
Mr. Mafia bab 41
Areta melangkahkan kakinya dengan kasar, seiring dengan hatinya yang diliputi kemarahan yang luar biasa setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri tingkah suaminya.
Namun tiba-tiba langkahnya gontai, ia tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan langsung jatuh ke lantai kapal pesiar itu, semua orang tampak terkejut dengan pingsannya Areta. Kian dengan berlari menghampiri tubuh sang istri, lalu mengangkat tubuh Areta dengan cepat.
"Panggil dokter!" Teriakan Kian mampu membuat pesta itu tiba-tiba hening, seorang boss mafia tengah frustasi dengan keadan istrinya. Shane datang mendekat menenangkan hati Kian dan menepuk pundah sahabatnya itu.
"Tenang, bawa dia ke kamar. Aku akan memeriksanya, Kian!" perintah sahabatnya itu dengan lembut.
Kian berjalan cepat menuju kamar VVIP yang di sediakan untuk para tamu undangan, diikuti Shane yang mengekor di belakang dengan langkah santai.
***
Setelah sampai, Kian meletakkan tubuh lemas Areta di atas tempat tidur, berkali-kali ia memegang keningnya karena merasa khawatir.
"Periksa dia, Shane. Aku bingung, dia bisa murka saat melihatku bersama dengan wanita lain, namun sedetik kemudian dia bisa pingsan. Itu sangat aneh." Kian memijit ujung hidungnya sendiri lalu mondar-mandir.
Shane menghela napas, saat menyaksikan sahabatnya begitu khawatir dengan keadaan istrinya tersebut.
"Tenang!"
Shane segera memeriksa keadaan Areta dengan menggunakan stetoskop, lalu memeriksa perut Areta dan memijit sesaat perut yang masih rata tersebut.
Wajah Shane langsung berubah saat setelah memeriksa Areta. Ia tersenyum kepada Kian yang masih tampak gusar.
"Sepertinya istrimu sedang hamil," ucap Shane santai.
"Apa?!" pekik Kian seolah tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu. Kian meraih pundak Shane lalu menekan kuat hingga Shane sedikit meringis kesakitan.
"Untuk lebih jelasnya, nanti kita bisa melakukan tes urine," sahut pria yang baru saja menikah tersebut.
Kian menatap lekat wajah wanita yang tengah terbaring di atas tempat tidur itu, kemudian ia menghampirinya dan melepas sepatu hak tinggi yang Areta kenakan.
__ADS_1
"Kalau aku tahu dia hamil, aku tidak akan membiarkannya memakai sepatu hak tinggi ini," ucap Kian menggerutu.
Shane hanya tersenyum tidak menimpali ucapan Kian dan menepuk pundak sahabatnya itu dengan sedikit keras.
"Jaga dia, jangan sampai dia setres, aku juga ingin beristirahat, dan ini waktunya malam pertama bagiku," kata Shane mengejek.
Kian hanya bergeming tak menghiraukan ucapan Shane, di dalam otaknya hanya ada satu, bagaimana caranya untuk melepaskan gaun Areta yang menempel di tubuhnya itu, jika ada para pelayan mungkin ia akan meminta mereka melakukannya, akan tetapi di kapal ini, hanya ada beberapa pengawal dan Irene yang ikut dengannya. Maka dari itu hanya ialah yang bisa melakukannya sendiri. Ia berpikir sambil membatin.
Dengan sabar ia membuka gaun hitam yang melekat di tubuh Areta, melihat begitu indahnya pemandangan di depan matanya membuatnya menelan ludahnya sendiri, rasanya ia ingin menerkam dan menikmati setiap inch tubuh Areta. Tapi ia dengan susah payah menahannya dan mengganti pakaian tidur yang sejak awal telah mereka siapkan. Pesta ini akan di selenggarakan dua hari berturut-turut, karena kapal juga berlayar di samudra lepas. Sehingga mau tidak mau setiap tamu memiliki kamar masing-masing.
