
Mr. Mafia 59
Dada Elma berdegup kencang mendengar, bahkan ia seolah merasakan jantungnya berhenti berdetak mendengar suara tembakan yang di arahkan ke tubuh Areta. Beruntung, karena Addison sengaja tidak mengarahkan ujung senjata apinya tepat pada diri Areta, hanya menyerempet helai surai yang ada di pelipis Areta. Hingga membuat benda hitam itu terpotong.
Areta yang sejak tadi menahan napasnya, seketika membuka mata, ketika nyawanya masih bersemayam di dalam tubuhnya. Iya menarik napas lega karena hal itu.
Dengan tatapan penuh kebencian, Addison meniup pistolnya seolah seperti koboi yang baru saja menghabisi korbannya.
"Bagaimana Nyonya Kian? Kali ini aku harus mengecewakan lagi Malaikat maut yang akan menjemputmu!" desisnya kepada Areta.
Wanita muda itu bergeming, ia tetap pada posisinya, tenang dengan raut wajah dinginnya.
"Apakah kau kurang waras?!" pekik Elma
"Sayang... dia adalah musuh kita, kau tidak perlu kasihan terhadapnya!"
Elma sudah tidak tahan melihat tinggak suaminya itu, lalu ia memutuskan untuk pergi. Addison menunggu hingga Elma menghilang dari dalam ruangan tersebut, setelah ia yakin jika istrinya telah pergi, ia berjalan lambat ke arah Areta. Laki-laki paruh baya itu menyentuh helaian rambut Areta dengan lembut, namun sedetik kemudian ia menarik surai Areta hingga, istri Kian itu meringis kesakitan.
"Kau tahu, gadis kecil! Aku memang memiliki anak seusiamu, tapi bukan kau tentunya, aku telah meninggalkannya sejak kecil bersama istriku terdahulu, jauh dari kota Apache. Aku memang sedang mencarinya. Dan Elma, istriku berkata. Jika kau adalah darah dagingku!" Addison terkekeh sejenak, lalu berkata lagi dengan nada serius. "Kau telah meracuni otak istriku dengan bualanmu, jika kau telah ditinggalkan oleh ayahmu sejak kecil. Kau tahu, di dunia ini ada banyak ayah yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Bukan hanya aku saja! Mungkin ayahmu sudah mati, karena mencuri ayam dan di bunuh oleh kemarahan warga!" ejeknya.
Areta seketika membuang saliva ke samping, ia menatap benci laki-laki di hadapannya itu. "Kau tahu, Tuan?! Jika kau memang ayahku, aku tidak aka pernah sudi mengakuimu, atau mungkin memang ayahku sudah mati karena amukan masyarakat, itu sangat baik untuknya, karena jika aku tahu jika ia masih hidup, aku sendiri yang akan membalasnya!" desis Areta.
__ADS_1
Addison bertepuk tangan sambil terkekeh. Ia berjalan mengitari tubuh Areta, lalu berbisik ke telinga wanita itu.
"Tapi sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi, karena jika kau keluar dari sini. Kau sudah menjadi mayat!"
Addison berjalan keluar sembari tertawa lepas mengolok-olok Areta yang tampak marah dengan ucapan mafia itu, hingga tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
'Jika Tuhan menakdirkanmu menjadi ayahku. Aku Areta Marla, akan menghancurkanmu menjadi berkeping-keping!'
Areta bergumam di dalam hati, dadanya benar-benar sesak menahan kemurkaan yang meliputi dirinya. Ingin rasanya ia menembak Addison dengan tanganya sendiri, hingga ia merenggang nyawa dan tidak berguna.
***
Kian telah sampai ke Kota Apache, ia mempersiapkan segalanya. Dan memerintahkan anak buahnya untuk segera berperang melawan The Rock musuh besarnya.
Andrea yang melihat kejadian langka itu, tampak khawatir. Ia tahu betul air mata seorang Kian sangatlah mahal, saat ayahnya meninggal saja, ekspesi Kian tampak biasa saja, pun dengan kepergian Anastasya, meskipun gurat kesedihan terukir jelas di wajah Kian, namun air matanya sama sekali tidak menetes. Dan sekarang, Andrea menangkap moment yang paling tidak mungkin dalam hidup Kian.
Perlahan Andrea memegang pergelangan tangan Kian, ia menatap iba sahabatnya tersebut lalu bekata lirih, "Apakah begitu penting Areta untukmu?"
Kian hanya bergeming, membalas tatapan Andrea kemudian kembali berpaling dan mengisi senjata api laras panjangnya dengan peluru.
Andrea menyadari, Kian benar-benar mencintai Areta, wanita muda itu telah mencuri hati dan menjinakkan mafia bengis itu. Entah dengan apa caranya sehingga Kian menjadi sangat rapuh ketika Areta tidak berada di sisinya.
__ADS_1
"Aku akan membantumu menyelamatkannya, Kian. Aku janji!" ucap Andrea yang bertujuan menenangkan hati Kian.
Tepat tengah malam, mereka berangkat menuju medan pertempuran, mengapa mereka bergerak dini hari, agar melengahkan para penjaga The Rock, tujuannya hanya satu menyelamatkan istri Kian, tidak ada damai, Kian akan menyerang Addison dari darat dan udara. Kian Helikopter bersama dengan Shane, Mark dan Andrea dengan sejata lengkap yang mereka punya. Mereka mendaratkan helikopter tersebut agaj jauh dari kediaman Addison, agar tidak terdengar suara dari benda terbang itu.
Mereka semua tampak berjaga-jaga. Sebagian besar anak buah Kian menggukan senapan futuristic, di mana senapan itu tidak menggukan bubuk mesiu. Karena bubuk mesiu akan menciptakan suara keras saat menembakkan pelurunya. Senjata itu menggunakan propulsi elektromagnetik, dengan kumparan penghantar dililit di sekitar tabung (laras) senapan dan ketika arus melewatinya menciptakan fluks magnet melalui pusat. Gaya elektromagnetik kumparan menarik dan meluncurkan proyektil. Dari semua bahan itu peluru berhasil menghancurkan materialnya dan tinggalkan lubang yang sempurna.
Dengan sekejap para penjaga Addison dilupuhkan tanpa ada suara tembakan, mereka semua telah meregang nyawa. Dan kini Kian dan yang lainnya masuk dengan cara mengendap di gelapnya malam.
"Kian ... kau lebih memfokuskan mencari istrimu. Kami akan fokus untuk mencegah dan menyerang Addison!" perintah Andrea setengah berbisik.
Kian mengangguk, dan berjalan menjauh dari Andrea dan Shane, ia hanya ditemani oleh beberapa anak buahnya saja.
•
•
•
Bersambung.
Like komen dong kakak-kakak, biar popku cepet naik, dan aku bisa updatenya.
__ADS_1
Gift dan Vote juga, ya~
Terimakasih.