
Mr. Mafia bab 16
Kian menarik paksa tangan Areta, hingga ia berdiri berjejer dengan Kian. Hingga membuat Areta meringis kesakitan.
"Kian ... dia kesakitan!" kata Shane menatap sahabatnya dengan tajam.
Meskipun Shane adalah mafia tapi profesi utamanya adalah seorang dokter, ia tidak bisa melihat sesama manusia tidak bersalah di sakiti.
"Kau sungguh perhatian kepada peliharaanku, apa kau tertarik padanya?!" Kelakar Kian, senyum sinis menyungging di bibirnya.
"Terserah kau saja! Aku tidak perduli denganmu!" Shane lebih memilih menghindari Kian yang terus mencecarnya.
Kian lalu menatap wajah Areta, aura iblis itu kembali muncul dan diperlihatkan oleh Kian untuk Areta.
Kian dengan kasar menyeret tangan Areta hingga membuat tubuh Areta terseok saat berjalan.
"Pelan-pelan, Tuan!" hardik Areta, mengimbangi langkah kaki Kian.
alih-alih mendengarkan ucapan Areta, Kian malah semakin mempercepat langkahnya hingga membiat Areta hampir terjatuh.
Kian membuka pintu kamar menggunakan kakinya, hingga menciptakan suara yang mampu mengagetkan Areta. Dan ia menghempaskan tubuh Areta hingga gadis itu jatuh ke lantai.
Areta pun hanya bisa meringis kesakitan dan sedikit kebingungan dengan kelakuan Kian saat ini.
Kian dengan kasar menarik kerah baju Areta hingga mampu membuat Areta berdiri, kini Kian membanting tubuh Areta di atas tempat tidur.
Tanpa basa-basi Kian melompat pada tubuh Areta yang terbaring di atas tempat tidur. Tangannya menekan tangan Areta hingga gadis itu tidak bisa bergerak sama sekali. "Kau mau apa, Tuan?!"
"Memberimu pelajaran!" Kian mencium leher Areta, meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
"Ini malam pertama kita, wanita!"
"Malam pertama? Bukankah sudah beberapa kali kau menjajah tubuhku? Apa ini bisa di kategorikan sebagai malam pertama?"
Kian memiliki kuasa penuh untuk melakukan apapun untuk Areta, sedangkan gadis malang itu tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan laki-laki bengis ini.
***
Setelah menuntaskan hasratnya kepada tubuh Areta, Kian berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat yang membasahi kulitnya.
Areta hanya meringkuk di atas tempat tidur dengan kondisi seluruh badan merah-merah karena tanda dari mafia itu. Areta mencoba memejamkan matanya, melupakan penderitaannya. Karena tidur adalah salah satu caranya untuk ia menengkan diri.
__ADS_1
Saat Kian kembali dari mandinya, ia melihat punggung Areta yang membelakangi dirinya, entah mengapa ia menganggap hal itu membuat hasratnya mencuat kembali. Ia mendekati tubuh gadis itu, namun kali ini Kian mengurungkan niatnya, karena melihat Areta sudah terlelap dengan mimpinya.
Kian mengambil ponsel dari atas meja, ia terlihat akan menghubungi seseorang.
"Bagaimana keadaanya, Mark?" tanya Kian dari balik teleponnya.
"Keadaan nona Irene sudah stabil, Boss. Tidak ada yang perlu di cemaskan, akan tetapi dari tadi nona memanggil-manggil nama anda."
"Kenapa?"
"Saya juga tidak mengetahui, Boss."
"Hati-hati dengan mata-mata The Rock! Dia bisa saja menculik Irene, seperti apa yang pernah terjadi kepada Amanda."
"Siap laksanakan, Boss!"
Kian menutup ponselnya dan pergi tidur, ia berbaring dan membelakangi dengan tubuh Areta.
***
Dorr....
Dorr....
Hal itu membuat Areta semakin ketakutan, dirinya mencari-cari keberadaan Kian, namun ia tidak menemukannya.
