Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pria Tanpa Ampun


__ADS_3

Mr.Mafia bab 7



Kian semakin mencekik Areta dengan begitu kuat, mata gadis itu hampir tertutup napasnya tercekat. Tubuhnya melemas karena tekanan kuat pada lehernya.


Air matanya mengalir, ia pasrah jika nyawanya akan terpisah dari raganya yang rapuh, ia akan iklas. Toh ia sudah menjadi sebatang kara di dunia ini. Lalu apa yang Areta takutkan.


Melihat Areta tidak berdaya membuat Kian melonggarkan cekikannya kemudian melepaskan Areta hingga ia terhempas dan jatuh lemas di lantai toilet tersebut.


Gadis malang itu tidak sadarkan diri dengan luka merah bekas cekikan di lehernya yang jenjang. Karena melihat Areta pingsan kaki Kian menyentuh pergelangan tangan Areta yang tergeletak di lantai.


"Heh ... kau! Jangan pura-pura mati! Atau aku akan melemparkanmu ke kandang anjing," ancam Kian dengan begitu bengisnya, tidak melihat penderitaan gadis itu. Sekali lagi ia menendang-nendang tubuh Areta dengan kakinya yang beralaskan sepatu hitam mengkilat. Namun Areta bergeming, matanya terpejam napasnya tenang seolah sedang berdamai dengan mimpinya.


Kian berjongkok untuk menyentuh hidung Areta memeriksa apakah ia masih hidup atau telah meninggal dunia.


Tapi dewi fortuna masih berada bersama dengan Kian, beruntunglah karena wanita itu hanya pingsan tidak sampai menghembuskan napasnya yang terakhir.


Mafia bengis tanpa ampun itu menangkup tubuh Areta yang lunglai lalu membopong gadis malang lalu berjalan keluar. Di luar toilet itu sudah menunggu beberapa pengawal dan Irene yang menatap ke arah toilet itu dengan was-was.


"Kian ... ada apa dengan Areta?" Irene bertanya seolah merasa tidak bersalah.


Kian hanya melirik ke arahnya namun tidak menjawab pertanyaan wanita yang umurnya sebaya dengannya tersebut.


***


Tubuh Areta yang lemas dengan luka cekik di leher itu tampak lemah, napasnya tersengal, dokter pribadi yang juga sahabat dari Kian sengaja dipanggil untuk memeriksa keadaan Areta.


"Bagaimana bisa kau mencekik seorang gadis kecil seperti ini, Kian? Dimana otakmu kau taruh?!" omel dokter itu dengan nada kesal.


"Ia telah mencoba lari dariku, Shine. Aku tidak bisa mentolelir ini semua," jawab Kian tegas.


"Tapi bukan begini caranya jika kau ingin menarik perhatian gadis!" sembur Shane, menatap penuh curiga kepada Kian.


Mendengar perkataan Shane yang seolah menghakiminya itu membuat Kian terkekeh, lalu sedetik kemudian ia berubah serius. "Kau pikir aku menyukainya?!" Jari telunjuk Kian mengarah kepada Areta.


"Ya!"

__ADS_1


"Hahahahah ...." Kian terkekeh kembali. "Omong kosong macam apa ini?!"


"Bukan omong kosong, aku mendengar sendiri jika kau menidurinya ketika kalian baru saja bertemu! Aku mengenalmu, kau tidak pernah mau tidur dengan sembarangan prempuan apalagi seorang pelayan."


"Apakah itu sebuah alasan yang tepat, aku bebas memilih untuk tidur dengan siapa saja!"


"Ya ... aku tahu, tapi ini bukan kau yang sebenarnya. Aku tahu matamu memancarkan ada hal lain yang kamu rasakan tentang gadis ini. Bahkan kepada Irene sekalipun. Irene telah menemanimu selama sepuluh tahun, tapi bisa dihitung dengan jari berapa kali kau tidur dengannya!"


