
Mr. Mafia bab 67
Elma tak percaya dengan ucapan sang suami yang biasanya murka ketika nama Kian Egan dikumandangkan. Tapi tidak, ia saat ini menyebutnya sebagai menantu, entah apakah kata-kata itu terucap di alam bawah sadar Addison karena pengaruh obat, atau ia memang benar-benar dalam keadaan sadar seratus persen.
Dokter yang memeriksa Addison telah usai, seorang perawat tampak merapikan alat-alat medis yang tadi dokter pakai. Lalu memasukan ke dalam wadah berwarna aluminium dan meletakkannya pada meja yang dapat di dorong karena kakinya terdapat empat buah roda sebagai penggerak.
"Bagaimana keadaa suami saya, Dok?" ucap Elma, menatap serius wajah sang dokter yang menggunakan kaca mata.
Dokter itu tampak menghela napas lega, ia melepas kaca mata lalu ia masukan ke dalam wadah khusus kaca mata dan kembali ia letakkan di dalam saku jasnya.
"Syukurlah, Tuan Addison telah melewati masa kritis. Setelah pemasangan ring dimohon untuk tuan Addison perbanyak minum air putih. Dan kemungkinan akan ada nyeri di bekas luka sayatan, tapi saya akan memberikan obat pereda rasa nyeri tersebut. Batasi juga aktifitas dan hindari stres." Sang Dokter menjelaskan secara rinci.
Elma mengangguk mengerti atas apa yang diungkapkan oleh sang dokter. Dan ia akan melakukan semaksimal mungkin untuk menjaga sang suami.
"Baiklah saya pamit, akan memeriksa pasien lainnya."
"Terimakasih, Dok," jawab Elma ramah.
Saat sang dokter telah hilang di balik pintu, tiba-tiba Addison berkata dengan penuh keyakinan.
"Aku akan menemui anakku saat aku telah pulih, dan akan berdamai dengan menantuku."
Elma sangat sedih mendengar hal itu, ia sebenarnya tampak gusar, tapi ia menutupi hal itu dengan tetap bersikap tenang. Ia menyelimuti sang suami dengan lembut lalu menepuk dadanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Apakah kau tidak mendengar perkataan dokter? Yang terpenting, kau sehat dulu, Add! Soal menemui Areta, kita bisa lakukan bersama," kata Elma dengan nada tenang, tidak menyiratkan aura ketegangan.
"Apakah anakku akan memaafkanku?" tanya Addison lirih.
Elma menghentikan aktifitasnya sesaat, lalu menatap wajah sang suami. Beberapa detik kemudian ia tersenyum dengan lembut. "Ya... aku yakin, ia akan memaafkanmu," ucapnya menghibur hati sang suami.
***
__ADS_1
Kian tampak memijit pelipisnya, sementara Shane hanya duduk dengan santai, tangannya memengang gelas berisi wine yang siap ia teguk. Perlahan ia mulai mengesap sedikit demi sedikit minuman itu, dirinya menatap sahabatnya yang tengah gusar karena sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan, Kian?"
Kian berbalik badan, lalu menyambar gelasnya kemudian meminum wine yang sama seperti apa yang ditenggak oleh Shane.
"Apakah kau tidak tahu dan tidak merasakan kegusaranku?" tanyanya kesal.
"Apa yang kau gusarkan, kau adalah menantu The Rock, kau hanya butuh menyatukan kekuatan kalian untuk menjadi mafia terbesar," ungkap Shane dengan nada santai serta senyuman mengutas di bibirnya.
"Apa maksudmu?" Kian memalingkan wajah memperhatikan sahabatnya.
"Ini memang terlihat jahat, Kian. Kita memanfaatkan istrimu untuk mencapai cita-cita kita, Hanya The Rock lah jalan satu-satunya yang kita miliki," jelasnya lagi.
