
Mr. Mafia 95
Kian harus tetap tenang dan tidak gegabah untuk mengetahui apa tujuan The Rock untuknya dan Areta, melakukan pendekatan secara persuasif adalah cara paling ampuh untuk itu. Ia menggoyang-goyangkan gelas sampanye yang ia minum sejak tadi bersama Shane, yang akan menyusun rencana hati-hati dengannya. Ia berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara segar, agar pikirannya fresh—tapi sayang itu adalah tindakan salah, kini otaknya mendidih kala melihat Brian ada di dekat Areta yang sedang jongkok memetik bunga sementara si Bodyguard tampak memanyuinya dengan payung hitam untuk melindungi Areta dari sengatan panas matahari. Tak terasa Kian menggenggam gelasnya karena sangat cemburu dan kesal. Sementara tangan kirinya memukul pagar kayu pembatas balkon dengan kuat. Shane yang melihat Kian murka langsung mendekati sahabatnya, dan memindai apa yang dilihat oleh Kian hingga membuatnya tampak marah.
"Kenapa? Apa yang kau lihat?" tanyanya. "Oh—" seakan mengerti dengan kegundahan temannya, ia menepuk pundak Kian dengan lembut. "Apa Areta belum tahu?" lanjutnya lagi.
"Belum!" sembur Kian, rahangnya yang kuat tampak mengetat dan masih memelototi Areta yang tidak mengetahui jika sedang diperhatikan oleh suaminya. "Aku harus tahu dulu apa maksud The Rock. Aku tidak ingin Areta kecewa lagi dengan ayahnya," imbuhnya lagi.
***
"Tuan ... terimakasih sudah merawat bunga saya," ucap Areta pada si tukang kebun. Tangannya terus memilah bunga mawar dan menggunting mawar yang ia pilih kemudian menyingkirkan duri-duri kecil dari batangnya.
"Mau ditaruh di mana, Nyonya?" tanya si tukang kebun.
"Aku akan membuat rangkaian bunga dalam vas untuk Kian, meskipun ia tidak suka bunga, perlahan aku akan membuatnya menyukai apa yang kusuka."
"Entah mengapa sejak Bos Kian memperistri Anda, ia berubah—tidak seperti dulu, kini tindakannya penuh perhitungan dan hati-hati." Si tukang kebun menjelaskan, sepertinya ia tahu betul tentang Kian, karena sebelum Areta masuk rumah ini, lelaki paruh baya tersebut sudah bekerja di sini.
"Oh, ya ... sepertinya Anda sangat mengenal Kian?"
"Tentu saja, saya adalah tukang kebun ibu Boss Kian."
"Wah ... sudah lama sekali tentunya."
Si tukang kebun mengangguk pelan.
"Nona ... apakah Anda tidak kepanasan?" tanya Brian serius.
Areta langsung menoleh ke arahnya, memicingkan mata tanpa menjawab pertanyaan sok perhatian dari Brian.
"Ah ... Nona Areta sudah terbiasa panas-panasan ketika memetik bunga dengan saya. Anda tidak perlu khawatir," tukas si tukang kebun.
__ADS_1
"Nona Areta sedang hamil!" dengus Brian.
"Benarkah? Selamat Nona." Senyum mengembang menghiasi wajah pria paruh baya itu, dengan cekatan ia menarik tangan Areta dan berjabat tangan dengannya. "Boss Kian sangat menantikan seorang penerus. Semoga saja dia lelaki," imbuhnya lagi.
"Terimakasih, Tuan. Apakah hanya anak lelaki yang Kian mau?"
"Ya, dulu beliau pernah berujar, harus anak lelaki yang menjadi anak pertamanya."
Seketika Areta nampak memasang wajah masam. Lalu berdiri dan membanting gunting di tangannya, dan pergi untuk menemui Kian. Saat ia menatap ke arah Balkon, suaminya itu masih berdiri dan memperhatikan dirinya.
Langkah kaki Areta semakin cepat, napasnya tidak beraturan, entah mengapa mendengar kata 'dia hanya ingin anak lelaki' membuat darah Areta seketika mendidih. Ia berjalan menuju lantai dua ke arah tempat kerja Kian. Sebelum ia menyentuh handle pintu, Areta berbalik badan. "Apa kau juga akan menguping pembicaraanku, Yang Mulia Brian!" dengusnya.
Mendengar Areta berkata asal, membuat jantung Brian seakan ingin lepas dari tempatnya. Ia bertanya dalam hati.
'Apakah Areta tahu identitasku yang sebenarnya'
Ia langsung berdiri mematung, lalu wanita hamil itu menekan handle dan seketika pintu terbuka. Areta sudah melihat suaminya kini bukan di atas balkon, tapi di sofa dengan laptop ada di pangkuannya.
"Boleh—" Mata Kian dan Shane saling bertatapan, seolah bingung dengan sikap Areta yang tiba-tiba berubah.
Areta memberi isyarat untuk berbicara berdua dengan tatapan mata ke arah Shane yang sedang duduk, dan Shane menangkapnya dan mengerti.
"Oke ... aku keluar."
Sahabat Kian itu langsung berjalan keluar dari ruang kerja Kian, dan langsung disambut Brian yang juga berdiri tidak jauh dari sana.
"Apakah anak lelaki saja yang kau inginkan?" sembur Areta, kesal.
"Apa maksudmu? Lelaki atau wanita tentu aku sangat mengingingkannya."
"Pembohong!" dengus Areta.
__ADS_1
"Sayang ... hormon ibu hamil memang tidak menentu, tapi tuduhan tidak berdasar ini sangat melukai hatiku."
"Tukang kebun di depan berkata kau hanya ingin anak lelaki, dulu."
Kian terkekeh mendengar kalimat terakhir Areta. "Kemarilah ... duduk!" Menepuk-nepuk sofa empuk agar Areta mau duduk di sampingnya.
Areta berjalan kasar, lalu membanting tubuhnya ke atas sofa. "Hati-hati! Kau sedang hamil," sergah Kian.
"Iya, tapi bagaimana kalau bayiku perempuan?"
"Aku juga akan bahagia, karena itu anakku. Laki atau perempuan tidak masalah untukku."
Areta hanya memasang wajah masam, ia ingin membuka mulut dan melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Kian mencium bibirnya, membuat napas Areta terdalam, ia me*umat habis bibir ranum itu, dan berhenti ketika beberapa detik ia melancarkan aksinya.
"Bibirmu masih saja manis, walau kau sedang hamil." Lalu ia menyusuri leher Areta dan meninggalkan tanda merah di sana. "Aku ingin menengok bayi kita," imbuhnya lagi.
"Apa-apaan ini Kian!" Wajah Areta memerah, perasaan emosi yang tadi ia rasakan seketika luntur dengan tindakkan Kian.
***
Sementara itu di luar ruang kerja Kian, Shane berjalan dengan tangan bersedekap dan memandang remeh Brian.
"Apa tujuan Anda Yang Mulia?"
Brian bisa membaca jika Shane juga sudah tahu siapa ia sebenarnya.
"Aku hanya ingin menyelesaikan tugasku."
"Tugas apa? Memisahkan sepasang manusia yang saling mencintai?" cecarnya.
"Bukan! Menjaga Nona Areta."
__ADS_1
"Areta aman di tangan orang yang tepat."