
Mr. Mafia Bab 13
Areta menatap nanar sosok yang berjalan menjauh darinya, bulir air mata telah menetes merangsek dan membasahi pipi gadis itu. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan dihina seperti ini.
Para pengawal yang seolah haus akan sentuhan wanita itu memandangi tubuh mungil Areta dengan tatapan mata penuh hasrat. Bagaimana tidak, gadis ini adalah gadis pilihan bossnya, ia begitu cantik dengan kulit putih mulus, manik mata coklat yang memancarkan aura cantik yang begitu lembut. Tidak seperti wanita yang mereka lihat biasanya, para penghibur yang tampak liar di atas ranjang. Tapi tidak untuk Areta, ia adalah tipe gadis rumahan yang susah untuk di taklukan. Setelah mereka saling memandang. Ada sembilang orang yang memaksa Areta untuk masuk ke dalam aula, Mark yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam, ia tahu betul jika boss mafia itu marah, ia akan melakukan hal yang sangat gila.
Mendapat perlakuan tersebut membuat Areta berteriak memohon bantuan.
"Tuan ... tolonglah aku. Tuan, aku tidak akan lari lagi. Aku mohon maafkan aku, atau lebih baik kau masukkan saja aku di akuarium penuh hiu, dari pada aku harus mati karena harga diriku terinjak-injak!" teriak Areta tidak membuat Kian menoleh dan menolongnya.
Sedangkan silda menatap gadis itu dengan pandangan jijik dan mengupat, "Kau memang pantas mendapatkannya wanita j*lang!"
Areta terus berontak mencoba melepaskan diri, air matanya terus mengalir, keringat sebesar biji jagung pun membasahi seluruh tubuhnya.
"Aaa ... lepaskan aku! Kalian bi*dap! Sama seperti boss kalian, kalian pantas mati, aku doakan kalian mati secara mengenaskan!" umpat Areta.
Sementara itu di dalam kamar, hati Kian seolah berkecamuk, ia marah tapi tidak tahu apa sebabnya, dirinya terus berpikir sebab apa yang membuat ia tidak tega membunuh gadis itu. Tiba-tiba ia terbangun lalu dengan tergesa-gesa ia menyambar pistol yang ia letakkan di atas meja tadi dan berjalan menuju ke aula di mana Areta dan sembilan orang anak buahnya berada.
Salah satu pengawal merobek baju yang Areta kenakan, hingga kain penutup dadanya tersibak walau sedikit, dua orang menyentuh tubuh Areta dan membuat gadis itu terduduk dan menjerit sejadi-jadinya.
"Aaaaa....lepaskan aku! Tolong ....!"
Mereka malah tertawa terbahak-bahak menyaksikan Areta nampak takut dan tersiksa, dan membuat para bawahan Kian itu tampak bersemangat untuk menjajah tubuh Areta.
Tiba-tiba suara ledakan sebuah pistol mengagetkan semuanya, membuat mereka seketika menoleh ke arah sumber suara.
Kian begitu murka melihat Areta di perlakukan seperti itu, gadis itu hampir saja telanjang jika ia tidak datang tepat waktu.
Para anak buah mafia pun ketakutan ketika Kian datang dengan mata terbelalak dan wajah memerah.
"Siapa saja yang telah menyentuhnya?!" tanya Kian, mengacungkan pistolnya.
__ADS_1
"Semua telah menyentuh gadis itu, boss," jawab Mark yang sejak tadi sengaja menyaksikan pertunjukan itu.
Kian memuntahkan semua timah panah yang tersisa di dalam senjatanya itu dan membunuh semua yang telah menyentuh Areta dengan tangannya.
Hal itu membuat Areta terkejut, matanya ketakutan melihat pembantaian yang di lakukan Kian terhadap para pengawalnya. Ia benar-benar tanpa ampun dan bengis.
Kesadaran Areta nenurun, pandangannya telah kabur ia seolah telah kehabisan tenaga. Seketika tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai.
