Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Berita Mengejutkan


__ADS_3

Mr. Mafia 92


Areta begitu kesal dengan cara berpikir lelaki, yang tidak pernah memikirkan perasaan wanita. Tapi entah mengapa hal itu membuatnya begitu marah. Terlebih lagi Kian, kenapa ia sama sekali tidak cemburu dengan Brian? Apakah Areta harus membuatnya marah dengan mendekati Brian Mc Lion.


Saat ia tengah berjalan seorang diri di gladak utama kapal untuk menuju kolam renang, tiba-tiba dadanya begitu sesak, ia seketika melepaskan heels putih dengan tinggi tiga sentimeter yang menempel cantik di kakinya, ia berusaha berjongkok dan menekan-nekan dadanya sendiri, tak lama ia memukul-mukul dengan kuat di area yang sama, dengan tujuan napasnya kembali teratur. Tapi tidak—itu tidak pernah terjadi. Areta semakin sesak seolah ada seutas tali yang mengikat dadanya sendiri hingga membuatnya sulit bernapas.


'Ada apa ini?'


Ia bergumam dalam hati, dan seketika pandangannya berubah menjadi orange, lalu ia tidak sadarkan diri.


***


Areta mengerjapkan mata saat suara seperti orang tertampar mengganggu pendengarannya. Ia melihat ayahnya mengacungkan senjata api ke arah kepala Brian, hingga membuat Areta tanpa basa-basi menajamkan matanya. Ia tahu betul siapa ayahnya—dia akan tega membunuh orang hanya karena masalah sepele.


"Papa!"


Areta berseru menghentikan ayahnya yang akan menarik pelatuk pistol yang menempel di kepala Brian. Sementara Kian yang sejak tadi memandangi adegan action hanya bergeming menikmati drama antara bos dan anjing peliharaannya, langsung terduduk di samping istrinya.


"Sayang."


Areta malah menghempaskan rangkulan tangan Kian dan menepiskannya. Hingga membuat suaminya itu terbengong-bengong.


"Papa ... apa yang akan papa lakukan? Ingin membunuh Tuan Brian di hadapanku? Jika papa ingin membunuh nya, lakukan di luar ruangan ini!" Kalimat tidak terduga keluar dari bibir Areta, membuat Brian seketika mengepalkan tangan memendam amarahnya, tapi demi profesionalitas ia tetap dalam posisi robot sebagaimana mestinya.


"Areta, kapan terakhir kali kau datang bulan?" celetuk Irene, ia bertanya penuh antusias.

__ADS_1


"Datang bulan?" Areta tampak bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Irene padanya, hingga ia mencoba mengais ingatanya sendiri. Setelah ia berapa lama, ia sudah satu bulan lamanya tidak datang bulan. Seketika ia memegang perutnya sendiri.


"Apakah aku ... Kian apakah aku ...." Kini ia bertanya pada sang suami yang selalu menatapnya penuh antusias, dan dijawab anggukan oleh Kian yang seolah mengamini pertanyaan Areta.


Seorang lelaki dengan stelan serba putih dengan stetoskop yang ada di sakunya berkata ramah, "Selamat Mrs. Kian." Kemudia pria itu keluar setelah memeriksa Areta.


Saking bahagianya ia, Areta langsung memeluk sang suami dan mencium bibirnya. "Ada bayi di perutku, Kian." Areta mengelus perutnya sendiri. Namun tiba-tiba. "Parfum apa yang kau pakai?"


"Parfum?" Kian langsung mencium bajunya sendiri, seolah memastikan apa yang salah dengan aroma parfum yang ia kenakan. "Ini parfum favoritmu, Areta," sahut Kian lagi.


"Tapi—" Belum sempat Areta menyelesaikan kalimatannya, kini kata-katanya tercekat akibat ulah ayahnya sendiri yang tiba-tiba kembali menyerang Brian.


"Berani-beraninya kau membahayakan calon cucuku!" hardik Addison, seketika mata semua orang menatap ke arahnya. Bagaimana tidak, ia memukul Brian dengan begitu kencangnya membuat pria itu tersungkur, dan bersimbah darah. Tapi meskipun ia mau, Brian tidak ingin membalas Addison—di samping pria tua itu adalah bosnya, ia juga guru yang mengajarkan apapun padanya. Jadi Brian memang sangat menghormati ayah Areta tersebut dan enggan membalas perbuatan Addison yang meskipun tidak menyenangkan untuknya. Tapi itu bukanlah apa-apa baginya. Brian pernah dihajar oleh Adisson dan diterkam oleh anjing-anjing pria itu karen dirinya pernah ketiduran saat mafia itu menyuruhnya menjaga kamera pengawas pabrik obat-obatan terlarang milik ayah Areta, hingga membuat Addison dicokok oleh polisi dan dikenai pasal tentang peredaran obat terlarang, beruntung dengan jaminan uang yang ia miliki, pria paruh baya itu bisa bebas setelah menjalankan hukuman percobaan enam bulan dan pabriknya disegel.


"Apakah kalian berpikir sama sepertiku?" celetuk Areta kepada Kian, Mark, dan Irene, pandangannya terus tertuju pada Brian dan Ayahnya yang hilang dari balik pintu.


"Terserahlah ... yang penting selamat untukmu Areta. Semoga aku bisa menyusul."


Irene lebih memilih tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Brian di tangan Addison.


"Apa kau sudah menemukan petunjuk, Mark?" Kian berbisik kepada kaki tangannya itu.


"Sudah, Bos. Saya sudah menemukan titik terang siapa sebenarnya Brian Mc Lion," jawabnya.


Kian kini menatap Areta dan Irene yang tengah berbincang.

__ADS_1


"Sayang ... aku akan keluar dengan Mark, untuk masalah pekerjaan, kau lebih baik istirahat, ok!" Kian bertindak seolah menjadi suami siaga.


Areta hanya mengangguk pelan, sedetik kemudian ia tampak tidak menghiraukan suaminya lagi. Ketika Kian akan keluar dan menutup pintu, ia melirik wajah istrinya yang tengah berbadan dua—wanita itu tampak semakin cantik, hingga menorehkan senyum tipis di bibir mafia itu. Kemudian ia baru benar-benar menutupnya.


Keduanya berjalan di gladak belakang kapal mencari tempat sepi untuk membicarakan tentang hal penting.


Ketika mereka sampai, Kian dan Mark melihat Addison dan Brian tengah berbicara serius, keduanya tidak dapat mendengar apapun meskipun mencoba sekuat tenaga menajamkan pendengaran, hingga membuat boss dan kaki tangannya itu saling memandang bingung, lalu memilih pergi ke bagian yang lain.


Setelah dicukup aman, mereka mulai berbicara serius.


"Siapa dia?" Kian membuka percakapan diantara mereka.


"Brian Mc Lion adalah bukan nama sebenarnya."


"Lalu?"


"Dia adalah Brian Alderald McKenzie, putra mahkota dari kerajaan McKenzie di Aygya barat, entah mengapa ia bisa terdampar di sini, menurut rumor, raja McKenzie meminta mertua Anda untuk mengajari Tuan Brian sesuatu, agar siap menjadi raja berikutnya menggantikan tahta ayahnya," terang Mark.


Kian menatap serius lalu menekan dagunya dengan jari, seraya berpikir.


"Jika dia putra mahkota, lalu kenapa The Rock memerintahkan dia untuk menjadi pengawal Areta?"


Bersambung


Kalau Mr. Mafia terbit jadi buku, ada yang mau beli nggak, ya 😂

__ADS_1


__ADS_2