
Mr. Mafia bab 29
"Aku akan pergi ke Jepang, hari ini." Kian merapikan jas yang melekat rapi di tubuhnya yang gagah. Areta hanya bergeming, dan menatap kosong ke arah suaminya itu. Di depan kaca, Kian memandang Areta dengan tatapan penuh tanya, lalu ia berbalik badang dan berkata, "Kau kenapa, Areta? Apakah kau tidak mendengarkanku?" tanya Kian memecah lamunan Areta.
"Tidak ada." Areta menjawab singkat.
Kian kembali menghadap kaca, kali ini ia merapikan rambutnya sendiri, hingga benar-benar rapi.
"Kian ...."
"Ya ...." sahut Kian dan berbalik badan kembali.
"Semalam aku melihat Lyana masuk ke dalam ruang kerjamu, aku menangkap basah dirinya, tapi ia mengelak dan berkata jika dia baru saja membersihkan ruang kerjamu," kata Areta menjelaskan.
Kian menghela napas panjang, lalu berkata, "Tidak mungkin dia akan melakukan kejahatan untukku, dia sudah menganggapku sebagai dewa penolongnya, dan aku sudah menyatakan cintaku untuknya," jawab Kian santai.
"Apakah kau tidak waras, Kian?!" seru Areta kesal. "Kau baru saja mengenalnya, lalu mengapa kau mempercayainya?!" imbuhnya lagi.
"Seperti halnya denganmu, aku baru saja mengenalmu, tapi aku juga menikahimu," sahutnya sembari merapikan dasinya.
"Kalau begitu, kita batalkan saja pernikahan kontrak kita, dan biarkan aku bebas dan pergi dari hidupmu!" teriak Areta, hatinya diliputi kemarahan yang amat sangat, kepada mafia itu.
Kian menangkup rahang Areta dengan kedua jarinya dan berkata dengan nada sinis, "Jaga batasanmu, Areta. Ingat! Kau hanya peliharaanku di sini dan ingat selalu dengan posisimu!" Lalu menghempaskan tubuh Areta ke tempag tidur dan pergi.
Hati Areta hancur mendengar perkataan Kian yang seolah mengintimidasinya, hingga tidak terasa bulir air mata menetes dan membasahi kedua pipinya. Lalu ia menekan kuat dadanya untuk meredam rasa sakit di hatinya.
Tak lama Areta merasa sudah cukup bersedih, Kian tidak pantas menerima air mata kesedihannya, bagaimana pun meskipun ia adalah suaminya, Kian tidak jauh berbeda dengan binatang yang terus memaksanya untuk tidur dengannya meskipun ia hanya sebatas peliharaan untuk Kian.
Areta keluar dari kamar dan menatap Kian yang akan pergi ke Jepang dari lantai dua. Di sana ia melihat Kian tampak lembut dengan Lyana bahkan mengecup kening wanita itu, seolah ia adalah istrinya. Hati Areta sungguh sesak dan tak kuasa melihat adegan tersebut.
"Bagaimana rasanya, Areta?" tanya Irene yang tiba-tiba muncul di sebelah Areta.
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana rasanya terbuang, dan dicampakkan bahkan terlalu cepat dirimu ditinggalkan oleh Kian." Irene tersenyum ironi menatap Areta.
__ADS_1
"Persetan dengan kau, Irene!" Areta meninggalkan Irene pergi menuruni anak tangga, dan melewati adegan drama korea antara Kian dan Lyana, dan tampak mengacuhkan mereka.
"Areta!" panggil Kian saat ia melihat Areta hanya berlalu dan mengacuhkannya. Areta menengok sesaat lalu tetap berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apakah dia marah kepadaku, Kian?" tanya Lyana lembut.
"Tidak, dia memang seperti itu sejak pertama kali datang kemari, bahkan dia sudah dua kali mencoba melarikan diri dariku," jawab Kian sembari tersenyum kepada Lyana.
"Benarkah? Akan tetapi semalam ia memarahiku ketika aku keluar dari meja kerjamu, aku hanya ingin membersihkan ruangan kerjamu, tapi ia pikir aku akan berbuat jahat kepadamu," ucap Lyana lirih.
Kian mengelus rambut Lyana, dan berkata, "Aku percaya kepadamu, kau tidak mungkin akan berbuat jahat padaku, aku mencintaimu, Lyana."
