
Mr. Mafia 53
Kian menarik tangan Areta, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, hingga Areta mampu merasakan sapuan napas Kian yang berhembus dengan aroma mint. Padahal Kian selalu menghisap cerutu akan tetapi napasnya selalu beraromakan mint nan segar.
Tangan Kian meyentuh sejengkal demi sejengkal kulit Areta, hingga membuat wanita itu menggeliat bak biola spayol. Mengecup tengkuk Areta dengan lembut, dan meninggalkan noda merah yang bersemayam pada kulit putih dan mulus Areta.
Mereka melapaskan kain yang melekat pada tubuh mereka, hingga kini mereka telah polos seperti bayi. Napas mereka saling beradu, keringat sebesar biji jagung keluar dari pelipis mereka masing-masing, menandakan jika begitu panasnya pertarungan mereka berdua.
Sepasang suami istri itu menari-nari dengan selaras di atas tempat tidur, menuntaskan hasrat mereka, melepas segala napsu yang telah berada di puncaknya, suara indah mengalun dari bibir mereka masing-masing hingga bersama-sama menuju ke nirwana secara bersamaan.
Kian memeluk erat tubuh istrinya setelah itu, mengatur napas yang menderu sementara jantung yang masih memompa darah begitu cepat. Kini bukan lagi meringsut, Areta juga memeluk tubuh lelakinya itu dengan begitu erat. Ada kenyamanan saat Areta melakukan hal itu, seolah saat bersama dengan Kian ia akan selalu merasa nyaman.
Kian dan Areta turun dari tangga secara bersamaan. Kian tampak berbeda dari sebelumnya, ia terlihat jauh lebih tenang dari pagi tadi. Tiba-tiba Mark datang memberi amplop putih untuk Kian.
"Utusan The Rock yang membawanya ke sini," ucap Mark dengan tegas.
"The Rock?!" Kian memekik, rahangnya mengetat dan matanya seketika memerah membuka amplop itu dengan begitu serampangan.
Mereka melihat undangan pesta, ada surat terselip di antara undangan tersebut. Cepat-cepat Kian membacanya dengan teliti.
Salam hangat teman lamaku.
Dengan suratku ini, aku ingin mengundangmu sebagai teman, bukan sebagai rival. Singkirkan semua yang ada, dendam dan benci diantara kita. Aku mendengar, kau sudah menikah. Bawalah istrimu ke pestaku, mari kita berdamai.
Teman lamamu
Addison—
Setelah membaca surat tersebut, Kian langsung meremas surat tersebut dan membuangnya ke lantai.
"Aku yakin ini jebakan!" ucap Kian geram.
"Kita harus berhati-hati, boss." Mark menimpalin perkataan Kian.
__ADS_1
Mata Kian menatap wajah Areta yang tampak kebingungan menyaksikan sang suami terlihat begitu murka.
"Ada apa?" tanyanya penasaran.
Kian mengelus rambut Areta, lalu berkata dengan lembut, "Tidak apa. Aku akan berangkat ke kota Ageystan untuk melakukan pekerjaan, kau baik-baik di rumah!" perintah Kian. Areta membalas kalimat Kian dengan senyuman.
Areta memungut kertas tadi Kian buang di lantai, saat Kian telah pergi. Ia membaca surat itu dengan seksama. Iya membaca nama Addison, nama itu sangat tidak asing dipikiran Areta. entah siapa ia, tapi Areta seolah sering mendengar nama itu. Tapi dimana ia tidak ingat. Lalu ia cepat-cepat kembali ke kamar Kian, menyambar Laptop yang terletak di atas meja, membukanya dan mencari nama Addison di mesin pencarian.
Addison, pengusaha kaya dibidang perhotelan berusia 50 tahun, beristri Elma Addison pewaris utama hotel D'Luna, hotel termewah di kota Apache.
Addison dipenjara karena penyalahgunaan obat terlarang, dan dugaan pembunuhan wanita bernama Anastasya.
Melihat artikel itu membuat Areta bergidik dan kaget. Seketika ia menutup mulutnya sendiri.
'Jadi dia The Rock?'