"Terserah apa katamu! Aku akan mandi!" Kian pergi meninggalkan Shane dan Areta menuju kamarnya, namun tiba-tiba ia berhenti sejenak. "Jangan macam-macam dengan dia, aku tahu otakmu penuh dengan napsu kepada semua gadis, apalagi gadis itu sangat cantik!" imbuh Kian, menatap tajam mata sahabatnya itu.


"Aku tidak akan mau dengan bekas yang kau pakai!" jawab Shane kesal.


***


Areta mengerjapkan mata, kepalanya terasa berat ketika ia membuka mata. Gadis itu meringis kesakitan ketika ia mulai tersadar. Lehernya terasa perih.


Dia terkaget lalu beranjak duduk. Ia menepuk-nepuk tubuhnya sendiri, menyentuh pipi dan mencubit pipinya sendiri.


"Kau masih hidup!"


Mata Areta langsung menyambar sosok yang ia kenal berdiri di dekat jendela, dengan raut wajah suram dan mata pembunuh.


Kian mendekat kearah Areta. Karena terkejut prempuan itu bergerak mundur membentengi diri.


"Berdiri!"


Areta secara impulsif menari selimut hingga ke dadanya karena takut, jika Kian akan mencekiknya lagi.


"Berdiri!" perintah Kian lagi.


Dengan perasaan yang berkecamuk Areta mengikuti perintah Kian, ia berdiri di samping tempat tidur. namun tanpa disangka, Kian menarik tangannya keluar kamar. Menuju ke area belakang rumah mewah tersebut.


Mereka berjalan naik ke sebuah tangga besi yang tingginya sekitar lima meter, Areta sangat bingung mengapa ia di ajak naik tangga, apakah ia akan dibunuh dengan cara didorong dari atas ketinggian? Pikiran Areta melayang-layang.


Pada saat sampai ke puncak. "Lihat ke bawah!" perintah Kian, dengan nada datar.


Areta menurut dan melihat ke atar bawah, seketika pijakan besi itu terbuka. Ternyata mereka naik ke atas akuariam raksasa berisi 12 hiu lapar yang siap mencabik-cabik tubuh seseorang jika ia jatuh.

__ADS_1


Areta begidik ketakutan, ia berjalan mundur menjauh dari akuarium itu.


"Mengapa kau takut mati? Kau sudah berani lari dariku, berati kau sudah siap mati. Kau tahu berapa orang yang jadi santapan hiu-hiuku?" tanya Kian.


Areta hanya diam, mukanya berubah menjadi pucat pasi, mulutnya terkunci dan kakinya bergetar karena takut.


Gigi-gigi hiu itu tampak besar dan tajam, sangat menakutkan.


Kian mengiris jarinya sendiri dengan pisau kecil di tanganya, darah segar keluar dari sana dan ia teteskan ke dalam air berisi hiu itu, yang membuat ikan itu semakin agresif karena mencium bau darah dari Kian.


"Semua orang yang melawanku telah mati di sini, tanpa sisa. Penghianat dan pembohong semua di cabik-cabik oleh hiu-hiu itu. Dan kau adalah selanjutnya!"


Mata Areta terbelalak ia kaget ketika kalimat menyeramkan keluar dari mulut Kian. Pria bengis menarik tangan Areta dengan sangat kasar membuat gadis itu terpelanting. Posisi Areta sungguh tidak mengenakkan. Ia berdiri di ujung pijakan tepat di atas akuarium besar itu. Sementara tangan Kian menyentuh pundak Areta dan bersiap mendorong tubuh gadis malang itu.


"Aaaaaa ...." Areta berteriak sekuat tenaga. Ia benar-benar takut.


"Kau sebenarnya harus tahu, bagaimana konsekuensi jika kau menghianatiku!"


"Aku mohon tuan, aku mohon jangan dorong aku!" ucap Areta.


Namun Kian malah semakin menjadi-jadi, ia malah semakin mendorong tubuh gadis itu hingga benar-benar akan jatuh.


"Selamat tinggal wanita tidak tahu diri!" umpatnya.





Bersambung.....


Astaga babang Kian jahat bener, yak. 😫


Jangan lupa, like komen dan Vote


Matur suwun dan Papay

__ADS_1



Shane Fillan


__ADS_2