Kian berlari kearah Areta, dia melepas jas yang ia kenakan untuk menutupi tubuh gadis itu. Ia membopong tubuh Areta dan membawanya ke tempat peraduan mereka.
***
Kian melihat wajah teduh gadis itu saat tidak sadarkan diri, ada secuil rasa iba dari dalam hatinya, dirinya begitu marah ketika rasa aneh itu telah merajai pikirannya. Ia tidak ingin merasakan hal ini. Tapi ....
"Ibu ... ibu ... Areta ingin ikut bersamamu." Gadis malang itu berucap lirih mengigau di bawah kesadarannya.
Kian dengan lembut menyentuh kening wanitanya itu, rasa panas menjalar ke tangannya saat ia menempelkan kulitnya pada kening Areta.
***
Shane yang memeriksa gadis ini tampak gusar, termometer menunjukan suhu tubuh Areta mencapai 40 derajad celcius.
"Kau puas telah menyiksa gadis kecil ini? Kau puas juga telah membunuh anak buahmu yang jelas-jelas kau perintah untuk menyentuh gadis malang ini?!" desis Shane, dengan nada kesal.
"Aku tidak melakukan hal yang salah!"
"Aku juga mafia sepertimu, tapi aku masih punya hati nurani, Kian! Kita bersahabat sejak kita kecil dan aku mengenalmu betul, aku masih ingat ketika kau membunuh anjing yang baru saja diberikan nenekku, karena anjing itu yang membuatku tidak mau bermain denganmu, dan akhirnya kau membunuhnya dengan menusuk hewan itu berkali-kali dengan pulpen yang kau bawa, aku tahu kau sebengis itu!" sembut Shane lagi.
Kian terdiam sesaat, ia kembali menatao gadis yang terbujur lemas di ranjangnya, gadis itu tampak damai dengan napas tenang seolah sedang tenggelam dalam mimpi indahnya.
***
__ADS_1
Selama Areta tidak sadarkan diri, Kian sama sekali tidak beranjak dari kamar, ia terus menemani Areta, beberapa kali ia mengganti baju Areta, saat pakaiannya basah oleh keringat, padahal kamar Kian sudah di lengkapi pendingin ruangan dengan kualitas nomor wahid.
Apalagi saat Areta haus, ia dengan sabar seperti seorang ibu yang telah merawat anaknya mengambil minuman untuk gadis itu.
tiga hari sudah Areta pingsan, ia mengerjapkan mata sejenak, kepalanya tampak berat seperti tertipa benda berat. Ia meringis kesakitan karena itu, dia menoleh di samping kanannya, Kian tengah tertidur pulas di sampingnya dengan posisi tangan melingkar di perut gadis itu, hal itu membuat Areta marah dan jijik, seketika ia menghempaskan tangan Kian begitu saja, perbuatannya tersebut membuat mafia itu terbangun dari mimpinya indahnya.
"Kau sudah bangun?"
Areta hanya diam enggan menjawab perkataan Kian, tiba-tiba perutnya berbunyi karena sudah tiga hari ia tidak makan.
Kian yang mendengar bunyi perut mungil Areta tampak mengulas senyum tipis lalu cepat-cepat menyambar telepon yang ada di meja sebelah ranjangnya untuk menghubungi pelayan agar segera menyiapkan makanan untuk Areta.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Areta menunggu, Silda datang dengan tiga orang pelayan cantik membawa nampan berisi makanan yang menggugah selera Areta.
Melihat makanan itu mampu membuat Areta hampir saja meneteskan air liurnya.
Saat Areta telah asik menyantap makananya, dan tidak mempedulikan Kian yang telah duduk di kursi tak jauh dari dirinya. Tiba-tiba ....
"Menikahlah denganku!" ucap Kian, dengan santai.
•
•
•
Bersambung ~
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 😭 JANGAN SENYAP, DONG....
VOTE SEIKLASNYA, YA....
__ADS_1
TERIMAKASIH DAN PAPAY....