Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Misi Berhasil


__ADS_3

Mr. Mafia 97


Areta tahu betul ini tidak akan mudah ia lalui. Mengingat—sedetikpun ia tidak pernah berpisah dari Kian, ada secuil rasa takut yang menggerayangi hatinya, bersemayam di otaknya. Tapi ia tetap melepas sang suami dengan senyum penuh keiklasan. Sementara Irene tidak kuasa menahan tangis air mata, hingga Areta harus repot-repot memeluk dan memenangkannya. Si pengantin baru yang baru beberapa minggu mengecap manisnya rumah tangga, kini ditinggal bertaruh nyawa seolah mereka adalah pahlawan untuk keluarga mereka masing-masing.


Kian, Mark, Shane, nicky, dan Brian bertolak menuju negara Lemonilo, untuk menyelesaikan misi pemberontakan yang ada di negara tersebut. Kian berniat membumi hanguskan wilayah kekuasaannya yang satu itu, dan akan menyisakan puing rongsokan tak tersisa di sana. Yang pertama mereka lakukan adalah pergi ke pemakaman Mr. Smith, orang yang dipercaya Kian untuk menangani urusan di negara ini. Tapi ketika pemberontakan itu berlansung, dan Smith meninggal dengan bom yang menyerang gudang senjata di sana. Membuat hati Kian terasa teriris, terlebih lagi melihat istri dan anak-anak lelaki tersebut, yang begitu tak kuasa kehilangan suami dan ayah mereka, hingga membuat Kian tanpa sadar mengepal dan bersumpah akan membunuh Alehandro yang sudah kurang ajar mencabut nyawa Smith dengan paksa. Kian juga berjanji pada dirinya sendiri membuat Alehadro merasakan hal yang sama seperti apa yang di alami oleh Smith.


"Thank you Mr. Kian." Dengan tangan mengusap air mata, Mrs. Smith memeluk kedua putrinya, sementara bayi kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa tertidur di dalam gendongan seorang pengasuh.


"You're welcome, Mrs. Saya harap Mr. Smith damai di Surga," jawab Kian, dengan wajah teduhnya. "Salam dari Areta. Maaf dia tidak bisa turut serta, karena sedang hamil," imbuhnya lagi.


Wanita muda itu hanya mengangguk lemah, ia masih tidak kuasa membendung kesedihannya sendiri.


Setelah menghadiri pemakaman dari Smith mereka bertolak ke gudang tempat produksi senjata api di mana Smith tewas. Kian ingin mengepung tempat itu dengan cara diam-diam—dengan bantuan dari ayah mertuanya, ia berniat untuk membombardir tempat itu hingga tidak tersisa.


Tak berapa lama tim Kian telah menguasai dan mengepung tempat tersebut, adegan tembak menembak pun tak terelakkan, dengan begitu sengitnya ribuan peluru dimuntahkan dari senjata api yang mereka bawa. Mark dan Shane terus melindungi Kian, sementara Nicky yang ditugaskan untuk menjaga Brian secara diam-diam, juga melindungi calon raja itu dengan cara diam-diam pula.


Saat semua telah dilumpuhkan, ke lima orang itu merangsek masuk ke dalam kantor untuk mencari keberadaan Alehandro. Namun pria itu tiba-tiba muncul dari balik tembok dengan rompi penuh berisi bom.


"Mendekatlah!" teriaknya dengan memegang sebuah remot di tangan kanannya.


"Boss hati-hati!" teriak Mark, mencoba mencegah Kian untuk merangsek masuk.


"Kurasa ia tidak akan berani meledakkan bom itu, karena dia takut mati!" pekik Kian sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Ha-ha-ha—ketika Anda mengepung tempat ini, harapan kuhidup sudah menipis, jadi satu-satunya jalan adalah membuat kita semua mati bersama di sini," kelakar pemberontak itu.


Saat ia akan menekan remote bom tersebut, dengan sekali tembakan. Brian membuat benda itu jatuh dari tangannya. Dan seketika meminta semuanya berlari keluar untuk menyelamatkan diri, sebelum Alehandro mengambil kembali remote itu.


Susah payah sambil mengerang menahan rasa sakit, pria itu mengambil remote yang sempat terjatuh, lalu bersiap menekan bom yang ada di seluruh tubuhnya, namun ke lima orang tadi sudah berlari menjauh darinya, saat itu juga Alehadro mau tak mau tetap menekan bom itu, dan—


Duarrrrrr ....


Suara ledakan dan api keluar dari dalam gedung itu, diikuti dengan kepulan asap hitam pekat yang membumbung hingga ke langit, sementara akibat kerasnya suara bom itu, membuat semua telinga semua orang berdegung untuk beberapa saat bahkan indera pendengaran mereka tidak berfungsi dengan baik.


Saat Mark mencari keberadaan Kian, lelaki itu tampak ling lung tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan anak buahnya itu. Yang ada hanya suara nging yang dapat Kian dengar.


"Boss ... boss ...." Untuk beberapa saat barulah Kian tersadar dan mendengar apa yang diucapkan Mark.


Dari balik asap, Shane dan Nicky memapah tubuh yang tidak asing untuk Kian. Itu adalah Brian, apakah ia terkena serpihan bom? Kian sangat khawatir.


"Kenapa dengan putra mahkota?" tanya Kian.


"Dia terlempar agak jauh," jawab Shane. "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."


Mereka pergi dari tempat itu, dan membiarkan polisi mengepung gudang senjata api ilegal dan mengatas namakan Alehandro sebagai pemililnya. Dan Kian dan yang lainnya mencuci tangan atas kejadian itu. Polisi juga tidak dapat mengusut tuntas karena Alehandro telah mati dan bahkan tubuhnya hancur tak tersisa.


***

__ADS_1


Areta terus bolak-balik di dalam kamar, tanpa makan dan minum. Ia terus menerus mengintip layar ponselnya sembari menggigit kuku-kukunya karena luar biasa takut dan khawatir.


Hingga tak lama ponselnya bergetar, ia melirik dan melihat nama Kian di sana, dengan secepat kilat ia menyambar benda berlayar sentuh tersebut.


"Halo ...."


"Sayang."


"Apakah semua baik-baik saja?"


"Ya ... aku akan segera kembali."


"Syukurlah." Areta menarik napas lega.


"Kau jangan lupa makan!"


"He'hem ... aku akan makan sekarang," jawab Areta.


"Bagus, aku tutup teleponnya, oke!"


"Ya, hati-hati."


"Oke!"

__ADS_1


Wanita hamil itu memeluk ponselnya sendiri. Ia langsung keluar meminta makanannya kepada pelayan untuk mengisi tenaga, karena ia tahu bahwa suaminya baik-baik saja.


__ADS_2