
Mr. Mafia bab 24
Areta menghela napas panjang ketika menyaksikan Kian masuk ke dalam mobil hendak pergi bersama dengan smith, ia sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan Kian, ia baru saja tertebak beberapa hari lalu. Namun kini ia sudah pergi bekerja kembali, sungguh tenaga yang di miliki Kian bagai kuda yang memerah jiwanya demi mengumpulkan pundi-pundi uang, tapi mengapa ia bekerja segiat ini? Bukankah ia adalah pemilik pusat perbelanjaan dan mafia bengis paling kejih di negara kami. Tentu saja pasti ia memeliki kekayaan yang tinggi bahkan mungkin tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan.
Mobil Kian melesat keluar dari pintu gerbang besar berwarna hitam dan hilang di balik gelapnya malam, Sasha dan kedua anaknya pun juga masuk ke dalam rumah, namun Areta enggan untuk masuk ke dalam karena pasti jika ia mengobrol dengan Nyonya Smith, ia akan terlihat canggung karena bahasa mereka berbeda, Areta hanya tahu sedikit dari bahasa negara ini, itupun tidak begitu fasih.
Ia memilih berjalan di antara gelapnya malam yang di selimuti cahaya lampu remang yang menyinari area jalan sekitar. Areta menghirup napasnya kuat-kuat seraya menghela napas beberapa kali.
Ia pikir diri sudah lama tidak merasakan udara laut dan deburan ombak, sayangnya rumah ini berada di tebing, bukanlah sebuah pantai berpasir putih, namun Areta tetap bersyukur karena itu.
Ia duduk di tepi batu yang besar dan menatap laut lepas sepanjang mata
memandang, deburan suara ombak pun terdengar sampai ke indera pendengarannya.
***
Sudah satu jam Areta tenggelam di dalam lamunannya, dan ia memilih kembali ke kamar untuk pergi berdamai dengan mimpinya.
Suara dering ponsel mengagetkan dirinya, memaksanya untuk meraih ponsel tersebut dan terpampang nama Kian di layar ponsel tersebut.
"Halo ...."
"Kau tidurlah, sepertinya aku tidak pulang hingga pagi," ucap Kian dari balik ponsel, diiringi dengan suara alunan lagu disk jockey yang dapat Areta dengar samar-samar.
"Hemm ...." Areta hanya menjawab singkat dan kembali menutup ponselnya, karena mencoba tak acuh kepada pria itu.
Tapi mengapa pria keji itu berpamitan kepadanya, seharusnya bukankah dia tidak perduli dengan perasaan Areta, atau ia hanya akting karena sedang bersama dengan Tuan Smith. Entahlah, hanya Tuhan dan Kian yang tahu apa isi hatinya.
Areta kembali merebahkan tubuhnya, dan mencoba memejamkan matanya. Tidak butuh waktu yang lama saat itu, mungkin saja ia sudah lelah karena perjalanan siang tadi di tambah percintaannya dengan sang suami membuatnya mudah untuk tertidur.
***
__ADS_1
Fajar telah menyingsing, seolah matahari siap menyambut pagi dan semesta pun siap menyaksikan penderitaan Areta hari ini.
Belaian lembut dari seseorang membuat Areta menggeliat, siapa yang berani membangunkan dirinya, tanpa repot-repot dibangunkan pun, Areta akan terbangun dengan sendirinya.
"Bangun ...." Suara lembut seorang lelaki malah semakin membuai tidur nyenyak Areta. "Bangun ...." ucapnya lagi.
Areta mau tidak mau harus mengerjapkan mata, karena ia kenal si empunya suara, dia adalah suaminya yang semalam pergi untuk mengerjakan sesuatu.
"Hmmm ...." Areta menggeliat dari balik selimut, dengan baju tidur tipis melekat di tubuhnya yang indah.
Kian mencium pundak Areta, dan hobinya adalah memberikan cap tanda merah di seluruh tubuh gadis itu, supaya semua orang tahu siapa pemilik dari tubuh wanita cantik ini.
"Gantikan perbanku, Reta!" perintahnya. Entah setan apa yang telah merasukin Kian, sehingga ia bersikap lembut dengan istrinya.
