Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kesigapan seorang Brian


__ADS_3

Mr. Mafia 93


Seberapa keras Kian memeras otak dan menerka untuk mengetahui apa isi hati sang mertua itu akan sangat sulit, karena Addison adalah lelaki yang tidak mudah ditebak, kadang ia akan sedikit naif dan impulsif saat terdesak. Ia juga akan menjadi monster menakutkan hanya untuk menjerat musuhnya, bahkan musuh dalam selimut sekalipun.


Tapi Kian pikir permusuhan antara ia dan sang mertua sudah berakhir, ataukah ada rasa sakit yang masih tersisa di hati The Rock. Jika itu terjadi tentunya Kian harus waspada, terlebih lagi Areta—ia tidak akan mampu kehilangan istrinya itu. Seketika napasnya akan terhenti kala ia jauh dari wanita yang selalu membuatnya mabuk kepayang sejak pertama kali mereka bertemu.


Kian masih duduk bersama sang istri menghadap ke samudra yang biru, sepanjang mata memandang hanya hamparan laut dan tampak kontras dengan warna langit yang begitu begitu cerah.


"Kenapa awan itu seperti berjalan mengikuti kita, Kian?" tanya Areta saat menatap gumpalan putih yang seolah berjalan perlahan.


"Awan adalah titik-titik air yang terdapat di atmosfer dan dapat dilihat oleh mata. Awan berada jauh di atas kita dan dapat bergerak karena terbawa embusan angin. Ukuran awan yang sebenarnya jauh lebih besar dari pada yang kita lihat, awan terlihat kecil karena jaraknya yang sangat jauh. Ketika kita berjalan, jarak tempuh kita biasanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran awan, sehingga awan sebenarnya masih berada di atas kita dan terlihat seolah-olah mengikuti kita," jawab Kian, menerangkan.


Mata Areta menatap tajam ke arah sang suami. " Dari mana kau tahu?" dengusnya.


"Ha-ha-ha—itu pelajaran anak Sekolah Dasar, Sayang. Pasti kau pernah mendengarnya dulu waktu gurumu meneragkan," pungkas Kian sembari terkekeh.


"Entahlah." Areta kembali memidai langit yang dihiasi awan putih yang tampak indah.


"Aku mulai bosan dengan kapal ini, aku ingin pulang, Kian."


"Nanti kita bicara pada Papamu, kalau kau ingin merapat dan pulang," jawab Kian.


Cekrek ....

__ADS_1


Suara pintu terbuka tanpa ketukan pintu membuat Kian hampir saja ingin mengacungkan senjatanya, namun keinginannya seketika terhenti ketika sang mertua yang tiba-tiba muncul dari balik pintu beserta anjing peliharaannya.


"Nak, bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan nada khawatir menghampiri sang anak.


"Papa belum membuang mayatnya ke laut?" Tatapan Areta tertuju pada Brian yang berjalan tegap di belakang ayahnya.


"Ah ... Papa pikir kesalahan dia tidak terlalu fatal, karena meninggalkanmu berjalan sendirian," jawab Addison canggung.


"Aku juga tidak memerlukan dia, aku punya Kian yang selalu ada dan menjagaku." Tangan Areta langsung mengalung ke lengan Kian yang berdiri di sampingnya.


"Pa ... aku bisa menjaga istriku sendiri." Kini Kian membuka suara, ketika tahu ada sesuatu yang tidak beres antara Addison dan Brian.


"Aku masih ingat, begitu mudahnya aku membobol pertahananku di negara Lemonilo," sahut Addison, dengan nada penuh penekanan.


"Tapi, Pa—" Kian seketika menghentikan seruaan Areta dengan menggenggam tangan istrinya, agar wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya.


***


Malamnya mereka semua berkumpul untuk merayakan makan—malam terakhir di kapal ini, karena Areta minta pada Addison untuk menyudahi pelayaran pesiar mewah miliknya.


"Chirrrsss!"


Nicky berseru sambil mengangkat gelas wine yang ada di tangannya dan diikuti oleh semua orang. Areta yang tidak diperkenankan untuk meminum minuman beralkohol itu tampak menelan ludah dan kembali menyeruput susu coklat yang buatkan sebelum acara itu dimulai.

__ADS_1


Semuanya nampak tertawa riang, tapi tidak untuk Areta ia terus berpikir bagaimana cara menyingkirkan Brian dari hidupnya. Areta tidak tahu jika pengawalnya itu adalah putra mahkota dari sebuah kerajaan di negara yang bersebelahan dari negaranya. Jadi jika dia tahu mungkin—bisa jadi ia tidak akan melakukan hal gila pada pria itu.


Areta terus memicingkan mata menatap Brian yang tetap dalam posisi tegap berdiri tidak jauh darinya. Namun tiba-tiba lelaki itu merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya—mengambil senjata api yang selalu ada di sana, dan mengacungkan senjatanya pada Areta.


"Pangeran Brian!" pekik Kian yang melihat bahwa anjing pelihatan mertuanya itu mengarahkan senjatanya pada Areta istrinya. Dengan sigap Kian juga melakukan hal yang sama. " Turunkan senjatamu Tuan!" perintah Kian lagi, setengah mengancam.


"A–apa salahku?" Areta terbata secara impulsif ia mengangkat tangannya ke atas seperti seorang penjahat yang akan di tangkap oleh polisi. Areta terdesak, mungkin saja Brian marah kepadanya karena siang tadi ayahnya akan membunuhnya karena kesalahannya.


"Brian!" Kini giliran Addison yang mengacungkan senjata untuk Brian. Dan diikuti Mark dan Nicky, semua wanita tampak menyingkir jauh dari meja makan kecuali Areta yang seolah tubuhnya terpaku di tempatnya berdiri.


Dan—


Dor ....


Sebuah timah panas menyeruak dan melesat dari dalam pistol Brian melewati Areta yang secara spontan memejamkan mata. Semua orang juga akhirnya menatap ke arah istri Kian tersebut, dan melihat seekor ular derik yang ada tak jauh dari Areta.


"Astaga, Ular!" teriak Irene yang langsung memeluk Mark suaminya. Sementara Areta juga sangat syok dan memeluk Kian yang ada di sampingnya.


"It's Ok! Tak apa-apa, Sayang. Kau baik-baik saja." Kian memeluk istrinya dengan erat. Sementara Brian kembali di posisi normalnya.


Anehnya Addison ketika melihat hal itu tampak sedikit menaikkan pinggir kanan bibirnya, hingga membuat Elma yang memperhatikan suaminya nampak makin curiga.


Bersambung.

__ADS_1


Ini pada pelit banget tekan Like da komen, biar aku semangat gitu. ☹️


Kan, Mr. Mafia juga pengen tuh nangkring di depan.


__ADS_2