Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kepemilikan


__ADS_3

Mr. Mafia Bab 9


Matahari telah menyingsingkan lengannya seolah menyambut dengan riang penderitaan yang akan diterima Areta hari ini, gadis kecil itu mengerjapkan mata dan menggerakkan tubuhnya, badannya terasa sakit tulang-tulangnya seolah kaku seperti baru saja berlari cepat.


Sepasang mata coklat memandang dirinya yang sedang menggeliatkan tubuhnya, namun laki-laki itu hanya melihat sepintas lalu sibuk kembali dengan berkas-berkas yang ada di tangannya, seolah pria itu enggan mengganggu Areta sepagi ini.


Areta masih mencoba membuka matanya, manik matanya memindai ke seluruh ruangan, ia tersadar jika semalam ada pertarungan sengit antara ia dan Kian, seketika ia memandang tubuhnya yang masih polos yang hanya tertutupi oleh selimut, matanya langsung mencari-cari di mana keberadaan pria biadab itu. Ia melihat laki-laki itu duduk tenang tanpa mempedulikan dirinya.


"Kau sudah bangun?" tanyanya, mengagetkan gadis itu.


Urat ketegangan langsung menjalar ke seluruh tubuh Areta, yang masih lemas karena baru saja bangun tidur.


"Bangun dan mandilah! Aku akan mengumumkan hal penting untuk semua orang," pungkas pria itu, namun matanya masih memandang kertas-kertas yang ada di pangkuannya.


Mendengar perintah Kian membuat Areta langsung berhambur dan lari ke kamar mandi, dengan membawa serta selimut tebal dengannya.


***


Semua telah siap, Areta mengenakan dress bunga di atas lutut, dengan flatshoes hitam dengan aksen pita emas di atasnya menghiasi kaki indah gadis itu. Sementara Kian bersiap mengenakan stelan empat potong berwarna serba hitam dengan dilengkapi dasi berwarna merah membuat tampilannya seolah seperti lakon dalam drama di televisi yang keluar ke dunia nyata, rambutnya di sisir rapi dengan sepatu hitam mengkilap membuatnya gagah dan tampan.


"Ayo keluar!" perintahnya.


Areta menuruti perkataan Kian dengan berjalan di belakang laki-laki itu, namun tanpa disangka Kian melingkarkan tangannya ke pundak jenjang milik Areta sehingga mereka tampak berjalan beriringan.


Mereka telah sampai di lantai satu, semua pengawal dan pelayan telah berkumpul di sebuah ruang aula. Kian membelah kerumunan anak buahnya berjalan ke depan untuk memberi pengumuman, Areta masih berjalan di samping mafia berdarah dingin itu dengan kepala menunduk.


"Semua perhatikan!" Aura membunuh menguar ke seluruh ruangan tatkala Kian mulai membuka mulutnya, seketika para anak buahnya terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Kalian perhatikan gadis ini! Namanya Areta, aku yakin sebagian dari kalian belum mengenalnya, tapi hari ini aku memaksa kalian untuk bertatap muka dengannya. Ia adalah peliharaanku. Untuk kalian semua di larang menyentuhnya, jika itu terjadi nyawa kalian adalah taruhannya. Dan layani dia sebaik mungkin, karena aku tidak mau jika peliharaanku kelaparan atau kekurangan satu hal pun." Dengan lantang Kian memperkenalkan Areta sebagai peliharaan. Benar-benar biadab, ia menganggap seorang gadis dan merendahkannya seperti itu.


Areta mengepal tangannya dengan begitu kuat, ia ingin memukul Kian namun hasratnya tercekat karena ia tidak memiliki keberanian untuk itu.


"Aku akan berangkat ke negara tetangga, untuk menyelesaikan urusan perdagangan senjata di sana, jadi aku minta kepada kalian semua jaga dia. Jika aku melihat tubuhnya lecet, aku akan membuat kalian semua berakhir di kandang ular derik!" ancam Kian kepada para bawahannya.

__ADS_1


Silda menatap Areta penuh kebencian, ia berpikir jika dewi keberuntungan sedang bersama gadis itu, ia memicingkan matanya karena begitu kesal. Sudah lima tahun ia mengikuti Kian, ia hanya stak di posisi ketua pelayan, dan hal itu membuat Silda kesal setengah mati.


