
Mr. Mafia bab 20
Tiga hari berlalu semenjak Areta pulang dari rumah sakit, sejak itu pula dirinya belum bertemu dengan Kian. Bukan karena ia tidak mau, Irene seolah menolak jika Areta pergi menjenguk suaminya sendiri. Padahal ia adalah istri sah dari Kian, tapi posisinya seolah tidak cukup kuat untuk menggeser Irene dari singgasananya.
Suasana rumah tampak riuh pagi itu, maklum saja. Areta mendapat kabar jika mafia itu akan pulang. Namun Areta hanya berdiam diri di dalam kamar pribadinya seolah enggan menyambut kepulangan suaminya itu.
Silda sengaja datang ke kamar Areta saat mobil Kian telah sampai, namun Areta menolak untuk bertemu Kian.
"Nona ... boss Kian akan sudah kembali, apakah kau tidak ingin menyambutnya?" Semenjak Areta dinikahi oleh Kian, sikap Silda padanya berubah seratus delapan puluh derajat, entah apa yang ia inginkan dari gadis kecil itu.
"Tidak nyonya, aku sangat malas bertemu dengan laki-laki itu." Areta menjawab tanpa memandang wajah Silda.
Silda memilih pergi dan menyambut orang yang selama ini ia elu-elukan sebagai dewa penolongnya, maklum saja. Saat bertemu Kian, Silda hanyalah seorang janda miskin yang ditinggal mati oleh suaminya, hingga kini hidupnya berubah setelah bertemu dengan bossnya itu.
Kian kembali, namun anehnya seolah tidak ada tanda-tanda kesakitan di tubuhnya. Dirinya seperti bukan pulang dari rumah sakit, namun seperti selesai dari perjalanan bisnisnya.
Manik matanya menyapu seluruh pelayan yang menyambutnya, namun ia tidak menemukan Areta istrinya, dan itu membuat hatinya gusar. Bagaimana bisa peliharaan tidak menyambut majikannya.
"Mana Areta?!" mata Kian langsung menyambar Silda, hingga wanita itu tersentak kaget. Sementara Irene yang ada di samping Kian hanya tersenyum sinis melihat suasana canggung itu.
"No–nona Areta berkata, ia enggan menyambut kehadiran Anda, Boss," jawab Silda dengan mata tertunduk.
"Panggil dia! Perintahkan dia ke kamarku sekarang!"
***
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Areta, saat gadis itu tengah menyisir rambutnya.
"Nona ... boss meminta Anda untuk pergi ke kamarnya!"
Areta menengok ke arah pelayan tersebut, lalu berkata pelan, "Bukankah Irene bersamanya?"
"Saya tidak tahu, Nona. Boss yang memerintahkan saya langsung, saya permisi."
Areta sangat kesal, bukankah tempo hari, saat ia sadar, Kian hanya memanggil nama Irene. Jika mengingat hal itu membuat dada Areta seketika sesak.
__ADS_1
Areta berjalan menuju kamar Kian, saat di tengah jalan. Ia bertemu dengan Irene yang seolah dengan sengaja tengah menunggu dirinya.
"Yang namanya selir, akan selamanya menjadi selir!" sindir Irene, dengan bola mata menatap jijik ke Arah Areta.
Jujur saja, Areta sangat bingung dengan perangai Irene, padahal dulu ia adalah wanita lembut yang ia anggap sebagai dewi penolong. Tapi nyatanya—
"Selir yang Anda maksud bukan selir yang sesungguhnya. Ia telah berubah menjadi permaisuri karena ia menjadi satu-satunya wanita yang Kian nikahi." Jawaban menohok dari Areta yang melawan rasa takutnya kepada Irene membuat wanita itu sangat kesal.
"Kau belum tahu rasanya dibuang dan di abaikan oleh Kian. Tunggulah suatu saat nanti!" ancamnya lalu pergi.
Areta mengerutkan keningnya menatap Irene dengan tatapan aneh. Apa yang Irene maksud hingga ia berkata seperti itu. Alih-alih takut, Irene malah bersyukur jika ia diacuhkan, ia akan terbebas dari mafia bengis itu.
