Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Moment Bahagia


__ADS_3

Mr. Mafia 79


Areta berdiri dengan tiba-tiba, membuat semua mata menangkap sosoknya, dan memandang dengan tatapan aneh


"Aku sudah selesai," ucapnya sembari mengelap mulutnya sendiri dengan serbet yang tersedia di meja makan.


Lalu ia beranjak pergi, Areta pikir dirinya tidak tahan lagi berlama-lama satu ruangan dengan ayahnya itu. Sungguh ia tidak ingin melihatnya, jika karena bukan paksaan dari Kian. Tentunya ia enggan untuk menemui pria paruh baya itu.


"Areta!" Suara lantang dari bibir Kian pun, enggan ia gubris, dirinya tetap berjalan menjauh dari ruangan itu.


"Sudahlah, jangan terlalu dipaksa!" ucap Addison, memecah keheningan sesaat di ruang makan tersebut. "Aku hanya butuh waktu untuk mengambil hati anakku," sambungnya lagi.


***


Areta yang duduk termenung menatap para pekerja yang mendekor altar pernikahan Mark dan Irene, tiba-tiba dikagetkan dengan suara gebrakan pintu.


Brak ....


Seketika itu pula Areta langsung menoleh ke arah sumber suara, siapa gerangan yang berani mendobrak pintu kamarnya hingga berhasil membuat dirinya terjingkat kaget.


"Apa kau puas membuatku malu, Areta?!" sembur Kian, masuk ke kamar.


Areta yang tidak tahu apa maksud Kian tampak menatap tajam ke arah pria itu.


"Apakah kau juga puas memperlakukan ayahmu seperti itu?" desisnya lagi.


Areta semakin tidak mengerti, mengapa tiba-tiba perangai Kian berubah saat ini. Padahal tadinya ia begitu lembut kepadanya, tapi sekarang—hanya karena manusia bernama The Rock ia kembali membentaknya. Namun bukan Areta namanya jika ia takut gertakan dari mafia itu. Ia berdiri membusungkan dada seolah akan menantang bertarung suaminya.


"Apa maksudmu?!"


"Mengapa kau bersikap seperti manusia tidak tahu aturan?!" sembur Kian lagi.


"Tidak tahu aturan?" Mendengar kata-kata Kian, membuat Areta tidak percaya, hanya karena The Rock ia memusuhi dirinya, istrinya yang katanya sangat ia cintai.


"Ya!"

__ADS_1


"Apakah kau sedang ingin memanfaatkanku?" Tatapan mata menyelidik dari Areta membuat Kian diam sesaat.


"Mana mungkin!"


"Mungkin saja! Tiba-tiba kau baik padaku, kau membatalkan kontrak pernikahan kita, dan kau tiba-tiba baik dengan musuh bebuyutanmu, semua itu membuatku curiga!"


"Aku tidak ada niatan seperti itu sedikitpun."


"Omong kosong!"


Kian berjalan mendekat, hendak merengkuh tubuh istrinya, namun cepat-cepat Areta menepis dengan kasar tangan Kian.


"Jangan sentuh aku!" pekik Areta, lalu berjalan pergi meninggalkan Kian yang tampak terpaku menatap nanar wanitanya itu.


***


Tiga hari telah berlalu sejak pertengkaran Kian dan Areta saat itu. Mereka berdua sama sekali tidak bertegur bahkan tidak tidur di dalam kamar yang sama. Saat Kian ingin mendekati istrinya, seperti memiliki benteng pertahanan, jarak dua meter saat Kian akan mendekat, Areta seperti dapat mencium kedatangannya, lalu ia menghindar dari lelaki itu. Bahkan membuat Kian gigit jari karenanya.


Irene tampak cantik dengan balutan gaun pernikahan serba putih yang membuatnya begitu anggun. Sampai membuat Areta membayangkan pernikahannya dengan Kian yang membawanya pada jurang nestapa. Padahal dulu ia hanya ingin pernikahan yang sederhana dan indah, namun keinginannya itu pupus saat ia bertemu dengan mafia bernama Kian Egan.


