
Mr.Mafia bab 56
Hari demi hari telah berlalu, sejak kejadian itu Kian lebih berhati-hati dan selalu over protective kepada Areta, ia tidak mau mengambil risiko atas keamanan istrinya itu. Kini The Rock telah kembali, semua bisa saja terjadi. Kian tidak boleh lengah untuk menjaga segala yang ia punya termasuk Areta, istrinya yang ia sendiri ragu apakah ia mencintainya, namun nuraninya mendorong agar selalu melindungi wanita ini.
Satu minggu setelah kejadian drone jatuh, Kian akan pergi bertolak ke negara Lemonilo, dan ia memutuskan untuk mengajak Areta. Karena ia tidak ingin meninggalkannya di rumah. Mereka pergi pagi-pagi sekali menuju bandara.
"Apakah kita akan menginap di rumah keluarga Smith lagi, Kian?" tanya Areta.
Kian menggelengkan kepala perlahan, lalu menatap istrinya. "Aku telah membeli vila dekat dengan laut, untukmu."
"Hah?!" Areta kaget mendengar ucapan Kian yang membeli vila untuknya, karena yang ia tahu jika harganya tidak murah, dari dulu Areta tidak berani bermimpi memiliki rumah, tapi kini setelah menikah dengan Kian, sekejap kehidupan Areta berubah. Mungkin saja Tuhan berbaik hati kepadanya karena tahu kehidupannya sejak kecil selalu kekurangan, dengan ibu yang sakit-sakitan. Kini Sang Maha Pencipta mengganjar dirinya untuk hidup lebih layak dan bahkan berkecukupan.
"Iya... atas namamu, aku membeli untukmu," jawab Kian santai, sembari membalik surat kabar yang sejak tadi ia letakkan di pangkuannya.
Areta terdiam sejenak, lalu ia berpikir untuk bertanya lagi kepada suaminya.
"Berapa harga vila itu, Kian?"
Kian menghela napasnya, menatap Areta dengan tatapan malas. "Jika aku berkata harga, apa kau akan menggantinya?"
"Mhh ... tidak juga, aku hanya ingin tahu saja," jawab Areta memainkan jari karena malu.
***
Penerbangan selama tiga jam mereka lalui dengan pesawat pribadi milik Kian, hingga sampai ke negara tujuan mereka.
Di bandara mereka di sambut dengan puluhan pria berbadan tegap, dengan pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata dengan warna yang sama. Semua menunduk kepada mereka, dengan serempak menyapa dengan ekspresi dingin.
"Selamat datang, Boss!" ucap mereka bersamaan.
Kian memang banyak memiliki pengikut, tapi Areta tidak menyangka bahkan pengikut Kian bisa sampai ke negara tetangga.
Kian berjalan menggandeng tangan Areta yang tampak linglung membelah puluhan pengawal itu.
"Kian ... apakah mereka juga orang-orangmu?"
"Ya... mereka ditugaskan untuk menjagamu selama di sini," sahut Kian.
Tiba-tiba empat orang wanita muncul dan berjalan di belakang Areta. Areta tidak mengenal mereka, wajahnya tampak asing dengan tatapan lurus ke depan dan ekspresi dingin seolah tidak pernah menorehkan senyuman di bibir mereka.
"Kian ... siapa keempat wanita ini?" tanya Areta berbisik.
"Itu adalah pengawalmu selama di sini," jawab Kian ikut berbisik.
__ADS_1
Areta sesekali melirik ke belakang, namun usahanya sia-sia karena ia hanya bisa menoleh jika ingin melihat para bodyguard yang sengaja Kian pekerjakan untuk menjaga istrinya itu.
***
Mereka naik ke sebuah mobil sedan mewah, dengan sopir dengan pakaian yang juga serba hitam. Mobil di belakang mereka juga tampak berjajar rapi, seolah mereka adalah pejabat yang akan mengunjungi negara Lemonilo, tentu saja hal itu menarik perhatian warga sekitar yang ada di dalam bandara.
"Kian... bisakah kau suruh para bawahanmu jangan memakai baju serba hitam?" Areta memprotes cara berpakaian para pengawal Kian.
"Lalu harus memakai baju apa?" tanya Kian berbisik, sengaja mengikuti cara Areta berbicara.
"Apa saja yang penting jangan hitam."
"Merah muda?" jawab Kian santai.
