Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Gadis kecil


__ADS_3

Mr. Mafia bab 32


Areta mengerjapkan mata, pandangannya kabur setelah kembali tak sadarkan diri ketika dirinya histeris dan berontak dan berakhir dengan suntikan bius yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya, Tubuh Areta sangat susah bergerak, karena tangan dan kakinya terikat pada tempat tidur mewah yang terdapat pada ruang VVIP tersebut.


Matanya langsung menangkap sosok yang dari tadi duduk tak jauh dari tempat tidurnya itu, laki-laki itu menatap tajam Areta yang masih terus mencoba berontak.


"Kau tidak bisa lagi bergerak, Areta?! Lebih baik kau menyerah!" seru Kian dengan nada penuh penekanan, mencoba menanamkan intimidasi di otak Areta.


Namun meskipun Areta tidak mempunyai keberanian untuk melawan Kian dalam hal fisik, akan tetapi mulutnya tidak bisa berhenti untuk mengumpat laki-laki itu, padahal jika Kian tersinggung itu akan menjadi hal yang fatal untuk hidup Areta.


"Kau mau jika aku buang air kecil di atas ranjang ini?" ungkap Areta lirih, suaranya seperti tercekat karena energi yang belum terkumpul sempurna.


"Kau mau buang air kecil? Sudahlah kau bisa melakukannya di situ!" jawab Kian santai, lalu kembali membuka surat kabar nya hari ini.


Areta menarik napas panjang, kini ia sudah tidak tahan lagi dan mendengus kesal. "Kian! Coba kau menjadi aku, bisakah kau buang air kecil di atas ranjangmu?"


Kian kembali menatap Areta dengan wajah malas."Tentu saja aku tidak akan bisa," sahutnya santai.


"Lalu kau ingin aku melakukannya? Lepaskan aku!"


Kian meletakkan koran di atas meja dan mendekat ke arah Areta, menatap manik mata istrinya dengan sangat serius.


"Jika aku melepaskanmu, kau tidak boleh bertindak bodoh apalagi histeris seperti yang kau lakukan pagi ini! Jika itu terjadi aku akan suntik mati dirimu, agar nyawamu melayang!" desis Kian. Lalu melepaskan ikatan Areta. Semantara Areta yang sedikit bergidik mendengar ucapan Kian, masih mencoba kuat seakan ia tidak ingin dianggap lemah oleh laki-laki itu.


Areta perlahan terduduk tanpa bantuan Kian, dengan susah payah dan kepala begitu berat, ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya, Kian hanya diam tanpa melakukan apapun untuk istrinya itu.


Saat Areta akan menyeret tiang infus dan berjalan, meskipun langkah kakinya terlihat gamang, tiba-tiba Areta sempoyongan dan jatuh.


"Areta!" seru Kian mencoba menangkap tubuh istrinya, namun sia-sia. Areta sudah terjatuh di lantai, ia tampak meringis kesakitan karena itu.


Kian mencoba membangunkan tubuh Areta, dan memapah tubuh Areta hingga sampai ke toilet.


"Pelan-pelan!" pintanya.


Saat Areta telah sampai di ambang pintu toilet, Laki-laki itu hendak ikut masuk juga, tapi cepat-cepat Areta menghalau tubuh mafia itu.


"Kau tunggu di sini! Apakah kau akan mengintipku?" dengus Areta.


"Cih... terlalu khawatir, bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah kulihat?" kelakar Kian dengan wajah serius.

__ADS_1


Areta masa bodoh dengan apa yang diungkapkan laki-laki itu, dia hanya berfikir bagaimana menumpahkan hasratnya ingin buang air kecil di dalam toilet tersebut.


Tak lama kemudian Areta selesai, ia membuka pintu kembali, dan mendapati Kian masih berdiri di depan pintu toilet menunggunya.


Areta memindai tubuh Kian dengan kedua manik mata birunya, ia menatap Kian dan berkata dalam hati.


"Kukira dia tidak akan menungguku"


Kian yang berdiri menempel di tembok dan tangan bersedekap langsung bersikap waspada saat Areta membuka pintu, dirinya langsung menangkup kedua pundak Areta lalu memapahnya kembali. Areta sedikit heran, mengapa Kian tampak begitu lembut dan baik kepadanya hari ini.


Saat Kian menidurkan Areta, ia menatap kaki istrinya yang lecet tersebut, mungkin ini luka yang di akibatkan Areta jatuh tadi.


