
Mr. Mafia bab 8
Kaki Areta hampir terjatuh saat dengan begitu kejamnya Kian mendorong tubuh gadis itu hingga akan terjatuh ke akuarium penuh ikan hiu yang ganas dan kelaparan tersebut.
"Tolong Tuan, jangan dorong aku! Aku akan berbuat apa saja untukmu, aku mohon!" pinta Areta memohon belas kasih kepada laki-laki bengis itu.
"Apa?! Kurang keras!" teriaknya, ia pura-pura tidak mendengar suara Areta dengan tujuan agar Areta mengulang pertanyaannya.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, Tuan."
Suara Areta yang bergetar membuat Kian semakin senang, tentu saja ini adalah hiburan bagi laki-laki berusia 30 tahun itu, salah satu hal paling menyenangkan dalam hidupnya adalah, membuat lawannya terpojok lalu meminta ampun kepada dirinya, itu sungguh membuat ia puas.
"Apakah kau bisa menyenangkanku?!" Kian menarik tubuh Areta kembali.
"Hah?!" Areta terkaget mendengar kalimat dari Kian.
"Ya ... buat aku senang, aku membahagiakanmu kemarin malam. Kini giliran kau! Jika kau menolak aku akan menghabisimu malam ini!" desisnya, tanpa ampun.
bagaimana bisa, kemari malam ia berpikir jika dia melayani Areta, jelas-jelas Kian telah memaksa Areta menyatukan tubuh mereka dalam satu ranjang, dan kini ia berkelakar bahwa ia melayani Areta. Lelucon macam apa ini.
"Bagaimana? Setuju?! Kalau kau keberatan, aku akan menghabisi nyawamu sekarang!"
"Ba-baik ... Tuan, aku bersedia–" Areta menyanggupi permintaan mafia jahat itu. Bukannya dia takut mati, tapi mati dengan cara menjadi santapan hiu lapar sungguh tidak bisa dibayangkan, rasa sakit ketika kulit dan dagingnya tercabik oleh gigi-gigi tajam mereka, membuat Areta merinding dan bergidik karena takut.
Kian berjalan turun ke bawah diikuti Areta yang juga mengekor di belakang laki-laki itu.
***
"Layani aku! Buatlah aku terkesan dengan pelayananmu, kelinci kecil!"
__ADS_1
Areta mendekat ke arah tubuh Kian yang duduk di tepi ranjangnya, awan kelabu tengah melingkupi hatinya yang begitu mendung. Ia terpaksa harus melayani laki-laki yang baru dikenalnya, bahkan satu-satunya orang yang ingin ia bunuh saat ini.
"Ayo ... lekas layani aku, Areta!"
Areta melompat ke arah pria berdarah dingin itu, matanya terpejam dan mulutnya terkunci ketika ia menyerahkan diri di atas tubuh Kian.
"Apa-apaan ini!" teriak laki-laki itu.
"Maaf Tuan. Aku tidak pernah melayani pria manapun sebelumnya, bahkan mahkotaku paling berharga telah Tuan renggut paksa, dengan kata lain, aku sungguh tidak berpengalaman dalam hal ini."
"Hahahahaha ...." Kian nampak terkekeh dengan perkataan Areta. "Kau bisa melakukannya sesuai instingmu sebagai wanita penggoda!" ucapnya lagi.
Wajah Areta seketika memerah tangannya sedingin es dan mengepal kuat mendengar kalimat hinaan dari bibir Kian yang merobek harga dirinya.
"Apa kau marah? Benar bukan, kau adalah wanita murahan yang mau menukar nyawa dengan tubuhmu, lalu apa yang salah?" Kian memandang wajah Areta dengan raut muka menghina.
Areta tiba-tiba mengecup bibir Kian agar laki-laki itu diam. Alih-alih terkesan, Kian malah tertawa dengan maksud menghina permainan Areta.
"Itu bukan ciuman! Itu hanya menempelkan bibir, inilah contoh ciuman ...."
Hingga beberapa saat Kian melepaskan panggutannya, meninggalkan gigitan kecil di bibir Areta yang membuatnya memerah.
