Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kembali


__ADS_3

Mr. Mafia bab 12


Kian mulai menatap manik mata Areta, seolah ingin melahap tubuh Areta mentah-mentah. Ia perlahan berjalan maju mendekati tubuh yang tengah bergetar ketakutan itu, kaki lelaki begis itupun menyentuh pintu dan menendangnya supaya tertutup rapat, secara impulsif sebagai benteng diri Areta perlahan mundur demi menjauh dari sosok yang menyeramkan itu, namun langkahnya terhenti saat ia harus terpojok hingga terhimpit antara tembok dan tubuh kekar itu.


"Aku sudah berkata padamu, konsekuensi apa yang akan kamu dapat jika kau lari dariku!" Desisan dari Kian membuat Areta semakin bergidik, kakinya pun melemas seolah ia tak mampu lagi berdiri.


Kian menyentuh lembut dagu Areta, memaksa gadis itu untuk mendongakkan kepala menatap matanya yang merah membara yang seolah telah keluar api membara yang siap membakar apa yang ada.


"Tatap bola mataku, rasakan hawa membunuh yang telah kubawa untukmu, berdoalah semoga malaikat maut menangguhkan hawamu!" kata Kian, dengan nada penuh intimidasi.


"A-aku ...."


"Aku apa?!" Kian menekan dagu Areta dengan kuat, menciptakan sensasi sakit untuk gadis 19 tahun tersebut. "Kembali dan bersiaplah menjadi santapan ikan hiu atau kau mau ikan piranha? Mereka bisa merobek kulit dan dagingmu kecil-kecil agar menyisakan sensasi sakit yang luar biasa sebelum ajal menjemputmu, aku bisa membawakanmu sekarang, ikan yang langsung di ambil dari sungai amazon!" desis Kian.


Areta menggigil dengan kalimat demi kalimat yang di lemparkan oleh Kian, Kalimat itu mampu menciptakan teror yang maha menakutkan untuk gadis yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan damai dan indah. Namun kini masa itu harus terenggut oleh kehadiran boss mafia yang sangat jahat itu.


"Ma-maafkan aku, Tuan," ucap Areta lirih.


Mata Kian semaki terbelalak lalu menekan pergelangan tangan Areta dengan kuat. "Aku sudah memberimu kesempatan kemarin, aku memaafkanmu untuk pelarianmu tempo hari. Dan kini kau mengulanginya lagi! Kau pikir aku akan percaya dengan janji dari mulut busukmu itu, Wanita!" sembur Kian dengan nada lirih.


Kian pun mendekatkan bibirnya menyentuh daun telinga Areta, ia menghembuskan kalimat ancaman yang sangat bengis untuk gadis itu. "Sekarang. Kau bisa pamit kepada tetanggamu tadi untuk pulang ke rumah suamimu ini. Jika kau berani membuka mulut, akan kubuat kampung ini hangus dan rata dengan tanah, semua orang akan mati di sini. Dan Kau! Adalah sebab dari bencana ini semua!"


Areta terperanjat kaget, tubuhnya seketika kaku mendengar celotehan dari Kian. Ia tak mampu menatap bola mata coklat membunuh yang di miliki oleh Kian dan lebih melihat lurus ke depan.


Mereka berjalan ke luar bersiap meninggalkan tempat yang membuat Areta damai sepanjang hidupnya, di tempat inilah ia pertama kali ditimang oleh sang ibu walau sepanjang hidupnya ia tidak pernah merasakan kehadiran dan pelukan dari seorang ayah, rumah inilah yang menjadi peneduh saat hujan dan panas.

__ADS_1


"Bu Della, aku akan pu-pulang ke rumah suamiku. Aku akan menitipkan rumahku kepada ibu, mungkin aku tidak akan kembali untuk beberapa waktu." nada suara Areta bergetar kala itu, namun Della tidak menangkap kejanggalan yang ada, yang ia lihat adalah Areta tengah hidup bahagia bersama suami tampan dan kaya raya.


Mereka masuk ke dalam mobil Kian, kepala Areta terus menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari pengawal yang di bawa oleh Kian, namun sepanjang pandangannya mafia itu hanya sendiri, tidak membawa rombongannya, yang mampu membumi hanguskan kampung ini.


"Masuk!" perintah Kian, saat melihat Areta nampak gugup dan memindai tempat itu.


Areta tampak menurut saja apa perkataan laki-laki berdarah dingin itu, dan lebih memilih diam selama perjalanan karena ia terhanyut dalam pikirannya sendiri.


