
Mr. Mafia bab 31
Seketika bibir Areta kembali membiru, dan napasnya mulai tidak stabil. Shane yang melihat hal itu langsung bertidak agar nyawa Areta bisa selamat.
Akibat menelan racun, seperti zat asam yang bersifat korosif atau arsenik. Membuat Areta muntah darah.
Kian kembali diminta keluar dari ruangan, agar tim dokter yang memeriksa Areta bisa bekerja secara maksimal.
****
Semantara itu di kediaman Egan, Silda kaki tangan Kian dan juga wanita paling dipercaya oleh Kian, sudah bersiap untuk mengeksekusi Lyana, melemparkan tubuhnya ke sarang ikan hiu lapar.
Dengan dipegangi oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap, Lyana mencoba berontak dan tetap mendongakkan kepala meskipun tubuh dan wajahnya babak belur karena dihajar oleh Silda.
"Bagaimana siapkah kau Cash On Delivery dengan Tuhan?" ledek Silda dengan tatapan menyeringai dan pinggir bibirnya naik seraya tersenyum ironi.
"Kau tahu, jika boss Kian sangat murka padamu, karena kau telah membunuh calon bayinya?" imbuhnya lagi.
Lyana memicingkan mata, lalu meludah kesamping. "Biarkan saja dia merasakan, apa yang namanya kematian. Dia baru kehilangan anak, tapi dia lupa. Dirinya telah membunuh kekasihku, dan kini aku menuntut balas atas kematian orang yang paling kucintai!"
Silda tertawa lepas saat mendengar perkataan Lyana yang seolah ingin menjelekkan bossnya. "Boss Kian tidak akan membunuh orang, jika orang tersebut bukan penghianat!" sembur Silda, menekan dagu Lyana.
"Ha-ha-ha ... yang namanya pembunuh, akan tetap jadi pembunuh!" umpat Lyana sambil terkekeh.
"Oke! Baiklah, Nona Lyana. Apa pesan terakhirmu?" ledek Silda, kepalanya melirik ke kolam yang sudah terbuka dan berisi hiu-hiu lapar, ia sengaja mengiri jarinya dan meneteskan darahnya sendiri ke arah kolam, hal itu dia lakukan agar hiu-hiu lapar itu semakin agresif.
Lyana hanya terdiam, tidak bisa dipungkiri kaki wanita itu bergetar saat hiu-hiu itu melompat-lompat dengan gigi-giginya yang tajam.
"Ceburkan dia!" perintah Silda, lalu ia pergi meninggalkan wanita malang tersebut yang telah di dorong oleh dua bawahan Kian yang berpakaian serba hitam itu.
Tentu saja dalam sekejap, tubuh Lyana hilang tercabik oleh gigi-gigi tajam dari hewan buas tersebut.
"Selamat tinggal wanita penggoda!" ucap Silda sinis.
***
Irene datang dengan raut wajah khawatir, tangannya pun saling meremas karena tak kuasa menahan diri, betapa sadisnya Kian menghadapi para musuh-musuhnya, terlebih lagi tentang kematian calon anaknya. Irene sedikit beruntung karena nama ayahnya ia tidak berakhir sama seperti Lyana saat ia menggugurkan anak Kian sembilan tahun lalu. Ia hanya dihukum dengan cara diacuhkan selama bertahun-tahun, dan hal itu adalah hukuman paling kejam dari apapun. Bagaimana bisa seorang wanita diacuhkan oleh laki-laki yang ia cintai sepanjang hidupnya.
"Apakah kau sudah mengeksekusi wanita itu?" tanya Irene.
__ADS_1
"Ya ... karena itu perintah langsung dari boss," jawab Silda santai, ia menggosok tangannya dengan sapu tangan seolah sedang membersihkan dosanya karena baru saja mengakhiri nyawa seorang manusia.
"Sadis!" kata Irene singkat.
Silda berbalik badan, lalu menatap Irene dan menghampiri wanita yang lebih muda darinya itu. "Untung saja dulu Nona tidak berakhir tragis seperti wanita itu!" Kata-kata Silda menusuk relung hati Irene. "Bagaimana bisa seorang calon ayah bisa tinggal diam, jika anaknya dibunuh, sementara anak itu telah lama ia tunggu-tunggu," ucap Silda lirih. Tentu saja kalimat itu berhasil membuat Irene menutup mulutnya seketika.
**
keadaan Areta kini telah stabil, napasnya yang sebelumnya tersengal telah kembali normal, hal itu membuat Kian menarik napas lega.
"Dia adalah wanita yang bisa memberiku keturunan," gumam Kian dalam hati. "Aku tidak yakin ingin memilikinya, tapi aku ingin memiliki anak darinya," imbuhnya lagi.