Dan karena mabuk dan lelah, Kian tidur di samping Areta sembari memeluk tubuh calon ibu dari anaknya tersebut.
***
Suasan kapal yang terombang-ambing membuat Areta tersentak dan bangun, dari jendela kapal terlihat matahari sudah menyingsingkan cahayanya untuk menyinari bumi. Areta menengok ke arah Kian yang sedang terlelap tidur memunggunginya tanpa melepas jasnya. Hal itu membuat Areta sangat kesal.
"Pasti dari semalam ia baru kembali di pagi hari, buktinya sepatunya saja masih melekat di kakinya, dan bajunya masih lengkap, dasar monster!" gerutu Areta kesal.
"Kau kenapa?" Kian menekan-nekan tengkuk istrinya dengan lembut.
Areta hanya bergeming, yang ada di pikirannya, ia pasti sedang mabuk laut. Sehingga ia mual dan ingun muntah.
"Pelan-pelan!" perintah Kian, sedikit meninggikan suaranya, namun ada sedikit nada lembut di dalam ucapannya itu, seolah ia sedang khawatir.
Napas Areta memburu kala ia telah selesai mengeluarkan isi perutnya. Ia lemas dan menyenderkan diri ke dinding, Kian yang melihat hal itu langsung meraih pundak Areta dan mendekapnya. "Tidak apa!" ucapnya, menepuk pundak Areta. "Mungkin ini akan hanya ada di three smester awal saja, Areta," imbuhnya lagi.
Areta berjingkat karena kaget, lalu menatap menyelidik ke arah Kian.
"Apa maksudmu?!"
Kian menangkup kembali pundak Areta, lalu memapahnya perlahan agar ia tidak merasakan goncangan. "Di dalam perutmu, ada anak yang sedang kunanti."
Areta menyipitkan mata semakin menatap Kian dengan tajam. Lalu ia mengingat-ingat, bukankah dia habis keguguran, lalu setelah selesai itu, baru tiga minggu yang lalu, mana bisa ia hamil? Ia terus berpikir keras soal itu.
__ADS_1
"Siapa yang berkata jika aku hamil?" tanya Areta.
"Semalam kau pingsan, apa kau lupa? Bahkan aku yang mengganti bajumu."
Areta melirik baju tidur yang ia kenakan, lalu bergumam dalam hati. 'Eh ... siapa yang telah mengganti bajuku, apa betul dia?'
Kian memapah Areta ke tempat tidur agar ia bisa bebaring lagi. Lalu menyelimuti Areta seolah wanita itu sedang tidak berdaya.
"Siapa yang memeriksaku semalam?" tanya Areta penasaran.
Kian berkacak pinggang mendengar perkataan Areta, meskipun ia ingin melahap Areta karena banyak pertanyaan yang keluar dari bibirnya, tapi Kian mencoba sabar, karena ingat nasehat dari Shane bahwa Areta tidak boleh setres.
"Shane yang memeriksamu, sekarang kau istirahat, aku akan membawa sarapan untukmu!" Kian akan beranjak pergi.
"Kau mau ke pesta itu lagi?! Ini masih terlalu pagi, Kian!"
Kian berhenti melangkah dan menghela napas panjang, lalu menjawab perkataan ibu hamil tersebut. "Aku akan mandi, dan berganti pakaian, lalu meminta pelayan kapal untuk menyiapkanmu sarapan."
"Lalu kau mau kemana?" tanya Areta ingin tahu.
Kian berbalik badan lalu kembali melangkah mendekati Areta. "Aku akan di sini bersamamu, puaskah kau dengan jawabanku, Nyonya besar?!" sembur Kian kesal. Kalau bukan karena Areta mungkin ia sudah menembak isi kepala orang yang membuatnya murka.
Pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Areta terus berpikir dan tanpa sadar mengelus perutnya yang belum membuncit itu.
•
•
•
Bersambung~
__ADS_1