Areta berpikir jika di suruh untuk mati, gadis itu akan memilih mati dengan cara apa, ia terus berpikir meregang nyawa dengan cara bagaimana yang akan ia pilih.


Kian melirik gadis yang duduk di sampingnya tanpa mengganggu konsentrasinya saat menyetir. Areta tidak menyadari jika saat perjalanan mereka itu, 15 mobil ikut serta mengekor di belakang mereka.


***


Waktu telah beranjak tengah hari, Kini Areta telah masuk dalam pintu gerbang rumah megah namun seperti neraka untuk gadis malang tersebut.


Kian duduk di kursi besar seolah seperti raja, sementara gadis kecil yang tertindas itu duduk bersipuh di lantai menunggu kapan ia akan di hukum mati oleh mafia itu.


"Kau ingin mati dengan cara apa?" tanya Kian mengintimidasi diri Areta. Matanya terus menunjukan kebencian terhadap gadis itu.


Silda yang melihat kejadian itu tersenyum puas atas penderitaan Areta, sementara Irene wanita yang membantu Areta pergi tampak lepas tanggung jawab dan menyaksikan pesakitan Areta dari atas lantai dua.


"A-aku ...."


"Katakan dengan jelas! Kau ingin mati dengan cara apa, 'ha?!"

__ADS_1


"A-aku memilih mati dengan cara kau menembakku dengan pistol yang ada di saku jasmu, Tuan." Areta tampak terbata mengatakan hal itu, peluhnya telah menetes ke lantai, air matanya tak mampu lagi menetes, yang ia harus membuat dirinya tampak sekuat mungkin di depan mafia tanpa ampun ini.


"Oh ... apa kau yakin?!" Kian mengeluarkan pistol FN yang tersimpan di saku jasnya. Pistol ini adalah pistol semi-otomatis modern menggunakan magazen untuk menyimpan pelurunya. Pistol ini sudah menggantikan pistol revolver dalam pemakaiannya pada militer dan kepolisian modern. Pistol semi-otomatis memiliki kapasitas ruang peluru yang besar, sampai 20 butir pada tipe-tipe tertentu.


Pistol ini secara otomatis mengeluarkan selongsong peluru dari kamar peluru, lalu mengambil peluru baru dari magazen. Ini dilakukan dengan menggunakan energi yang dihasilkan oleh ledakan peluru atau rekoil. Ledakan peluru akan menggerakkan sistem gas untuk mendorong hammer, sekaligus juga bagian atas pistol, kebelakang. Pada saat bagian ini mundur ke belakang, selongsong peluru akan terlempar dari kamar peluru, dan peluru baru akan masuk mengisi kamar peluru dari magazen.


Areta nampak menelan ludah, matanya tampak tertutup saat Kian mulai mendekat dan megarahkan pistol itu tepat di pelipisnya. "Kau tau? Pistol ini akan memuntahkan 20 timah panas yang sanggup mencerai beraikan otakmu dalam waktu singkat!" desisi Kian dengan nada penuh penekanan.


"A-aku si-siap, Tuan–"


Saat Kian akan menekan pelatuknya, Kian merasa sesuatu yang aneh menjalar ke jantungnya, degupan itu begitu kencang terasa, hal ini tidak ia rasakan ketika akan membunuh musuh-musuhnya. Kian merasa aneh dan seketika membuang senjata itu ke lantai, dan membuat semua orang yang menyaksikan kejadian itu terperanjat kaget.


"Aku tidak akan membunuhmu, tapi aku pastikan kau akan menderita di sini!" ancam Kian, namun hal itu tidak membuat napas Areta lega, tapu malah semakin menjadi-jadi, padahal mati adalah cara yang tepat untuk ia saat ini.


"Kalian!" Kian menatap para pengawalnya itu dengan tatapan bengis. "Aku sudah merasakan tubuh gadis ini, sekarang giliran kalian, lakukan semau kalian atas tubuh gadis ini. Aku menghalalkan kalian menyentuhnya!" ucap Kian, lalu pergi meninggalkan Areta yang yang masih bersimpuh di lantai.





OMG KIAN 😤


JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN VOTE JIKA KALIAN SUKA DENGAN MR. MAFIA, KARENA HAL ITU ADALAH CAMBUK BAGI SAYA DALAM MENULIS KISAH INI.

__ADS_1


TERIMAKASIH DAN PAPAY


__ADS_2