
Mr. Mafia bab 23
Tubuh Areta seolah ikut menari dan meliuk seiring dengan tarian dari jari jemari Kian yang menyusuri kulit hingga ke area sensitifnya. Ia tampak melengking hendak meraung dan menampar pipi mafia itu, tapi sayangnya ia tidak bisa menghianati perasaan aneh saat Kian mulai menyentuhnya, hingga tanpa sadar matanya pun ikut terpejam.
Kian tersenyum tipis saat melihat Areta ikut menikmatinya, lalu ia meninggalkan kecupan di tengkuk gadis yang kerap di sapa Areta tersebut.
"Jika kau ingin mendesah, keluarkanlah suaramu!" ucap Kian lirih, tepat di telinga Areta hingga hembusan napas Kian mampu ia rasakan dari dalam lubang telinganya.
"Oh... tidak! Sejak kapan aku menikmatinya!" umpat Areta di dalam hati saat mendengar kalimat Kian yang langsung membuatnya sadar saat ia telah terlena oleh sentuhan Kian.
"Nikmati saja!" Kian semakin mempererat tubuh mereka, seolah bagai kembar siam tidak bisa dipisahkan. "Ini bulan madu kita," imbuhnya lagi." Mengambil helaian rambut istrinya itu, lalu menghirup kuat-kuat aroma cherry blossom yang telah teresidu oleh rambut Areta. Namun itu sungguh membuat Kian tenang untuk sesaat.
Langit telah berubah menjadi senja berselimut warna kecoklatan tatkala matahari telah tenggelam. Kian menepuk tangan, tiba-tiba lampu kamar itu meredup, dan perapian pun menyala, sensasi hangat menjalar seketika ke seluruh tubuh Areta.
"Ah ... rumah ini terlihat elegant karena semuanya serba otomatis," ucap Kian lirih.
Mata kian berkilatan di dalam cahaya perapian dan memancarkan aura yang aneh. Areta pikir Kian tidak pernah memandang dirinya dengan cara seperti itu. Namun entah mengapa, Areta menyukai tatapan Kian saat ini. Anggap saja hari ini dirinya sedang tidak waras, karena mafia bengis di hadapannya ini.
Kian membaringkan tubuh Areta dengan lembut di atas tempat tidur, menyibakkan kain penutup seluruh tubuh gadis itu hingga tidak tersisa, yang ada hanya tubuh polos seperti bayi yang ia lihat. Kian menatap serius Areta yang mencoba menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangan.
"Mengapa kau mengganggu pandanganku dengan kedua tanganmu, Wanita!" ucap Kian lirih.
Pipi Areta seketika panas mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Kian, menciptakan rona merah di pipi Areta.
Kian tenggelam di dalam pelukan gadis bermata biru tersebut, menari di atas tempat tidur mengikuti irama yang ia ciptakan, dia menguasai sepenuhnya permainan senja itu, hingga Areta tidak kuasa menolak semua yang Kian lakukan, yang ada hanya suara indah yang keluar dari tenggorokannya.
__ADS_1
Ini adalah kali ke empat ia melakukannya bersama lelaki ini, hanya Kian yang bisa menguasai diri Areta, tidak untuk laki-laki lain, Kian kembali menyapu lembut bibir Areta hingga menciptakan sensasi suara yang begitu sensual untuk mereka, suasana menjadi semakin membara senja itu, napas mereka terengah bahkan keringat sebesar biji jagung pun keluar dari pori-pori seolah mereka berdua telah berolah raga di bawah pendingin ruangan.
Aroma tubuh dan sentuhan Areta seperti candu untuk Kian, ia tidak pernah kuasa menolak akan apa yang di suguhkan oleh Areta hingga mereka menuju puncak nirwana secara bersama.
Kian hanya bisa terbaring lemas di sebelah wanitanya itu, namun anehnya Areta tidak meringkuk seperti biasa, ia malah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan pergi ke kamar mandi, entah apa yang ia akan lakukan.
