak...''


''Cih....kau memang sudah berubah, kau dan Dimi yang bersekongkol untuk melaporkan aku bukan, aku adalah kakakmu kita berbagi rahim yang sama...''ucap Rob dengan suara yang meninggi sambil menggenggam gagang telp dengan erat..


Michelle menajamkan tatapannya...


''Aku bahkan ragu apakah kita benar punya hubungan darah..''


''Apa maksudmu Michelle...''tatap Rob tajam..


''Yah....karna jika kita sedarah kau tak akan pernah menyakitiku, jika kita sedarah..kau tau akan tega membohongi adikmu sendiri...''


Mata Rob berkaca-kaca seketika....ia menahan semua perasaannya yang menyesakan..


''Michelle.........''


''Aku percaya kepadamu...aku..bahkan rela melakukan apapun dengan meminjam uang...kau bahkan tak tau itu,....tidak..kau bahkan tidak perduli padaku...'' desis Michelle penuh rasa kecewa..

__ADS_1


Hening....Rob menatap Michelle yang terlihat begitu terluka dan untuk pertama kalinya dia merasa menyesal...


''Michelle....bisakah kau mendengarku..aku...'' kata-kata Rob terputus..ketika Michelle menggeleng tak ingin memberi kesempatan.


Michelle mengangkat tangannya menyerah dan kenyataan itu membuat Rob memohon...


''Tidak...cukup bagiku, aku pikir kita harus jalan masing-masing kak...aku menyerah,....''ucap Michelle dengan mata yang basah....sambil menjauhkan ponselnya,...


Michelle hendak memutus panggilan telp...namun Rob mengetuk-ngetuk kaca untuk meminta Michelle untuk mendengarkannya bicara...


Namun Michelle menggeleng ia terlanjur kecewa dan sakit hati.....ia tak mau mendengarkan penjelasan Rob apapun yang terjadi, Michelle lalu meletakan gagang telp dan menegakan tubuhnya, berdiri dengan tatapan tak dingin...


Sementara Rob hanya memberi isyarat lewat kaca bahwa ia masih ingin bicara namun Michelle sudah melangkah meninggalkan ruangan itu...ia terlanjur kecewa, ternyata..hanya kak Dimi yang benar-benar mencintai dan melindunginya...


Airmata Michelle menetes begitu ia sampai di dalam mobil, hatinya sungguh sakit sekali melihat Rob tersiksa di dalam sana..bagaimanapun, semarah apapun dia pada kakaknya tapi hati kecil Michelle tak bisa membenci...ia melakukan ini agar kakaknya sadar bahwa apa yang dia lakukan salah..Michelle sesungguhnya hanya ingin yang terbaik itu saja...


Michelle mengenang, Dimi bahkan menawarkan ia agar membebaskan Rob dari masalah hukum tapi Michelle menolak tentu saja...ia ingin sang kakak sadar dan semoga penjara menjadi solusinya..


Michelle kemudian menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan lokasi penjara itu, kini dia hanya hidup tenang bersama dengan Dimi...dia hanya ingin hidup bahagia bersama sang suami, dan menikmati hidupnya....


Michell berharap sudah tak ada masalah lagi di dalam rumah tangganya...


Michelle akhirnya sampai ke halaman rumahnya dan dari jauh ia melihat Dimi sedang berada di taman, ia melirik jam di tangannya biasanya Dimitri tidak pulang sepagi ini...mengapa hari ini aneh..


Setengah berlari Michelle mendekati taman dan memeluk Dimi dari belakang...hingga pria itu terkejut..


''Kau sudah pulang......''


''Hmm...aku merindukanmu.....''


''Jangan lupa masih ada Marco di rumah ini...aku tak ingin dia curiga,..'' bisik Dimi pelan..


Michelle mengerutkan kening protes ketika Dimi melepaskan pelukannya dan membalikan tubuhnya mereka saling bertatapan....


''Mengapa kita harus menyembunyikannya Dim,..bukankah inilah saatnya kita jujur pada keluarga kita...''

__ADS_1


Dimi tak menjawab kata-kata Michelle namun sebaliknya ia mengambil air untuk menyirami salah satu bunga yang sedang mekar..


''Belum saatnya sayang, aku akan menunggu saat yang tepat agar aku bisa menyatakan semua kebenaran di hadapan mereka karna satu hal...''


Selalu seperti itu, sebenarnya apa yang di sembunyikan Dimi, ia tak tau yang ada di pikiran Dimi, dan Michelle hanya berharap mereka akan terus bersma dan tak akan terpisahkan karna Michelle sudah memutuskan akan menyerahkan hidupnya bagi suaminya...


''Baiklah aku akan menunggu...'' balas Michelle dengan suara yang manja.


Dimi mendekatkan wajahnya...dengan niat menggoda...sementara Michelle menantangnya dengan mendekat....


''Apa yang kau inginkan Dim.....''


''Dirimu...aku menginginkanmu, bagaimana sekarang...''


Michelle menggigit bibirnya, hingga Dimi tak tahan untuk menciumnya, sayangnya mereka berada di taman dan bukan di kamar..dan ia merasa sedikit panas...Michelle sengaja ingin menggodanya dalam siksaan...


''Bagaimana kalau kita makan siang saja Dim, kau mulai lapar...''


''Aku ingin memakanmu, bolehkah..'' Dimi tampak tak sabar...


''No.....dagingku sedang pahit sekarang...''


Dimi merasa lucu dengan jawaban Michelle, ia sampai terkekeh....


Michelle hanya mengerucutkan bibirnya dengan cemberut...


''Ayolah kita makan siang, aku lapar...'' rintih Michelle dengan suara yang manja...


Dimi masih terkekeh...


''Sudah kubilang aku mau memakanmu...''


''Yah...Dim.....'' desah Michelle sambil mencubiti lengan Dimi dengan gemas..


Sementara pria itu tertawa dan menarik Michelle di dalam pelukan..mereka terlena dan lupa bahwa mereka sedang berada di luar ruangan..

__ADS_1


Disaat yang sama tampak Marco keluar dari rumah, dan melihat Dimi dan Michelle sedang tertawa bersama, dengan langkah yang lebih cepat ia mendekati mereka..dadanya panas...


Bukankah ini sudah keterlaluan....mereka harus di pisahkan..desis Marco mengepalkan tangannya....


__ADS_2