Shane keluar dari ruangan Areta dengan wajah lega, ia menepuk pundak sahabatnya itu dan berkata, "Tenang! Dia akan baik-baik saja," ungkap Shane dengan nada berwibawa.
"Apakah kandungan dia baik? Apakah dia bisa hamil lagi?" cecar Kian, seolah ia ingin memastikan jika Areta bisa mengandung kembali.
"Hei ... kau tidak mengkhawatirkan Areta, tapi malah kandungannya?" tanya Shane setengah terkekeh. "Ingat Kian, jangan terlalu seperti itu! Kau bisa benar-benar jatuh cinta dengan gadis itu!" tambah Shane lagi.
"Omong kosong macam apa ini, Shane?!"
Kian berjalan masuk hendak melihat keadaan sang istri, namun dengan cekatan, Shane meraih pergelangan tangan Kian. "Jangan buat dia tertekan, jika kau menginginkan seorang keturunan darinya!"
Wanita itu tampak damai dengan tidurnya, dengan bulu mata lentik, wajah yang berseri seolah ia sedang tersenyum dalam keadaan terlelap.
Tanpa sadar Kian mengusap lembut rambut Areta dengan lembut, ia sangat menyesal menempatkan Areta dalam keadaan bahaya terlebih lagi, ia juga kehilangan anak yang belum pernah ia ketahui keberadaannya itu, dan Kian bertekat untuk merahasiakan hal itu dari Areta, agar ia tidak merasa sedih.
*
Tangan Areta mulai bergerak, matanya perlahan mulai mengerjap, Areta sadar setelah dua hari terlelap dalam mimpinya. Ia melihat Kian tengah tertidur di sofa panjang tidak jauh dari ranjang.
"Ki ... an." Suara Areta tampak lirih, karena ia tidak memiliki kekuatan, ia sangat haus saat itu, kemudian karena kehabisa akal dan tidak berhasil membangunkan laki-laki itu, ia perlahan dengan tubuh yang lemas, mencoba meraih gelas yang ada di sampingnya. Namun ....
Pyar ....
Gelas tersebut terjatuh, hingga membuat Kian terbangun karena kaget. Matanya langsung menangkap tubuh Areta dalam keadaan posisi miring.
"Areta! Sedang apa?" tanyanya, berlari ke arah istrinya itu.
"A–aku haus ...."
__ADS_1
Dengan sabar Kian mengambilkan minum untuk wanita yang baru saja menyelamatkan nyawanya itu.
"Kian!" Irene tiba-tiba membuka pintu dan membuat keributan di kamar Areta.
Mata Kian langsung menyambar tubuh Irene yang berjalan mendekat pada mereka. Manik mata Kian menatap tajam wajah Irene yang seolah sedang ingin melemparkan ia seribu pertanyaan.
"Ah ... Areta, kau telah sadar? Aku beberapa kali kemari, tapi tidak bisa menemuimu," ucap Irene menatap Areta, namun bukan tatapan iba yang terpancar dari mata itu. Melainkan tatapan benci yang ada dan terlihat dari mata Irene.
"Ada apa Irene?!"
"Oh ... aku juga turut sedih atas keguguran yang telah kau alami, Areta?!"
"Irene, tutup mulutmu!" seru Kian, sembari mendorong tubuh wanita itu keluar dari kamar.
Raut wajah Areta berubah panik, ia memegang perutnya sendiri, seketika air matanya tumpah. "Aku hamil." Areta berucap lirih dan memandang perutnya sendiri. "Aku hamil anak dari monster itu?"
Kian kembali masuk ke dalam dan mencoba menenangkan Areta yang mulai tampak syok dengan apa yang Irene katakan.
"Kian ... apakah benar aku hamil?" tanya Areta gusar.
Kian mengangguk pelan. "Ya ... kau hamil."
Areta meronta, ia mencoba melepaskan selang infus yang tertempel pada pergelangan tangannya. "Biarkan aku pergi, Kian. Kumohon, aku tidak ingin mengandung anak darimu!" Areta mulai panik, ia berontak saat itu.
"Areta tenang!" Kian mencoba, menengankan gadis itu dengan kata-kata lembut, tapi Areta malah semakin menjadi-jadi dan samakin berontak.
"Aku tidak ingin hamil dari monster sepertimu!" seru Areta.
"Diam!" Kian berteriak untuk menghentikan Areta, manik mata Kian seakan ingin lepas saat ia berteriak dan menatap tajam ke arah Areta.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa Like 👀 Komen 👀 Vote yang iklas tapi banyak, biar aku makin semangat 🤣
__ADS_1