
Mr. Mafia Bab 40
Mengapa ucapan Kian seolah mengisyaratkan dia akan pergi jauh, dan tidak bisa melindunginya. Apakah pengaruh seorang The Rock akan sebesar itu bagi Kian.
Manik mata Areta terus menatap wajah suaminya yang masih asyik dengan layar laptopnya. Sesekali ia memiringkan kepala untuk menatap lekat sosok itu. Dan untuk Kian ketika ia merasa diperhatikan, sontan langsung berkata, "Apa? Mau bercinta? Ayo sekarang!"
"Tidak!" Buru-buru Areta menolak keinginan Kian, dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
"Nanti malam bersiaplah, dandan yang cantik, jangan pakai baju seksi! Aku tidak suka jika tubuhmu menjadi santapan manusia-manusia lapar!" ucapnya mengomel.
"Memang ada apa?" tanya Areta mengintip dengan kepala menatap Kian yang masih sibuk.
"Apa kau lupa, hari ini Shane akan menikah?" jawab Kian. Dengan tangan terus mengutak-atik keyboard laptop di pangkuannya.
"Ah ... hampir saja aku melupakannya," jawab Areta dengan nada santai.
Shane menyelenggarakan sebuah perhelatan resepsi di sebuah kapal pesiar yang mewah untuk pernikahannya kali ini, meskipun ia tidak bisa melupakan ibu kandung Celine, namun seperti halnya hidup yang harus berjalan, ia juga perlu menjalin maghligai pernikahan seperti halnya Kian yang menikahi Areta. Dan kini semoga semua sesuai harapan, dan istrinya dapat mencintai dan bahkan menyayangi buah hatinya layaknya sendiri.
Senja telah tiba, matahari siap membelai peraduannya dan kini menjadi giliran sang rembulan yang akan menunaikan tugasnya menyinari bumi yang mungkin tak seberapa terangnya.
Areta telah siap dengan gaun hitam panjang yang membungkus tubuhnya yang jenjang dan stilleto dengan warna senada, sementara rambutnya dibiarkan terurai agar menutupi luka di lehernya kala ia di lukai oleh ayah Celine. Ia berdandan dengan sangat sempurna demi memanjakan mata Kian agar ia tidak merasa malu berjalan dengannya.
Saat ia menuju ke kamar Kian, tiba-tiba seorang wanita cantik yang tidak lain adalah saingan Areta tampak berdiri di ambang pintu kamarnya menggunakan dress berwarna merah tampak cantik dengan riasan rambut ke atas bak putri dalam dongen yang melompat di dunia nyata. Dia menatap sinis nyonya mafia tersebut, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Areta tidak mempedulikannya dan hanya melewatinya saja.
Setelah sampai di depan pintu kamar Kian, Areta tampak menarik napas panjang, lalu menghempaskannya perlahan, dirinya membuka pintu pelan mengintip apakah mafia itu ada di dalam kamar pribadinya. Benar saja ia masih sibuk dengan dasi yang akan ia kenakan, mafia itu melirik ke arah pintu.
"Areta ... pilihkan dasi untukku!" perintahnya masih sibuk memilah-milah.
Areta masuk, dan perlahan jalan mendekatinya, Kian tampak tertegun sesaat melihat begitu cantiknya Areta, beberapa kali ia menelan ludahnya sendiri dan ingin rasanya menarik Areta ke tempat tidur untuk menikmati cantiknya istrinya itu. Tapi ia urungkan keinginannya karena jika ia melakukan itu maka mereka akan terlambat ke acara pernikahan Shane.
Prempuan cantik itu dengan sabar memilih dasi untuk Kian, dan pilihannya jatuh kepada dasi berwarna biru tua yang dapat mempertegas tuxedo yang ia kenakan. Perlahan Areta memasangkan dasi tersebut, Kian hanya menuruti apa yang dilakukan Areta. Dengan susah payah ia menahan hasrat ingin menerkam Areta malam ini, sekejam ia menangkup pipi Areta, mecercap manisnya bibir Areta, bermain-main dengan lidahnya dan melepaskannya. Hanya sebatas itu yang bisa ia lakukan, mencium istrinya dengan sedikit memaksa.
Mereka bersiap untuk berangkat, Kian, Areta, dan Irene duduk di dalam mobil yang sama menuju ke pelabuhan di mana kapal pesiar itu akan berlayar.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai ke tujuan, kapal super besar dan mewah sudah menanti mereka. Tak henti-hentinya Areta pun berdecak kagum akan keindahan sebuah kapal tersebut.
Irene dan Areta menggandeng satu lelaki yang sama, namun semua orang tahu jika hanya Areta lah istri dari Kian, sementara Irene adalah adik dari mafia tersebut, seolah tanpa Kian mengumumkan hubungan mereka, semua orang tahu karena sudah menjadi rahasia umum, jika Kian hanya menganggap Irene sebagai adiknya saja.
Perlahan mereka berjalan, semua mata tertuju ke arah mereka, para lelaki tak berkedip memandang Areta dan Irene, sementara para wanita tak dapat menolak pesona dari seorang mafia seperti Kian.
Semua telah berpesta dengan alunan musik, berbagai makanan dan minuman semua telah tersaji di atas meja, Irene dan Kian berdansa ke sana kemari, Namun Areta hanya menatapnya dari jauh dan ia hanya duduk ditemani Celine yang tengah merindukan Areta. Namun tiba-tiba seorang lelaki mengulurkan tangannya untuk Areta.
"Bersediakah nona cantik berdansa denganku?" ajaknya tanpa ragu-ragu.
