
Mr. Mafia bab 47
Melihat Kian terus merangkul sang istri membuat hati Irene tentu saja mengganjal, pasalnya selama sepuluh tahun ia bersama dengan Kian belum pernah Kian bersikap lembut kepadanya, hanya dua wanita yang diperlakukan serius seperti itu, satu Anastasya dan dua adalah Areta. Hal itu membuat relung hati Irene sakit melihat kenyataan ini.
Ingin rasanya ia berlari menjauh, tapi ia benar-benar tidak ada tempat berpulang untuk saat ini. Hanya rumah ini satu-satunya tempat untuk berteduh dan kemewahan dari Kian yang selalu membuat dirinya nyaman.
Irene berjalan dengan gusar menuju ke area belakang rumah, dengan air mata yang mulai merembes di sela-sela matanya, sesekali wanita itu mengelap air matanya itu, namun tiba-tiba....
Bruk....
Irene menabrak sesuatu yang keras, hampir saja ia terpelanting jatuh namun cepat-cepat sebuah tangan menangkap tangannya agar ia tidak jatuh tersungkur di lantai. Irene menangkap sosok tegap itu, sementara sesuatu yang ditabraknya adalah dada bidang milik Mark, hal itu tentu saja berhasil membuat Irene mendengus kesal.
"Apakah dadamu itu terbuat dari batu, sehingga begitu keras?!"
Mark tampak bingung mendengar perkataan Irene, jujur saja memang dari dulu Mark selalu memperhatikan Irene sebagai majikannya, bukan sebagai wanita. Akan tetapi melihat air matanya akhir-akhir ini membuat Mark gusar. Padahal selama hidupnya ia selalu kejam dengan semua lawan Kian, meskipun ia wanita pun, Mark akan membuatnya bertekuk lutut kepada Kian.
"Aku hanya sering berolah raga, Nona" jawab Mark tegas.
Mata Irene langsung menyambar mata Mark yang tampak sayup tanpa ekspresi tersebut, tentu saja hal itu membuat Mark berhasil salah tingkah, hatinya berdebar seolah seperti dihantam oleh benda keras karena mata mereka saling beradu, beberapa kali Mark menelan ludahnya sendiri.
"Apakah kau akan mempertahankan ekspresimu yang dingin itu, hingga kau tua? Kau tidak akan mendapatkan jodoh jika sorot matamu seperti robot. Wanita-wanita juga akan takut terhadapmu!" sembur Irene, masih memperhatikan wajah Mark yang nampak datar itu.
"Aku hidup bukan untuk menikah, tapi untuk melayani boss Kian!" jawab Mark tegas.
Irene terkekeh, lalu menepuk tangannya sendiri mendengar pengakuan dari Mark yang tampak begitu setia dengan Kian.
"Hei... kau tahu berapa kali Kian tidur dengan wanita? Jangan-jangan kau masih perjaka, belum pernah menyentuh wanita manapun?" ledek Irene, dengan senyuman kecut sengaja di arahkan kepada Mark.
Benteng pertahanan Mark hampir goyah, ia tampak kebingungan menjawab pertanyaan pribadi yang dilontarkan oleh Irene, pasalnya apa yang dikatakan oleh wanita itu adalah benar. Selama hidupnya ia tidak pernah menyentuh wanita manapun, seolah hatinya yang dingin itu sangat sulit untuk mencair.
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan wanita, Nona!" ucapnya tegas.
"Benarkah? Kita bisa lihat saja nanti!" Irene berjalan keluar meninggalkan Mark yang masih terpaku dengan kata-kata Irene, namun sedektik kemudian ia mampu menguasai diri, dan kembali ke posisi di mana ia akan selalu menjadi robot penurut untuk Kian.
***
Malam menjelang, sebuah pesta kecil untuk menyambut kesembuhan Areta telah siap, semua ikut serta, karena pesta ini hanya dihadiri oleh para orang-orang Kian saja tanpa ada orang luar.
Saat Areta tengah asik menikmati sebuah hidangan, tiba-tiba sosok yang ia kenal menghampirinya, seorang wanita cantik paruh baya yang dulu pernah mengaku sebagai teman ibunya dan berjanji akan membantunya menemukan ayahnya. Tapi nyatanya ia malah menjual hidup Areta kepada Kian.