Mendengar perkataan Kian yang seolah sengaja mengejek dirinya membuat Areta geram dan memukul tangan Kian dengan kasar. Mendapat pukulan lemah dari Areta tentu saja tidak membuat Kian kesakitan.
"Kau pikir aku bercanda?" sembur Areta kesal.
Kian tertawa melihat tingkah istrinya seperti itu, dan seketika membuat Mark dan sopir yang duduk di depan seketika melirik dari kaca spion. Sudah lama mereka tidak melihat Kian tertawa lepas seperti ini, Kian adalah mafia bengis tanpa ampun, bahkan untuk tersenyum saja ia memilih orang mana yang pantas menerima senyumannya, dan kini dirinya bahkan bisa tertawa lepas hanya karena seorang wanita bernama Areta.
Mobil mereka telah sampai di sebuah rumah dengan pintu gerbang besar berwarna hitam yang di jaga ketat oleh penjaga. Areta menatap banyak pohon pinus di area tempat itu, wanita itu bisa mencium bau laut dan bahkan bisa mendengar deburan ombak dari dalam mobil, di tengah halaman luas, tampak vila mewah dengan dua lantai yang begitu megah berdiri kokoh. Areta menatap Kian dengan mata berbinar seolah mempertanyakan apakah itu adalah vila miliknya, dan Kian menjawab dengan anggukkan kepala.
Mereka disambut dengan para pelayan yang semua seolah diminta serempak memasang senyuman paling ramah. Dan mata Areta langsung tertuju kepada satu wanita, Andrea. Sejak kapan ia berada di rumah ini.
"Dia akan menemaniku beberapa hari untuk transaksi senjata ilegal."
Areta menajamkan mata menatap suaminya dengan tatapan cemburu.
"Apakah tidak ada maksud lain?"
Kian menggelengkan kepala, dan mengelus rambut Areta dengan lembut.
Areta turun dari mobil itu, sebagai nyonya besar di rumah ini. Semua orang tersenyum ramah kepada Areta.
"Selamat datang nyonya Areta."
Areta menjawabnya dengan anggukan dan senyuman ramah.
"Kian, apakah kau sudah siap?" Andrea menghampiri Kian, menanyakan perihal kesiapannya.
"Ayo... semua beres!" jawab Kian.
"Kau mau pergi meninggalkanku?" tanya Areta.
__ADS_1
Kian menghampiri istrinya dan memeluknya dengan lembut. "Kau baik-baik di sini, semua orang menjagamu, aku akan pergi sebentar, dan akan segera kembali, oke!"
Areta mengangguk pasrah mengiklaskan suaminya pergi bersama Andrea dan meninggalkannya di vila ini sendiri.
Areta masuk ke dalam rumah mewah itu, dirinya berdecak kagum dengan furniture yang ada di dalamnya decorasi gaya american style tertata apik di dalam vila besar itu. Dan menurutnya dibanding dengan kediaman Egan, rumah ini terlihat lebih indah.
Kemudian ia diantar memasuki kamar pribadinya beserta Kian di lantai dua, Kali ini ia kembali ternganga melihat kamar mewah di hadapannya.
'Indah'
Areta berkata dalam hati sambil tersenyum, kamar itu berhadapan langsung dengan laut lepas yang tersaji sepanjang mata memandang.
Ia kemudian berbaring karena lelah hingga tak sengaja tertidur dan berdamai dengan mimpi indahnya.
***
Bom~
Suara ledakan membuat Areta terpaksa harus menyatu dengan kesadarannya, ia mengerjapkan mata, hari telah petang, matahari sudah tenggelam dan hilang menuju peraduannya. Areta bangun dengan perasaan bingung, lampu kamar itu mati tanpa pencahayaan sedikit pun.
Ia cepat-cepat akan keluar kamar, namun tak jauh dari pandangannya ia melihat siluet tubuh manusia sedang berdiri mematung seolah sedang memandang dirinya.
"Kian... apakah itu kau?!" Areta meninggikan suaranya. Namun orang itu hanya diam saja tidak menjawab.
Areta berjalan mendekat, namun sayangnya ia dibekap oleh orang itu dan kehilangan kesadarannya.
•
•
•
Bersambung~
OMG siapa dia? 🤔
Ada yang minta visual Areta dan Kian 🙄
Kalau kurang puas ada kok di bab 2.
Seperti biasa, aku cuma mau ingetin. Like, komen, gift dan vote seiklasnya.
__ADS_1
Maturnuwun/Terimakasih