"Itulah ciuman dalam arti yang sebenarnya, kau tadi hanya menempelkan bibirmu di atas bibirku."
Dengan hati-hati, gadis yang membiarkan rambutnya teruai itu kembali mendekatkan wajahnya ke arah bibir Kian, dan mencoba mengesap bibir Kian dengan lembut. Tapi kenyatanyaannya Kian hanya merasa seolah sayap kupu-kupu menempel pada bibirnya karena saking lembutnya sentuhan Areta.
Karena merasa tidak sabar Kian membanting tubuh Areta hingga terpelanting ke atas ranjang dengan sprai berwarna abu polos itu.
Sepasang mata mereka saling beradu, namun menatap dengan tatapan berbeda, Areta mematap nanar dengan air mata yang seolah akan jatuh, alih-alih kasian. Kian melihat wajah Areta dengan tatapan mencemooh.
Tangannya menyusuri kancing dress navy yang digunakan Areta sejak pagi. Jari-jari laki-laki itu seolah menari-nari pada kulit putih Areta sehingga menciptakan sensasi sengatan untuk gadis polos itu, hingga ia memejamkan mata sesaat.
__ADS_1
Kian yang melihat wajah ayu Areta, tersenyum sinis sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi sangat serius, ia menyapu leher Areta dengan indra pengecapnya, membuat Areta meraung karena geli.
Hal itu membuat pria yang berprofesi sebagai CEO dan marangkap menjadi mafia bengis itu makin menjadi-jadi.
Kian membenamkan tubuhnya kepada Areta menyatukan jiwanya kepada gadis itu, bulir keringat keluar dari keduanya menambah panas suasana malam yang dingin. Kasur empuknya pun tak henti-hentinya menari mengiringi gerakan indah Kian di atas tempat tidur, setali tiga uang tidak bisa dipungkiri jika Areta juga menikmati sensasi yang sama, bahkan mereka menuju nirwana secara bersamaan. Napas mereka beradu dengan waktu jantungpun memompa darah dua kali lipat lebih cepat sehingga menciptakan degupan kencang di antara mereka.
Suara demi suara indah keluar dari mulut mereka masing-masing, rasa puas melingkupi perasaan mereka seolah mereka bersama tengah melayang ke langit ke tujuh.
***
Areta meringsut di pinggir kasur dengan menarik selimut hingga menutupi dadanya, sementara Kian tengah menghisap cerutu yang bersalah dari tembakau termahal di dunia, lapisan luar cerutu itupun kertas berlapis emas, tidak terbayang berapa mahalnya cerutu itu, dan Kian tidak sungkan-sungkan menghamburkan uangnya untuk benda itu, padahal itu sama saja ia telah membakar uangnya sendiri.
Kian menatap punggung Areta yang membelakangi dirinya, punggung itu tampak mungil dan rapuh, akan tetapi entah mengapa Kian sangat menyukai punggung dengan tahi lalat kecil di sana.
"Kau tetap tidur di sini! Tak perlu kembali ke kamarmu, pejamkanlah matamu!" perintah Kian.
Namun tanpa di sangka Areta sudah lebih dulu memejamkan matanya, ia tengah berdamai dengan mimpi indahnya, seolah ia telah melupakan kepahitan dalam hidupnya yang membuatnya pora-poranda.
Mafia itu mendekatkan diri kepada Areta untuk mengintip apakah gadis itu telah tertidur. Dan setelah tahu ia tampak tersenyum melihat Areta terlelap dengan mimpinya.
Kian mengancam Areta dengan menakut-nakuti gadis itu dengan ikan hiunya, agar Areta tidak melakukan hal yang sama, yaitu melarikan diri darinya.
Entah mengapa ketika ia melihat Areta pertama kali ia merasa ada getaran aneh di dalam hatinya, ia tidak pernah merasakan hal yang sama lagi selama sepuluh tahun terakhir ini. Ia memang telah tidur dengan banyak wanita, tapi ia tidak pernah merasakan getaran aneh saat ia sedang beradu tubuh dengan Areta.
•
•
•
Bersambung ~
__ADS_1
Jangan lupa tekan like, komen dan vote, 'yah.
Terimakasih dan Papay....