Yosiana bertepuk tangan, senyuman mengembang menghiasi wajahnya yang masih cantik di umurnya sekarang.
"Aku harus memanggilmu apa? Gadis kecil atau Nyonya Areta?" tanyanya, dengan nada menggelitik terselip di sana.
"Terserah kau saja, Nyona Yosiana," jawab Areta acuh.
Yosiana duduk dengan begitu anggun di hadapan Areta, menuangkan segelas anggur merah ke dalam gelas kristal yang tersedia di sana.
Seketika Areta mengarahkan bola matanya untuk menatap sosok yang ada di depannya itu.
"Berterimakasih? Untuk apa? Berterimakasih karena telah menjualku kemari?" tanya Areta, mulai tersulut emosi.
"Tentu saja, jika bukan karena aku. Kau tidak akan memiliki kehidupan seperti ini, dipenuhi kemewahan dan laki-laki yang selalu melindungimu."
Areta tertawa sambil menutup mulutnya, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah.
"Seharusnya di umurmu yang mulai uzur dan mendekati kematian, kau berhenti menyuplai dan menjual manusia yang kau dapat secara gratis hasil menipu, lalu kau jual dan dijadikan budak oleh para mafia. Kau tidak tahu betapa menyedihkannya kami. Dan aku hanyalah contoh orang yang beruntung, tapi kau tidak tahu, mungkin saja orang-orang yang kau jual itu sudah mati ditangan orang-orang begis, mereka meregang nyawa tanpa dosa. Apakah kau tidak pernah merasa bersalah, Nyonya Yosiana?!" Akhirnya Areta menumpahkan kekesalananya untuk Yosiana, wanita yang telah menjualnya kepada Kian.
"Lancang kau, Areta!" teriakan Yosiana mampu mengalahkan suara musik yang beradu di ruangan tersebut, sehingga dapat membuat orang-orang berpaling karena mendengar seruannya, hal itu juga Kian dengar dari lantai dua saat ia sedang berbicara serius dengan Shane.
"Kenapa? Apakah benar? Seharusnya kau taubat, agar Tuhan mengampuni dosamu, sebelum ajal menjemputmu!" dengus Areta.
__ADS_1
"Kau pikir kau siapa, hanya karena kau istri Kian, kau berani berkata kurang ajar padaku, akan kurombek mulutmu!"
Areta tersenyum sinis, memandang rendah ke arah wanita itu.
"Sebelum kau merobek mulutku. Otakmu akan terburai terlebih dahulu dengan senjata api yang dimiliki semua bodyguard rumah ini!" tandas Areta, kemudian berjalan pergi meninggalkan Yosiana yang lidahnya tampak kelu tak bisa menjawab kata-kata Areta.
Dari lantai dua Kian tampak tersenyum melihat drama yang tercipta antara Areta dan Yosiana.
"Mengapa kau tersenyum?" tanya Shane, memindai wajah Kian.
"Areta telah berubah. Dari sebelumnya ia adalah seekor kelinci kecil, kini ia telah berubah menjadi singa menakutkan, dan aku sangat menyukainya," kata Kian sembari tersenyum menatap Areta.
"Bukankah kau tertarik kepadanya sejak saat pertama bertemu?" Shane meledek Kian hanya untuk memprofokasi sahabatnya itu.
"Omong kosong macam apa ini, Shane!Mana pernah aku jatuh hati kepada seorang wanita? Kalau bukan hanya untuk tubuh dan kehangatannya saja!" seru Kian.
"Ingat kejadian Anastasya, kau berkata tidak mencintainya. Tapi saat ia mati, kau sangat kehilangan dia bahkan kau terpuruk saat itu. Jadi pesanku, jaga baik-baik Areta, jangan sampai kejadian Anastasya terulang kembali."
Kian terdiam, ia hanyut dalam. lamunannya. Ia ingat betul saat Anastasya mati di hadapannya, benar. Dia satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan jiwanya. Tapi untuk Areta, ia masih bingung, apakah ia benar-benar memiliki perasaan untuk istrinya atau tidak.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa kalian juga bisa mendengar AudioBook Mr. Mafia dengan suara saya sendiri.
__ADS_1
Terimakasih sampai jumpa~