Dengan mata setengah terpejam, Areta memaksakan dirinya untuk bangkit dari tidurnya, meraih tas yang ada di sisi kiri meja lampu tidurnya. Ia merogoh dan mengeluarkan sebuah kotak kecil P3K.
Kian membuka bajunya secara perlahan, noda darah telah merembes keluar dari perban yang terbalut di lukanya, bahkan menetes hingga membuat baju yang ia kenakan terkena cairan berwarna merah tersebut. Areta terkejut, namun lebih kaget lagi ketika ia melihat wajah Kian yang seolah tidak kesakitan.
Kian melirik sedikit ke arah istrinya lalu membuang muka kembali dan berkata, "Lumayan. Lekas ganti perbanku!"
Areta dengan sabar mengganti perban Kian, ia begitu hati-hati saat menyentuhnya, hingga hatinya bertanya-tanya.
Saat bercinta kemarin ia tidak apa-apa. Lalu kenapa sekarang setelah pulang ia berdarah-darah?
Setelah selesai, Kian membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk, tidak ada tanda-tanda aneh, bahkan wajahnya nampak biasa-biasa saja sehinggu memunculkan pertanyaan di benak Areta.
"Ada apa Kian?"
Kian menatap wajah istrinya, lalu memunggungi tubuh istrinya seolah tanpa dosa. "Tidak apa-apa. Aku hanya lelah."
"Lalu mengapa lukamu menjadi seperti ini?" tanya Areta mencoba mendesak suaminya.
__ADS_1
Kian kemudian berbalik badan, dan berkata, "Aku telah mengakuisisi wilayah dari boss mafia terbesar di negara ini," jawabnya.
"Hah ...." Areta nampak terkejut dengan kalimat Kian, seolah ia tidak dapat mencerna kata-kata suaminya itu.
"Sudah jangan banyak jangan banyak bicara! Aku lelah, cepat kau tidur kembali!" perintah Kian dengan setengah membentak.
***
Mereka telah sarapan, Areta baru tahu jika Kian dan Smith bekerja sama untuk mengakuisisi wilayah mafia besar itu, dan mengambil alih kuasa atas itu semua. Dan pikiran Areta bertanya-tanya ketika Kian menyebut nama The Rock. Siapa orang itu, seberbahaya apa dia sehingga Kian akan waspada ketika akan menghadapinya.
"Kita harus menaklukan The Rock, karena saingan terbesar kita saat ini adalah dirinya," ujar Smith sembari menyendok makanan yang tersaji di piringnya.
"Bertahap, Tuan Smith. Aku yakin kita bisa bersama, The Rock bukan orang sembarangan ...." Kata-kata Kian terpotong ketika Sasha dan kedua anak Smith telah sampai di meja makan. Smith tidak pernah berkata jika pekerjaan sampingannya adalah mafia, karena ia tidak ingin melihat keluarganya dalam masalah jika mengetahui yang sebenarnya. Namun sifat itu berbeda dengan prinsip Kian, dia berpikir jika istrinya harus tahu itu semua, karena risiko pekerjaan yang ia ambil, jika suatu saat ia mati, tentu anak istrinya tidak akam syok karena itu.
"Hari ini kami akan pulang, Tuan Smith," kata Kian melirik ke arah Areta.
"Bulan madu macam apa ini?!" batin Areta kesal.
"Mengapa harus terburu-buru, kalian baru saja menikah dan perlu bulan madu, bukan?" tanya Smith, mencegah sahabatnya itu untuk pulang.
Kian tampak terkekeh mendengar perkataan dari Smith. "Bulan madu? Kita bisa setiap hari bulan madu, Areta sangat menyukai permainanku di atas ranjang, apapun dan di manapun," jawab Kian santai.
Smith dan Sasha pun ikut tertawa, namun itu tidak untuk Areta, pipinya seketika memerah karena di permalukan oleh Kian.
•
•
•
Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa Like 👍 tinggalkan kesan di 💬 dan Vote seiklasnya 💌 Serta tap ❤ agar mendapat notifikasi ketika mas Kian update.