Lyana hanya tersenyum tipis mendengat ucapan Kian, dan mengalihkan pembicaraan mereka dengan menyuruh Kian segera berangkat ke Jepang.
"Segeralah berangkat, Kian! Jangan lupa buah tangan untukku," ucap Lyana lembut.
"Aku akan kembali nanti malam, siapkan aku makan malam spesial, sayang." Kian kembali mengusap kepala Lyana dengan lembut seolah kasih sayang yang Kian miliki tercurah kepada Lyana seorang.
***
Saat Kian telah berangkat, Lyana mendatangi Areta yang tengah memetik beberapa tangkai bunga.
Mendengar perkataan Lyana, Areta mengerutkan keningnya seraya heran. Kenapa sikap Lyana berubah seperti Irene, padahal awalnya ia sangat ramah dan pendiam, apakah selama ini ia hanya sedang melakonkan peran seolah sebagai pemeran protagonis dan menempatkannya sebagai pemeran antagonis.
"Apa maksudmu?"
"Aku adalah nyonya rumah ini yang sebenarnya, dan kau akan menjadi istri pajangan saja. Bahkan suamimu hanya membutuhkanmu sebagai penghangat ranjang, dan tidak memiliki perasaan spesial untukmu."
"Oh ... itu," jawab Areta sembari mengangguk-angguk pelan. "Aku tidak peduli!" imbuhnya dan kemudian pergi meninggalkan Lyana yang merasa kesal karena tidak berhasil memprovokasi Areta.
Sembari berjalan Areta terus menggerutu sepanjang ia melangkah masuk ke dalam rumah. "Apakah semua orang di rumah ini memiliki dua kepribadian ganda, wah ... seharusnya aku tidak perlu percaya dengan siapapun." Napas Areta memburu karena kesal.
"Nona ... teh camomile yang Anda minta telah siap," ucap seorang pelayan dengan nada sopan.
"Taruh di kamarku, nanti aku akan meminumnya di sana. Terimakasih," sahut Areta ramah.
__ADS_1
"Baik Nona."
***
Malam telah menjelang, waktunya makan malam dan Kian telah kembali dari Jepang dan siap menyantap makanan yang sengaja di siapkan oleh Lyana.
Areta berpikir ia ingin membuat teh Camomile di dapur, ia melangkah dan beranjak dari meja makan, ia sengaja tidak menyuruh pelayan karena ia sengaja ingin mencoba menakar dan membuat teh itu sendiri. Saat memasuki ambang pintu dapur, langkahnya terhenti ketika ia melihat Lyana memasukkan sesuatu di dalam mangkuk sup.
"Apakah dia akan membunuh kami semua?" tanya Areta dalam hati, lalu ia berlari kembali ke meja makan. Raut wajah gadis itu tampak ketakutan saat ini.
"Ada apa, Areta?" tanya Kian.
Areta enggan menjawab, ia terus berpikir bagaimana caranya ia membongkar kejahatan Lyana.
Lyana datang membawa semangkuk sup yang tadi ia bubuhkan dengan sesuatu dan meletakkannya di atas meja, mata Areta terus mematap sup tersebut. Lyana dengan percaya diri menuangkan sup ke dalam mangkuk dan di berikan kepada Kian. Saat Kian akan memakan sup tersebut.
"Kian!" teriak Areta. "Jangan makan sup itu! Jangan makan sup itu! Sup itu ada racunnya dan Lyana sengaja akan meracuni kita semua!" seru Areta, dengan napas memburu.
"A–apa maksudmu, Areta? Mana mungkin aku melakukan hal tersebut," sanggah Lyana.
"Aku melihatnya tadi!" hardik Areta.
Kian nampak menengahi pertengkaran Areta dan Lyana, lalu berkata, "Mana mungkin Lyana berani meracuniku, Areta."
Saat Kian hendak menyeruput mangkuk sup itu, tiba-tiba Areta merebut mangkuk tersebut dan langsung meminumnya hingga habis.
"Areta!" Kian melotot karena marah. Tapi tiba-tiba tubuh Areta terhuyun dan dari dalam mulutnya keluar busa dan membuat gadis itu kehilangan kesadaran.
"Areta!!" teriak Kian, khawatir.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote seiklasnya buat abang Kian 👀