Ia menemani Irene yang masih bersiap di dalam kamar dengan di temani beberapa penata rias profesional langganannya. Tiba-tiba seseorang masuk, dengan mudah Areta bisa mengenalin siapa itu. Dia adalah Addison yang bertindak sebagai pendamping dari mempelai wanita. Hal itu semakin membuat Areta iri, saat ia menikah bahkan ia tidak memiliki pendamping saat itu. Ia hanya berjalan seorang diri di atas Altar pernikahan.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Addison yang berdiri tidak jauh dari di mana Areta duduk.


Dengan memasang senyuman canggung, Areta menjawab, "Baik." Ia hanya menyahut singkat.


"Syukurlah, sepertinya Kian mengurusmu dengan baik."


Areta mengangguk pelan, enggan menjawabnya lagi.


Hanya keheningan yang ada diantara mereka, hingga menyisakan atmosfer tidak enak. Irene akhirnya telah siap untuk menuju Altar pernikahan. Dengan gaun menjutai mengekor di lantai membuat semua yang ada di dalam ruangan bedecak kagum dengan kecantikannya.


"Apakah kau benar-benar telah sehat?" Tiba-tiba Areta menanyakan hal di luar pikiran Addison, yang membuatnya terharu.


"Ya ... seperti yang kau lihat," jawabnya dengan air mata yang hampir menetes.

__ADS_1


Irene berjalan pelan untuk menghampiri Adisson. Kemudian ia merangkul pergelangan tangan pria paruh baya itu, sebagai pengganti ayahnya.


Areta tersenyum kepada Irene. "Selamat, semoga kau bahagia, Irene."


Irene mengangguk lalu berjalan dengan tangan melingkar di pergelangan tangan ayah Areta.


Areta hanya bisa mengekor di belakang menyaksikan moment indah yang akan Irene rasakan bersama Mark. Menjadi raja dan ratu dalam sehari, sungguh membuat Areta juga ingin meneteskan air mata, mengingat pertemuannya dengan Irene yang selalu ingin membuatnya celaka.


Hingga sampai ke altar pernikahan, Areta memelih duduk di deretan kursi tamu yang memang di sediakan berbagai hidangan dengan meja dan kursi melingkar di temani dengan cahaya matahari yang tidak begitu terik.


Mark yang menyaksikan Irene dari kejauhan tampak bahagia hingga tidak terasa air matanya ikut keluar, dan membuat semua orang berdecak dan saling berbisik. Bagaimana bisa seorang Mark yang notabennya adalah robot hidup, bahkan bisa dihitung dengan jari kapan ia tertsenyum di dalam hidupnya, dan kini ia meneteskan air mata untuk wanita yang ia cintai.


Semua tentu juga terharu melihat moment bahagia itu, bahkan tidak sedikit para mafia yang ada di dalam pesta itu juga hampir saja menitikan air matanya. Sungguh moment yang menguras perasaan.


Kian yang menatap Areta dari kejauhan hanya bisa terdiam, melihat sang istri juga merasakan tangis harunya pecah. Ingin rasanya ia memeluknya, tapi kesalah pahaman diantara mereka membuatnya enggan melakukannya.


Jujur saja ia juga ingin menciptakan moment pernikahan ulang dengan Areta suatu saat nanti, dan juga resepsi kedua mereka.





Semoga Irene dan Mark samawa ya gaes~


Kenapa sih pakai altar? Kenapa enggak ijab khabul? Jadi semua novelku memang tidak mencantumkan agama apa yang dianut para pemeranya.


Karena aku anggap ini novel romatis modern bukan novel religi.


Jadi semoga ini bisa menjawab jika ada yang ingin bertanya soal adat pernikahan apa yang mereka pakai.


Terimakasih,


Novi Wu.

__ADS_1


__ADS_2