Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kunjungan Addison 1


__ADS_3

Mr. Mafia 77


Irene menata Kian, seraya tidak percaya jika mafia itu akan melepaskannya, dan memilih lelaki yang ia cintai. Manik mata wanita itu mengeluarkan air mata haru, ketika membayangkan pernikahannya dengan Mark.


Mark tampak membeku, mendengar kalimat menikah yang terucap dari bibir bossnya. Ia memang tahu betul jika sejak awal Kian memiliki rasa untuk Irene.


"Jadi ... kapan pernikahan itu diselenggarakan?" celetuk Areta, yang membuat enam pasang mata langsung menatap wajah wanita itu penuh Arti.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Areta meringsut menambahkan kalimat tanya lirih kepada mereka bertiga.


"Ti–tidak, Areta. Aku hanya sedikit terkejut. Aku akan kembali ke kamar," sahut Irene, melangkah pergi. Ia sungguh terlihat malu, tapi gurat bahagia terpancar jelas di wajahnya.


Saat bayang Irene telah keluar dari ruangan itu. Kian menatap tajam ke arah Mark yang masih membisu, mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Apakah kau yakin bisa membahagiakan Irene?" desis Kian mendekat ke arah Mark, agar Areta tidak bisa mendengar ucapannya.


Cepat-cepat pria itu mengangguk, yang ia pikirkan saat ini adalah menemani Irene yang selalu kesepian. Sebenarnya benih cinta itu telah muncul sejak lama, tapi hanya karena sebuah profesionallitas dalam perkerjaan, Mark mengesampingkan itu semua.


"Kau tahu apa konsekwensi yang akan kau dapat, jika Irene tidak bahagia?" tanya Kian agar Mark bisa berpikir dua kali jika ingin menikahi Irene.


"Ya, saya siap!" seru Mark, membuat Areta seketika menoleh ke arah mereka.


***


Keputusan Irene dan Mark telah bulat, mereka merencanakan pernikahan kurang dari satu minggu lagi. Semua orang tampak sibuk dengan hal-hal pernikahan keduanya. Tidak seperti pernikahan Areta dan Kian yang semua dibuat dalam satu malam, namun begitu sempurna di mata orang-orang. Seperti sudah dipersiapkan secara matang.


Areta masih termenung di depan jendela menghadap ke arah halaman rumah. Memperhatikan para bawahan Kian sedang menata kebun, sesuai permintaan Irene, ia ingin—jika pernikahannya di selenggarakan di rumah dengan konsep pesta kebun saja.


Tepukkan lembut membuat lamunan Areta buyar. Kian berdiri di sampingnya, tersenyum lembut yang membuat wajahnya yang tampan bak lakon dalam drama di televisi itu dapat dengan mudah dipandang oleh Areta.


"Mengapa kau melamun?" tanyanya.


Areta hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lembut, ia merangkul suaminya, bergelayut manja.

__ADS_1


"Apa kau ingin mengulang resepsi pernikahan kita, dengan tema garden party?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku hanya berpikir. Betapa bahagianya Irene sekarang, ia bertahun-tahun mengharapkanmu," jawab istri Kian tersebut.


Kian menarik napas panjang, lalu mengelus lembut rambut Areta. Ia juga memperhatikan para pekerja yang tengah sibuk. "Irene juga berhak bahagia, seperti kau juga. Aku berjanji akan membahagiakanmu."


"Ayahmu telah kembali pulang." Kian memberi kabar gembira kepada Areta. Namun hal itu malah ditanggapi sinis oleh wanita itu.


"Aku sungguh tidak peduli," sahutnya singkat.


"Bagaimanapun, ia adalah ayah kandungmu, Areta."


"Lalu—"


"Mari kita berkunjung, dan mengantarkan undangan pernikahan Irene dan Mark," celetuk Kian.


"Hah ... maksudmu, aku harus kembali ke rumah itu? Rumah di mana aku telah disekap. Tempat—di mana The Rock membunuh Anddrea?!" Areta melepaskan pelukkannya pada Kian dan berjalan menuju tempat tidur, ia duduk dengan mata lurus ke depan.