"Omong kosong macam apa ini?! Aku harus merendahkan diri untuk The Rock?! Tidak... itu tidak akan terjadi!" desis Kian. Untuk membayangkannya saja ia merasa bulu kuduknya merinding. Mereka saling bersaing, bahkan saling membunuh tapi kini. Mereka adalah mertua dan menantu. Sungguh takdir yang menggelikan.
"Buka pikiranmu, Kian. Ini jalan satu-satunya! Apakah kau akan membenci Areta jika ia terbukti anak dari The Rock?" tanya Shane dengan nada menyelidik.
Kian menggelengkan kepala, menatap kosong lurus ke depan. Hatinya tidak hampa lagi, kini rongga-rongga itu telah terisi dengan perasaan cintanya untuk Areta, ia tidak akan mau melepaskan Areta hanya karena dia anak dari musuhnya. Membayangkan dirinya kehilangan Areta saja, ia tidak mampu. Pasti jika itu terjadi, paru-parunya akan sesak, Kian akan susah bernapas. Keadaan yang akan sangat mengerikan jika ia bayangkan.
Shane beranjak dari duduknya dengan segelas Wine yang masih berada di tangannya, ia berjalan mendekati meja kerja Kian lalu memutar Globe yang berada di meja tersebut.
"Kau harus melakukan test DNA!" ucapnya santai.
"Untuk apa?" Kian tampa terhenyak, mendengar kalimat sahabatnya itu. "Bukankah keterangan dan kesaksian istri The Rock sudah cukup?" imbuhnya lagi.
"Untuk memastikan saja, dan berjaga-jaga." Shane kembali menjawab santai.
Kian terhanyut dalam lamunannya, memikirkan semua keanehan dan kebetukan ini. Seharusnya ia tidak memanfaatkan Areta hanya demi keinginannya, tapi benar kata Shane jika Areta adalah pembuka jalan baginya untuk menguasai dunia. Toh, ia pikir semua kekayaannya juga akan jatuh ke tangan Areta, mungkin saja ia akan bahagia juga bersama dengannya.
***
__ADS_1
Matahari mulai menyingsingkan lengan, menyinari segala apa yang ada di bumi. Areta menggeliat ketika ia merasakan hawa dingin menusuk tulangnya, ia melirik pendingin ruangannya, dan ternyata masih menyala. Areta memutuskan meraba-raba remote pendingin udara tersebut, mengubah suhunya agar bisa menjadi lebih hangat.
Matanya melirik laki-laki yang tidur bertelanjang dada di sampingnya dengan posisi tengkurap membelakangi dirinya, dengan manja ia menggoyangkan tubuh Kian. "Ayolah, apakah kau lupa. Kita akan melakukan tes DNA?" tanya Areta sembari merengek.
Kian tersenyum menatap istrinya sendiri, lalu mengelus lembut rambut Areta. "Iya... Ayolah kita harus melakukannya dengan cepat!"
"Aku berharap hasil test itu tidak cocok," dengus Areta, ia benar-benar tidak ingin darah The Rock mengalir dalam dirinya.
Areta masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka seluruh kain penutup tubuhnya dan mulai berendam ke dalam bath up. Setali tiga uang, melihat sang istri tanpa sehelai benang membenamkan diri di dalam air, Kian pun mengikuti sang istri.
"Kau... Mengapa ikut masuk, antri!" pekik Areta.
Kian hanya tersenyum dan tidak mempedulikan kalimat Areta, ia malah menyipratkan air yang telah di penuhi busa wangi itu kepada Areta, hingga membuatnya tampak memejamkam mata, dan mereka berdua saling membalas dengan siratan air ke wajah mereka masing-masing. Hal itu membuat keduanya tampak tertawa lepas, menghilangkan penat yang beberapa hari ini mereka pikirkan.
*
*
*
Bersambung~
Karena banyak yang minta Visual Areta diubah. Maka aku akan ubah Visualnya, jangan pada nawar lagi, yak 🤑
Areta Marla Binti Addison. Wkwkwkwkwk
Bukan ding~
__ADS_1
Areta Addison....
Like, komen 📢 Gift dan Vote 💋