Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Mr. Mafia 80


Hayo ... puasa-puasa pada minta jatah malam pertama Mark dan Irene 🤣


***


Semua usai, kisah Mark dan Irene yang awalnya begitu Ironi, kini berubah menjadi kisah manis. Bagaimana dengan Kian dan Areta. Apakah mereka akan sama, belum pasti. Otak Areta sudah dipenuhi kecurigaan berbungkus kewaspadaan. Dari jauh ia melihat wajah Kian kembali, menatapnya dengan ekspresi gelap dan tajam.


Apakah sifat manis itu akan berubah seiring dengan hambarnya hubungan mereka. Entahlah, mungkin hanya waktu yang akan menjawab.


Pesta telah usai, Addison dan Elma yang memang menjadi tamu khusus menjadi orang yang terakhir berpamitan kepada sang empunya rumah.


Addison tampak mencari sesuatu, ia berharap jika Areta akan menunjukan batang hidungnya, dan bersikap manis seperti tadi saat di ruang make up Irene, namun harapan itu pupus saat buah hatinya itu tidak juga muncul.


"Terimakasih, Paman." Irene berucap sembari menggandeng tangan suaminya, yang juga tersenyum.


"Ya ... aku telah menganggap kalian juga seperti anakku, terimakasih sudah menjaga Areta selama ini," jawabnya.


"Itu sudah menjadi tanggung jawabku, Pa," timpal Kian penuh percaya diri. Padahal awal pertemuan mereka adalah hal yang paling dibenci oleh Areta. Tapi bagaimana pun tidak bisa dipungkiri, kini rasa diantara mereka telah tumbuh seiring intensitas pertemuan dan pergumulan mereka di atas ranjang.


Saat Addison berpamitan, dari kejauhan Areta menatap kosong ke arah ayahnya. Ia berharap bisa menghapus segala kebenciannya, tapi rasa tidak rela itu mencuat saat ia ingin berlari mendekat ke arah Addison. Seolah ada rasa bersalah kepada sang ibu yang membuatnya berhenti untuk—mendekat.


Setelah ayahnya pergi, Areta turun dari tangga, dengan dress casual dipadu heels hitam dengan tinggi tiga centimeter, topi bulat besar dan kaca mata lebar hitam, ia mendekat ke arah Kian dan yang lainnya, langkahnya terhenti ketika ia telah sampai tepat di hadapan pria tiga puluh tahun itu.


"Aku ingin kembali ke kotaku, aku hanya ingin mengunjungi makam ibuku, apakah kau akan menghalangiku?" kata Areta santai, dengan melepaskan kaca mata hitamnya dan memasukkan ke dalam handbag hitam yang ia tenteng di pergelangan tangannya.


Kian tampak terdiam menatap istrinya dari atas hingga ke bawah, yang tampak rapi dengan stelan serba hitam.


"Saya akan menemani Anda, Nona!" Tiba-tiba Mark menyaut dan membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.


"Tidak perlu, kau baru saja menikah. Jika kau langsung bekerja, maka Irene akan memelototiku sepanjang tahun," ucap Areta polos.


"Biar aku saja yang akan menemanimu," timpal Kian.

__ADS_1


Semua orang di rumah ini tahu, jika hubungan diantara suami dan istri itu kini telah renggang bak tali yang hampir saja putus, tentu saja hal itu juga membuat semua orang khawatir jika Areta pergi dari Kian, mungkin saja perangainya yang kejam akan muncul kembali, bahkan bisa menjadi semakin parah jika itu benar-benar terjadi.


Selama perjalanan menuju kota kecil bernama Boegenfill itu, mereka berdua saling diam. Areta menyetujui diantar oleh Kian tapi dengan syarat tidak akan ada satu pengawal pun yang ikut serta dalam perjelanan mereka kali ini—dan Kian menyanggupi itu. Areta hanya ingin ke pemakaman sang ibu dalam suasana tenang dan damai.


"Ehm ...." Kian harus sekali lagi repot-repot berdehem hanya untuk memecah keheningan di antara mereka berdua. "Apa kau masih marah kepadaku?" tanyanya dengan kendali stir masih di dalam kuasanya.


"Tidak." Areta hanya menyahut singkat.


Hanya kalimat itu saja yang mereka lontarkan selama perjalanan, sisanya mereka kembali dalam lamunannya masing-masing, hingga sampai di kampung kecil tempat Areta tinggal sejak ia dilahirkan.