Kian langsung meraih laci yang terdapat pada nakas, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih. Perlahan Kian duduk di pinggir kasur lalu meletakkan kotak kecil di atas pangkuannya. Lalu mengambil obat dan lapas untuk membersihkan luka Areta.


"Kau tidak perlu melakukannya!" cegah Areta, dengan tangan mencoba menghalau Kian.


"Kau bisa infeksi karena ini, biarkan aku melakukannya!"


Kian mengobati luka Areta dengan hati-hati. Areta merasa tidak nyaman karena hal tersebut, karena bukan tabiat mafia ini, jika ia terlihat baik kepada dirinya.


"Apa yang terjadi dengan Lyana?" tanya Areta penasaran.


"Hah ...! Maksudmu?"


"Hiu-hiuku yang telah membunuhnya," ucap Kian lagi.


"Kau kejam, Kian. Pantas saja kau dianggap mesin pembunuh!" umpat Areta.


Mendengar perkataan Areta membuat Kian menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah Areta dengan sangat serius. "Dia telah membunuh anakku, dan aku tidak bisa memaafkannya!"


Areta hanya bergeming saat mendengar kalimat anak dari mulut Kian, oh ... ia lupa jika Kian sangat menginginkan anak, apakah hal ini yang membuatnya berubah baik kepada dirinya, jadi sebenarnya kelembutannya bukan berasal dari hatinya. Areta sungguh tertipu.


"Apakah kau menginginkan anak dariku?" Pertanyaan Areta membuat Kian terkekeh sejenak, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah serius lalu mengangkat pinggir bibirnya.


"Apakah kau lihat aku menikahi wanita lain? Kau hanya satu-satunya istriku! tentu saja aku hanya menginginkannya darimu," jelas Kian, membuat jantung Areta berdegup kencang.


"Kau bisa tidur dengan siapa saja, uangmu banyak dan kau bisa memiliki anak dari perempuan yang kau mau!" seru Areta.


"Yang kumau adalah kau!" Kian menujuk wajah Areta dengan jari telunjuknya. "Aku memang tidur dengan banyak wanita, bahkan dengan artis paling mahal pun aku bisa melakukannya, tapi untuk memiliki keturunan, aku sangat pemilih. Siapa wanita yang akan melahirkan anak-anakku," ungkap Kian, suaranya pelan dan diucapkan lambat-lambat namun berhasil menciptakan teror untuk Areta.

__ADS_1


"Jadi ini bukan soal perasaan? Tapi soal siapa yang bisa melahirkan anak untukmu?!" sahut Areta lirih.


"Jangan bermimpi untuk jatuh cinta kepadaku, Areta! Kau akan merasakan sakit hati sendiri!" desis Kian, lalu pergi meninggalkan Areta yang masih menyimpan seribu tanya.


***


Hari telah berganti hari, Kini tubuh Areta telah pulih seutuhnya, racun dalam dirinya pun sudah hilang. Shane juga memperbolehkan Areta untuk pulang.


Kian menjemput Areta di rumah sakit setelah beberapa hari mereka tidak bertemu, Kian terlalu sibuk untuk sekedar menjenguk istrinya, dan ia membiarkan Areta hanya di jaga oleh beberapa bawahannya yang berjaga secara bergantian.


**


Saat telah sampai ke dalam rumah, tiba-tiba Areta di sambut oleh seorang anak kecil dengan pakaian pelayan yang begitu ramah. Areta bertanya sejak kapan Kian memiliki pelayan seorang anak kecil.


"Selamat datang, Nyonya ..." sapa gadis kecil tersebut.


"Hei ... siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Areta mengelus pipi lembut gadis itu.


"Namanya Celine, dia baru saja dibawa oleh Yosiana, dia dibawa karena ayahnya sengaja menjualnya kepada kami." Silda menyahut dan menjawab pertanyaan Areta.


"Apa?!" Areta kaget melihat Celine yang begitu kecil, namun sudah merasakan penderitaan hidup sepertinya, di jual kepada mafia seperti Kian.


"Kian... bolehkan kau tempatkan Celine sebagai pelayan pribadiku?" tanya Areta setengah memohon.


"Tidak! Siapa tahu jika dia juga suruhan The Rock. Kita tidak pernah tahu, Areta!" tolak Kian secara mentah-mentah.


"Aku yang jamin! Dia hanya gadis polos." Mata Areta menatap iba kepada gadis yang usianya sekitar 10 tahun itu.





Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen dan Vote 😘


Celine Alisha

__ADS_1



__ADS_2