Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Bimbang


__ADS_3

Mr. Mafia 91


Langkah Brian terhenti, Addison menatap tajam ke arahnya. Lalu berbisik sesuatu yang membuat Elma yang masih dalam satu ruangan yang sama tampak merasakan perasaan aneh.


Saat Body Guard Areta tesebut pergi, barulah Elma bertanya perihal apa yang dibicarakan oleh suaminya dengan Brian yang belum lama ini berkerja untuk suaminya.


"Apa yang kau katakan padanya?"


"Dia kusuruh untuk menjaga sikapnya dengan Areta," jawab Addison dengan nada penuh penekanan.


Namun Elma tidak sepenuhnya percaya, ia masih tampak curiga dengan suaminya sendiri. Karena ia tahu betul jika pikiran suaminya selalu tidak tertebak dan di luar dugaan.


***


Areta kembali ke kamar, dan berharap Brian tidak mengikutinya, langkahnya tampak kasar dengan sesekali menoleh kebelakang. Namun tiba-tiba—


Suatu tangan membekap mulutnya dan membawa wanita itu ke pojok salah satu dek kapal. Areta memejamkan mata karena terkejut, tapi ketika netranya terbuka ia bisa melihat dengan jelas pria tampan yang selalu membuatnya mabuk kepayang tersebut menatapnya penuh antusias, dan senyuman nakal. Areta pun reflek memukul dada suaminya.


"Ada apa ini?!" tanyanya ketus, namun dengan nada super pelan.


"Sttttt ...." Kian menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Areta agar istrinya diam, dan hal itu tentu saja membuat Areta menurut. Kian menatap waspada ke arah luar memastikan Brian tidak ada di sana.


"Aku ingin mengetes anjing peliharaan ayahmu. Apakah ia mampu mengendusmu ada di sini," ucapnya lagi.


"Lagi pula kenapa kita harus mengendap-endap? Bukankah kita sepasang suami istri?" tanyanya, tidak mengerti.


"Sayangku ... Sayangku." Kian menempelkan hidungnya ke indra penciuman istrinya lalu menggosoknya dengan lembut. Kemudian bibir Kian menyusuri leher istrinya yang membuat Areta menggeliat geli.


"Apa kita akan melakukannya di sini?" Areta mendorong tubuh kekar suaminya dengan kuat, namun tidak sampai membuat tubuh suaminya itu menjauh.


Kian menggeleng lembut. "Aku merindukanmu, Areta." Pria itu menarik pergelangan tangan istrinya, dan memeluk erat tubuh Areta.

__ADS_1


Tiba-tiba bunyi handle pintu yang di coba di buka dengan kasar mengagetkan keduanya. Wajah Kian tersenyum menatap istrinya dengan jari telunjuk menempel pada bibirnya sendiri. "Ini sangat seru," ucapnya lembut.


"Nona Areta, apakah Anda ada di dalam, saya sudah mencari Anda di kamar—Nona," ucap Brian dari luar ruangan.


Areta bergeming mendengarkan Brian berbicara, ia memang enggan menjawab pria itu. Ia malah serius memandangi suaminya yang tampak ingin main-main dengan Brian. Tapi entah mengapa hal itu malah mengusik hati Areta, apakah suaminya tidak memiliki rasa cemburu? Ketika ia tahu—jika ada lelaki lain yang akan menjaganya.


"Kian." Areta berucap lirih, menatap lekat suaminya.


"Hmmm ...." Kian menjawab namun seperti tidak peduli dengan perasaan Areta.


"Kau—"


"Iya ... apakah ada yang salah?" tanya Kian, kini matanya menatap bola mata Areta.


"Kau tidak cemburu pada Brian?" tanya Areta, memastikan.


Kian menggeleng cepat. Lalu mencubit hidung wanita di hadapannya.


Sungguh jawaban yang tidak disangka oleh Areta, bagaimana bisa suaminya berpikir jika Areta tidak akan tertarik dengan Brian. Apakah ia tidak merasa terusik dengan kehadiran Brian, padahal dirinya saja sangat tidak nyaman—tapi Kian?


Areta benar-benar kecewa dengan Kian. Ia langsung melepaskan tangan Kian dan memilih pergi keluar.


"Areta?" Kian terbengong-bengong menyaksikan istrinya pergi dari dirinya.


Areta pikir ini aneh, biasanya Kian akan terusik jika ada lelaki lain yang menyentuhnya, bahkan menatapnya saja akan diharamkan oleh Kian. Tapi kini, tidak mungkin. Apakah Kian memiliki cinta selain Areta. Bukankah untuk mafia, memiliki banyak cinta itu adalah hal biasa—bukan untuk suaminya, Kian bukan pria senaif itu.


Wanita itu membuka pintu, dan mendapati Brian masih berdiri di sana. Dan menatap Areta serius. Brian dapat menangkap dengan mudah, wajah memerah Areta. Tapi tetap ia mencoba tidak peduli untuk profesionalitas kerjanya.


***


Areta duduk geladak utama, di bawah teriknya matahari siang yang siap membakar kulitnya. Areta mencoba mendongakkan kepala mencoba menatap sang surya yang memancarkan cahaya super terang, namun sebelum sempat pupilnya menangkap sumber energi utama bumi itu, tiba-tiba sebuah payung hitam menutupi kepalanya membuat pandangannya teralih. Ia berharap Kian datang, namun sering kali sebuah realita tidak sesuai ekspektasi. Yang ada hanyalah sosok yang tak asing untuknya. Brian berdiri membentengi panas matahari untuk dirinya, dengan sepasang kaca mata hitam menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Areta terdiam sesaat, lalu menelan ludahnya sebelum ingin melontarkan pertanyaan untuk Brian.


"Ehem ...."


Areta berdehem, lalu kini pandangannya teralih menatap lelaki itu yang tampak memang seperti robot hidup.


"Tuan Brian."


"Siap, Nona!" seru Brian, namun pandangannya tetap lurus ke depan.


Areta tampak ragu, lalu menyibakkan rambut ke telinganya sendiri.


"A–apakah Anda pernah jatuh cinta?" tanya Areta.


Indera penglihatan Brian langsung menyambar wajah Areta.


"Maaf, Nona saya tidak menjawab pertanyaan pribadi!" jawab Brian, namun dengan nada suara sedikit lembut.


Namun Areta tidak menyerah, ia terus memberi pertanyaan kepada Brian.


"Apakah kau pernah cemburu pada kekasihmu? Atau mungkin kau sudah memiliki pasangan?"


"Ehemmm ...." Brian hanya berdehem enggan menjawab pertanyaan Areta.


"Apakah kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?!" Suara Areta meninggi.


"Maafkan saya Nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan pribadi!" jawabnya.


Areta kesal, lalu berdiri dan menghempaskan payung Brian.


"Semua lelaki sama saja!" umpatnya.

__ADS_1


__ADS_2