"Tidak, Kian. Aku tidak akan melakukannya. Hidupku bahagia saat ini, bersamamu. Hanya—bersamamu."


"Tapi dia ayah ...."


"Cukup!" sahut Areta memotong kalimat Kian. "Tinggalkan aku sendiri, Kian!" imbuhnya lagi. Kian hanya bisa pasrah dan menuruti perintah sang istri tersebut. Dan pergi keluar kamar mereka.


Areta menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bulir air mata merangsek keluar di celah dua bola matanya, ia tidak bisa—menutupi itu. Ia rindu, tapi rasa sakit yang ia derita membuatnya belum siap menerima ayahnya.


Hingga tiba-tiba ponsel yang sejak tadi ia letakkan di atas nakas, berbunyi. Ia sengaja melirik untuk memastikan siapa yang melakukan panggilang untuknya. Nomor yang belum ia kenal, tanpa butuh waktu lama. Areta menyambar benda berlayar sentuh itu, dan menggersernya untuk menerima panggilan tersebut.


"Hallo ...."


"Hallo, Areta." Suara lembut keluar dari balik ponsel itu. Suara yang tidak asing, tapi entah di mana ia pernah mendengarnya.


"Siapa?"

__ADS_1


"Aku Elma."


Darah Areta mendidih seketika, ia cepat-cepat menutup panggilan itu. Karena enggan mendengar ucapan dari ibu tirinya itu.


Setelah meletakkan ponselnya kembali di atas nakas, Areta memutuskan keluar rumah untuk menghirup udara segar, ia ingin membantu para pekerja yang sedang sibuk dengan merangkai bunga.


Ia menuruni anak tangga perlahan, semua pelayan yang melihatnya langsung menunduk dengan cepat, benar-benar kehidupan maha sempurna. Areta dulu hanyalah butiran debu yang tidak nampak. Kini ia adalah nyonya rumah megah ini, terlebih lagi ia juga adalah anak dari mafia besar yang digadang-gadang menguasai berbagai sektor pasar gelap dunia.


Areta tetap pada pendiriannya, dia tetaplah manusia biasa. Mereka sama-sama diciptakan dari tanah dan akan kembali menyatu dengan—tanah ketika kematian memeluknya. Ia tidak serta merta sombong dan pongah, ia tetaplah wanita yang polos dan anggun yang seperti orang-orang lihat, hanya saja ia sudah memiliki keberanian, jika ia tidak setuju akan sesuatu, ia akan mengelaknya.


Ia berjalan keluar menuju halaman di area garden party. Ia menawarkan diri untuk membantu merangkai bunga-bunga, tentu saja hal itu membuat para pekerja sangat senang.


Sebuah tangan lentik menyentuh pergelangan—tangan Areta, mata Areta langsung menyapu sosok itu. Irene sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman paling ramah, yang selama ini Areta tidak pernah tahu.


"Thank you. Semua berkatmu."


"Aku?" Areta menunjukkan jari ke dadanya karena tidak percaya dengan ucapan Irene. Wanita yang dulu adalah rivalnya itu mengangguk. "Apa yang telah kulakukan, Irene?" tanyanya lagi.


"Aku sangat bahagia, maukah kau menjadi adikku?" Irene memeluk Areta.


"Hah—" Areta terkejut hampir tidak percaya, selama ini ia benar-benar ingin memiliki saudara perempuan. Cepat-cepat ia mengangguk, menyetujui perkataan Irene.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna biru metalic masuk ke area rumah mewah ini. Membuat keduanya menajamkan mata menatap siapa si empu mobil mewah itu.


Dua orang manusia paruh baya keluar dari dalam mobil itu, membuat Areta hampir memekik terkejut, tangannya menutup mulutnya sendiri tidak percaya, dengan apa yang ia lihat.


The Rock beserta istrinya datang dengan hanya membawa tiga bodyguard.


"Bukankah itu ayahmu?" Irene melirik ke arah Areta yang masih membisu dan enggan menjawab pertanyaan Irene.



__ADS_1



Bersambung~


__ADS_2