
Mr. Mafia 72
Irene tampak berdiam diri, tatkala Kian berpamitan dengan Areta ketika ia akan pergi berkerja sebagai Komisaris yang merangkap sebagai CEO di pusat perbelanjaannya. Ia sudah ditunggu oleh dewan direksi para pemegang saham yang juga dari dunia gelap, mereka benar-benar sangat tunduk di balik kuasa Kian. Hingga semua keputusan akan diambil dan diputuskan sesuai apa yang Kian mau.
Sementara Irene dari atas balkon menatap kosong lelaki yang semalam telah menyentuhnya, jari jemari Irene memeluk dan menyentuh kulitnya sendiri, termenung dalam lamunan mengingat kejadian yang membuatnya hampir saja bercinta dengan bawahan Kian itu.
Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tepukan lembut tepat di pundaknya, seketika Irene menengok ke belakang, ia mendapati Areta tengah berjalan di sampingnya.
'Bagaimana bisa ia datang secepat itu? Padahal tadi kulihat ia masih di bawah?'
Irene membatin, seketika ia tersenyum menatap Areta, lalu kembali menatap pria yang entah kenapa setiap ia melihatnya, jantungnya berdetak semakin cepat.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Areta, memindai apa yang Irene pandangi, setelah tahu. Areta tampak tersenyum kepada mantan rivalnya itu.
"Sudah saatnya kau membuka hati!"
Mata Irene langsung menyambar wajah Areta yang masih tampak tersenyum kepadanya.
"Kau pikir, aku mencintai lelaki itu?" kilahnya, sembari menunjuk ke arah Mark yang tengah membukakan pintu mobil untuk Kian.
Irene tahu apa yang Areta katakan, ia harus membuka diri untuk lelaki lain, tapi dirinya terlalu kotor untuk itu. Dia adalah bekas kekasih seorang mafia, dan juga sudah bertahun-tahun tinggal serumah dengan mantan kekasihnya itu. Apakah ada lelaki yang mau menerimanya kelak.
"Aku sedikit penat, aku akan kembali ke kamarku." Irene memutar tubuhnya hendak meninggalkan istri Kian. Lalu sebelum ia berjalan ia kembali berbalik badan. "Apakah orang jahat sepertiku pantas untuk dicintai?" tanyanya menatap lekat Areta yang masih berdiri tak jauh darinya.
Areta mengangguk, seraya melangkahkan kaki mendekat ke arah Irene. Wanita itu menangkup lengan Irene dengan lembut, dan mencoba meyakinkannya dengan suara tak kalah lembut.
"Kau wanita cantik, kau bisa mendapatkan siapa saja lelaki yang kau mau," jawab Areta.
Mata Irene memandang lekat wajah Areta, lalu sedikit memicing. "Tapi aku tidak bisa mendapatkan cinta dari Kian!" sahutnya, yang membuat Areta terdiam sejenak. Ia tak mampu berkata apapun lagi.
Areta berpikir apakah ia merebut cinta Kian untuk Irene selama ini, atau mungkin sejak awal Kian memang tidak pernah mencintai Irene. Kali ini rasa ingin tahu tentang sejarah hubungan mereka membuat rasa insting Areta mencuat kembali, bak seorang detektif. Wanita itu berniat untuk menyelidiki atau mungkin akan menkonfrontir Kian agar ia mengaku dan berkata sejujurnya tentang hubungan mereka. Hal itu akan menjadi keputusan final Areta, apakah ia akan tetap tinggal ataukah pergi dari hidup Kian.
Areta kembali ke dalam kamar, ia menatap kosong langit-langit kamarnya yang bernuansa biru karena kemarin baru saja ia meminta direnovasi karena mulai bosan dengan nuansa putih, maklum saja ia adalah nyonya rumah di sini, ia bisa minta apapun yang ia mau. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Areta yang saat itu tengah terhanyut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Tok... tok... tok....
"Ya... masuk!" sahut Areta pelan, lalu ia bangun dari posisinya.
Seorang pelayan wanita membuka pintu, dan menunduk kemudian berkata pelan dan penuh sopan santun.
"Tuan Shane datang, Nona. Anda sedang ditunggu."
Areta menghela napas, menenangkan dirinya sendiri.
