
Mr. Mafia 64
Mata Areta mengerjap, ia terbangun dari pinsannya. Ia merasakan pening di kepalanya hingga ia menyentuh area itu dengan tanganya. Ia memekik memejamkan matanya sejenak untuk memusatkan kesadarannya.
Mark yang melihat Areta telah terbangun, menatap ke arah Kian seolah memberi aba-aba jika sang istri telah tersadar. Mata Kian langsung menyambar, kakinya melangkah dengan cepat menghampiri istrinya dan menuangkan segelas air putih, kemudian menyodorkannya kepada Areta.
"Minumlah! Kau pasti haus." Kian berucap lembut, sembari meminumkan seteguk air putih untuk membasahi tenggorokan Areta yang seharian telah mengering.
"Terimakasih," ucapnya lirih.
"Apakah sebaiknya saya menyuruhnya pergi?" sahut Mark, meminta pendapat kepada Kian.
"Suruh saja ia pergi!" perintah Kian tanpa memperhatikan Mark yang masih berdiri mematung di hadapan mereka berdua.
"Baik ... saya laksanakan!" Mark berbalik badan menuju pintu gerbang utama untuk menemui Elma yang masih menunggu keputusan Kian atau Areta.
***
Elma masih berdiri di depan mobil dengan beberapa senjata mengacung ke arahnya. Itu bawahan Kian lakukan, mengingat Elma adalah istri dari The Rock musuh abadi dari Kian. Namun Elma tetao bergeming, menanggapi itu semua dengan sikap santai. Di pikirannya saat in hanyalah memastikan kebenaran apakah Areta adalah anak kandung dari Addison, suaminya atau bukan.
Seorang pria berbadan tegak dengan stelab tiga potong dan tampak rapi mendekat ke pintu gerbang, seorang penjaga dengan senjata lengkap membuka pintu itu untuk sang pria. Tentu saja pria itu adalah Mark yang akan memberi kabar kepada Elma jika ia tidak diizinkan masuk ke kediaman Egan.
"Maaf ... apakah Anda yang menyari Nona Areta?" tanyanya dengan nada sopan.
Elma mengangguk, menatap dengan tatapan menyelidik ke arah Mark, ia sejak awal ia tahu, jika lelaki itu adalah tangan kanan dari Kian.
"Boss kami tidak mengizinkan Anda untuk bertemu dengan Nona Areta."
Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Mark, membuat Elma sedikit kecewa, walaupun sebebarnya ia telah menduga hal ini akan terjadi.
"Baiklah, aku akan kembali lagi besok." Elma kembali masuk ke dalam mobilnya dan menstater mobil itu kemudian berbalik arah dan pergi keluar dari wilayah kekuasaan Egan.
'Apa yang sebenarnya ia inginkan?'
Mark membatin, lalu memperhatikan sejenak para anak buahnya dengan mata dinginnya.
__ADS_1
"Kalian harus berjaga lebih ketat! Kita tidak tahu bahaya apa yang akan kita temui setelah ini!" desisnya, kemudian ia masuk kembali ke dalam.
Saat Mark berjalan, ia melihat sosok yang tampak tidak asing, sedang duduk di atas ayunan kayu di tengah padang bunga. Wanita itu adalah Irene dengan sebotol minuman di tangannya. Tanpa basa-basi, Mark menghampiri Irene yang bersandar di atas kepala ayunan itu.
"Untuk apa Nona duduk di sini?" tanyanya.
Mark melirik ke arah minuman yang di bawa Irene, itu adalah soju.
Soju adalah minuman distilasi asal Korea. Sebagian besar merek soju diproduksi di Korea Selatan. Walaupun bahan baku soju tradisional adalah beras, sebagian besar produsen soju memakai bahan tambahan atau bahan pengganti beras seperti kentang, gandum, jelai, ubi jalar, atau tapioka.
Minuman ini bening tidak berwarna dengan kadar alkohol yang berbeda-beda, mulai dari 20% hingga 45% alkohol berdasarkan volume (ABV). Kadar alkohol yang paling umum untuk soju adalah 20% ABV.