Dengan keadaan tubuh sepolos bayi, Areta menyambar kimono yang ada di atas kursi, yang sepertinya bekas di pakai Kian semalam, namun Areta tidak ada pilihan lain.
Ia mendekat ke arah Jendela melihat keadaan di luar, dia melihat Kian seperti Shane semalam, berlatih menembak, namun yang ia bidik bukan papan untuk menembak tapi manusia asli. Hingga darah berceceran di mana-mana.
Mata Areta terbelalak, mulutnya menganga, melihat kejadian itu. Kian adalah mesin pembunuh tanpa ampun. Ia bisa membunuh siapa saja bahkan di rumahnya sendiri.
Areta berjalan ke kamar mandi dengan langkah bergetar. Ia begitu ketakutan dengan apa yang ia lihat baru saja, seumur hidup ia hanya bisa melihat adegan bunuh membunuh di film action yang hanya ditanyakan di televisi. Namun kini ia melihat kejadian ini di depan matanya.
Saat Areta akan menyalakan shower, tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka, Kian telah berdiri di ambang pintu dengan memasang muka datar melihat seluruh tubuh wanita peliharaannya itu.
"A-ada apa?" Areta gugup melihat Kian telah berada di hadapannya, padahal masih segar di ingatan gadis itu bahwa Kian telah membunuh lima orang sekaligus dengan tangannya sendiri.
"Aku ingin mandi, melunturkan dosa-dosaku karena telah mencabut nyawa orang-orang yang menghianatiku!"
Kian mendekat ke arah Areta yang menutupi bagian vital tubuhnya dengan tangan.
__ADS_1
Laki-laki itu menyentuh kulit mulus Areta dengan lembut dan meliuk-liukkan jarinya di permukaan kulit Areta, meninggalkan kecupan di tengkuk wanitanya, dan membuat Areta menggeliat hingga memejamkan matanya
Kian tersenyum menyeringai ke arah gadis itu. "Kau menikmatinya, bukan?" tanya Kian.
Areta membuka matanya dan memasang wajah masam untuk memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Kian.
Bukan Kian namanya jika tidak bisa memaksa Areta melakukan hal yang ia inginkan. Sekali lagi Kian memaksa gadis itu untuk melayani dirinya di kamar mandi.
Air hangat mengucur deras membasahi tubuh keduanya. hingga menyamarkan suara erangan Areta yang membuat Kian semakin bersemangat menjajah tubuh gadis itu.
Entah mengapa setiap Areta disentuh oleh Kian, gadis itu seolah menikmatinya, padahal jelas-jelas ia sangat membenci pria dengan paras tampan itu. Tidak bisa dipungkiri permainan Kian bisa membuat Areta lupa akan kebenciannya dengan mafia bengis tanpa ampun itu.
Setelah menuntaskan hasratnya Kian keluar dan berkata, "Cepat ... ikutlah denganku ke rumah sakit!"
Areta tampak cemberut, mendengar perkataan suaminya itu, ia berpikir kenapa dirinya harus susah payah menjenguk wanita yang sengaja mencelakai dirinya. Tapi tentu saja ia tidak bisa menawar perkataan Kian.
***
Mereka pergi menuju rumah sakit pusat, di kota Apache, rumah sakit mewah untuk kalangan kelas atas. Di sini pula kedua orang tuanya di rawat setelah menjadi korban kecelakaan hingga meninggal dunia sejak usia Kian 15 tahun.
Areta menyapu seluruh gedung rumah sakit itu dengan tatapan takjup.
"Ini bukan rumah sakit," batinnya. "Tapi ini adalah hotel," imbuh Areta lagi.
Sepasang suami istri itu telah sampai ke ruang vvip di mana Irene telah di rawat. Kondisi wanita itu kini stabil dan sudah sadarkan diri. Ia menatap kedatangan Kian dengan raut wajah sedih. Ia kecewa karena pria yang ia cintai itu membawa serta istrinya.
"Kau datang bersamanya?" tanya Irene lirih.
"Tentu saja, ia adalah istriku sekarang!" jawab Kian tegas.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa Like 😎 Komen 😎 Vote 😎
Terimakasih dan Papay.
__ADS_1