Kian hanya menoleh sebentar, lalu kembali berbaring dan memejamkan mata, untuk memulihkan staminanya karena nanti malam ia akan pergi ke suatu tempat bersama Smith untuk menemui seorang mafia yang akan membeli tujuh kontainer senjata dari Kian, bisa di bayangkan seberapa kayanya Kian, ataukah mungkin ia memiliki pabrik senjata ilegal?
Areta menyalakan shower di dalam kamar mandi, ia mengutuk dirinya. Alih-alih ia menolak Kian, dirinya malah ikut hanyut di dalam permainan mafia itu, beberapa kali ia memukul-mukul tembok yang terbungkus poreselen berwarna hitam mengkilat itu, dan mengumpat di dalam hati secara terus menerus.
Ia bertanya-tanya, apakah benih cinta telah bersemayam dan melekat kuat di dalam relung hatinya. Jika itu terjadi, betapa bodohnya ia. Areta baru mengenal Kian selama kurang dari dua minggu, dan bahkan Kian tidak pernah memperlakukannya dengan baik jika mereka bersama, hanya saat ia menginginkan tubuh Areta, Kian akan bersikap manis. Tapi nyatanya ia tidak bisa menolak lelaki tersebut.
Ia membasahi tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower lalu menyambar sabun beraroma vanila yang terletak pada rak tempat sabut yang terbuat dari keramik. Dirinya menghirup kuat aroma sabun itu untuk menenangkan diri dan membohongi perasaannya.
***
"Apa kau tidak ingin ke luar dan makan malam bersama dengan keluarga Smith?" tanya Kian, menatap Areta yang masih berdiri menghadap laut.
"Ya ... sebentar, aku menunggumu dan kita pergi bersama," jawab Areta.
Kian berjalan menuju Areta yang membelakangi dirinya, lalu memeluk tubuh Areta dari belakang meninggalkan noda merah di leher wanitanya itu.
"Jangan membuatku pusing, dengan hanya diam, Areta!" Ia melepaskan rengkuhannya dan berbalik badan menjauh dari gadis itu. "Keluar ... cepat, aku tidak ingin istri Smith berpikir macam-macam tentang kita!"
Areta menurut laku ia menghampiri dan berjalan berdampingan dengan Kian seperti layaknya pasangan suami istri yang sempurna.
__ADS_1
Di meja makan Areta di sambut dengan hidangan yang lezat yang di masak khusus oleh para koki hebat yang di pekerjakan oleh Smith, mereka duduk bersama saling berhadapan di sebuah meja yang berbentuk bulat besar.
"Kau harus merasakan masakan negara kami, Nyonya Kian," ucap Sasha sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih, Nyonya Smith." Areta menjawab jamuan itu dengan kepala sedikit menunduk.
"Ada masakan khas perancis, foie gras," ucap Areta, antusias melihat makanan itu, ketika seorang pelayan menyajikan sajian tersbut.
Foie Gras telah dikonsumsi oleh raja-raja pada abad pertengahan. Bahan dasarnya menggunakan hati angsa yang dibuat pasta. Bisa disajikan dengan berbagai cara, baik digoreng, dipanggang, atau dibakar bersama saus khas Perancis.
"Ya ... karena ini makanan favorid suamimu, Nyonya," sahut Smith melemparkan pandangannya kepada Kian, yang mulai mengiris makanam itu dan menyantapnya perlahan.
Areta yang tidak tahu apa-apa tentang Kian hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia bahkan tidak tahu berapa ukuran sepatu atau celana dari Kian, apalagi soal makanan atau minuman favoridnya.
Areta menatap nanar Kian yang terus menyantap makanan itu, tiba-tiba Kian menangkup pipi Areta dan menciumnya, hal itu membuat lamunan Areta buyar seketika dan membuat pipinya memerah.
"Hai ... Tuan, aku terlalu kecil untuk melihat keromantisan kalian," kata anak Smith yang paling kecil dengan suara khas bocah, dan membuat suasana cair sehingga mereka tertawa terbahak-bahak.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa Like 👍 tinggalkan kesan di 💬 dan Vote seiklasnya 💌 Serta tap ❤ agar mendapat notifikasi ketika mas Kian update.