***
Areta membuka pintu kamar Kian dengan perlahan, ia menatap sosok yang duduk di sofa dengan cerutu berlapis emas di tangannya. Matanya menatap datar ke arah Areta yang baru datang. Seketika suasana di ruangan itu seolah di selimuti dinding es.
"Kenapa kau tidak menjengukku?!" tanya Kian dengan nada penuh penekanan.
Areta masuk dan menutup pintu kamar perlahan dengan tubuhnya hingga merapat ke pintu itu. Ia berjalan perlahan menuju sofa mendekati Kian.
Seketika Kian terkekeh. "Kau cemburu?" Sedetik kemudian raut wajahnya berubah serius. Seolah pria itu sanggup melakonkan dua peran dalam satu waktu. "Bagaimana pun. Kau adalah peliharaanku, kau harus ada di saat majikanmu membutuhkanmu!" imbuhnya lagi.
Kian menarik tangan Areta hingga gadis itu terjatuh ke pelukan Kian. Laki-laki itu mengambil beberapa helai rambut Areta lalu mengendus wanginya, hal itu berhasil membuat Areta menahan napas sejenak karena gugup.
"Bi–bisakah aku duduk di sana?" pinta Areta karena risih.
Kian menangkup kedua pipi Areta dan menyapu bibir gadis itu seolah seperti orang yang sedang kelaparan. Mata Areta seketika terpejam, ia tidak membalas ciuman Kian dan membiarkan lidah Kian menari-nari di dalam rongga mulutnya.
Cukup lama hingga Kian melepaskan panggutannya, matanya menatap lekat mata Areta, seolah laki-laki itu telah lama menekan hasratnya pada gadis 19 tahun itu.
Tanpa sengaja tangan Areta menyentuh bekas operasi Kian, hal itu membuat Kian sedikit meraung kesakitan.
"Awh—"
"Ada apa?" Areta tampak waspada mendengar raungan Kian, dan melihat ke arah perut Kian.
__ADS_1
"Kau menyentuh bekas lukaku, lumayan menyakitkan untukku, Areta!" sembur Kian meringis menahan sakit.
"Bolehkan aku melihatnya?" tanya Areta.
Kian hanya mengangguk dan masih menahan rasa sakitnya. Areta menyibakkan kemeja Kian ke atas agar dapat melihat luka Kian, Areta melihat darah merembes dari kain perban tersebut.
"Bolehkan aku mengganti perbanmu?" tanya Areta lagi.
"Terserah kau saja!" Kian berkata sambil membuang muka.
Perlahan Areta membuka baju Kian, agar memudahkan dirinya mengganti perban Kian, seketika dada sixpack dan berotot terpampang di depan mata Areta. Namun alih-alih terkesan, karena sering melihat tubuh Kian, Areta hanya bersikap biasa saja. Coba saja jika wanita lain yang melihatnya, pasti akan menelan air liur karena terkesan.
Gadis itu mengobati luka Kian dengan hati-hati hingga mafia itu tidak merasakan rasa sakit sama sekali, saat Areta mulai membungkus dan melilitkan perban ke tubuhnya, otomatis wajah mereka saking berdekatan. Kian bisa merasakan hebusan napas Areta menyapu wajahnya, hingga hal itu menciptakan sensasi aneh untuk pria itu. Ia tidak pernah merasakan perasaan ini ketika bersama wanita-wanita yang ia tiduri. Tapi anehnya saat bersama dengan gadis ini, muncul getaran aneh yang tidak dapat ia cerna.
"Selesai!" seru Areta bersemangat. Seolah ia melupakan jika ia sedang bersama mafia jahat dan bengis. Seketika wajahnya berubah saat melihat Kian menatapnya dengan pandangan datar.
"Kemari!" perintah Kian.
Secara impulsif Areta mengikuti perintah Kian, dan mendekat ke arah pria itu.
"Cium aku!" perintahnya lagi.
Kian meminta Areta berinisiatif untuk mencium pria itu dengan suka rela, seketika Areta menelan ludah saat mendengar kalimat perintah Kian.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa tekan 👍 Tinggalkan kesan di kolom 💬 dan Vote seiklasnya. Ingat tap ❤ agar bisa mendapat notifikasi ketika Mr. Mafia update.
Terimakasih dan papay.
__ADS_1