Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Brian Mc Lion


__ADS_3

Mr. Mafia 88


Indahnya malam tengah samudra di atas kapal mewah. Areta berdiri menatap kelamnya laut yang berselimut gelap dengan kilatan cahaya bulan yang menerpa air menciptakan pemandangan yang begitu memukau.


Kian dan semuanya telah terhanyut dalam pesta bersama semua orang, dan ia memilih pergi untuk berjalan menyusuri kapal mewah milik ayahnya.


Saat tengah asyik berjalan perlahan, denting suara piano yang menciptakan nada indah, menggetarkan hati Areta, siapakah gerangan yang telah memainkan alat musik tersebut, dengan susah payah ia mencari, hingga ia mendapatkan sebuah jawaban di geladak utama, seorang pria memainkan piano dengan begitu piawai—hingga membuat Areta terkesan kepadanya, belum sempat Areta berjalan menghindarinya, seolah mengerti sedang diawasi, pria itu menghentikan permainannya, dan menoleh ke belakang, di mana Areta berdiri.


Mengetahui dirinya dipergoki karena telah diam-diam mengintip pria itu bermain piano, seketika Areta kaku, entah mengapa kakinya tidak bisa digerakan. Bahkan saat lelaki itu mendekatinya, Areta tidak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa terdiam dan menelan ludahnya sendiri karena gugup.


Pria itu mendekat, sosok tinggi tegap, dengan stelan tiga potong berwarna hitam, di padu sepatu senada dengan baju yang ia kenakan, tampak mengkilat di bawah terangnya rembulan malam. Areta bahkan bisa merasakan degupan kencang jantungnya sendiri, ia bertanya di dalam hati. Siapa pria ini dan berani sekali ia mendekatinya. Perlahan ia telah sampai tepat di hadapan Areta. Hingga membuat wanita itu memejamkan mata dan seketika menahan napasnya sendiri.


Jari pria itu dengan berani menyentuh lembut pipi mulus Areta, dan tanpa di sangka ia juga mengecup bibir merah delima milik istri mafia itu. Berani sekali ia memperlakukan Areta seperti itu—apakah ia tidak tahu, jika Areta adalah istri dari Kian? Ataukah ia ingin mencari penyakitnya sendiri, karena berani mencium bibir Areta, bila Kian tahu, bisa-bisa kepala pria itu akan diledakkan dengan sekali lemparan bom molotov karena murkanya Kian.


"Good night," ucapnya lembut, lalu pergi berlalu meninggalkan Areta yang masih membisu.


Saat pria itu telah menjauh, barulah Areta bisa kembali menarik napas kembali, hampir saja ia megap-megap karena terlalu lama menahan napasnya sendiri, lalu ia menatap lelaki yang mulai hilang di bawah gelapnya malam, jantungnya terus berdetak tak terkendali. Lalu ia berjalan perlahan menuju kamarnya untuk menenangkan pikirannya sendiri.


Setelah berjalan beberapa lama, dan susah payah. Kini Areta telah sampai di depan pintu kamarnya. Dengan waspada dan menengok ke kanan dan ke kiri, karena takut jika lelaki tadi mengikutinya, perlahan ia masuk ke dalam, tapi—


"Mengapa kau mengendap-endap?" Suara Kian mengagetkan Areta, hingga membuatnya memekik kaget.


"Astaga!" Areta memegang dadanya sendiri, karena merasa jantungnya seolah akan lompat—saking kagetnya.


Areta mencoba tenang, menarik napas perlahan lalu mengembuskannya—perlahan pula.


"Ada apa? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Kian.


Cepat-cepat Areta menggelengkan kepala, ia menutupi kejadian tadi. Karena ia tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, dan sejak kapan ia berada di kapal ini, mungkin saja dia adalah hantu penunggu kapan. Pikir Areta.

__ADS_1


"Hoam ...." Areta pura-pura menguap untuk menutupi kegugupannya.


"Sayang. Aku mengantuk," rengeknya manja.


"Tidurlah, aku akan menemani Papamu minum," jawab Kian.


"Jangan tidur malam-malam!" Wanti-wanti Areta.


Kian mengangguk lalu pergi keluar.


***


Areta berdiri di dek depan kapal, menatap pemandangan laut, ia menikmati deburan ombak, dan beberapa ekor lumba-lumba yang berenang beriringan dengan kapal yang ia naiki, seolah mereka ingin adu cepat dengan pesiar mewah yang tengah melaju kencang. Tiba-tiba seseorang menarik paksa Areta untuk menghadap ke depan. Betapa terkejutnya ia—jika orang yang berani kurang ajar itu, adalah pria yang semalam ditemuinya.


Dan tanpa permisi ia mencium Areta dengan serampangan, mel*mat bibir Areta dengan begitu ganasnya, hingga untuk bernapas saja ia begitu sulit, tubuh Areta ditekan kuat, ciuman itu kini berpindah ke leher jenjangnya, dan meninggalkan noda merah di sana, sebagai tanda cinta. Dengan susah payah Areta mendorong pria tidak di kenal itu, namun usahanya sia-sia. Ia benar-benar sekuat superman. Tidak bisa digeser sedikitpun.


Ia kembali merebahkan tubuhnya, menyentuh dadanya sendiri karena gugup.


'Siapa pria itu, dan mengapa ia mengganggu pikiranku?'


Areta membatin, ia tidak habis pikir, mengapa ini terjadi.


***


Esok paginya, ketika Kian dan Areta berjalan menuju tempat makan di geladak utama, untuk sarapan pagi. Tiba-tiba langkah Areta terhenti tatkala melihat lelaki tersebut berdiri tepat di belakang ayahnya.


'Mengapa lelaki itu berdiri di depan Papa?' Areta bertanya dengan hatinya sendiri.


"Sayang, mengapa langkahmu terhenti?" tanya Kian, mulai merasa Aneh.

__ADS_1


"Ti–tidak apa—" Areta menjawab gugup.


Dari kejauhan Addison tampak antusias dengan kedatangan putrinya bersama menantunya.


"Nak ... ayo segera duduk!" pintanya.


Areta tersenyum canggung, menatap lelaki tampan di belakang ayahnya, yang seolah melupakan kejadian semalam ketika ia mengecup bibirnya.


Kian mempersilakan Areta duduk terlebih dahulu, kemudian baru dirinya yang duduk. Semua telah bersiap sarapan. Namun sesuatu keputusan yang mendadak tampak membuat Areta menjadi sungkan.


"Oia ... perkenalkan, dia adalah Brian Mc Lion, ia adalah penembak jitu, serta pengawal terbaik dikelasnya," ucap Addison menunjuk ke arah pria semalam.


"Perkenalkan saya, Brian. Saya ditugaskan di sini untuk menjadi pengawal pribadi nona Areta."


Areta pun tersedak bersamaan saat lelaki itu berkata akan menjadi pengawalnya, ia juga tengah meminum segelas susu almond yang di sediakan para koki.


"Uhuk ...."


"Pelan-pelan, Honey!" ucap Kian, dengan menepuk-nepuk punggung Areta dengan lembut.


"Pe–pengawal?"


"Ya, Papa pikir kau butuh pengawal pribadi saat suamimu telah bergugas," jawab Addison lugas.


Bersambung~


Uwaow benih cinta segitiga. Pebinor gaes.


Saatnya cinta diuji, bukan pelakor, tapi pebinor. whahahahha~

__ADS_1


__ADS_2