
Mr. Mafia Bab 6
Tangan Areta mencengkerap dress yang ia kenakan, napasnya memburu tatkala ia terpaksa harus menahan emosi Jiwanya yang memuncak. Bagaimana bisa ia disebut sebagai peliharaan laki-kaki itu, bahkan semalam saja ia melakukan hal yang sangat tidak terpuji kepada Areta.
"Kian ... bolehkah aku mengajak gadismu berbelanja?" tanya Irene.
Manik mata coklat milik Kian menyambar wajah Irene dengan saksama. Lalu ia melirik ke arah Areta yang masih makan dengan kepala menunduk untuk menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Boleh ... bawa beberapa bodyguard untuk pengawal kalian," jawab Kian melanjutkan sarapannya.
Kian menegguk susu sapi murni untuk menutup makan paginya, kemudian beranjak untuk segera pergi. Sebelum ia pergi pria itu menyempatkan diri mengelus rambut hitam lurus Areta.
"Gadis kecil, jangan coba-coba kabur! Jika tertangkap kau bisa memilih, mau mati di kandang hiu, anjing atau ular derik sebagai persemayaman terakhirmu!" Ancaman Kian membuat Areta membelalakan mata indahnya, sensasi getaran menjalar keseluruh tubuhnya, hingga keringat sebesar biji jagung keluar dari keningnya.
Kian menepuk pundak Areta dengan lembut, lalu pergi meninggalkan Irene dan Areta yang masih dengan sarapannya.
"Aku akan membantumu untuk pergi dari kandang singa ini, apakah kamu siap?" tanya Irene dengan nada sangat lirih.
"Ta-tapi ... nona, aku takut jika tertangkap. Aku akan mati dengan sangat mengenaskan." Areta bekata gugup, ia sangat gusar, hatinya dilema menerima kenyataan jika ia melarikan diri dan tertangkap ia akan habis di cabik-cabik oleh ikan hiu.
"Aku kenal Kian, ia hanya gertak sambal saja. Kau tahu aku telah tinggal bersamanya selama sepuluh tahun, aku sangat mengenal sifatnya," ungkapnya.
"Nona adalah kekasih tuan Kian?" tanya Areta penasaran, matanya mengeluarkan binar seolah memancarkan keingin tahuan yang sangat amat dalam.
"Aku adalah wanita kesayangan Kian. Aku adalah kekasih yang tidak pernah akan ia singkirkan dari hidupnya, semua perkataanku ia akan mengikutinya."
"Jadi jika nona bilang melepaskanku, maka tuan Kian akan melepaskanku?" tanya Areta penuh semangat.
"Ya ... aku akan menjaminya seratus persen."
Areta sangat bersemangat, ia menghabiskan sarapannya hingga piringnya tandas tak tersisa makanan sedikit pun. Hal itu ia lakukan agar ia mempunyai tenaga untuk lari dari bodyguard Kian.
Setelah semua siap, Irene dan Areta bergegas menuju pusat perbelanjaan milik Kian, mall itu terbilang sangat besar, Kian sukses membawa usahanya hingga menjadi yang termewah di kelasnya. Tempat itu memiliki enam lantai, di dalamnya berbagai barang bermerk mahal di sediakan di berbagai store, floor display yang ada di hall di peruntukan untuk pameran mobil dan motor sport paling mahal.
Mulut Areta tidak henti-hentinya ternganga, ia berdecak kagum dengan kemewahan tempat itu. Jujur saja ia tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Pantas saja mafia itu amatlah kaya raya, ia menguasahi sebagian pasar gelap dunia dan ia sukses menjadi pengusaha muda di usia 30 tahun.
__ADS_1
"Nanti ketika para pengawal lengah, kau bisa berlari keluar dengan mudah. Ikuti interuksiku, Areta!" ucap Irene setengah berbisik ke telinga Areta.
Areta mengangguk setuju, ia tidak berpikir panjang ketika ia melarikan diri dan tertangkap, apa yang akan terjadi kepada dirinya.
***
Areta berlari dengan kencang ketika Irene memerintahkannya. Para bodyguard sepertinya tidak menyadari jika Areta telah pergi. Sampai pada saat Irene akan membayar tagihan dengan kartu silver yang diberikan khusus oleh Kian. Ia seolah nampak terkejut dan bermain lakon seolah telah kehilangan Areta.
"Areta ... dimana kau?!" seru Irene, memasang wajah cemas.
Semua pengawal yang nampak berjaga, seketika tersadar jika Areta telah hilang dari toko tersebut. Semua tampak berlari berhamburan mencari keberadaan gadis itu.
