Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pertarungan Batin


__ADS_3

Mr. Mafia Bab 69


Rasa itu telah mati, keinginannya bertemu dengan sang ayah telah pupus. Kecewa dan marah itu yang dirasakan oleh Areta saat ini.


"Tidak ... jangan pernah berharap, jika saya akan mengakui Anda sebagai orang tua saya!" seru Areta tegas, air matanya tampak berlinang, namun tidak sampai jatuh di kedua pipinya.


Addison tampak terkejut, ia tidak kuasa menahan air mata penyesalannya selama ini, ia ingin memeluk anaknya meskipun itu hanya untuk terakhir kali saja. Tapi sepertinya Areta terlalu dendam dan membencinya, hingga hatinya diliputi amarah kepada sang ayah.


Mata Areta menyambar sosok yang berdiri di samping Addison, wanita paruh baya yang sangat rupawan, istri dari ayahnya. Areta juga menganggap jika Elma merebut Addison dari sang ibu. Matanya tampak memicing, bibirnya menipis. Dirinya benar-benar tidak kuasa lagi, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan perawatan Addison.


Areta berjalan cepat, menyeka air matanya dengan tangannya, ia tidak ingin repot-repot menumpahkan tangisannya hanya untuk manusia seperti ayahnya itu.


***


Dada Addison tampak sakit, setelah mendapat perlakukan dari Areta, ia meringis kesakitan menahan nyeri.


"Add... tenangkan dirimu!" pekik Elma, wanita paruh baya itu nampak gusar dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


Shane yang masih berada di dalam ruangan perawatan Addison tampak bertindak memeriksa keadaan pasiennya itu.


"Tenanglah Tuan Addison! Aku akan membujuk mereka berdua nanti." Shane mencoba menenangkan pasiennya itu, dan memanggil dokter spesiali jantung yang merawat Addison.


**


Kian meraih tangan Areta, lalu membenamkan tubuh Areta ke dalam pelukannya, ia mengelus lembut rambut Areta dan menenangkannya.


"Tenanglah, honey! Aku tahu kau sakit hati dengannya. Kau butuh waktu menerima ini semua, dan kau jangan gegabah menentukan keputusanmu, Areta!" ucap Kian lirih.


"Tapi aku tidak bisa menerimanya, Kian!" Air mata Areta mulai tumpah membasahi kedua pipinya, sakit yang ia rasakan sungguh amat sangat, ia kehilangan figur seorang ayah, bahkan saat ibunya sakit dan meninggal dunia The Rock tidak pernah menampakan batang hidungnya sekalipun, padahal Areta tidak tahu, jika saat itu The Rock tengah berada di dalam penjara.


"Kenapa aku yang harus menerima ini semua?!" imbuh Areta lagi.


Kian melepaskan pelukan istrinya, lalu berkata, "Ayo kita kembali ke ruangan Shane, menunggunya di sana."

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju ke ruangan Shane untuk menunggunya di dalam, Kian sudah mengirim pesan lewat aplikasi pesan singkat, agar Shane segera datang menemui mereka di ruangannya.


Tidak butuh waktu lama, Shane membuka pintu ruangannya, yang didominasi warna putih itu, dengan langkah perlahan ia masuk dan duduk di atas kursinya. Sementara Kian dan Areta duduk di atas sofa menunggunya sejak tadi.


"Ia–The Rock. Jantungnya bermasalah, aku tidak tahu apakah ia akan bertahan tadi." Shane membuka percakapan dengan nada serius.


Wajah Kian berubah, ia memandang sang istri yang lebih memilih membuang muka ke samping, enggan memperlihatkan kegusarannya.


"Maksudmu apa?" tanya Kian penasaran.


Shane tampak menarik napas, dan menghembuskannya perlahan. The Rock sangat syok dengan penolakan Areta, kupikir itu pukulan terberat untuknya.


Mendengar itu, Areta yang bergeming tidak bisa menutupi kegalauan dalam hatinya, ia meremas clutch bag putih yang ia bawa. Ia tidak ingin mengakui sang ayah, tapi itu sangat bertolak belakang dengan nuraninya, mungkinkah ini ikatan seorang ayah dan anak. Sebenci apapun kau dengan ayahmu, tetap saja darahnya mengalir di dalam darahmu, kau tidak akan bisa melawan takdir dan kodrat dari illahi.


"Oia... Shane, kapan hasil DNA kapan bisa keluar?" tanya Kian sembari melirik sang istri.


"Paling cepat lima hari ke depan atau mungkin paling lama bisa satu bulan."


"Apakah harus selama itu?" tanya Kian.


Tiba-tiba Areta berdiri, ia menatap Kian dan Shane secara bergantian. Dengan mulut terkunci, ia berlari keluar menuju ke kamar The Rock. Sementara Kian yang sangat terkejut mengikuti sang istri, berlari untuk Mengejarnya.


Areta telah sampai, tidak jauh dari pintu kamar rawat inap sang ayah. Ia berhenti sejenak, ia telah tak kuasa mendengar penjelasan Shane tadi. Ia tersadar, lalu memindai kanan dan kiri.


'Mengapa aku ke sini?'


Areta berucap dalam hati, lalu hendak berjalan menjauh dari kamar itu, namun sebuah suara memanggilnya.


"Areta!"


Areta pun menengok ke arah sumber suara, ia melihat Elma tengah berdiri tak jauh dari dirinya.


"Ayahmu ...."

__ADS_1


Elma tak mampu melanjutkan kata-katanya, air matanya tak berhenti mengalir. Tiba-tiba Areta berjalan cepat, mendekat ke arah Elma. Napasnya memburu, ia melewati ibu tirinya itu dan tidak mempedulikannya.


Istri Kian itu membuka pintu perawatan Addison dengan serampangan. Matanya memindai ke segala arah, tak lama penglihatannya tertuju kepada sang ayah yang tergolek lemah dengan alat bantu napas, dan beberapa dokter yang sedang mengawasinya.


Seorang perawat menghalangi Areta, saat kakinya ingin melangkah masuk untuk mendekati sang ayah, air matanya benar-benar jatuh. Hatinya sakit tidak kuasa melihat ayahnya seperti itu. Ia memang tidak pernah mendapat belaian kasih sayang sang ayah, ia ingin membencinya tapi nuraninya benar-benar menjerit dan ingin berteriak bahwa Addison adalah ayah kandungnya.


"Nona, Anda tidak bisa masuk!" kata seorang perawat, dengan cemas ia mendorong tubuh Areta yang mencoba memaksa merangsek ke dalam.


"Jangan halangi aku!" Areta berseru, Sementara Elma memegang tangan Areta agar ia tenang.


"Tenangkanlah dirimu, Nak!" ucap Elma, menarik Areta pergi keluar. "Jangan halangi dokter yang sedang memeriksa ayahmu!" imbuhnya lagi.


"Ayah... Ayah harus tetap bertahan, dan menebus kesalahanmu kepadaku!" teriak Areta, frustasi.


Setelah berhasil dipukul mundur, sang perawat kembali menutup pintu ruangan perawatan intensive Addison.


Kaki Areta melemas, ia tergolek dan jatuh ke lantai, tidak sadarkan diri.


*


*


*


Bersambung~


Nb: Ruangan Addison itu VVIP, dan fasilitas rumah sakit lengkap.


Terimakasih untuk kalian yang sudah menunggu, dan telah menekan tap 💖


Aku akan terus berusaha yang terbaik untuk kisah ini. Semoga kalian suka dan tidak merasa bosan.


Love,

__ADS_1


Novi Wu—


__ADS_2