"Baiklah, kau boleh pergi!" jawabnya penuh wibawa.
Pelayan itu berbalik badan dan pergi lebih dulu meninggalkan Areta.
Areta terlalu malas untuk menemui seseorang saat ini, karena suasana hatinya tidak cukup baik setelah mendengar kelakar Irene yang seolah membuat Kian berpaling darinya. Tapi mau bagaimana lagi, Shane telah datang dan ingin bertemu dengannya, sehingga mau tidak mau Areta harus bersedia menemuinya. Ia mengenakan kembali heels hitam yang sejak tadi ia pakai dan sengaja ia taruh di bawah tempat tidur saat ia merebahkan tubuhnya di kasur nan nyaman. Lalu dengan anggun berjalan santai keluar menemui Shane yang telah menunggunya di ruang tamu.
Dari kejauhan mata Shane menatap sosok Nyonya rumah itu berjalan semakin mendekat ke arahnya, wanita cantik yang selalu terlihat anggun meskipun di usianya yang masih terbilang muda. Seketika Shane berdiri dari tempatnya duduk.
"Maaf aku telah membuatmu lama menunggu, Shane," ucap Areta.
Areta duduk anggung dengan satu kaku bertumpu di kakinya yang lain, sementara kedua tangannya ia letakkan di pangkuannya. Tak lama seorang pelayan datang membawa senampan camilan dan dua gelas teh untuk mereka berdua.
"Apa yang membawamu kemari, Shane?"
Lelaki itu mengeluarkan selembar amplop besar berwarna cokelat lalu meletakkannya di atas meja, dan mendorong benda itu agar mendekat di hadapan Areta. Areta tampak menyerngitkan dahi karena heran, apa isi amplop yang di bawa Shane itu.
"Apa ini?" tanya Areta sedikit penasaran.
"Ini hasil test DNA Addison dan kau."
Areta tampak sedikit terkejut, lalu ia mencoba menguasai dirinya kembali agar tetap tenang. Lalu ia membuang muka guna membunuh rasa penasarannya.
"Apa kau tidak ingin membukanya?"
__ADS_1
Areta menjawab hanya dengan menggelengkan kepala pelan.
Shane hanya bisa menarik napas melihat tingkah istri Kian tersebut, lalu berkata lagi, "Jika kau tidak ingin membukanya sendiri, kau bisa menunggu suamimu."
"Ya... terimakasih."
Shane mengambil cangkir berisi teh di hadapannya, lalu menyeruputnya perlahan lalu setelah menuntaskan rasa dahaganya ia kembalikan cangkir itu di atas meja. "Baiklah, aku pamit. Tugasku sudah selesei soal test DNA, aku masih ada tugas negara lagi di rumah sakit."
Areta mengangguk sembari tersenyum. Mereka berdua sama-sama berdiri, Shane berpamitan dan pergi, sementara Areta menyambar amplop hasil test DNA di hadapannya itu lalu membawanya kembali ke kamar.
Setelah sampai, Areta duduk di atas meja rias yang selalu ia pakai ketika ingin mempercantik diri, perlahan ia membuka amplop itu dan menarik beberapa kertas yang ada di dalamnya. Ia memeriksa dengan teliti apa isi surat itu.
Tiba-tiba Areta memekik dan terkejut, apa yang ia takutkan selama ini benar. Addison adalah ayah kandungnya. Apa yang akan terjadi jika Kian tahu, apakah ia akan membuang dirinya, karena ia adalah anak kandung dari musuhnya, dan kembali ke dalam pelukkan Irene. Ataukah Areta akan tetap di atas tahtanya sebagai nyonya rumah di dalam kediaman Egan.
Hati Areta benar-benar gusar saat ini, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat, meskipun Kian berkata jika ia tidak akan mempermasalahkan hubungan darahnya dengan Addison, tapi permusuhan mereka tidak bisa membuat Areta tutup mata.
•
•
•
Bersambung~
Holla temen-temen, Yuk datang ke AudioRoomku. Kalian bisa dengerin aku siaran, dan bisa bertanya apapun tentang novel ini di sana. Aku tunggu, ya!
Siaran Senin sampai sabtu jam 10:00-13:00 WIB.
Klik profilku, yah.
Khusus pengguna Mangatoon 😘
__ADS_1
Luv,
Novi wu