***
Sementara itu, Areta berlari tak tentu arah. Ia terus menuruni eskalator yang hingga ke lantai dua mall tersebut.
Sialnya Kian datang, ia tampak berjalan menuju eskalator menuju ke lantai dua, sedangkan Areta berada di tangga berjalan itu menuju lantai satu, otomatis mereka akan berdampingan.
Jantung Areta seolah ingin terlepas, karena terlalu gugup dan takut. Ia terus menutup wajahnya dengan rambut panjangnya.
Kian memandang lurus kedepan, pada saat tubuh Areta berada bersejajar dengan tubuhnya. Tiba-tiba Kian menengok ke arah Areta.
Kian pun melawan arah ia juga berjalan turun, meskipun tangga berjalan tersebut berjalan naik.
"Reta ... Reta! Kau tahu apa konsekuensinya jika kau kabur dariku!" teriak Kian.
Namun Areta bergeming, ia tetap berlari tunggang langgang meninggalkan laki-laki itu.
Kian tidak tinggal diam, ia mengeluarkan ponsel menelepon salah satu pengawalnya untuk memblokir pintu masuk dan keluar mall tersebut.
Sementara Areta yang ketakutan lebih memilih masuk ke toilet wanita untuk bersembunyi dari mafia bengis tersebut.
Para pengawal dan petugas keamanan pusat perbelanjaan itu berhasil memblokir pintu masuk dan keluar, mereka hanya membutuhkan waktu beberapa detik dan berjaga jika sosok Areta keluar dari sana.
Kian yang begitu gusar dan marah menuju ke pusat informasi, ia meraih microphone operator untuk berkelakar.
"Selamat siang para pengunjung, mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Ada pencuri barang yang melarikan diri dari sebuah toko membawa perhiasan mewah. Jadi pihak keamanan kami memblokir semua pintu masuk dan keluar," ujar Kian dengan nada penuh sopan santun.
__ADS_1
"Areta ... kau tidak bisa lari dariku. Seluruh mall ini telah di jaga ketat, dan aku kan menemukanmu dengan mudah melalui kamera pengawas!" Kian berbicara di hadapan microphone dengan nada berbeda ketika ia berbicara dengan pengunjung mall tersebut.
Tiba-tiba salah satu pengawal berteriak dengan lantang. "Nona Areta masuk ke dalam toilet wanita di lantai satu!"
Mata Kian menyambar layar komputer yang ada di meja operator, benar. Itu adalah Areta yang berlari menuju toilet wanita.
Dengan secepat kilat Kian berlari menuju tempat di mana Areta telah bersembunyi.
***
Sementara Areta sangat ketakutan dengan ancaman Kian. Ia duduk di atas closet berharap jika Kian tak mencarinya hingga ke mari.
Kaki gadis itu begetar hebat hingga bergetar hebat, beberapa kali ia menghela napas guna menenangkan dirinya sendiri namun cara itu sungguh tidak berhasil.
Sampai saat tiba-tiba pintu toilet di gedor satu persatu. "Areta, dimana kau. Aku telah mengosongkan toilet ini, kau sudah tidak bisa lari lagi, kelinci kecil nakal!" tutur Kian dengan suara lembut, tapi entah mengapa suara lembut itu memancarkan aura membunuh di seluruh toilet ini. "Reta ... ternyata kau berada di ujung toilet itu, bukan?" ucapnya lagi.
Saking ketakutannya, Areta menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri, air matanya tumpah sementara keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya. Sungguh benar-benar suasana yang sangat mencekam.
Tiba-tiba ....
Brakkkk ....
Pintu toilet didobrak dengan begitu kasar, mata Kian langsung menyambar tubuh Areta yang meringkuk ketakutan duduk di atas closet.
Tangan Kian meraih rambut Areta dan menariknya kemudian menempelkan tubuh Areta ke dinding, lalu mencekik leher gadis itu hingga Areta batuk-batuk karena tidak bisa bernapas.
Tangan Kian merogoh saku jasnya mengeluarkan pistol hitam dan sengaja di arahkan ke kepala Areta.
"Aku telah memberimu kepercayaan. Tapi kau malah ingin melarikan diri dariku! Bersiaplah jika isi kepalamu akan terburai keluar dan kau akan mati dengan cara yang mengenaskan!" ancam Kian, dengan tatapan mata bak pisau yang siap mencabik-cabik Areta.
•
•
•
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih untuk like, komen dan semua Votenya. Tanpa kalian aku bukan apa-apa.😘