Irene terus menengguk minuman itu, padahal ia sudah terlihat mabuk saat ini. Mungkin saja sudah beberapa botol yang ia habiskan hingga ia sudah menjadi kacau seperti ini.
Dengan cekatan Mark melepaskan botol itu dari tangan Irene kemudian membanting botol itu hingga pecah.
Pyarrr....
Suara pecahan itu membuat Irene terkejut dan seketika marah kepada Mark yang dengan berani mengganggu dirinya.
"Anda sudah sangat kacau, Nona," jawabnya dengan nada datar.
"Kau pikir kau siapa, bisa mengaturku?!"
"Lebih baik ada beristirahat!" perintahnya hendak merangkul tubuh Irene.
Wanita itu mencoba berontak dan melepaskan diri dari Mark yang akan memaksanya masuk.
"Lepaskan aku, kaum rendahan! Kau hanya seorang bawahan di sini, berani-beraninya kau mengaturku!" pekik Irene.
Namun bukannya berhenti Mark malah semakin menjadi dan menarik tubuh Irene supaya masuk ke dalam rumah. Tanpa di sangka Irene menampar pria itu dengan sangat keras.
Plakkkk....
Hingga membuat Mark berhenti dari menarik tubuhnya. Kemudian ia berdiri mematung dengan wajah menunduk.
__ADS_1
"Saya salah karena terlalu memperhatikan Anda, Nona. Saya hanya kaum rendahan. Saya mengerti! Mulai hari ini, saya tidak akan mencampuri urusan Anda!" Mark membungkuk lalu pergi meninggalkan Irene yang nampak tertegun.
"Ta–ta–tapi, Mark.... "
Terlambat, Mark telah pergi menjauh darinya. Melihat punggung Mark yang telah hilang di balik pintu utama rumah Kian membuat hati Irene mengganjal, seolah ada sesuatu yang hilang. Ia tidak tahu kenapa ia bersikap seperti ini sepeninggal Andrea, ia merasa bersalah pada wanita mafia itu. Tapi ia sangat tidak adil juga kepada Mark, dan menghina lelaki itu.
***
Elma telah sampai di rumah sakit kembali, ia masuk ke dalam ruang intensive di mana suaminya telah di rawat dengan berbagai alat yang menopang hidupnya.
Tak terasa air mata Elma menetes membasahi kedua pipinya, namun cepat-cepat wanita paruh baya itu menghapusnya, lalu kembali mengukir senyum di bibirnya.
"Add, hari ini aku telah menemui Areta, dan memastikan apakah adalah anakmu. Tapi Kian tidak mengizinkanku masuk, dan aku harap besok ketika aku kembali, Kian akan mengizinkanku menemui istrinya," ucapnya lembut tepat di telinga sang suami. "Cepatlah sadar, Add. Aku tidak bisa begini, aku merasa sendiri di dunia ini tanpamu." Bulir air mata menetes kembali dan kini membasahi pipi Addison.
Seolah merasakan penderitaan Elma, tangan Addison sedikit bergerak, namun tidak menunjukan dirinya akan tersadar dari komanya.
Hari telah berganti hari, Addison belum menunjukan tanda-tanda akan membaik, hingga membuat Elma sangat sedih dan tidak tahu harus berbuat apa, ia pikir mungkin Addison bisa terbangun ketika mendengar atau bahkan memeluk putrinya.
Siang ini Elma benar-benar nekat, ia akan bertolak kembali dan memaksa Kian mengizinkannya untuk menemui Areta meskipun nyawanya menjadi taruhannya.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman Egan dengan segala kekuatan yang ia miliki, yang dirinya inginkan hanya satu, yaitu menemui dan memastikan Areta adalah anak dari suaminya.
Mobil mewah itu hampir sampai di depan gerbang rumah itu, namun tidak menunjukan tanda-tanda akan berhenti, padahal penjagaan di rumah itu sangat ketat. Elma menerobos dan menabrakkan mobilnya ke arah pintu gerbang tinggi itu, dan....
Brakkkkk....
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa we ... like komen dan Vote. Jangan senyap, aim tak suke lah, gelai....
__ADS_1