"Kau tak ingin berkata apapun?" tanya Kian menatap gadis itu.


"Pelirahaan mana yang bisa berbicara, majikan!" ucap Areta lirih, mencoba membunuh rasa takutnya kepada Kian.


Kian hanya diam tak memperdulikan kalimat kekesalan yang keluar dari mulut Areta. Kemudian menggandeng tangan gadis itu untuk pergi bersamanya.


***


Kian mempersiapkan sarapan di kebun buah apel untuk mereka berdua, di bawah pohon yang rindang dengan meja kecil dan sepasang kursi, berbagai makanan tersaji di sana, ada salat sayuran, ikan bakar madu, nasi merah salad buah serta jus jeruk favorit Kian.


"Duduk, dan makan sarapanmu. Malam ini aku tidak akan pulang ke rumah, jadi aku ingin menghabiskan pagiku peliharaanku, di sini!" ujarnya.


Areta duduk, matanya menatap benci kepada laki-laki yang terpaut umur cukup jauh dengannya itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah di rendahkan seperti ini. Namun sejak bertemu dengan manusia bengis ini, hidup Areta berubah 180 derajat.


Areta menatap seluruh taman, manik matanya tertuju kepada hamparan indah bunga-bunga yang bermekaran dengan air mancur di tengahnya. Kian yang melihat mata Areta langsung mengikuti pandangan Areta.


"Kau bisa berkebun, jika kau mau." Kian membuka kebisuan diantara mereka.


***


Kian telah pergi, Areta bisa menarik napas lega karena terlepas dari monster itu, ia berjalan perlahan menyusuri lorong menuju kamarnya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Irene yang menghadangnya.


"Bagaimana keadaanmu, Reta?" tanyanya khawatir.


"Baik ... hanya saja suaraku sedikit serak karena semalam aku berteriak terlalu kencang di atas akuarium hiu."


"Apakah Kian akan membunuhmu semalam?" tanyanya lagi.


"Ya ... ia akamenceburkan diriku di kolam hiu jika aku melarikan diri lagi."


"Kau takut?"

__ADS_1


"Ya ... mana ada orang yang tidak takut jika ia akan di santap oleh hiu-hiu lapar."


"Kau tak ingin lari lagi?" tanya Irene.


"Ingin akan tetapi itu akan menjadi hal yang sia-sia jika aku melakukannya lagi."


Iren menarik napas panjang, ia membawa Areta untuk masuk ke kamarnya, ia mengunci rapat pintu kamarnya agar tidak ada satu orang pun yang mendengar percakapan mereka.


"Aku bisa membantumu keluar!" ucap Iren tegas.


Bola mata indah milik Areta memancarkan tatapan penuh tanya kepada Irene.


"Nona ... aku pikir kau adalah orang terdekat Kian, tapi mengapa, kau seperti ingin mencurangi Kian?" tanya Areta curiga.


"a-aku hanya ingin membantumu, Areta. Aku tidak tega melihatmu diperlakukan seperti ini."


Areta mengembuskan napasnya, lalu ia menarik napasnya dalam-dalam. " Konsekuensi apa yang akan aku peroleh jika tertangkap?"


"Tidak ... kau tidak akan tertangkap, Kian sedang tidak berada di negera ini. Dan jika ia tidak ada, akulah yang memegang tongkat kekuasaan di dalam rumah ini!" ucap Irene berkelakar.


"Oh ... jadi kau bisa menjaminku, jika aku tidak akan tertangkap?"


"Ya ... aku jaminannya."


Areta ragu dengan ucapan Irene, ia memicingkan matanya menatap curiga kepada perempuan cantik itu.


"Hmmmmm ... Baiklah, aku akan mempercayaimu, Nona."


"Aku akan memberikan tiker untukmu, kau bisa pulang ke rumahmu, Areta."


Mendengar kata rumah, membuat Areta bersemangat. Ia sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Ia merindukan saat-saat bersama ibunya. Dan ia akan pergi ke makam ibunya dengan damai, tanpa mafia bernama Kian Egan.


Jangan lupa Like, Komen dan Vote..😉

__ADS_1


Terimakasih dan Papay


__ADS_2