Areta tersentak, namun tidak begitu kaget, ia menatap Celine untuk meminta pendapat, gadis itupun mengangguk sembari tersenyum. Laki-laki itu cukup muda dan tampan, berumur sekitar 32 tahun. Ia tampak tersenyum kepada Areta, karena sejak tadi ia terus memperhatikan wanita cantik itu. Saat Areta ingin meraih tangan pria itu tiba-tiba Kian menampik tangan pria tersebut.
Plak....
"Maaf Tuan Alvonso, dia adalah istriku!" ucap Kian, dengan nada penuh penekanan. Laki-laki itu tampak canggung dengan apa yang dilakukan oleh Kian.
"Maafkan aku Tuan Kian, kupikir ia sendiri datang kemari, maka dari itu kutawarkan diri untuk berdansa dan menemaniku," jawabnya canggung.
Kian hanya tersenyum kecut menanggapi pria tersebut.
Areta menatap wajah Kian dengan pandangan menyelidik, lalu berkata, "Apa-apan ini Kian?" tanyanya dengan nada kesal.
"Apanya apa? Kau adalah istriku dan tugasku melindungimu!"
"Lalu kau melindungiku tapi kau bisa berdansa dengan semua wanita di sini, bahkan dengan Irene yang notabennya adalah mantan kekasihmu yang masih sengaja kau pelihara?!" desis Areta, suaranya memang sengaja ia pelankan agar orang-orang tidak bisa mendengarnya.
"Hei ... prempuan! Jaga batasanmu! Kau tahu di sini banyak sekali singa lapar, bukan hanya rekan sejawat sesama dokter yang ada di sini, dan di sini juga ada mafia-mafia yang sedang mengincar gadis-gadis hanya untuk cinta semalam. Jika kau mau di ajak berdansa dengan pria tadi, maka kau siap untuk di ajak bercinta dengannya!" jelas Kian dengan nada pelan seolah sedang mendesis.
Areta terdiam saat Kian menjelaskan hal itu, seketika tubuhnya kaku mendengar ucapan Kian.
"Tetap bersama dengan para istri mafia di sana, agar orang-orang tahu jika kau adalah bagian dari kami!" perintahnya. Lalu pergi meninggalkan istrinya itu dengan mulut yang sedang terkunci.
Areta berjalan menggandeng Celine ke sekumpulan istri-istri para mafia yang sedang bercengkerama satu sama lain, kebanyakan dari mareka adalah istri simpanan bukannya istri sah dari para mafia tersebut. Dan Irene sejak tadi sudah melebur dengan para wanita itu.
***
__ADS_1
Malam semakin larut, suasana pesta semakin panas, sementara Celine sudah pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Saat Areta telah kembali dari mengantar Celine ke kamar, matanya tertuju kepada Kian yang sedang berdansa dengan seorang wanita seksi dengan dress potongan dada rendah, beberapa kali Kian mencumbu gadis itu, mencium pipi dan leher prempuan tersebut dengan tertawa riang. Hati Areta seketika seperti dihantam oleh batu besar melihat Kian melakukan hal tersebut di depan matanya bahkan di depan banyak orang, bukan hanya Kian saja yang melakukannya, namun juga para mafia yang lain juga melakukan hal yang sama dengan para wanita penghibur itu, tapi anehnya para istri mereka hanya melihat hal itu adalah sesuatu yang wajar untuk para suaminya.
Areta benar-benar geram, lalu dengan langkah cepat ia menghampiri Kian yang tengah tertawa bahagia dengan wanita tersebut.
Areta langsung menyambar tangan Kian, matanya melotot ke arah Kian dan wanita itu secara bergantian.
"Pergi!" desisnya mengusir wanita seksi tersebut. Lalu ia menatap Kian dengan tatapan marah. "Apakah ini caramu untuk membalasku tadi? Apakah ini caramu melempar kotoran ke wajahku, Kian?!"
Kian terkekeh, "Apa maksudmu?" tanya Kian.
Semua mata tertuju ke arah mereka, para istri mafia semua tertegun dengan adegan yang disuguhkan oleh Areta yang dengan berani melabrak suaminya.
"Aku masih ada di sini, dan dapat melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Kau berani-beraninya bercumbu dengan wanita lain di depanku, sedangkan ketika ada lelaki lain yang mendekatiku, kau bisa marah seenak yang kau mau!" ungkap Areta marah.
"Hei... aku laki-laki dan aku mafia penguasa negeri ini, aku bebas bercumbu dengan wanita manapun yang aku inginkan, apakah kau cemburu, Areta?" Ada nada menggelitik saat Kian mengucapkan hal itu.
Areta hanya tertawa sini. "Cemburu? Tidak! Aku tidak cemburu, aku lebih jijik melihat tingkahmu!" sembur Areta. "Ingat Kian, aku bukanlah Irene yang bisa tahan melihatmu bercumbu dengan wanita lain, dan aku bukan seperti istri-istri mafia-mafia yang ada di sini, yang memaklumi tabiat suami-suaminya, aku adalah Areta, yang tidak suka melihat suamiku bercumbu dengan wanita lain. Jika kau melakukannya lagi, maka kau akan melihatku mengambang di atas air!" ujarnya lalu pergi meninggalkan Kian yang masih tertegun mendengar kalimat Areta.
•
•
•
Bersambung~
Areta ngamuk, gaes. Kira-kira Kian bakalan marah atau nurutin Areta, ya? 😒
Maaf ya slow update 😁
Tetep Like, komen Vote jangan kasih kendor biar aku semangat update.
Terimakasih~
__ADS_1