"Mengapa kau memilih rumah kecilmu? Kita bisa menginap di hotel, akan lebih nyaman, bukan?" tanya Kian, memandang serius ke arah sang istri saat mobil mereka telah berhenti.


"Jika kau mau. Kau bisa tinggal di hotel, tanpa aku!" sahut Areta, sembari membuka pintu mobilnya.


Kian membuka mulutnya hendak menjawab perkataan Areta, namun cepat-cepat ia mengatupkannya lagi dan memilih diam, menghindari pertikaian di antara mereka berdua.


Areta memasukkan kunci rumahnya yang memang sengaja ia bawa, dan memutar kenop pintu, saat rumah itu terbuka, bau semerbak lembabnya rumah itu menguar menusuk hidung, berhasil membuat indra penciuman Kian terganggu, dan ia terbatuk-batuk dibuatnya, dengan membukuk Kian mengipas-ngipaskan telapak tangannya ke hidung, dengan tujuan agar bau itu hilang. Areta hanya menatap sinis ke arahnya, dan tidak membantu suaminya yang sedang kesulitan bernapas.


Ia membuka pintu kamar sang ibu yang tampak gelap tanpa pencahayaan, lalu ia berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden berwarna biru tua yang mulai usang. Areta duduk di kasur sang ibu, kemudian mengelus sprai yang masih sama seperti yang terakhir dipakai ibunya.


'Aku pulang, Bu. Reta rindu'


Gumam Areta dalam hati, dengan senyum tipis namun ada guratan kesedihan yang tidak mampu ia sembunyikan.


Kian yang masih saja di luar menyiapkan paru-parunya dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Ia melangkah masuk, memindai tiap ruangan reot yang ada di rumah itu, terakhir kali ia ke sini saat ia menjemput dan memaksa Areta untuk pulang ke rumah, ia terus menyapu tiap ruangan, dalam hatinya merasa miris, seumur hidup ia selalu hidup dalam kemewahan, kamar yang nyaman dengan apapun yang ia minta hanya sekali tunjuk dengan mudah ia dapatkan. Tapi tidak untuk Areta, mungkin ia harus bersusah payah dulu, bahkan untuk sekali keinginan yang remeh.


Kian mendapati sang istri telah tertidur lelap di salah satu ruangan bercat putih nan kelam, mungkin karena ruangan itu tidak di renovasi selama bertahun-tahun, jadi kelihatan gelap dan lembab.


Tiba-tiba ia memiliki ide untuk mengecat seluruh rumah ini, ia pergi keluar untuk mencari toko cat yang terdapat di area kampung ini. Saat baru saja melangkah keluar, tiba-tiba wanita paruh baya yang tak asing untuknya tampak mendekat.


"Kau suami Areta, Bukan?" tanyanya.


Kian dengan susah payah mengumpulkan memori hanya untuk mengingat siapa wanita di hadapannya ini, dan benar. Dia adalah Della, tetangga sebelah rumah Areta.

__ADS_1


Kian tersenyum membalas pertanyaan wanita itu.


"Apakah Areta juga pulang?" tanyanya.


"Ya." Kian menjawab singkat, lalu ia berpikir untuk bertanya pada Della, apakah ada toko cat di dekat sini. "Apakah Anda tahu, di daerah sini ada toko cat?" tanyanya.


"Cat, ya?" Della sedikit berpikir, lalu tiba-tiba ia berseru. "Dua blok dari kampung ini ada toko besar khusus kebutuhan rumah tangga, mungkin saja di tempat itu ada cat," jawabnya lagi.


"Saya akan mencobanya," sahut Kian, hendak pergi menuju mobilnya.


"Apakah kau akan mengecat rumah ini?" tanya Della, penasaran.


"Ya ...." Kian menjawab lugas. Lalu masuk ke dalam mobil mewahnya.


•


•


•


Besambung~


Mau lebaran jadi cat rumah dulu ya, Gaes 🤣


Semoga hubungan mereka membaik ya, Wak. šŸ’‹ Aku ngga suka kalau ada pasutri yang berantem pas bulan puasa.


Kwkwkwkwkwkkw


Eits ... Jangan lupa Vote. 🧐


Terimakasih,


Novi Wu.

__ADS_1


__ADS_2