Areta bergumam sambil membelalakkan matanya, dia adalah pengusaha kaya dan juga mafia musuh terbesar Kian. Ia tidak pernah menyangka di balik para pengusaha kaya seperti Kian dan Addison, mereka juga adalah seorang mafia paling ditakuti di negara ini. Kalau dipikir-pikir sebelum ia mengenal Kian, Areta pikir kehidupan orang-orang kaya begitu sempurna dan bergelimang harta, dikelilingi oleh keluarga yang bahagia, tenyata itu salah. Mereka (para orang kaya) hanya membangun sisi positif tapi mengembunyikan sisi negatif di dalam hidupnya di hadapan khalayak. Sungguh kamuflase yang sempurna.
Kian kembali dari kota Ageystan saat matahari mulai tenggelam, ia menemui istrinya yang telah terlelap dalam mimpinya. Mungkin saja sang istri terlalu lelah hari ini. Hingga ia enggan membangunkan Areta dan memilih bersiap ke acara pesta yang diadakan The Rock.
"Kau akan pergi kemana?" tanyanya.
Kian berbalik badan, dan tersenyum kepada istrinya. "Aku akan pergi ke pesta Addison," sahut Kian, mengancingkan kemejanya satu persatu.
Areta beranjak dari tempat tidur dan ingin menuju ke kamar mandi. "Aku juga akan bersiap," kata Areta.
"Tidak Areta!" Ucapan Kian menghentikan langkah kaki istrinya, lalu Areta berbalik dan menatap Kian dengan tatapan menilai.
"Apa maksudmu tidak?" tanya Areta.
"Aku tidak akan pergi denganmu, aku akan pergi dengan Andrea," jawab Kian seolah tanpa dosa.
"Apa?!" seru Areta tidak percaya.
__ADS_1
"Aku akan memperkenalkan Andrea sebagai istriku."
"Maksudmu apa? Bukankah teman-temanmu tahu jika aku adalah istrimu?"
"Aku akan memperkenalkan Andrea sebagai istri keduaku."
"Apakah kau mulai tidak waras, Kian?! Pagi ini kau berkata jika dirimu tidak salah pilih karena memilihku menjadi pendampingmu. Lalu ini apa?!" Areta mulai marah, tanpa mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh Kian.
"Aku bisa jelaskan!"
"Ambil saja dia sebagai istrimu! Sejak awal aku terlalu percaya diri. Kupikir kau telah membuka hatimu untukku, tapi nyatanya kau memang sama saja seperti laki-laki lain, kau sama seperti ayahku yang meninggalkan ibuku demi wanita lain!" umpat Areta, lalu pergi meninggalkan Kian dan membanting pintu dengan sangat keras.
"Are.... "
Areta keluar dengan penuh murka, ia tidak tahu alasan dibalik mengapa Kian mengajak Andrea ke pesta tersebut. Itu ia lakukan untuk melindungi Areta dari jebakan The Rock, yang selalu ingin menghancurkan dan mencari titik kelemahan Kian lewat wanita yang ada di samping Kian. Jika The Rock tahu jika Andrea lah yang dinikahi oleh Kian, tentu saja The Rock akan sedikit berpikir dua kali, mengingat Andrea juga salah satu mafia wanita yang juga disegani di dunia hitam.
Areta bertemu Andrea di lorong kamar, ia melihat wanita itu memakai gaun terusan hitam bertabur swaroski yang tampak indah dengan rambut yang ditata rapi hingga memperlihatkan leher jenjang dengan tato bunga teratai di tengkuknya. Hal itu semakin membuat Areta murka ditambah pandangan Andrea yang seolah merendahkan istri Kian tersebut.
"Hallo selamat malam nyonya Areta," ejeknya. Areta hanya bergeming dan turun ke tangga untuk menuju kamar pribadinya.
Menurut Kian, jika memperkenalkan Areta itu sangat membahayakan istrinya itu. Apalagi Areta selalu dianggap lemah dan belum begitu kuat dan umurnya masih terlalu muda untuk itu.
•
•
•
Bersambung~
Cemburunya wanita itu membabi buta, tidak mengenal tempat dan kondisi. Maka jadilah laki-laki yang peka dan mengerti isi hati wanita!
Novi Wu—
Ina inunya segitu aja, 'ya.
__ADS_1
🤣 Kapan-kapan lagi.
Jangan lupa Like, komen, gift dan Vote. 😘